
Sesampai dirumah ku disambut orang tua dan adik-adik ku. Adik-adik ku semua dirumah kecuali yang nomor tiga karena dia telah menikah dulu sebelum aku, karena adikku itu menikah duluan maka orang tua ku dengan cepat menjodohkan ku karena kepercayaan orang dulu bila kakak perempuan dilangkahi duluan ( menikah) maka akan sulit jodoh maka dari itu orang tua ku cepat mencarikan jodoh. Ibuku menghampiri ku dan menangis, beliau menanyakan ada apa dengan rumah tangga ku, kenapa menjadi seperti ini. Aku hanya bisa menggeleng karena aku pun tidak tau apa yang terjadi. Ayahku menyuruhku pergi kekamar dan beristirahat, kulihat wajah ayahku sangat muram, mungkin beliau merasa bersalah karena beliaulah yang mencarikan pendamping untuk ku. beliau tidak menyangka ini akan seperti ini. Rifqie sudah diambil oleh adik ku, mereka sangat menyayanginya karena sudah lama dirumah tidak ada bayi, adikku yang terbesar saja sudah SMP. Aku pun memasuki kamar dan beristirahat, aku ingin tidur sebentar untuk menghilangkan penat.
__ADS_1
Hari sudah menunjukkan waktu ashar, aku terbangun dan mandi kemudian melanjutkan shalat ashar, kulihat anakku sudah mandi dan dibawa bermain didepan oleh adik-adik ku. Aku tersenyum melihatnya dan merasa bersyukur karena banyak yang menyayangi Rifqie .
__ADS_1
Aku menuju ruang tamu kulihat ayah ibuku sudah duduk disana mereka menunggu ku untuk mendengar penjelasan. "Ada ada sebenarnya dengan rumah tanggamu nak bukannya selama ini baik-baik saja" ucap ayah ku. " Aku gak tau pak, kami hidup seperti biasa, tetapi akhir-akhir ini dia menjadi dingin kepadaku, aku tak tau apa salahku, tetapi kemarin dia bilang sudah menikah lagi dengan wanita lain pak hiks hiks hiks" aku menjelaskan sambil menangis. Ibu dan bapakku kaget mendengar penjelasan ku. Ayahku sangat murka dan langsung berdiri mengambil handphone untuk menghubungi suamiku. Beberapa kali nomor suamiku ditelepon oleh ayahku, tetapi tidak diangkat, akhirnya ayahku menelepon keluarga suamiku dan diangkat oleh ibunya mas Wijaya. "Assalamualaikum pak pir, ada apa ya tumben kok telepon sore-sore gini? " tanya ibu mas Wijaya diseberang telepon. Dari yang kudengar orang tua mas Wijaya belum tahu masalah ini. "Ini lo bu masalah anak-anak kita, saya dengar Wijaya minta cerai pada Nita dan di sudah menikah lagi dengan wanita lain, apa betul itu? " bapakku bertanya dengan nada tenang. Terdengar suara terkejut dari seberang telepon. "Astagfirullahaladzim, saya malah gak tahu pak bu, pak pak sini Wijaya kenapa pak, kenapa dia seperti ini" tanya ibu mas Wijaya ada suaminya. Kudengar kalau mas Wijaya belum sama sekali memberitahukan perihal itu pada orang tua nya. "Pak kami minta maaf atas nama anak kami, nanti akan kami bicarakan dengan anak kami, dan kami sekeluarga akan berkunjung kesana dalam waktu dekat ini. Sekali maaf pak" lirih bapak mas Wijaya penuh penyesalan.
__ADS_1
Kulihat ayahku mengusap wajahnya dan mendekati ku memegang pucuk kepalaku " Maafkan bapak mu ini ya nak, karena bapak menjodohkan mu dengan nya bapak merasa dia orang baik, bapak merasa dia akan memperlakukan mu dengan baik karena kamu istrinya, karena telah mengenal dia dan keluarga nya sejak lama, bapak telah menghancurkan masa depan mu, baak tidak menyangka dia seperti ini" ucap bapak ku lirih sambil menangis. Kulihat ibuku pun telah menangis dari tadi pilu melihat rumah tangga anak pertamanya yang baru seumur jagung harus hancur. Kupeluk ayahku dengan erat dan ikut menangis, dalam tangis ku ucap pada ayahku lirih " gak apa-apa pak mak, ini bukan salah kalian berdua, mungkin aku sebagai istri masih kurang dimata mas Wijaya sehingga dia menikah lagi, jangan salahkan diri kalian karena takdir, ya ini memang takdirku sendiri hiks hiks hiks" tangisku pun pecah,. Ibuku mendekat dan kami bertiga berpelukan dengan erat. Kami melepaskan tangis bersama sore itu.
__ADS_1