
Keesokan harinya, bapak dan ibu mas Wijaya datang kerumah kami. Mereka dipersilahkan masuk oleh orang tua ku. Aku duduk di samping ibuku, dapat kulihat raut sedih diwajah orangtua mas Wijaya. "Maafkan kami nak, kami tak tahu harus berkata apa, kami tak menyangka Wijaya seperti ini, kami telah gagal membesarkan anak kami dengan baik" lirih ibu mas Wijaya. Aku sangat menyayangi ibunya seperti ibuku sendiri karena beliau sangat baik padaku, akupun mendekati dan memeluk beliau dengan hangat. " Enggak buk, itu bukan salah ibuk, mungkin aku banyak kekurangan sehingga mas Wijaya melakukan seperti itu hiks hiks" akhirnya pecahnya tangisku setelah kutahan dari tadi. Ibuku yang melihat pun ikut menagis, sedangkan para bapak hanya terdiam dengan muka frustasi. "Jadi sekarang semua keputusan ada padamu nak, kamu berhak memilih apapun yang bisa membuat kamu bahagia" ucap bapak mertuaku angkat bicara, semua mengangguk menyetujui ucapan beliau. " Aku udah tidak sanggup lagi untuk menjalani kehidupan rumah tangga ini lagi pak bu, aku ingin bercerai, aku tidak sanggup hidup berpoligami, apalagi mas Wijaya sudah menikah lagi tanpa izinku, hatiku hancur, disaat anak nya masih merah masih sangat kecil dengan tega dia berselingkuh, bahkan sampai sekarang pun dia tak ada menghubungiku hanya untuk berucap maaf" ucapku sendu. Kulihat wajah ayahku berubah merah menahan amarah, "Dasar anak kurang ajar" ucap ayahku menahan amarah, orangtua mas Wijaya hanya tertunduk malu mendengar ucapan ku dan ayahku.
" Ya sudah kalau itu keputusan mu nak, biar nanti kami bantu urus perceraian mu dengannya. Itu rumah yang kalian tempati kemarin sekarang adalah rumahmu, terserah mau kamu jual atau kamu tempati, nanti akan bapak bantu urus mengalihkan nama di sertifikat atas namamu. Bapak minta maaf atas kelakuan anak bapak, tapi dihati kami kmu tetap menantu kami nak, kami sangat menyayangi mu dan cucu kami, jadi walaupun kalian bercerai tetaplah menghubungi kami dan kalau boleh kami masih ingin terus berkunjung untuk melihat mu dan cucu laki-laki kami" ucap ayah mertuaku dengan lirih.
__ADS_1
" Iya pak, maaf kan Nita mungkin selama ini, Nita belum bisa menjadi menantu yang baik untuk ibu dan bapak, belum bisa menjadi istri yang baik untuk mas Wijaya, terima kasih selama ini bapak dan ibu sudah baik dengan Nita, Nita merasa punya orangtua kedua, Nita enggak kesepian tinggal disana karena ada ibu dan bapak yang selalu datang menemani Nita. Untuk masalh rumah, mungkin bapak ibu bisa bantu Nita untuk menjual saja, Nita enggak mau tinggal disana lagi karena hanya kenangan menyakitkan uang tertinggal disana, kalau bisa dijual saja dan akan Nita belikan rumah dekat sini, karena sudah tidak mungkin Nita tinggal dengan kedua orang tua ku lagi" ucapku pada keluarga mertuaku.
Mereka hanya bisa menghela nafas dan menyanggupi keinginannya, mereka akan dengn cepat membatu mengurus perceraian ku dan menjual rumah itu agar aku bisa membeli rumah didesaku.
__ADS_1
" Nak kamu tetap satu-satunya menantu ibu, ibu menyayangi mu, kamu harus bahagia ya, jaga anak mu baik-baik. Maafkan ibu yang tidak bisa menjadi mertua yang baik hiks hiks, " tamgis ibu mertuaku pecah, akupun memeluknya dan ikut menangis.
Kami mengantar ayah dan ibu mertua ku ke mobil. Mereka melambaikan tangan pada kami, dan mobil pun menjauh dari pandangan kami. Ayah ibuku mengajak ku masuk kerumah dan beristirahat...
__ADS_1