
" Ditempat inilah aku dan dia selalu menghabiskan waktu, setelah ia meminta izin pada umi dan abiku ternyata ia meninggalkanku begitu saja tanpa sebab tanpa alasan " Aulia menatap jauh ke depan, hampa.
Aulia tak menghiraukan seberapa banyak orang yang datang melewati tempat ia duduk, di sebuah tongkrongan yang biasa ia kunjungi bersama Husain waktu itu.
Tak berapa lama setelah gelas minumannya kosong ia bangkit lalu berdiri hendak meninggalkan tempat itu.
Ia kendarai motor matic kesayangannya, melewati jalanan yang lumayan sepi karena memang waktu sudah menunjukan pukul 17:00.
" Jalan ini adalah jalan yang pernah aku lewati juga bersamanya, bagaimana ia memperlakukanku dengan sempurna, menghormati keputusanku untuk tidak mau di sentuhnya sebelum memang benar-benar aku halal baginya, Mas Husain.... kau terlalu baik untuk berlaku tidak sopan padaku " ucap Aulia dalam hati, matanya berkaca-kaca, dijalankan maticnya dengan pelan.
" Kau tidak menyentuhku tapi menyakitiku... Mas Husain bagaimana mungkin orang yang ku anggap baik-baik saja ternyata mempunyai perilaku tak ubahnya seperti pengecut!!! " Amarahnya meledak dalam diam, di hatinya menyimpan luka yang parah, tangisnya pecah, airmatanya menetes tersapu angin jalanan.
" Sejak kapan kamu pandai berbohong Mas? Sejak kapan kau ingin meninggalkan aku? Sejak kapan??? Pantaskah aku mendapatkan perlakuan seperti ini? Kau pikir aku ini apa mas? " Aulia tetap menangis sambil mengendarai motornya.
" Perjalanan yang cukup lama untuk diakhiri Mas, empat tahun yang lalu kau datang padaku memintaku pada umi abiku, aku berusaha meyakinkan mereka bahwa kau orang yang tepat untukku Mas, tapi mana? Mana buktinya?
Yang lebih menyakitkan bagiku adalah kau meninggalkanku tanpa sepatah katapun, kau tutup semua jalan komunikasi , sosial mediakupun kamu blok Mas, salah apa aku padamu? " Aulia masih emosi, tapi kini tak lagi menangis, mukanya memerah menahan amarah.
" Apa karena aku tak mau menuruti kemauanmu, lalu kau pergi bersama perempuan itu? Kau terlalu jauh melangkah sampai kau lupa bahwa kau punya aku?! Jahat kamu Mas..." Gerutu Aulia.
" Bahkan kata maaf tak terlontar darimu, tak ada penyesalan sedikitpun padaku? Kau adalah orang yang tak pantas buatku, terlalu baik jika aku di sandingkan denganmu yang jahat itu! Semua rencana kita, semua janjimu pada Abiku, aku ikhlaskan untuk kau lebur " tekad Aulia.
Kembali Aulia menarik gas maticnya, setengah jam berlalu semenjak ia menangis meratapi kenangan karamnya harapan yang telah ia pupuk sejak dua tahun kebersamaannya dengan seseorang yang bernama Husain dan sejak dua tahun setelah ia ditinggalkan oleh Husain pula Aulia belum bisa mengikhlaskan kepergian Husain.
Awal pertemuan mereka waktu dulu saat ada pertemuan keluarga, Husain tak lain adalah anak dari saudara jauh Kyai Abas, Ayah Aulia.
Semenjak saat itu, Husain sering berkunjung ke kediaman Kyai Abas yang merupakan Pamannya, secara tidak langsung dengan ia berkunjung ke rumah Kyai Abas ia bisa bertemu dengan Aulia, alih-alih berkunjung untuk bersilaturahmi ternyata Husain memiliki perasaan lain terhadap anak bungsu Kyai Abas, Aulia.
Seiring berjalannya waktu, Aulia dan Husain semakin akrab, mereka tetap pada koridor yang telah diajarkan selama ini, semakin lama Kyai Abas menangkap signal lain dari ke akraban mereka.
Suatu ketika Kyai Abas menegur Husain dan berbicaralah mereka berdua, " Aku melihat hubunganmu dengan putri bungsuku Aulia bukan lagi sekedar hubungan persaudaraan, apa kiranya kau memiliki perasaan lain terhadap putriku? " Tanya Kyai Abas pada Husain.
Husain tersenyum, tenang ia menjawab " Iya Paman, aku menyukai putri Paman ".
Kyai Abas menatap Husain dalam-dalam, layaknya seorang Ayah yang ingin memantapkan hati pada orang yang menyukai putrinya.
" Kau tahu bagaimana hubunganku dengan Ayahmu bukan? " Kembali Kyai Abas bertanya.
" Iya Paman aku tahu. Hubungan kalian baik meskipun persaudaraan kita jauh tapi kita tetap menjaganya " Husain menjawab mantap.
" Husain, aku berharap kau bisa menjaga sikapmu. Jika kau memang menyukai putriku jagalah dia seperti aku menjaganya, jangan sakiti dia ataupun melukainya. Dia masih kecil, umurnya baru sembilanbelas tahun, belum lulus sekolah " Terang Kyai Abas.
" Paman, percayalah padaku. Aku tidak pernah bermain-main terhadap Aulia. Aku menyayanginya dengan tulus, aku punya niat baik akan menghalalkannya " Ucap Husain mantap.
Kyai Abas tertegun setelah mendengar tekad Abas, " Kalau begitu bawalah Ayah dan Ibumu kesini, kita bicarakan bersama ".
Semenjak itu Aulia dan Husain mendapatkan restu untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan nanti setelah Aulia lulus sekolahnya, di salah satu universitas ternama di Yogyakarta dan saat itu Aulia harus pulang pergi dari Demak ke Yogyakarta, sementara Husain menetap di Blitar dan bekerja di sana bersama Ayahnya, bukan jarak yang dekat memang untuk merajut tali kasih antara Demak dan Blitar.
" Nduk, nanti Mas pindah kerja ya ke Semarang biar bisa deket sama kamu, kalau mau ketemu gampang " Kenang Aulia, iya Husain pernah mengatakan itu pada Aulia.
" Tapi mana? Semenjak dia pindah malah semuanya berubah, mendingan tidak usah pindah sekalian " Gerutu Aulia.
" Aku rasa ada yang aneh, semenjak di tempat kerja yang baru dia malah sibuk dengan temannya bukan fokus dengan pekerjaannya dan tujuannya " Gerutu Aulia semakin menjadi.
__ADS_1
" Tapi itu bukan alasan untuk menghadirkan orang ke tiga bukan? " Lagi-lagi Aulia mengenang, buyar sudah semua bayangannya tentang Husain tadi.
Kini Aulia sudah berada di gang depan rumahnya, ia berhenti sejenak. Ia menatap ke spion kanannya, diperbaikinya penampilannya, jilbabnya yang berantakan dan matanya yang sedikit sembab " Jangan sampai Umi dan Abi tahu kalau aku habis menangis ".
Aulia berjalan menuju pintu rumahnya dengan membawa tentengan sebagai oleh-oleh untuk orang rumahnya.
" Assalamu'alaikum... " Aulia mengetuk pintu dan membukanya, ia masuk ke dalam rumah.
" Wa'alaikumssalam.... Eh sudah pulang, capai ya? " Balas Umi Tinah, Ibunya Aulia.
" Tidak kok Umi " Aulia menghampiri Uminya lalu mencium tangannya dan memberikan apa yang ia bawa tadi, kemudian ia berjalan memasuki kamarnya sambil tertunduk.
Umi Tinah memandangi sikap Aulia, " Sepertinya dia habis menangis lagi ".
Terdengar pintu kembali di ketuk dari luar, segera Umi bergegas
untuk membukakannya.
" Assalamu'alaikum... Umi " Sapa orang itu sambil tersenyum setelah pintu dibuka yang ternyata tidak lain adalah Kyai Abas, suaminya.
Umi membalas senyumnya, lalu menjawab salamnya " Wa'alaikumssalam.... " seraya meraih tangan Kyai untuk di ciumnya.
Mereka memasuki rumah bersama, sambil sedikit berbincang-bincang ringan.
" Aulia sudah pulang belum, Umi? " Tanya kyai Abas.
" Sudah Bi, sedang berada di kamar sekarang, ini tadi Aulia membawa oleh-oleh " Umi Tinah menjawab sambil menunjukan bungkusan yang Aulia berikan tadi.
Umi Tinah hendak menghampiri kamar Aulia untuk memberitahukan pada Aulia kalau Abinya sudah pulang, tapi di cegah oleh Abi, " Jangan biarkan saja, sebentar lagi maghrib nanti juga Aulia keluar untuk sholat berjama'ah bersama kita " Umi mengangguk, tanda ia mengerti.
" Ya sudah Umi juga mau siap-siap dulu ya Bi " Umi bersemangat, langkahnya meninggalkan Kyai yang masih berdiri sendirian di ruang tamu.
Daun pintu kamar Aulia bergerak, tak lama pintu kamarpun terbuka dan nampaklah Aulia keluar kamar, ia menghampiri Kyai Abas seraya mencium tangannya, Kyai Abas mengusap kepala Aulia yang berbalut hijab itu.
" Ayo menyusul Umi, kita sholat berjama'ah " Ajak Kyai Abas, di balas dengan anggukan oleh Aulia.
Mereka melaksanakan sholat maghrib berjama'ah, dilanjutkan dengan membaca Qur'an bersama sampai waktu sholat isya tiba dan mereka sholat berjama'ah kembali.
Setelah selesai melaksanakan sholat berjama'ah, Aulia kembali ke kamarnya sebelumnya tak lupa ia berpamitan pada Umi dan Abinya.
Kyai Abas dan Umi Tinah hanya bisa terdiam saling melempar pandangan, mereka mengerti mengapa Aulia bersikap seperti itu.
" Abi sudah berusaha untuk berbicara dengan Husain? " Umi bertanya pada Kyai Abas.
" Tidak Umi, biarkan saja lagi pula ini hanya tentang waktu biar Aulia belajar ikhlas " Jawab Kyai Hasan.
" Sudah empat tahun berlalu Bi, tapi Aulia masih saja seperti itu, apa Abi tidak khawatir? Abi tidak cemas takut kalau Aulia kenapa-kenapa? " Umi Tinah berbicara sambil melipat mukena dan berdiri lalu pergi meninggalkan Kyai Abas sendirian di ruang sholat.
Kyai Abas merenung, sambil tangannya tak lepas dari tasbihnya " Ada apa dengan putriku? " tanyanya dalam hati.
Segera ia bangkit dari duduknya lalu beranjak keluar rumah, duduklah ia di teras rumahnya, tak berselang lama Aulia duduk di sampingnya.
" Bagaimana keadaanmu hari ini Nduk? " Tanya Kyai Abas sambil tersenyum, dibalas senyuman pula oleh Aulia.
__ADS_1
" Alhamdulillah baik Bi, Abi sehat-sehat saja kan? Abi tidak berangkat lagi ke ponpes? " Aulia bertanya berbasa basi.
" Alhamdulillah...... " Kyai Abas menjawab.
" Alhamdulillah juga baik-baik saja, sehat-sehat saja, Abi rasa Abi mau di rumah saja malam ini karena Abi merasa akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan urusan Abi sendiri " Terang Kyai Abas.
" Sepertinya tadi habis menangis ya? " Lanjut Kyai Abas dengan bertanya pada Aulia.
Aulia menunduk, lalu memberikan jawaban singkat " Tidak Bi.... "
" Nduk, cah ayu.... Apa kau tetap pada pendirianmu untuk pergi ke Jakarta? " Kyai Abas memulai pembicaraan serius, Aulia menatap Abinya itu dengan penuh rasa sayang.
Dua tahun menjalin kasih dua tahun kemudian ditinggalkan, semenjak ditinggalkan selama dua tahun harus berjuang sendirian menata hati untuk menata masa depan, akhirnya Aulia bisa lulus dengan nilai yang sempurna, cumlaude.
" Iya Abi, Insya Allah.... " Jawab Aulia tersenyum, pandangan Kyai Abas menerawang jauh kedepan, pikirannya mulai menerawang entah kemana setelah mendengar jawaban dari Aulia.
" Kau akan meninggalkan Abi dan Umi seperti ke dua kakakmu, Nduk? " Kyai Abas bertanya lagi dan lagi-lagi Aulia hanya bisa tersenyum.
" Apa ini ada hubungannya dengan Husain? Keputusanmu hanyalah untuk menghapus bayangan Husain bukan? " Kyai Abas menyelidiki.
Aulia terdiam sedikit bertanya dalam hatinya " Bagaimana mungkin Abi bisa tahu alasan utamaku? ".
" Abi, bantu Aulia ya, bantu Aulia untuk bisa melewati ini semua. Tidak ada satu halpun yang bisa Aulia tutup-tutupi dari Abi maupun Umi " Aulia berbicara penuh harap, sedangkan Kyai Abas mendengarkan putrinya itu dengan seksama.
" Memang ini sudah terlalu lama Abi, sudah empat tahun semenjak Husain pergi meninggalkan Aulia tanpa sebab, biarkan Aulia belajar ikhlas dengan cara Aulia sendiri Abi... " Aulia melanjutkan ucapannya, berusaha meyakinkan Abinya, Kyai Abas.
Kyai Abas tertegun mendengar ucapan putri bungsunya itu, " Persis seperti apa yang Abi mau Nduk, tapi tidak dengan meninggalkan Abi dan Umi " Ucapnya lirih.
" Abi ingin kau tetap berada disini, Abi ingin kau bisa menjadi penerus ponpes milik Abi " Kyai Abas mulai mengungkapkan isi hatinya.
" Ke dua kakakmu sibuk dengan urusan mereka sendiri, mereka sibuk dengan dunianya, cuma kamu yang Abi nilai berbeda dari mereka " Kyai Abas menatap putrinya itu dalam-dalam.
" Maafkan Aulia Abi... Tapi biarkan Aulia mengobati luka Aulia sendiri, Aulia janji akan mengurus ponpes jika sudah menikah nanti, Abi percaya kan pada Aulia? Aulia bisa jaga diri kok, semua yang Abi ajarkan akan selalu Aulia terapkan, Aulia juga sudah mahir bela diri Abi, Abi bahkan pernah meminta Aulia untuk mengajar di ponpes " Rayu Aulia meyakinkan Abinya.
Kyai Abas menghela nafas panjang, ia tahu benar bahwa putrinya memang bisa di andalkan terlebih saat masih kuliah Aulia sudah memiliki penghasilan sendiri.
" Nduk, Abi akan selalu ada untukmu dan mendukungmu, dimanapun kau berada Abi mohon jangan lupa Sholat ya " Kyai Abas berpesan sambil berkaca-kaca.
Aulia mengangguk dan tersenyum, lalu mencium tangan Abinya, " Terimakasih banyak Abi.... " suaranya sedikit gemetar menahan tangis.
Semenjak itu Aulia meninggalkan kampung halamannya menuju Jakarta, dengan bermodal tekad yang kuat dibawanya serta luka hatinya.
Kekecewaannya telah membentuk dirinya yang sekarang, sejak 6 tahun keberadaannya di Jakarta ia telah memiliki kedudukan yang tinggi di tempatnya bekerja di sebuah perusahaan asing dan ia juga memiliki sebuah yayasan yang kurang lebih mengadopsi yayasan milik Abinya di Demak, Kyai Abas.
Tak lupa ia sering berkirim kabar kepada Umi dan Abinya, sebenarnya jika Aulia mau Aulia bisa sering pulang kampung untuk menemui Umi dan Abinya, hanya saja kenangan bersama Husainlah yang membuatnya masih enggan untuk kembali, kecuali saat lebaran atau hari besar keagamaan saja.
Sesekali Aulia berkunjung ke yayasan yang ia dirikan, untuk melihat apa saja yang perlu diperbaiki atau ditambahkan dan sejauh mana perkembangannya.
Terkadang kenangan yang dulu ia lalui bersama Husain masih bermunculun diwaktu senggangnya, tapi temannya selalu ada untuk menghiburnya.
" Entah sampai kapan aku begini? Bukan Allah yang tidak baik, hanya aku yang harus banyak bersabar " Aulia memotivasi dirinya sendiri.
" Tapi kenapa Allah mendukung mereka sementara jalan mereka tidak benar? Mereka sudah melampaui batas, hal yang seharusnya tidak mereka lakukan malah mereka kerjakan, bukankah zina adalah dosa yang besar? Lalu kenapa Allah membiarkan hal itu terus berlanjut? " Tanyanya dalam hati
__ADS_1
" Jika Allah membiarkan itu terjadi berarti dengan kata lain akupun boleh melakukannya? " sesak Aulia bertanya dalam hati.
" Astaghfirullahal'adzim.... " Aulia mengusap wajahnya, dia tersadar bahwa ucapannya dalam hati adalah kesalahan.