
Malam yang hening, Arsha terbangun dari tidurnya yang pendek, jam di dinding menunjukan pukul 00:05.
Disusul Faizal lalu Imam yang ikut terbangun juga, rutinitas malam yang hampir tak pernah mereka tinggalkan untuk melakukan ibadah bersama.
Faizal mengekor Arsha, kemanapun Arsha melangkah Faizal selalu mengikuti.
Arsha sedikit risih, bagaimana tidak bahkan ke kamar kecilpun Faizal membuntuti.
" Mas, kan kamar sebelah kosong kenapa ikut disini " Arsha menengur sambil bersungut, Faizal celingukan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
" Iya ya, sepertinya nyawaku belum kumpul, jadi begini deh " Jawab Faizal linglung.
Faizal keluar dari kamar kecil yang ada Arsha di dalamnya, ia berpindah ke kamar kecil di sebelah.
Arsha selesai terlebih dahulu, lalu mengambil wudlu dan menuju kamarnya, sepertinya Arsha memilih melakukan sholat tahajud di kamarnya saja.
Faizal yang keluar dari kamar kecil menoleh kekiri dan kanan, celingukan mencari sesuatu, langkahnya tertuju ke surau.
Sesampainya di surau Faizal masih celingukan menoleh ke kiri dan kanan, entah apa yang dicarinya.
Dari sekian banyak orang yang ada di surau tak ada yang ia maksud, Faizal menghampiri Imam.
" Mam, Arsha dimana? " Tanya Faizal, Imam menoleh.
" Tidak tahu Mas, tadikan kemana-mana sama Mas Faizal " Jawab Imam sambil menguap.
Faizal memperhatikan Imam, " Duh masih menguap saja, padahal tidurnya lebih dulu " Ledek Faizal pada Imam.
Faizal masuk dalam barisan karena sholat akan segera dilaksanakan, sementara itu Arsha sholat di kamarnya.
Di tempat lain Aulia tertidur pulas, sepertinya ia kelelahan atau memang karena tempat tidur yang nyaman membuatnya sangat terlelap.
Arsha selalu terbayang wajah Aulia, hingga saat ia bersujudpun nama Aulia terucap di dalam hatinya.
Malam itu terasa berbeda dari biasanya, mungkin karena Arsha merasakan sebuah kerinduan akan seseorang yang dikaguminya.
" Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Mengetahui segala urusan, tiada daya dan upaya yang bisa aku lakukan selain memohon dan berserah kepada-Mu " Arsha mulai memanjatkan doa setelah bertasbih, berdzikir dan bersholawat.
" Ya Allah, hamba memohon cinta-Mu, cinta seorang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang membawaku ke samping-Mu. Jadikan Engkau lebih aku cintai dari pada selain-Engkau. Jadikan cintaku pada-Mu dapat membimbingku pada ridho-Mu. Jadikanlah kerinduanku pada-Mu sehingga mencegahku dari maksiat. Anugrahkanlah padaku pandangan-Mu.Tataplah diriku dengan pandangan kasih sayang. Jangan palingkan wajah-Mu dariku. Jadikanlah aku di antara para penerima anugerah dan karunia-Mu. Wahai Dzat yang Maha Pemberi Ijabah. Ya Arhamar rahimin. " Arsha melanjutkan doanya
Faizal segera meninggalkan surau yang masih ramai diisi beberapa santri dan santri wati, langkahnya sedikit berlari, Imam memperhatikan kepergiannya.
Tak berapa lama Faizal sudah sampai di depan pintu kamar Arsha, Faizal melongokan wajahnya ke dalam kamar sebelum memasukinya.
Faizal menemukan Arsha sedang membereskan peralatan sholatnya dan tak menyadari kedatangannya.
" Sholat disini ternyata " Ucap Faizal dalam hati, Faizal berdiri tepat di belakang Arsha yang sekarang sedang mengambil Al-Qur'an.
Arsha membalikan badannya bersama Al-Qur'an di tangannya yang ia dekap di dadanya.
" Allahu Akbar ! " Arsha kaget melihat Faizal sudah berdiri di hadapannya.
" Mas Faizal mengagetkan saja " Arsha Menggerutu, matanya sedikit melotot.
Faizal menahan tawa karena takut mengganggu yang lain, Arsha berjalan ke ranjangnya lalu duduk di pinggirannya, Faizal duduk di pinggiran ranjang milik Imam.
Arsha memperhatikan Faizal, begitupun sebaliknya. Faizal tersenyum kecil pada Arsha, Arsha tak membalas.
Al-Qur'an yang dipegang Arsha masih ada di dekapannya, tak berapa lama Arsha kembali berdiri dan mengembalikan Al-Qur'an di tempatnya.
Faizal memandangi Arsha, Arsha berjalan kembali ke posisi semula, lalu memandangi Faizal lagi.
" Kenapa tidak jadi? " Tanya Faizal pada Arsha tapi tak mendapatkan jawaban.
Arsha menguap, lalu membenahi bantal dan kembali merebahkan badannya, Faizal masih memperhatikan.
Sempat Arsha melemparkan pandangannya pada Faizal lagi, tapi Faizal memalingkan wajahnya, sepertinya Faizalpun ingin tidur lagi.
" Kenapa Mas Faizal di sini " Tanya Arsha, Faizal bingung mendapatkan pertanyaan seperti itu.
" Aaa tidak, tidak apa-apa " Jawabnya sedikit tergagap, Arsha mengerutkan dahinya seperti merasa ada yang aneh dengan Faizal.
" Apa badan Mas Faizal juga pegal-pegal seperti aku? " Tanya Arsha polos, ia masih berpikir positif terhadap kelakuan Faizal.
Faizal semakin kebingungan untuk menjawab pertanyaan Arsha, lalu ia menguap seolah memberikan jawaban pada Arsha.
Ia mulai membenahi bantal dan mulai membaringkan badannya, sekali lagi ia sempatkan untuk memperhatikan Arsha sementara Arsha masih terdiam memandangi kelakuan Faizal.
" Mas.... " Arsha memanggil Faizal, Faizal tak menjawab.
" Cepat sekali tidurnya " Pikir Arsha dalam hati.
__ADS_1
" Mas Faizal " Arsha mencoba memanggilnya kembali tapi Faizal masih tak bergeming.
" Mas Faizal! " Arsha sedikit mengeraskan suaranya.
" Hmmmm " Jawaban Faizal.
" Jangan pura-pura tidur deh " Arsha langsung pada intinya.
Faizal langsung membuka matanya dan menoleh pada Faizal, " Iya kenapa sih " Ucapnya sedikit geram.
" Bangun Mas " Pinta Arsha, Faizal bingung mendengar ucapan Arsha.
" Kenapa emangnya? " Tanya Faizal.
" Aku mengantuk, aku mau tidur jangan ganggu aku ya! " Pinta Faizal lalu membelakangi Arsha.
Tempat tidur Arsha berhadapan sengan tempat tidur Imam yang sekarang dipakai Faizal untuk tidur.
" Kenapa Mas Faizal tidak sadar juga " Ucap Arsha santai, Faizal terkejut mendengar ucapan Arsha.
" Kenapa ya Arsha bicara begitu? " Tanya Faizal dalam hati.
Faizal sedikit memutar badannya belakang " Sadar apa?! " Sedikit tegas lalu kembali membalikan badannya ke posisi semula.
Arsha menarik nafas dalam dalam, seperti sedikit menahan rasa gemas dan kesal melihat kelakuan Faizal sejak tadi.
" Memang ya kalau sudah mengantuk apapun dijadikan alasan, sampai-sampai lupa kalau ranjang yang dipakai adalah ranjang orang lain " Arsha berucap sembari menyindir.
Faizal membelalak tanda ia kaget, matanya melirik ke kiri dan kanan sepertinya ia kini sadar bahwa Arsha sedang menyindirnya.
Segera ia bangun dari tidurnya, ia celingukan membalikan badannya lagi ke kiri dan kanan seolah meyakinkan apakah benar ia salah ranjang.
Ternyata benar, Faizal menempati ranjang milik Imam, Faizal lalu berdiri dan berjalan menghampiri ranjangnya yang di awal tadi ia pakai untuk tidur.
Letaknya memang jauh dari ranjang Arsha, berselang 4 ranjang.
Faizal berjalan dengan rasa malu , setelah sampai di ranjangya Faizalpun tidur dengan posisi tengkurap menutupi wajahnya.
Arsha tersenyum melihat kelakuan Faizal, senyumnya manis sekali, senyum khasnya yang selalu membuat siapa saja yang memandang terpesona.
Tak berselang lama Imam masuk kamar lalu menyimpan Al-Qur'annya di lemari buku, kemudian mendekati Arsha.
" Sudah tidur saja dia " Ucap Imam pelan sambil memandang Faizal.
Imam ganti menoleh ke arah Arsha, Arshapun berganti memandang Imam lalu mereka tersenyum.
" Tadi Mas Imam mencarimu di surau " Imam melanjutkan ucapannya, pelan.
Kini pandangan Arsha tertuju pada Faizal yang tampak tertidur pulas, pikiran Arsha mulai menerawang entah kemana.
Imam diam memperhatikan temannya itu, " Apa kau melakukan kesalahan? " Tanyanya pada Arsha.
" Tidak, aku biasa saja hari ini " Arsha menjawab singkat.
" Lalu kenapa Mas Faizal seperti memantaumu? " Selidik Imam, Arsha terdiam. Kini dua teman itu saling bertatapan
" Apa kita akan melanjutkan tidur? " Arsha mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Iya, aku mengantuk besok bangunkan aku ya Ar " Pinta Imam, dibalas senyuman dan anggukan oleh Arsha.
...****************...
Pukul 04:00 Aulia terbangun begitu juga dengan Arsha, di tempat yang berbeda tapi melakukan kegiatan yang sama.
Aulia bergegas ke kamar mandi untuk mandi sebelum adzan subuh berkumandang, rupanya Arshapun melakukan hal yang sama.
Sebelum Arsha meninggalkan kamar, ia sempat melihat Faizal masih tertidur lelap tapi sengaja tak dibangunkannya, Imam yang ada di belakangnya mendorongnya perlahan sebagai tanda untuk segera bergegas keluar.
Selesai mandi Aulia menyiapkan diri untuk Sholat subuh di kamar pendopo Abinya begitupun dengan Arsha, bedanya Arsha pergi ke surau untuk mengumandangkan Adzan.
Faizal terbangun dan terburu-buru menyiapkan diri untuk bisa ikut sholat subuh berjamaah, langkahnya dipercepat sedikit agak berlari.
Semua santri dan santriwati melaksanakan sholat berjamaah, Faizal menyusup masuk dalam barisan sholat, ia sempatkan sebentar untuk mencari Arsha dan ia melihatnya.
Sholat telah selesai dilanjutkan dengan membaca Al-Qur'an bersama, Arsha dan Imam duduk berdampingan Faizal dari kejauhan memperhatikan.
Faizal menguap, sepertinya rasa kantuk mulai menyerangnya kembali, akhirnya Faisal memutuskan untuk meninggalkan surau menuju kamar Arsha.
Langkah Faizal sudah jauh meninggalkan surau, Arsha melihatnya.
Sesampainya di kamar Faizal langsung berbaring dan melanjutkan tidurnya yang sempat terpenggal tadi.
__ADS_1
Di pendopo Auliapun membaca Al-Qur'an, sementara Arsha memilih berhenti mengaji dan meninggalkan surau.
Arsha ingin kembali ke kamarnya untuk memastikan apakah benar Faizal masih di sana atau tidak.
Jarak antara surau dan kamar tidaklah terlalu jauh, Arsha melewati beberapa serambi dan sedikit melewati taman.
Suara santri dan santri wati yang mengaji tadi mulai targanti dengan suara kokok ayam, kini suara mengaji mulai jauh.
Arsha berjalan sedikit memutar, taman belakang menjadi jalur yang ia tuju, Arsha sendiri tak mengerti mengapa langkah kakinya menuntun ke arah sana.
Sayup terdengar suara perempuan melantunkan ayat suci Al-Qur'an, suaranya lembut tapi merdu, bacaannya baik dan benar.
Arsha mencoba mencari arah suara itu, dia menoleh ke berbagai arah, bahkan sampai membolak balikan badannya.
Langkahnya masih saja terus berjalan, kini tanpa ia sadari sudah melewati taman belakang yang ia tuju tadi.
Tepat di samping taman belakang itulah pendopo Kyai Abas dan suara perempuan itu semakin tampak jelas, rupanya itu adalah suara Aulia.
" Dari sini rupanya suara itu " Gumam Arsha dalam hati.
" Masya Allah.... Suaranya lembut tapi begitu merdu, bacaannya tidak salah, membuatku damai dan tenang mendengarnya " Puji Arsha dalam hati.
" Siapa gerangan yang memiliki suara itu? " Tanya Arsha lirih.
" Pendopo tampak gelap tak ada cahaya " Lanjut Arsha.
Ternyata Aulia membaca Al-Qur'an dengan menggunakan cahaya lampu senter di ponselnya dengan alasan ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan.
Sengaja ia memilih waktu mengaji di waktu subuh bertepatan dengan para santri dan santriwati mengaji juga tapi sayangnya Aulia tidak menyadari bahwa bacaannya justru mengundang Arsha untuk datang.
Lama Aulia mengaji, lama juga Arsha menikmati lantunan Aulia dari luar pendopo.
Arsha berdiri di bawah pohon yang sedikit agak rindang, langit mulai tampak terang dan Aulia menghentikan bacaannya.
Aulia segera merapikan diri untuk segera pergi dari pendopo, sebelumnya ia ingin melihat keadaan luar pondok pesantren lewat lantai dua pendopo Abinya.
Aulia keluar, kini ia berdiri di lobi kamar Abinya, ia bentangkan tangannya lalu ia hirup udara segar pagi itu sedalam-dalamnya.
" Siapa dia? " Arsha terperanjat.
Arsha yang memang sedari tadi berdiri di depan pendopo tentu saja bisa melihat raut wajah Aulia dengan jelas, gerak gerik Aulia diperhatikannya.
" Masya Allah.... Cantik sekali " Takjub Arsha menatapi Aulia dari bawah.
" Aulia.... Ya benar dia Aulia! " Dalam hati Arsha seolah berteriak memanggil Aulia.
Arsha hafal sekali wajah perempuan itu, wajah yang selalu mengganggunya sejaka kemarin bahkan yang membuatnya gundah tadi malam.
Aulia ketika itu sudah rapi dengan pakain yang ia bawa di tote bagnya, pakaian kekinian yg tentunya masih dalam nuansa islami dengan balutan hijab yang membuatnya semakin anggun nan elegan.
Aulia tak menyadari keberadaan Arsha, bahakan saat Aulia menunduk melihat keadaan dibawah pendopo yang masih hening.
" Alhamduliah Ya Allah .... Kau mengabulkan doaku " Ucap Syukur Arsha, Arsha tersenyum sumringah ia bahagia.
Aulia kini memainkan ponselnya, memesan mobil untuk mengantarkannya pulang ke rumah Abinya.
Arsha masih tak bergeming, padangannya tak mau lepas dari Aulia, sementara Aulia di atas sana masih terus tersenyum menikmati suasana pondok pesantren yang sangat asri itu.
Tak lama ponsel Aulia bergetar, ada panggilan masuk yang ternyata dari Pak Sopir mobil yang ia pesan tadi.
Aulia mengangkatnya, Arsha mencoba mendengarkan perbincangan Aulia tapi tak bisa karena memang suara menerima telepon tidak seperti suara orang mengaji.
Telepon telah ditutup, pembicaraan mereka telah selesai dan Auliapun masuk lagi ke pendopo.
Tak berapa lama terlihat Aulia keluar dari pendopo dengan mengendap endap sambil melihat keadaan sekitar agar kepergiaannya tak terlihat.
Arsha memandangi kepergian, tingkahnya yang lucu hampir saja membuat Arsha tertawa, beruntung Arsha bisa menahan diri.
Setelah berhasil keluar pendopo Aulia segera memasuki mobil yang telah terpakir di depan gerbang.
Tak lupa ia mengirim pesan kepada seseorang untuk menyampaikan ucapan terimakasih.
Arsha masih berdiri di bawah pohon rupanya ia sangat terkesima pada pesona Aulia.
Matahari mulai menampakan diri Arsha memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan mengganti pakaiannya untuk melakukan aktivas hari ini.
Di lihatnya Faizal masih tertidur, kali ini Arsha membangunkannya agar Faizal tidak terlambat untuk mengurus keperluan pondok pesantren.
Setelah Faizal terbangun, ia menacari ponselnya lalu mulai mengeceknya.
Tampak sebuah pesan masuk lalu dibacanya pelan tapi jelas" Terimakasih ya Mas, sudah membantu saya untuk bisa menginap di pendopo tanpa ada orang lain yang tahu "
__ADS_1
Tentu saja Arsha yang berdiri di samping Faizal bisa mendengar saat isi pesan tersebut dibacakan.
" Ohhh jadi ini jawabannya " Pikir Arsha dalam hati.