
" Mbok, saya berangkat dulu ya " Aulia berpamitan pada Mbok Suti.
" Tidak sarapan dulu to Nduk? " Tanya Mbok Suti dengan logat Jawanya.
" Tidak Mbok saya buru-buru " jelas Aulia singkat.
" Assalamu'alaikum.... " Aulia berpamitan sambil menyium tangan Mbok Suti.
" Wa'alaikumssalam " Mbok Suti menjawab.
" Hati-hati! " Tambah Mbok Suti setengah berteriak.
" Iya " jawab Aulia berjalan kencang sedikit berlari.
Aulia menghampiri garasinya dan mengeluarkan sepeda motornya.
Pandangan Mbok Suti kosong memandangi kepergian Aulia yang ke luar dari rumah sedikit berlari.
" Terburu-buru kenapa to? " Tanya Mbok Suti lirih masih dengan logat Jawanya.
" Wong biasanya juga jam segini kok berangkatnya " lanjut Mbok Suti sambil melirik ke jam di dindingnya.
" Apa dia mau ke pondok pesantren miliknya dulu baru berangkat kerja? " Mbok Suti masih bertanya-tanya.
Terdengar suara motor Aulia yang mulai meninggalkan halaman rumah.
Mbok Suti mengintip dari jendela, " Naik motor rupanya " ucapnya lirih.
" Sementara mobil hanya digunakan sekali seminggu itupun hanya kalau hari libur dan malam hari " tambahnya sambil memegangi gagang sapu.
" Lha terus iki piye sarapannya banyak begini? " Gerutu Mbok Suti sesaat setelah menghampiri meja makan.
Dipandangi makanannya yang banyak itu, " Aku bungkus saja, nanti biar aku berikan pada yang membutuhkan " ucap Mbok Suti.
" Jangan sampai terbuang mubadzir " semangat sekali Mbok Suti saat membungkus makanan.
" Pesan Nduk Aulia memang tidak boleh membuang-buang makanan karena 'Di luar sana masih banyak yang lebih membutuhkan' " Mbok Suti menirukan gaya bicara Aulia.
" 'Jika ada sesuatu yang dirasa berlebih jangan dibuang ya Mbok berikan saja pada yang membutuhkan, selama masih layak' " Mbok Suti masih menirukan Aulia.
" Memang majikanku itu the best banget kok, penuh welas asih, sayangnya kadang-kadang kalau lagi kumat stressnya keluar tanpa hijab " Mbok Suti bergumam sambil tertawa kecil.
" Tapi ya aku rasa Nduk Aulia sendiri juga mengerti kalau dia salah melakukan itu, makanya dia selalu menggunakan mobilnya saat ke luar rumah tanpa hijab " lanjutnya sambil menyelesaikan membungkus makanan.
" Selesai sudah, tinggal dibawa ke depan untuk diberikan pada yang membutuhkan " Mbok Suti berjalan ke luar rumah.
...****************...
Aulia sampai di pondok pesantren yang baru berdiri sekitar tiga tahun yang lalu.
Al Izzatulillah, nama dari pondok pesantren yang Aulia buat, nama yang memiliki makna begitu dalam seperti namanya.
" Asaalamu'alaikum.... Kak " ucap salam para santri yang bertemu Aulia pada pagi itu.
" Wa'alaikumssalam warahmatullahi wabarakatuh " balas Aulia sambil tersenyum.
Aulia selalu dipanggil dengan sebutan "Kak" mungkin karena penampilannya terlihat masih usia sembilanbelas tahunan.
Setelah melepas helm dan jacket Aulia memasuki area pondok pesantren tak lupa ia juga membawa tas kerjanya.
Ucapan salam banyak terdengar satu sama lain, Aulia tersenyum melihat para santri mengikuti ajaran yang telah disampaikan.
" Alhamdulillah mereka bisa menerapkan ilmu yang sudah di ajarkan " ucap syukur Aulia.
Aulia sendiri juga banyak mendapat salam dari para santri dan santriwati.
Untuk pembagian gedung memang dipisahkan, tapi untuk jalan masih menjadi satu jalur karena untuk membuat jalur yang lain lagi masih dalam pengerjaan.
Masih banyak perbaikan di sana sini untuk membuat pondok pesantren jadi lebih lengkap.
Arsitektur bangunan pondok itu sekilas mirip dengan pondok milik Kyai Abas, Ayah Aulia.
Aulia memang sengaja membuat yayasan pondok pesantren yang mengadopsi podok pesantren milik Ayahnya.
" Assalamu'alaikum.... Aulia " sapa Reni.
Reni adalah salah satu pengurus dan pengajar di yayasan miliknya, umurnya dua tahun lebih muda dibanding Aulia.
Aulia menoleh, " Wa'alaikumssalam.... " ucapnya sambil bersalaman dan berpelukan.
" Apa kabar? " Tanya Reni pada Aulia.
" Alhamdulillah sehat, kamu sendiri apa kabar Reni? " Aulia menjawab sekaligus bertanya.
" Alhamduliah sehat juga " jawab reni dengan ramah.
" Alhamdulillah.... Mudah-mudahan kita semua selalu diberi kesehatan dan keselamatan juga selalu dalam lindungan Allah " ucap Aulia syarat akan doa.
" Aamiin Ya Rabbal'alaamiin.... " Reni mengaminkan doa Aulia, Auliapun mengaamiinkan.
" Tumben kesini pagi sekali? " Reni mulai pembicaraan serius.
" Iya nih " jawab Aulia singkat.
" Ada apa? " Reni bertanya lagi ingin tahu.
__ADS_1
" Tidak ada apa-apa aku hanya ingin mampir saja sebelum berangkat ke tempat kerjaku " Aulia menjelaskan.
" Oh begitu rupanya, aku pikir ada apa karena kau jarang sekali datang dan sekalinya datang pagi-pagi benar seperti ini " Reni menerangkan dengan tertawa kecil.
" Kalau begitu aku tinggal dulu ya " Reni berpamitan dan dibalas dengan anggukan Aulia, setelah mengucap salam mereka berpisah.
Aulia melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya, di belakang area pondok pesantren.
Terpisah dari keramaian yang pastinya lebih tenang dan asri karena banyak pepohonan yang rimbun.
Kedatangan Aulia mendapat perhatian dari banyak pengajar di sana.
" Assalamu'alaikum " Teguh menyapa Aulia.
" Wa'alaikumssalam warahmatullahi wabarakatuh " Aulia membalas dengan tersenyum, mereka tidak bersalaman.
Teguh juga salah satu pengajar di sana, seseorang yang ditunjuk Aulia untuk menjadi wakilnya sudah seperti tangan kanannya kalau ada keperluan yang tidak bisa ia hadiri.
Teguh sangat profesional ia tidak melibatkan perasaan saat bekerja walaupun jauh di lubuk hatinya Teguh sangat mengagumi Aulia.
Usia Teguh diatas Aulia satu tahun, yaitu duapuluh delapan tahun.
" Senang kau datang hari ini Aulia " ucap Teguh tersenyum.
Aulia terdiam heran, sesaat ia memandang Teguh lalu mengalihkan pandangannya lagi kelain arah.
" Ada yang ingin aku bicarakan denganmu tentang yayasan ini " terang Teguh.
Aulia menatap Teguh lagi, seperti ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan yayasannya.
" Ada apa Mas? " Tanyanya
" Kita bicarakan di sini saja ya, karena aku tidak mungkin mengajak Mas Teguh ke ruanganku " ucap Aulia sedikit menjelaskan.
" Iya Aulia aku paham kok, di sini saja tidak apa-apa " timpal Teguh.
Mereka berada di tengah jalan yang menghubungkan satu serambi dengan serambi lainnya, jadi secara tidak langsung mereka berdua bisa di lihat banyak orang.
" Jadi begini Aulia " Teguh memulai pembicaraan.
" Seperti amanah Aulia kemarin untuk semakin melakukan perkembangan pada yayasan, mulai dari fasilitas dan ektrakurikuler " Teguh serius berbicara.
Aulia mendengar dan memperhatikan dengan sekasama, tatapannya fokus pada Teguh.
" Semua sedang dalam proses, untuk ekstrakurikuler seperti yang Aulia amanahkan kemarin sudah mulai diajarkan " Teguh melanjutkan.
" Alhamdulillah.... Terimakasih ya Mas Teguh " Aulia sangat senang.
" Tapi Aulia, masalahnya untuk tapak suci belum ada guru yang bisa mengajarkan " Teguh memotong kebahagiaan Aulia.
" Dan untuk Tafsir Qur'an juga masih keteteran, kita perlu tambahan pengajar " Teguh menambahkan.
" Nanti biar aku saja yang mengajarkan sembari menunggu mendapatkan pengajar baru " jawab Aulia tenang meberikan solusi untuk masalah yang yayasan hadapi.
" Tapi Aulia apa bisa Aulia mengisi setiap hari? Aulia harus bekerja bukan? " Tanya Teguh lagi.
" Untuk jamnya nanti kita atur ulang lagi ya Mas, kemungkinan untuk seminggu dua atau tiga kali " Aulia memberi saran.
" Baiklah Aulia, nanti kita perbaiki lagi untuk penjadwalannya " Teguh mengangguk.
" Lalu bagaimana dengan bercocok tanam dan berternak Mas? " ganti Aulia bertanya.
" Untuk bercocok tanam bisa karena kita sudah siapkan lahannya di area sebelah kanan belakang, kalau untuk beternak sepertinya masih harus dipikirkan ternak apa karena lahannya juga harus diperhatikan " Teguh menjelaskan.
" Iya Mas, Mas Teguh benar " singkat Aulia berujar.
" Kira-kira bagusnya apa ya Mas? " Aulia bertanya lagi.
" Ternak yang mudah di pahami santri atau santri wati untuk belajar karena tujuan kita membuat mereka mandiri jika sudah lepas dari yayasan ini " penjelasan Teguh.
" Sebenarnya semua berat Mas kalau dipikirkan apalagi kita berada di pinggiran perkotaan, untuk membekali dengan bercocok tanam atau berternak, dengan lahan terbatas dan entah bagus atau tidak untuk melakukan itu semua " Aulia mengeluarkan segala buah pikirnya.
Teguh terdiam, ia menunduk dan memikirkan bahwa apa yang Aulia ucapkan adalah benar.
" Begini saja nanti aku coba lihat tanahnya, untuk mencari tahu bagusnya ditanam tanaman jenis apa " gagasan Aulia.
Teguh memperhatikan dengan seksama.
" Untuk ternak haruslah ternak yang tidak mengganggu warga sekitar yayasan dan tentunya warga yayasan Mas " usul Aulia.
Teguh mengangguk-angguk
" Karena limbah yang dihasilkan ternak nantinya pasti akan mengganggu " Aulia menjelaskan.
" Dan akan lebih baik jika limbah dari ternak tadi bisa dimanfaatkan sebagai pupuk untuk bercocok tanam " tambah Aulia.
Teguh tersenyum mendengar penjelasan Aulia yang syarat akan solusi, semakin bertambah rasa kagum Teguh pada diri Aulia.
" Lalu hewan apa yang menurut Aulia tepat untuk di ternak? " Teguh bertanya.
" Unggas, ikan, kambing " Aulia singkat menjawab.
Teguh memandang Aulia dengan pandangan heran.
" Tanyakan pada anak-anak mereka mau tidak untuk belajar berternak, ini sekaligus buat pembekalan mereka nantinya " saran Aulia.
__ADS_1
" Kalau mereka menolak? " tanya Teguh.
" Tidak akan menolak kalau mereka bisa mendapatkan manfaatnya " tegas Aulia.
" Ini Aku sudah membuat surat untuk pengurus warga sini isinya memberitahukan kalau kita akan mendirikan peternakan kecil-kecilan dan meminta izin " Aulia memberikan surat yang ia print kemarin di rumah Kyai Abas.
Teguh menerima dan membacanya, Aulia mengambil ponselnya untuk melihat apakah ada pesan atau telepon yang masuk dan ternyata tidak ada, ia kembalikan lagi ponselnya.
" Kau bahkan sudah memepersiapkan sejauh ini? " Teguh bertanya takjub.
" Iya aku tidak ingin setengah-setengah-setengah Mas, aku ingin hidupku benar-benar bisa memberikan manfaat bagi sesama " ucap Alma lembut.
Teguh memandang Aulia dengan tatapan penuh kekaguman yang semakin ke arah sayang.
" Nanti siapkan saja kandang, dan aku akan memberikan modal sejumlah ayam, bebek dan sepasang kambing, untuk ikan sepertinya nanti saja " Aulia kembali berbicara.
" Kalau sekiranya ternak sudah banyak bisa dikonsumsi sendiri, dibagikan pada warga atau di jual dan hasilnya bisa digunakan untuk keperluan santri atau untuk modal lagi, begitupun juga dengan hasil bercocok tanam nanti " Aulia memberi arahan.
Teguh tak berbicara sedikitpun, ia terus menerus memandang Aulia dengan rasa kekaguman yang semakin berlebih.
" Pokoknya selalu libatkan para santri dan santri wati, ini untuk terlibat dalam program ini " pesan Aulia.
Teguh tersenyum, " Baik Aulia " ucapnya.
Ponsel Aulia berbunyi ada telepon dari kantornya, sejenak percakapan Teguh dan Aulia terputus.
" Aku harus segera berangkat ke tempat kerja Mas " ucap Aulia setelah menutup ponselnya.
" Oh iya Aulia silahkan.... " Teguh mempersilahkan.
" Pokonya aku percayakan semuanya pada Mas Teguh untuk menghandle yayasan jika aku tidak ada " ucapnya.
" Setelah mendapat surat balasan dari pengurus warga sini segera beritahu aku ya Mas, tapi mulai siapkan saja lahan dan kandangnya " pesan Aulia.
" Iya Aulia " Teguh menjawab singkat.
Aulia berpamitan pada Teguh, setelah mengucap salam ia pergi.
Suasana yayasan sudah mulai sepi, santri dan santriwati sudah mulai memasuki ruangan belajarnya masing-masing.
Aulia menyempatkan diri untuk mampri ke nasjid yang ada di yayasan untuk sholat dhuha sebelum melanjutkan perjalanannya ke kantor.
Sesampainya di masjid banyak juga santri atau santriwati yang melaksanakan sholat dhuha.
" Alhamdulillah Ya Allah.... " Aulia berkaca-kaca.
" Aku sangat bersyukur memiliki santri dan santriwati yang sangat taat dan mereka tidak merasa sedikitpun terkekang dengan peraturan " ucapnya dalam hati.
" Aku melihat mereka tampak nyamana berada di yayasan ini, itu adalah kunci bisa menyerap ilmu yang kami sampaikan " lanjutnya.
" Kak Aulia " ucap salah seorang anak kecil yang berada di sana.
Aulia menoleh, didapatinya anak berusia sekitar lima tahun duduk di sampingnya.
" Assalamu'alaikum.... " Aulia membalas sapaan anak kecil tadi dengan tersenyum.
" Wa'alaikumssalam Kak.... " anak itu tertawa.
" Adik kecil sedang apa di sini? " tanya Aulia dengan suara anak kecil.
" Aku habis sholat Kak " jawab anak kecil itu polos.
" Masya Allah, anak sholehah.... Kamu kok tahu nama aku adik kecil? " tanya Aulia.
" Iya Kak aku tahu, Kakak kan idolaku " anak kecil itu berucap tulus.
Aulia kaget dan terdiam mendengar uapan anak kecil tadi, tapi setelah itu tidak ia hiraukan.
" Kakak yang memiliki yayasan ini kan, termasuk sekolah aku itu " ucap anak kecil itu menunjukan sekolahnya.
Iya, yayasan yang dimiliki Aulia memiliki serangkaian sekolah dari TK sampai SLTA dan ada pondok pesantren di dalamnya.
Jadi orang luar pondok pesantren bisa bersekolah di sana.
" Kak namaku Suci " anak kecil itu memperkenalkan diri, Aulia menoleh.
" Hai Suci " balas Aulia.
" Kak, terimakasih untuk bantuannya ya karena aku di bebaskan dari biaya sekolah " ucap Suci.
Aulia memandang Suci penuh keheranan.
" Kata Ibuku, aku dibebaskan dari biaya sekolah " Suci mulai bercerita, Aulia tersenyum mendengar ceritanya.
" Oh ya? " tanya Aulia dengan nada bicara penasaran.
" Iya Kak, aku bersyukur sekali karena aku masih bisa bersekolah tanpa harus menambah beban Ibu " Suci tersenyum mendongakan wajahnya ke arah Aulia karena Aulia lebih tinggi.
" Kenapa Suci bilang begitu? " Aulia penasaran.
" Iya Kak, Ibu harus menyekolahkan aku dan ke dua Kakakku semenjak Bapak meninggal " Suci menjelaskan.
Sontak Aulia berkaca-kaca seperti ingin menangis tapi ia tahan, segera ia memeluk Suci.
Tak berapa lama Aulia menuliskan sesuatu di sebuah kertas dan dimasukan ke dalam amplop.
__ADS_1
" Suci simpan amplop ini baik-baik ya dan tolong sampaikan pada Ibu sampai di rumah nanti ya " pesan Aulia pada Suci, Suci mengangguk.
" Dan ini untuk jajan Suci " Aulia memberi beberapa lembar uang sambil mengusap kepala Suci, Suci senang menerimanya.