Manisnya Jodohku

Manisnya Jodohku
Melepas Kerinduan


__ADS_3

Faizal menghambur ke luar kamar, Arsha memandangi pergerakan Faizal.


Belum sempat Arsha menanyakan tentang isi dari pesan yang dibaca oleh Faizal tadi.


Pikiran Arsha jelas saja menjadi bermacam-macam, ada banyak tanya di dalam hatinya.


Arsha berusaha mengejar Faizal atau sekedar mengikuti dari belakang, tapi langkah Arsha tertinggal jauh dan Faizal sudah tidak terlihat lagi.


...****************...


Aulia menyempatkan diri untuk mampir ke pasar, sekedar membeli sarapan untuk dirinya juga Umi dan Abinya.


Masih terekam diingatan Aulia apa yang menjadi makanan kesukaan Umi dan Abinya.


Setelah selesai membayar Aulia kembali ke mobil untuk meneruskan perjalanan dengan menenteng plastik berisi makanan yang ia pesan tadi.


...****************...


Faizal mendatangi pendopo Kyai Abas, lalu mengecek kembali keadaan di sana tanpa memasuki pendopo.


Sementara Arsha masih gigih mencari Faizal, hingga sampai di tamaan belakang Arsha kembali merapatkan badannya ke pohon tempat ia memantau Aulia tadi selepas subuh.


Di lihatnya Faizal berada di depan pendopo sedang memperhatikan keadaan sekitar


" Aman.... " Ucap Faizal lirih, ia tak mengetahui keberadaan Arsha yang sedang mengintainya.


Faizal mengunci pintu utama pendopo, dengan santai lalu meninggalkan area itu, lagi-lagi Arsha hanya bisa memperhatikan saja dari jauh.


Pelan langkah Arsha mengikuti Faizal dari belakang, mengendap -endap agar tak ketahuan oleh Faizal.


Ternyata Faizal berjalan ke kamarnya, sepertinya ia hendak membersihkan diri karena tadi selepas subuh ia kembali tidur.


Arsha tidak mengikutinya, Arsha berhenti agak kejauhan dari serambi kamar Faizal, ia tak pergi tapi menunggu sampai Faizal ke luar kamar lagi.


Sambil menunggu, Arsha mengingat kembali apa saja yang sudah ia lalui sepagi ini.


Arsha tersenyum, iya Arsha tersenyum ketika lamunannya membawa pada sosok Aulia.


Lalu Arsha mengkerutkan wajahnya ketika ia mengingat kejanggalan pada diri Faizal.


Tidak lama kemudian pintu kamar Faizal terbuka dan Faizal muncul dari balik pintu itu, ia sudah rapi dan siap untuk mengurus pondok pesantren.


Arsha masih mengintip dari kejauhan, " Sebenarnya Mas Faizal tampan juga, sayangnya gayanya suka tengil sih jadi ketampanannya kalah dengan gayanya " Gurau Arsha dalam hati.


Arsha mulai menampakan diri dan berjalan mendekati Faizal seolah baru datang untuk mencari Faizal.


" Assalamu'alaikum Mas.... " Sapa Arsha, Faizal tersenyum.


" Wa'alaikumssalam.... " Jawab Faizal.


Arsha sekarang berdiri tepat di hadapan Faizal, mereka beradu pandang.


" Mas, keren sekali " Tanya Arsha menggoda, Faizal tersipu malu.


" Ah masa sih?! " Faizal seolah-olah meninju perut Arsha.


" Iya masa aku bohong " Arsha memberikan tatapan yang meyakinkan.


" Mau kemana Mas? " Arsha bertanya lagi.


" Ya mau ke kantor kepengurusanlah " Jawab Faizal, Asha mengangguk-angguk.


" Tumben rapi sekali.…. " Arsha lanjut menggoda.


" Ah sudahlah kau jangan menggodaku Arsha " Faizal melangkahkan kakinya yang di ikuti Faizal, kali ini tidak sembunyi-sembunyi.


...****************...


Sebuah mobil berhenti di pekarangan rumah Kyai Abas, Umi Tinah yang mendengar ada mobil datang segera ke luar.


" Mobil siapa itu? " Tanya Umi Tinah lirih.


Aulia turun dari mobil dengan senyum mengembang, " Ya Allah... Masya Allah Aulia!!! " Umi Tinah tak menyangka akan kedatangan putrinya.


Mata Umi Tinah berkaca-kaca, tangannya mengulur ke depan seperti hendak memeluk putrinya, jalannya dipercepat.


Aulia menghampiri Uminya, tak lupa Aulia salim lalu memeluk Uminya.


Umi Tinah memeluk erat seraya menangis, " Kenapa baru pulang? " Tanya Umi Tinah sesenggukan.


Aulia tak menjawab tak menangis juga, matanya menatap pintu rumahnya yang terbuka hingga ia bisa melihat ruang tengah rumahnya.


Setelah pelukan itu lepas, Umi Tinah menciumi Aulia, seperti hendak melepaskan kerinduan yang mendalam.


" Ayo masuk! " Pinta Umi Tinah sambil menggandeng tangan Aulia mengajaknya masuk.


Aulia mengikuti kemauan Uminya, walau agak lambat tapi tetap ia melangkahkan kakinya.


" Abi pasti senang sekali melihat kedatanganmu Nduk ... " Umi Tinah tersenyum, Aulia tersenyum juga.


" Umi, ini Aulia bawakan makanan untuk kita makan bersama " Ucap Aulia sambil menyodorkan plastik yang ia bawa.


" Apa ini? " Umi Tinah mengambil plastik itu dan melihat apa isinya.


" Wah asem-asem! " Umi Tinah menatap Aulia senang.

__ADS_1


" Kau masih saja ingat makanan kesukaan kami, Abi pasti makan banyak dan akan segera sembuh " Umi Tinah mengelus tangan Aulia, Aulia kaget mendengar ucapan Uminya.


Umi Tinah menuju dapur menyiapkan makanan, sementara Aulia tetap terdiam sendirian.


Pikirannya tertuju pada Abinya Kyai Abas, " Abi sakit? " Tanyanya dalam hati, matanya mulai berkaca-kaca.


Aulia bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju kamar Kyai Abas, tapi tak ditemuinya.


Terdiam Aulia lalu berusaha mengingat sejenak dimana kiranya tempat Abinya beristirahat.


Matanya memandang pintu kamarnya, didekatinya, lalu dibukanya perlahan sedikit mengintip Aulia melihat keadaan kamarnya.


Pandangan Aulia tertuju pada tempat tidurnya, di sana ia melihat Abinya sedang terbaring.


" Abi.... " Panggil Aulia dalam hati, seperti tak tega melihat ke adaan Abinya dari kejauhan.


" Masuklah! " Perintah Umi Tinah pada Aulia dari belakang, Aulia sedikit kaget mendengar suara Umi Tinah.


" Masuklah Nduk, temui Abimu " Perintah Umi Tinah lagi.


" Abi sangat merindukanmu " Sambung Umi Tinah tersenyum, lalu pergi ke dapur lagi.


Aulia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali.


Setelah menguatkan diri dan menghapus air matanya Aulia memasuki kamarnya, jalannya pelan agar tak membangunkan tidur Abinya.


Aulia berdiri di samping ranjangnya, diperhatikan wajah Abinya yang tampak lemas tapi bercahaya.


Diraihnya kursi yang ada didekat ranjang dan duduklah Aulia di samping ranjangnya, tangan Aulia mulai memegang tangan Kyai Abas, Abinya.


" Assalamu'alaikum Abi... " Ucap Alma menahan tangis sambil mencium tangan Kyai Abas.


Kyai Abas terbangun dari tidurnya, matanya terbuka perlahan, sadar akan tangannya yang digenggam oleh seseorang maka ia mencari tahu siapa yang telah menyaliminya.


Pandangannya beralih ke sebelah kanan, " Wa'alaikumssalam warahmatullahi wabarakatuh " Balas Kyai Abas lirih.


Aulia kaget mendengar suara Kyai Abas menjawab salamnya, keningnya yang semula masih melekat di tangan Abinya kini mulai di angkat.


Pandangannya tertuju pada Kyai Abas, ia melihat Kyai Abas tersenyum, Aulia membalas senyuman Kyai Abas.


" Alhamdulillah Abi.... Abi sudah bangun " Aulia menangis sambil mengucap syukur, Kyai Abas tersenyum sambil mengusap kepala Aulia.


" Kapan kau datang Nduk? " Kyai Abas memandangi putrinya penuh kasih sayang.


" Baru saja Abi ... Abi kenapa tidak mengabari Aulia? " Tanya Aulia.


Kyai Abas membenahi dirinya, ia bangun dibantu Aulia lalu duduk bersandar bantal.


" Tidak, Abi rasa juga sekarang Abi sudah sembuh " Jawab Kyai Abas tertawa.


" Iya Abi juga serius Nduk.... " Kyai Abas membujuk Aulia.


" Sudah berapa hari Bi? " Aulia bertanya lagi.


" Kurang lebih empat hari " Jawab Kyai Abas singkat.


" Sebenarnya Abi sudah sembuh, hanya saja masih lemas tapi setelah kau datang Abi rasa Abi sudah pulih benar " Kyai Abas menatap Aulia dalam-dalam.


Aulia memeluk Abinya itu, Kyai Abas menyambutnya melepaskan kerinduan yang selama ini dipendam dalam-dalam.


Umi Tinah memasuki kamar Aulia, melihat pemandangan Kyai Abas dan Aulia membuatnya meneteskan air mata.


" Alhamdulillah.... Terimakasih Ya Allah sedikit demi sedikit Kau telah melunakan kerasnya hati putriku " Umi Tinah berucap lirih.


Umi Tinah menghampiri Aulia dan Kyai Abas yang sedang bercanda, " Abi tidak mau pindah dari kamarmu Nduk.... " Ucapnya menyadarkan Aulia dan Kyai Abas akan keberadaan Umi Tinah.


Aulia tertawa kecil, sementara Kyai Abas tak menjawab apa- apa tapi pandangannya melirik pada Umi Tinah.


" Sekarang yang punya kamar kan sudah kembali Bi, jadi alangkah baiknya Abi kembali ke kamar Abi saja " Umi Tinah memberi saran, logat bicaranya agak meledek.


Aulia memperhatikan ke dua orangtuanya, senyumnya manisnya tak pernah lepas dari bibirnya melihat kemesraan Umi dan Abinya.


" Iya-iya Mi... Abi kembali ke kamar " Ucap Abi pasrah dengan nada bicara seperti orang tertuduh.


Suasana kamar Aulia menjadi hangat dipenuhi dengan canda dan tawa keluarga Kyai Abas.


" Terimakasi Ya Allah Kau selalu melindungi ke dua orangtuaku dan memberikan mereka kesehatan, alhamdulillah " Ucap syukur Aulia dalam hati.


" Kalau begitu sekarang kita makan dulu " Usul Umi Tinah, yang disetujui oleh Kyai Abas dan dijawab anggukan oleh Aulia.


...****************...


Arsha dan Faizal berjalan beriringan melewati beberapa serambi lalu tibalah mereka di depan ruang kepengurusan.


Faizal menoleh ke arah Arsha, Arshapun menoleh ke arah Faizal dan akhirnya mereka bertemu pandang, lalu tersenyum dan membuang muka.


" Arsha kau ada apa ingin menemuiku tadi? " Tanya Faizal.


" Oh iya aku hampir lupa Mas " Ucap Arsha polos.


" Ini Mas, aku mau tanya tentang Kyai Abas " Arsha memberi jawaban atas pertanyaan Faizal tadi.


" Ada apa dengan Kyai Abas? " Tanya Faizal.


" Kyai Abas bagaimana ya keadaannya? " Arsha bertanya mengira-ira.

__ADS_1


" Lho bukannya kamu kemarin habis menjenguknya? " Faizal kembali bertanya.


" Iya sih.... Cuma keadaannya bagaimana hari ini? " Arsha mengalihkan pandangannya, Faizal memperhatikan Arsha.


" Tumben kamu peduli dengan Kyai Abas? " Bukannya menjawab Faizal malah berbalik bertanya.


" Aku itu selalu peduli Mas, hanya aku ini menutupinya " Arsha sediki meledek.


" Wuih sombong sekali ya anak ini... " Ejek Faizal.


" Sudah empat hari Lho Mas Kyai Abas sakit dan tidak bisa datang ke pondok pesantren " Arsha mulai bicara serius, Faizal memperhatikan dengan seksama.


" Pekerjaan Kyai Abas bagaimana coba? Urusan pondok ini bagaimana Mas? Siapa yang menggantikan tugas beliau??? " Arsha memberikan banyak petanyaan, Faizal masih mendengarkan.


" Aku akan ke rumah Kyai Abas lagi " Arsha berbicara sambil melirik Faizal, kali ini Faizal terkejut mendengar ucapan Arsha.


" Eh jangan... Jangan kesana ya! " Faizal mencegah.


" Kenapa Mas? " Arsha ingin tahu, tangannya bersedekap.


" Tidak, tidak apa-apa aku rasa biar aku saja yang ke sana " Faizal memberikan ide lain, Arsha menatap Faizal dengan tatapan penuh tanda tanya.


" Tapi bukannya Mas harus mengurus pondok pesantren ya? " Tanya Arsha menyelidiki.


" Ah iya, iya hanya sebentar, kamu tidak lihat kalau aku sudah berpakaian rapi seperti ini? " Faizal balik bertanya pada Arsha.


" Apa hubungannya? haha " Arsha tertawa.


" Jelas ada, ini tandanya aku sudah siap untuk mengunjungi Kyai Abas " Faizal memberikan penjelasan, Arsha terdiam seketika.


" Ada apa ini? Kenapa harus rapi sekali kalau untuk bertemu Kyai Abas? Bukankah biasanya selalu berpakaian biasa saja? Apa karena ada Aulia di rumah kyai Abas? " Begitu banyak pertanyaan dalam hati Arsha.


Sikap dan pandangan Arsha masih biasa saja seolah-olah tidak tahu apa-apa.


" Memang ada acara apa Mas di sana sampai Mas Faizal harus berdandan rapi seperti ini? " Arsha menggoda Faizal.


Faizal salah tingkah, ia tak menjawab pertanyaan Arsha, ia takut salah bicara tentang keberadaan Aulia.


" Sudahlah, sudah siang aku mau menyelesaikan tugasku agar bisa segera mengunjungi Kyai Abas " Tukas Faizal.


Faizal mulai melangkahkan kakinya dan meninggalkan Arsha, sementara Arsha masih berdiri di tempatnya, sambil menghitung langkah kaki Faizal.


" Satu, Dua.... " Suara Arsha Lirih.


" Aulia cantik ya Mas?! " Suara Arsha keras, tepat dihitungan langkah kaki Faizal yang ke tiga.


Faizal yang mendengar pertanyaan Arsha menghentikan langkahnya, matanya terbuka lebar dan kemudian membalikan badannya.


Arsha berjalan mendekati Faizal yang kini mengahadap ke arahnya.


" Bagaimana kau tahu? " Tanya Faizal pelan dengan nada rendah.


" Aku hanya bertanya " Jawab Arsha singkat.


Faizal menatap Arsha tajam, " Kau melihat kedatangannya? "


Arsha tersenyum, " Aku tak tahu tentang itu, yang ingin aku tahu apakah Aulia itu cantik? " Tanyanya.


" Iya tentu saja sangat cantik " Faizal menjawab sedikit tegang, Arsha tersenyum.


" Tapi aku datang ke rumah Kyai Abas bukan karena keberadaan Aulia, tapi karena aku ingin menjenguk Kyai " Faizal menjelaskan.


" Aku sedari tadi tidak pernah membahas tentang kedatangan atau keberadaan Aulia, Mas " Arsha menjawab penuh ketenangan.


Senyum Arsha selalu mengembang, kedua tangannya di belakang mengepal.


" Tapi Mas Faizal selalu membahas tentang kedatangan dan keberadaannya, bukankah itu berarti memang dia datang? " Arsha memberikan pertanyaan yang sangat mengejutkan bagi Faizal.


" Terserah bagaimana jalan pikiranmu " Faizal kehabisan kata-kata, pandangannya mulai melemah.


" Jika Mas Faizal nanti jadi menjenguk Kyai Abas sampaikan salamku untuknya " Ucap Arsha sambil menepuk pundak Faizal.


Arsha memasuki ruang kepengurusan sementara Faizal masih berdiri ditempatnya semula.


" Jadi itu alasannya Mas Faizal selalu mengikutiku, mulai dari membohongiku akan batalnya kedatangan Aulia, menginap di kamarku, sampai selalu mengikutiku kemanapun aku pergi " Arsha berpikir keras sambil duduk di kursi kerjanya.


" Tapi kuasa Allah memang di atas segalanya, qodarullah atas izin Allah aku bisa melihatnya " Arsha tersenyum.


" Tapi kenapa aku yang diperlakukan seperti ini oleh Mas Faizal? Kenapa tidak dengan yang lain? " Arsha Masih bertanya-tanya.


Faizal memasuki ruang kepengurusan, matanya tak sengaja beradu pandang dengan Arsha.


Arsha mengawali tersenyum dan dibalas senyuman pula oleh Faizal walau sedikit agak canggung.


" Pokoknya aku harus ke rumah kyai Abas hari ini, harus!!! " Tekad Faizal dalam hati.


Nurul memasuki ruangan, Nurul adalah orang bagian administrasi pondok pesantren, badannya tidak tinggi tapi sedikit gemuk.


Wajah Nurul begitu murung " Assalamu'alaikum.... " Nurul mengucap salam.


" Wa'alaikum salam " Serempak seisi ruangan menjawab salam.


" Ada apa Nurul kenapa mukamu begitu? " Tanya Faizal tapi tak mendapat jawaban.


Nurul menghampiri Arsha " Tolong titip sampaikan ini untuk Kyai Abas ya " Pinta Nurul agak berbisik dengan menyodorkan amplop di bawah meja agar tak ketahuan dengan yang lain.

__ADS_1


Arsha menerima amplop itu, Faizal memperhatikan gerak-gerik mereka.


__ADS_2