
" Apa pekerjaanmu sudah beres Nduk? Kok sudah dirapikan laptopnya? " Umi Tinah mengalihkan pembicaraan.
" Sudah Mi, sepertinya aku harus pulang malam ini " Jawab Aulia.
" Pulang? Pulang kemana? Ini kan rumahmu Nduk! " Tanya Umi Tinah meninggi.
Aulia paham benar dengan sikap Umi Tinah, maka ia merapatkan badannya dan memeluk Uminya dari samping.
" Umi, Aulia harus kembali ke Jakarta malam ini " Ungkap Aulia lirih.
Mendengar jawaban itu Umi Tinah hanya diam saja, ada perasaan tidak suka di dalam dadanya.
" Umi.... Maafkan Aulia " Lanjut Aulia.
Kyai Abas memasuki kamar Aulia dan meninggalkan Arsha sebentar.
" Ada apa? " Tanya Kyai Abas ketika melihat ke dua orang yang disayanginya beperlukan.
" Aulia mau kembali ke Jakarta malam ini Bi " Jawab Aulia.
Kyai Abas ikut terdiam seperti istrinya ia hanya bisa memendam perasaan tidak suka akan keputusan putrinya itu.
Sementara di ruang tamu Arsha masih memikirkan tentang masalah pondok pesantren, " Bagimana bisa Aulia terbawa-bawa dalam masalah ini? "
" Padahal masalah ini ada jauh sebelum Aulia lahir " Arsha masih bermain dengan pikirannya.
" Husain, ya dia yang membawa Aulia pada masalah ini dan Aulia sendiri tidak tahu menahu " Lanjut Arsha.
Kyai Abas kembali ke ruang tamu untuk menemui Arsha yang menunggunya sambil merenung.
Kyai Abas mengambil posisi duduk tepat di samping Arsha seperti tadi.
" Aulia mau kembali ke Jakarta malam ini " Ujar Kyai Abas pada Arsha.
Buyar semua yang Arsha pikirkan, terkejut dengan apa yang Kyai Abas sampaikan.
Arsha berusaha untuk tetap tenang walau di dalam hatinyapun Arsha seperti ingin menahan kepergian Aulia.
" Secepat itukah? " Tanya Arsha dalam hati.
" Seperti apa si Husain itu? Bagaimana mungkin dia punya hati yang licik? " Masih bertanya dalam hati.
" Husain dimana sekarang Kyai? " Sektika Arsha bertanya setelah ia bisa menguasai pikirannya kembali.
" Entahlah.... Semenjak ia bercerai dengan istrinya dia pergi entah kemana " Jawab Kyai Abas lemas.
" Bisa jadi Husain mencari Aulia " Arsha berpikir lagi matanya menatap tajam ke depan, entah apa yang ia tatap.
" Keluarganya di Solo tidak pernah menanyakan ke Kyai? " Arsha mulai menyelidik.
Kyai Abas menoleh ke Arah Arsha dan berbalik bertanya " Bagaimana kau bisa tahu tentang Husain? "
Arsha mengangguk senyumnya tak tertinggal " Iya saya tahu dari Mas Faizal "
Kyai Abas menganggukan kepalanya.
" Kyai jangan bersedih, bukankah lebih baik bagi Aulia menjauh dulu? " Arsha mencoba membantu memecahkan kesedihan Kyai Abas.
" Iya Nak kau benar " Jawab Kyai Abas badannya ia sandarkan di sandaran kursi, matanya tak berpindah dari Arsha.
Arsha kemudian diam tak berbicara apapun, kepalanya menunduk ia berusaha menata perasaannya.
" Hati Aulia dikunci oleh Husain, itu sebabnya Aulia belum bisa menghilangkan bayang-bayang Husain dan tidak bisa membuka hati untuk laki-laki lain " Kali ini Kyai abas yang berbicara dalam hati.
" Akan lebih baik bagi Aulia untuk menghindari kemungkinan bertemu dengan Husain, karena jika mereka bertemu ada kemungkinan rasa cinta itu tumbuh lagi " Kyai Abas memecahkan masalahnya sendiri.
" Arshaka, apa kau yakin ingin bersama Aulia? " Kyai Abas bertanya pada arsha setelah ia bisa menenangkan dirinya sendiri.
" Tentu Kyai! " Arsha menjawab mantap.
" Meskipun nanti akhirnya Aulia tak bisa mencintaimu? " Kyai Abas masih belum puas.
" Iya Kyai apapun nanti keputusan Aulia " Santun Arsha menjawab.
" Syukurlah aku hanya takut kau mundur, terimakasih Nak " Kyai Abas menambahkan.
Kyai Abas dan Arsha saling melempar senyuman.
" Kau sudah makan? " Kyai Abas mengalihkan pembicaraan.
" Sudah Kyai tadi di pondok " Jawab Arsha.
" Nanti makan dulu di sini ya baru kembali ke pondok " Pinta Kyai Abas.
" Tidak Kyai terimakasih akan lebih baik jika saya kembali ke pondok sebelum Ashar " Arsha menolak.
" Kenapa? " Kyai Abas bertanya.
" Tidak apa-apa saya juga terburu-buru takut nanti di tunggu sepedanya sama Pakde Hadi " Alasan Arsha.
Yang sebenarnya adalah Arsha tidak ingin Aulia tahu tentang dirinya dulu.
" Yaya baiklah.... " Kyai Abas mengangguk.
Mereka berjalan ke luar rumah, dan obrolan mereka masih berlanjut di halaman.
" Bagaimana Faizal tahu kalau Aulia ada di sini? " Tiba-tiba Kyai Abas bertanya pada Arsha.
Kyai Abas ingat tadi Arsha berkata bahwa Faizal sudah berdandan rapi dan wangi untuk mengunjungi Kyai Abas.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Kyai Abas Arsha jadi bingung sendiri mau jawab apa.
" Entahlah Kyai saya juga bingung " Jawab Arsha sekenanya.
Arsha berbohong, ia tak mengatakan jika Aulia meminta tolong pada Faizal tapi tidak boleh ada yang tahu.
Mengingat perilaku Faizal tadi pagi membuat Arsha tersenyum-senyum sendiri dan Arsha tak menyadari kalau ia diperhatikan oleh Kyai Abas.
" Ada apa Nak? " Kyai Abas mencoba mencari tahu, Arsha terkejut mendengar pertanyaan itu.
" Tidak Kyai, saya hanya mengingat Mas Faizal tadi pagi saja" Jawab Arsha.
" Tapi dia tidak marah padamu kan? " Lagi-lagi Kyai Abas bertanya.
" Sempat sebentar Kyai " Singkat Arsha menjawab.
" Kalau dia memarahimu katakan saja padaku ya, biar aku jelaskan semuanya " Pesan Kyai Abas.
" Kyai mau mengatakan semuanya termasuk tentang niat baik saya tadi? " Arsha sedikit panik.
" Lho memang kenapa? " Kyai Abas heran sambil menahan tawa.
" Faizal pernah meminta Aulia juga padaku tapi Aulia tidak mau dan hanya menganggap Faizal sebagai teman saja " Kyai Abas bercerita lagi.
Ada perasaan senang dan kecewa di dalam diri Arsha saat mengetahui cerita itu dari Kyai Abas sendiri.
" Berarti saya bersalah ya Kyai? " Arsha Tersenyum.
" Kenapa? " Tanya Kyai Abas.
" Seharusnya saya tidak menyela lamaran orang lain bukan? " Jawab Arsha dengan pertanyaan .
" Ha... ha... " Kyai Abas tertawa lebar, kali ini tak perlu takut Aulia akan terbangun karena memang Aulia sudah bangun dan posisi mereka ada di halaman jadi suara mereka tidak akan terdengar oleh Aulia.
Arsha hanya bisa memperhatikan Kyai Abas dan menunggu penjelasannya.
" Tentu tidak Nak... Faizal belum melamar hanya meminta, sama sepertimu saat ini. Bedanya kalau Faizal langsung ditolak oleh Aulia " Kyai Abas memberikan penjelasan.
" Jangan mundur dulu, kau baru saja mau memulai peperangan bukan " Lanjut Kyai Abas terkekeh.
Arsha bernafas lega mendengar penjelasan dari Kyai Abas, ia segera menyiapkan sepedanya untuk kembali ke pondok pesantren.
Umi Tinah sedikit berlari menghampiri Arsha, " Ini jangan lupa dibawa ya " Pintanya.
" Lho Umi kenapa harus dibekali? " Arsha kebingungan.
" Tidak apa-apa buat dimakan bersama teman-teman ya " Jawab Umi Tinah, lalu meletakan kantong plastik entah apa isinya di stang sepeda sebelah kiri.
" Dan yang ini tolong berikan pada Pakde Hadi ya " Pesan Umi Tinah dengan meletakan kantong plastik yang satu lagi di stang kanan.
Arsha tidak bisa menolak jika sudah seperti itu, semua sudah diagantung di stang sepeda tidak enak juga jika harus turunkan.
" Terimakasih Kyai, Umi maaf jadi merepotkan " Ucap Arsha canggung.
" Sudah-sudah jangan canggung begitu, bagi Umi kalau buat calon menantu tidak ada yang merepotkan " Umi Tinah mengelus lengan Arsha.
Arsha semakin salah tingkah mendengar ucapan Umi Tinah, ada rasa bahagia sekali diperlakukan seperti itu.
" Umi.... Jangan begitu, lihat itu wajahnya Arsha Jadi merah karena malu " Tegur Kyai Abas dengan nada menggoda Arsha.
" Tidak apa-apa Abi, kan memang seperti itu kenyataannya " Umi Tinah membalas, Arsha masih salah tingkah tersenyum malu-malu.
" Mudah-mudahan kaulah orang yang bisa meluluhkan hati Aulia yang keras itu Nak " Ucap Kyai Abas sambil menepuk bahu Arsha.
Arsha menjadi sangat berwibawa sekali mendengar ucapan Kyai Abas, " Aamiin Allahumma aamiin... Kyai " Jawab Arsha mantap.
" Kalau begitu saya pamit ya Kyai " Lanjut Arsha.
" Iya Nak, hati-hati di jalan " Kyai Abas berpesan.
" Tolong bantu saya dengan doa ya Kyai, Umi.... " Pinta Arsha.
" Pasti Nak " Kyai Abas dan Umi Tinah menjawab bersamaan, lalu mereka saling pandang dan tersenyum bersama.
" Sudah pasti Nak kami selalu mendoakan, karena kami sudah merasa cocok denganmu sejak pertama kali bertemu " Umi Tinah menambahkan.
Arsha Tersenyum, lalu menyambut tangan Kyai Abas untuk menyalimi bergantian dengan tangan Umi Tinah.
" Assalamu'alaikum.... " Arsha pamit.
" Wa'alaikumssalam warahmatulahi wabarakatuh " Balas Kyai Abas dan Umi Tinah.
Arsha segera mengayuh sepedanya untuk kembali ke pondok pesantren, perasaan bahagia dan gundah bercampur di benaknya.
...****************...
Aulia telah selesai membersihkan diri dan menyiapkan barang bawaannya untuk ia bawa kembali.
Adzan Ashar berkumandang, Kyai Abas dan Umi Tinah memasuki rumah dan bersiap untuk menjalankan sholat Ashar bersama dengan Aulia.
...****************...
Arsha sudah sampai di depan rumah Pakde Hadi, ia ingin mengembalikan sepeda yang ia pinjam serta menyampaikan titipan dari Umi Tinah.
" Sudah Adzan pasti Pakde Hadi sudah ke masjid pondok " Katanya lirih.
Pintu rumah Pakde Hadi dibuka dari dalam, Arsha menunggu sampai orang itu keluar dan ternyata orang itu adalah Pakde Hadi.
" Eh Arsha! " Sapa Pakde Hadi.
__ADS_1
" Kok cepat sekali? " Tanyanya menghampiri Arsha.
" Iya Pakde saya mau mengembalikan sepeda dan ini ada titipan dari Umi Tinah " Ucap Arsha sembari memberikan titipan dari Umi Tinah.
" Lho kok malah repot-repot " Pakde Hadi menerima bungkusan plastik dari tangan Arsha.
" Tidak Pakde, oh iya sudah adzan " Arsha mengingatkan.
" Sini masuk, sholat di rumah saya saja kamu yang jadi imamnya ya " Perintah Pakde Hadi.
Tak banyak waktu untuk menolak akhirnya Arsha menyetujui saja permintaan Pakde Hadi.
Arsha sholat di rumah Pakde Hadi, ia menjadi imamnya sementara makmunnya adalah Pakde Hadi sekeluarga bersama saudara yang lain.
Merdu sekali suara Arsha dan sangat menenangkan bagi yang mendengarkan bacaannya pun tepat.
Dilain tempat Aulia juga melaksanakan sholat ashar di rumah bersama Abi dan Uminya.
Selepas salam Arsha bertasbih bershalawat dan tak lupa berdoa untuk ke dua orangtuanya, dirinya sendiri dan pastinya untuk Aulia.
Aulia juga melakukan hal yang sama bedanya Aulia tidak mendoakan Arsha karena Aulia belum mengenal Arsha.
Setelah selesai berdoa Arsha pamit untuk pulang ke pondok pesantren pada Pakde Hadi.
Tidak lupa ia mengucapkan terimakasih atas pinjaman sepedanya dan tak lupa juga ia membawa bungkusan plastik satu lagi untuk dirinya sendiri dari Umi Tinah.
Sesampainya di pondok Arsha memasuki ruang kepengurusan, dihampirinya Nurul untuk mengatakan bahwa amanahnya telah ia sampaikan pada Kyai Abas.
Faizal masih ada di sana, ia memperhatikan Arsha tapi Arsha tak menyadarinya.
Bungkusan yang ia bawa tadi ia serahkan pada Nurul agar bisa dibagi-bagi.
Arsha ke luar, ia berjalan menuju kamarnya, sepertinya ia lelah dan ingin beristirahat sebentar.
Faizal mengikutinya dari belakang, " Arsha... ! " Panggilnya.
Asrha menoleh kebelakang, ia melihat Faizal datang menghampiri, " Iya Mas " Jawab Arsha.
" Kau mau kemana? " Tanya Faizal.
" Mau ke kamar Mas, mau sekalian mandi " Jawab Arsha.
" Kamu bawa apa tadi? " Tanya Faizal lagi, Arsha tersenyum.
" Oh itu dari Umi, katanya untuk dimakan bersama teman-teman " Jawab Arsha jujur.
Faizal datar mendengar jawaban Arsha, pandangannya pada Arshapun tanpa ekspresi.
" Ada apa ya Mas? Aku sudah gerah sekali ini " Rasanya Arsha ingin cepat-cepat kembali ke kamarnya.
" Oh ini, ini aku mau tanya bertemu dengan siapa saja tadi di rumah Kyai? " Faizal mulai menyelidik.
" Ya aku bertemu dengan Kyai Abas dan Umi Tinahlah Mas, siapa lagi? " Arsha menjawab denga tersenyum.
" Serius? " Tanya Faizal.
" Serius " Jawab Arsha sambil mengangguk.
" Yakin??? " Faizal bertanya curiga.
" Yakinnnn Mas " Arsha menjawab agak panjang.
" Memang ada apa sih Mas? Ada siapa di sana selain Umi dan Kyai? " Arsha bertanya pada Faizal seperti menggoda, tangannya menyilang di dadanya.
" Oh tidak, tidak ada apa-apa " Jawab Asha gugup.
" Tenang Mas jangan khawatir, aku tidak bertemu dengan Aulia " Arsha meyakinkan Faizal.
Faizal tercengang mendengar ucapan Arsha, " Kok Aulia? " Ia pura-pura bertanya.
" Ya aku pikir Mas tadi berdandan rapi, pakai wewangian itu karena ingin bertemu dengan Aulia, Mas " Arsha menjelaskan yang sebenarnya ia ingin tahu.
" Ah jangan suka berlebihan " Faizal salah tingkah.
" Mas Faizal kenapa bersikap aneh? " Tanya Arsha.
" Apanya yang aneh?? " Bukan menjawab tapi Faizal malah balik bertanya.
" Memangnya Aulia pulang ya Mas? " Tanya Arsha yang pura-pura tidak tahu.
" Ya mana aku tahu Arsha... ! " Jawab Faizal agak meninggi.
" Lagi pula kenapa sih kamu dari tadi yang dibahas Aulia terus? " Faizal menutup-nutupi.
Asha tertawa kecil melihat sikap Faizal yang gugup seperti itu.
" Ya Mas berpakaian rapi dan wangi buat siapa coba kalau bukan buat orang yang spesial? " Skak matt dari Arsha, Faizal semakin gugup.
" Kecuali Mas Faizal menganggap Kyai Abas dan Umi Tinah itu spesial " Lanjut Arsha sambil mengedipkan sebelah matanya yang kiri.
" Oh iya Mas, kalau Mas Faizal mau berkunjung ke rumah Kyai Abas mendingan sekarang aja deh, mumpung bajunya masih rapi dan wanginya masih tercium, hummmm harummm " Arsha Memberi saran dengan nada meledek.
" Kau ini bicara apa sih Arsha?!!! " Faizal sedikit emosi, tapi memang sebenarnya Faizal merasa malu karena apa yang dikatakan Arsha tadi benar.
Arsha membalikan badannya dan kembali berjalan menuju kamarnya.
Sementara Faizal masih berdiri melihat kepergian Arsha sambil terus menggerutu.
" Masa Aulia tidak ada di rumah? Apa dia tadi langsung kembali ke Jakarta ya? " Faizal berbicara sendiri tangannya menggaruk-garuk kepalanya.
__ADS_1