
" Kenapa aku tadi lupa ya untuk menanyakan nama dari putri Kyai Abas ya? " Gerutu Arsha dalam hati ketika ia kembali dari rumah Gurunya itu.
Jarak ponpes dengan rumah Kyai Abas tidaklah begitu jauh, kurang lebih tiga kilometer dan Arsha menempuhnya dengan berjalan kaki.
Sepanjang perjalanan pulangnya ia selalu terbayang-bayang wajah putri Kyai Abas yang tak ia ketahui siapa namanya.
" Aaaah betapa bodohnya aku, padahal aku tadi memegang selular milik Kyai, harusnya aku bisa mendapatkan nomor selular putrinya atau paling tidak harusnya aku bisa tahu siapa namanya " Sesal Arsha, ditepuk jidatnya, wajahnya manyun semakin lucu jika di lihat.
Tanpa Arsha sadari benih cinta mulai tumbuh di dalam hatinya,
" Bagaimana mungkin aku bisa selalu terbayang-bayang wajahnya ya? " Tanya Arsha dalam hati.
Langkah Arsha tak jelas kesana kesini, setiap apa yang ada di hadapannya ia tendang, tangannya juga menggapai-gapai pagar orang, tak jarang ia merenggut beberapa dedaunan yang ada di pinggir jalan.
Sempat beberapa orang yang melintas dan berpapasan dengannya menertawakan kelakuan Arsha, tapi Arsha tak menghiraukannya karena memang pikirannya sedang kemana-mana.
" Mas....! " Sapa perempuan seusia Arsha, yang melintas mengenakan sepeda tapi tak di sahutinya.
Selang berapa lama " Hallo ganteng.... " Goda perempuan lain yang berjalan kaki di depan Arsha, tapi tak di gubris olehnya.
" Assalamu'alaikum.... " Sapa sekumpulan remaja perempuan lain lagi dan kali ini dijawab oleh Arsha, " Wa'alaikumssalam ... "
" Alhamdulillah ternyata masih waras he.. he... " Timpal teman dari perempuan itu.
" Kasian mana masih muda " Imbuhnya sambil geloyor pergi meninggalkan Arsha dan tertawa cekikikan.
Arsha memandang kepergian mereka, raut wajahnya masih tampak kebingungan dengan sikap mereka.
Tak lagi menghiraukan perempuan-perempuan yang menggodanya ia segera melanjutkan langkah kakinya untuk kembali ke ponpes.
Tak berapa lama Arsha sudah sampai di area ponpes, segera ia masuk ke halaman dan memasuki bangunan khusus, bagian kepengurusan dan guru.
Arsha duduk di pinggiran teras, mengatur nafas dan meluruskan kaki serta menenangkan pikirannya yang terus terganggu oleh bayangan putri Kyai Abas.
Faizal datang menghampiri Arsha dan langsung menepuk pundaknya. Faizal adalah salah satu pengurus ponpes yang sangat akrab dengan Arsha, Faizal lebih tua sepuluh tahun jadi mereka sudah seperti kakak beradik.
" Hai! Apa yang kau lakukan di sini ? " Tanya Faizal setelah menepuk pundak Arsha dan Arsha kaget dengan kelakuan Faizal.
" Astaghfirullah... Mas! Bikin aku kaget aja " Arsha bersungut-sungut sambil mengelus dada.
Faizal tertawa terkekeh-kekeh melihat wajah Arsha tapi langsung terdiam setelah melihat mimik wajah Arsha yang menandakan ketidaksukaannya dengan kelakuan Faizal tadi.
" Ya maaf.... " Faizal segera meminta maaf.
" Mungkin aku tadi keterlaluan " Lanjut Faizal.
Arsha tersenyum, " Actingku bagus ya mas? Ahahaha " Puas Arsha tertawa.
" Arshakaaa!!!! " Faizal kesal di kerjai Arsha
" Aku sudah berpikir kau akan marah karena kelakuanku yang mengagetkanmu " Faizal menggerutu lalu duduk di sebelah Arsha.
Arsha masih tertawa, memang tadi dia berpura-pura kesal pada Faizal.
" Maaf Mas, untungnya Mas Faizal tadi hanya mengagetkanku, coba kalau yang lain bisa habis, Mas bakalan dimarahi " Arsha menasihati Faizal.
" Sok tua kamu " Faizal mlengos.
" He.. he... " Arsha tersenyum
Banyak yang mengira kalau mereka benar-benar adik kakak karena keakraban mereka, tinggi merekapun hampir sama.
" Jadi, kenapa kau ada di sini " Faizal mengulangi pertanyaannya.
" Oh iya, aku di sini hanya beristirahat saja, aku tadi berjalan sangat jauuuuh sekali " Arsha menjelaskan sambil memainkan tangannya, menggambarkan cerita lewat gerakan tangannya.
" Halah bohong " Faizal melirik tak percaya.
" Benar, masa aku bohong " Arsha menahan tawanya.
" Kalau mau berbohong itu agak pintar sedikit dong " Faizal masih tak percaya.
" Kau menahan tawa seperti itu pasti ada yang di sembunyikan " Faizal menyipitkan matanya, mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Arsha, Arsha menarik sedikit kepalanya ke belakang agar tidak terjadi fitnah jika di lihat orang.
" Apaan sih Mas... " Arsha mengalihkan pandangannya ke halaman, Faizal menarik nafas.
__ADS_1
" Baiklah kalau tidak mau mengaku, kau tidak mengajar hari ini? " Faizal mengalihkan pembicaraan.
" Tidak mas, alhamdulillah aku bisa istirahat " Arsha mengibas rambutnya yang nampak lepek karena berkeringat.
Faizal memperhatikan Arsha dari kepala sampai ujung kaki, memang tampak ke lelahan.
" Kembali saja ke asrama, lalu jika tidak ada kegiatan kau bisa belajar sendiri atau menghapal surah lagi " Faizal menyarankan.
" Iya mas... " Jawab Arsha singkat.
" Jangan iya mas , iya mas aja kamu! " Faizal meninggikan suaranya, Arsha terperanjat melihat perubahan pada Faizal.
Faizal menaik turunkan alisnya " Baguskan acting tegasku tadi??? hehe "
Arsha melengos, " Iya deh iya . baguuuuus " Ucap Arsha sambil memancungkan mulutnya.
Arsha sekarang sibuk mengibas baju kokonya, keringat membuat bajunya sedikit basah ia menunduk dan meniupi badannya.
" Padahal tadinya aku mau meminta tolong padamu untuk membersihkan dan menata ponpes ini " Pandangan Faizal mengarah ke halaman yang luas itu.
" Oh ya, memangnya mau ada acara apa Mas? " Ucap Arsha yang masih sibuk menunduk meniupi badannya
" Putri bungsu Kyai Abas akan datang dari Jakarta " Jawab Faizal
Arsha tercengang mendengar ucapan faizal, segera ia menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh ke arah Faizal, matanya terbelalak senyumnya mengembang.
" Yang benar saja Mas? " Arsha mulai agrsif mengguncang-guncangkan lengan Faizal, Faizal melirik Arsha merasa aneh dengan sikap Arsha.
" Kau kenapa? " Faizal bertanya heran.
Arsha membenahi posisi duduknya dan mulai bersikap seolah biasa saja.
" Memangnya kau pernah bertemu dengan putri bungsu Kyai? " Tanya Faizal melirik.
" Belum " Singkat Arsha menjawab.
" Tapi kau tampak begitu bersemangat sekali mendengar dia mau datang " Faizal melengos dan memalingkan mukanya dari Arsha, Arsha jadi salah tingkah dan menunduk lagi.
" Jadi memang rencananya dia akan datang besok dari Jakarta, aku juga tidak tahu tumben sekali dia mau berkunjung ke ponpes ini " Faizal coba membahas.
" Kau tahu Arsha putri bungsu Kyai Abas ini cantiiiiik sekali " Faizal bercerita penuh semangat.
" Masya Allah nya Mas jangan lupa " Arsha mengingatkan, memotong pembicaraan.
" Iya, Masya Allah cantiiiik sekali " Faizal mengulangi ucapannya, Arsha tertawa.
" Selain cantik dia juga pintar, dulu pernah datang ke ponpes tapi malah membuat para santri di sini tidak konsentrasi " Cerita Faizal berlanjut, Arsha semakin terkesima mendengarkan Faizal.
" Dia juga sempat mengajar para santriwati bela diri, tapak sucinya jago sekali, bacaan Qur'annya juga bagus, suaranya mendamaikan hati bagi yang mendengar, sayangnya dia risih jika jadi pusat perhatian, jadi mengajarnya hanya sebentar " Faizal larut dengan ceritanya sendiri.
Begitu juga dengan Arsha, semakin mendengarkan cerita Faizal semakin muncul bayang-bayang putri Kyai Abas, untung saja Arsha tetap menunduk jadi saat ia tersenyum-senyum sendiri tak terlihat oleh Faizal.
" Hai kenapa kau diam saja " Tegur Faizal menyentuh lengan Arsha dengan sikunya membuyarkan bayangan yang muncul di kepala Arsha tadi.
" Kan tadi Mas Faizal sedang bercerita, jadi aku mendengarkan saja " Arsha memberikan alasan.
" Kau pasti sedang membayangkan sosoknya ya? Sosok putri bungsu Kyai Abas? Iya kan??? " Goda Faizal, Arsha jengah.
Hening sesaat, entah apa yang sedang mereka bayangkan atau mungkin Faizal sedang merangkai kata untuk melanjutkan ceritanya.
" Tapi cinta mengalahkan segalanya " Benar saja Faizal melanjutkan ceritanya, Arsha menoleh ke Arah Faizal lalu menunduk lagi.
" Dia memilih untuk pergi hanya karena patah hati, ia ditinggalkan oleh kekasihnya " Lanjut Faizal.
" Padahal kalau dia mau bisa saja dia mendapatkan pengganti dengan cepat " Faizal menoleh ke arah Arsha yang masih tertunduk.
" Aku juga bisa menggantikan kekasihnya itu " Pandangan mata Faizal semakin tajam pada Arsha, Arsha seketika menoleh ke arah Faizal, mata mereka beradu pandang.
" Apaan sih Mas? Suka tak jelas " Gerutu Arsha.
Sepertinya Arsha merasakan kekesalan di dalam hatinya, entah karena larut dalam cerita Faizal, tentang sakit hati putri Kyai ataukah karena Faizal mengatakan bahwa Faizalpun ingin menggantikan posisi kekasih putri Kyai Abas?
" Jaga imanmu ya, jaga dirimu jangan sampai kau terjerumus seperti kekasihnya itu " Faizal menyentuh dada Arsha, Arsha terdiam mendapatkan perlakuan seperti itu dari Faizal, Arsha paham benar kalau Faizal sedang menguatkannya.
" Laki-laki yang baik akan dipertemukan dengan perempuan yang baik, percayalah janji Allah itu pasti " Keseriusan Faizal tampak jelas.
__ADS_1
" Kau tahu Allah itu Maha Baik, Husain itu meninggalkan putri Kyai karena dia tak baik " Faizal melirihkan ucapannya, Arsha menatap tajam pada Faizal yang duduk di sebelahnya dan pandangannya sudah tidak lagi pada Arsha.
" Husain tidak bisa menjaga batasannya dan pergaulannya hingga dia terjerumus, perempuan yang dikenalnya adalah perempuan jahat yang rela melakukan apapun demi bisa mendapatkan Husain, walaupun itu menduakan Allah bahkan berzina " Faizal menarik nafas dalam-dalam.
Arsha tercengang mendengar cerita Faizal, mulutnya menganga, matanya terbelalak dan alisnya mengkerut, tak lama kemudian Arsha sadar harus bersikap biasa saja.
" Bagaimana Mas Faizal tau kisah putri Kyai ya? " Pikir Arsha dalam hati.
" Kau pasti bingung " Singkat Faizal berkata, Arsha tersenyum kecil.
" Iya aku tahu semuanya, karena aku yang membantu Kyai melawan ghaib itu, ghaib yang di kirim oleh perempuan itu yang berusaha menyingkirkan putri Kyai Abas karena merasa bahwa putri Kyai sebagai saingannya untuk mendapatkan Husain " Panjang lebar Faizal bercerita.
" Lalu bagaimana kabar Husain sekarang? " Arsha memberanikan diri untuk bertanya.
" Husain sekarang kacau, kabar terakhir yang ku dengar dari Kyai Abas pernikahannya berantakan dan tidak membawa ke berkahan " Jawab Faizal
Arsha mulai berpikir keras tentang apa yang terjadi pada putri Kyai Abas, mulai muncul perasaan iba juga, tapi ada perasaan dimana ia ingin sekali bertemu dengan putri Kyai Abas.
" Mas, apakah jatuh cinta itu salah? " Polos Arsha bertanya.
Faizal yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya
" Dasar anak kecil, tentu tidak salah karena itu fitrahnya manusia " Faizal menjawab pertanyaan Arsha yang memang masih berusia tujuhbelas tahun itu.
" Tapi kenapa Mas tadi bilang kalau cinta bisa mengalahkan segalanya? " Tanya Arsha lagi, Faizal terdiam.
" Kelak kau akan tahu bagaimana dahsyatnya kekuatan cinta itu, bahkan kau juga kelak bisa membedakan mana yang cinta atau nafsu, seiring berjalannya waktu kau akan tahu dengan sendirinya, maka jika cinta itu datang ingatlah bahwa cinta itu tidak boleh lebih besar daripada cinta kepada Allah " Faizal memberi gambaran tentang pertanyaan Arsha.
" Bahkan cinta bisa menembus batas? " Arsha bertanya lagi, Faizal tersenyum dan mengelus rambut Arsha.
" Ya, bahkan menembus batas " Faizal memberikan jawaban.
" Apakah keputusan putri Kyai Abas itu salah, Mas? " Tanya Arsha lagi, polos.
" Aku tidak bisa menilai benar atau salah, yang pasti semua keputusan yang ia ambil pasti ada alasan dan tujuannya, terlebih inilah jalan yang telah Allah tentukan untuknya " Faizal menjelaskan, santun.
" Mas yang dimaksud menembus batas itu apa ya? " Rupanya Arsha masih penasaran
" Apa saja, sekiranya hal yang menjadi alasan membatasi cinta untuk bersatu, contohnya: perbedaan kelas, usia, keturunan " Kembali Faizal menjelaskan.
" Jika kau sudah mengenal cinta maka jagalah cinta itu, iringi dengan doa landasi dengan iman agar jangan sampai kau salah langkah, cintai karena Allah " Faizal lanjut menjelaskan dengan serius.
Arsha mengangguk kecil, pikirannya mulai terbuka kembali bayangan wajah putri Kyai Abas muncul di pelupuk matanya.
" Mas, nama putri Kyai Abas siapa sih? " Pertanyaan Arsha melenceng dari topik.
" Kenapa ingin tahu? " Faizal berbalik menjawab.
" Sedari tadi Mas Faizal hanya menyebutkan putri Kyai saja tanpa menyebutkan namanya, giliran Husain Mas Faizal mau menyebutkan namanya " Arsha menjelaskan, padahal itu salah satu akal-akalan Arsha saja agar dapat mengetahui nama putri Kyai Abas.
" Hmmm iya sih, he...he " Faizal tertawa ringan
" Namanya Aulia" Faizal mantap menyebutkan sebuah nama, seketika Arsa menoleh dan memandang Faizal, ada perasaan bahagia di dalam hatinya karena sudah mengetahui nama putri Kyai Abas sebenarnya.
" Jadi bagaimana? Apa kau bisa membantuku untuk membersihkan dan menata ponpes ini? " Faizal menegaskan kembali.
" Oh bisa kok Mas, bisa... Bisa banget malah " Jawab Arsha bersemangat.
Faizal mengangguk-angguk sambil tersenyum setelah mendengar jawaban Arsha, lalu menepuk-nepuk bahunya ia bangkit dari duduknya.
" Baiklah kalau begitu, aku serahkan padamu tugas ini ya, kau boleh meminta bantuan santri yang lain, agar lebih cepat selesai dan membangun rasa gotong royong " Ucap Faizal, Arsha mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
" Baiklah aku masuk ruangan dulu ya, assalamu'alaikum..." Faizal berpamitan.
" Wa'alaikumssalam... " Faizal menjawab salam Faizal.
Arsha masih diposisi semula duduk di teras, kali ini dengan raut wajah yang sumringah, keceriaan itu terlihat jelas dari senyumnya yang terus mengembang.
Jadi namanya Aulia, nama yang cantik secantik orangnya, insya Allah cantik juga budi pekerti dan akhlaknya.
Aulia, insya Allah atas izin Allah kita bisa bertemu. Tapi kenapa Kyai tadi tidak bicara tentang kedatangan Aulia?
" Kedatangan Aulia... Oh iya aku harus membersihkan dan menata ponpes " Arsha tersadar dari lamunannya, ia menoleh ke kanan dan kiri, lalu berdiri dan memperhatikan sekeliling halaman.
" Masih tertata rapi kok atau mungkin dibersihkan saja, disapu karena pasti banyak dedaunan yang gugur " Pikir Arsha
__ADS_1
Ia melangkahkan kakinya untuk segera menjalankan perintah Faizal tadi.