Manisnya Jodohku

Manisnya Jodohku
Arsha Si Polos


__ADS_3

Faizal mengikuti saran dari Arsha, ia pergi ke rumah Pakde Hadi.


Setibanya di sana ia disambut hangat oleh Pakde Hadi dan mulailah Faizal mengutarakan niatnya.


Seperti Arsha tadi siang, Pakde Hadipun memberikan kebebasan untuk Faizal memilih kendaraan apa yang ingin ia gunakan.


Karena ingin menghemat waktu Faizal memilih menggunakan sepeda motor saja, lalu Faizal meminta izin untuk meminjamnya.


Setelah mendapatkan izin dari Pakde Hadi Faizal memohon diri untuk pergi ke rumah Kyai Abas pada Pakde Hadi.


Faizal langsung tancap gas, ia memang tidak ingin berlama-lama untuk bisa bertemu dengan Aulia.


Kurang lebih limabelas menit kemudian Faizal telah sampai di depan rumah Kyai Abas.


Rumah yang sudah tertutup semua pintu dan jendelanya, karena waktu itu sudah menunjukan pukul setengah enam sore, menjelang maghrib.


Faizal mengetuk pintu sambil mengucap salam, " Assalamu'alaikum.... ".


Belum ada yang menyahut, Faizal menunggu dengan sabar dan mencoba kembali mengetuk.


Kali ini ada sahutan, " Iya sebentar... " suara Umi Tinah dari dalam.


Faizal langsung merapikan penampilannya mulai dari baju dan rambutnya.


Umi Tinah membukakan pintu, tampaklah Faizal yang sedang berdiri membelakanginya sibuk dengan kegiatannya merapikan diri.


" Wa'alaikumssalam.... " Umi Tinah menjawab salam dari Faizal yang terjeda tadi.


Faizal terkejut, ia langsung membalikan badannya dan salah tingkah pastinya.


" Eh Umi.... " tampak malu dari raut wajah Faizal.


Umi Tinah tersenyum melihat tingkah laku Faizal.


" Ayo masuk, sudah mau maghrib tidak baik di luar rumah " ajak Umi Tinah pada Faizal.


Faizal mengikuti langkah Umi Tinah dari belakang.


" Duduklah sebentar aku panggilkan Kyai Abas dulu ya " ucap Umi Tinah sambil tersenyum.


Umi Tinah pergi meninggalkan Faizal sendiri untuk memanggil Kyai Abas.


Faizal celingukan mencari sosok yang sangat ingin ia temui, Aulia.


Kyai Abas muncul dari arah dapur, wajah dan lengannya tampak basah, bajunya yang berlengan panjang digulung sampai ke atas siku.


" Assalamu'alaikum.... Faizal " sapa Kyai Abas sambil berjalan ke arahnya.


Faizal berdiri dan memandang Kyai Abas " Wa'alaikumssalam.... " balasnya.


" Ada apa kau datang kesini Faizal? " tanya Kyai Abas setelah berdiri tepat di hadapan Faizal.


" Iya Kyai saya ingin menjenguk Kyai, saya senang sekali kalau ternyata Kyai sudah sembuh " ucap Faizal menjelaskan maksud kedatangannya dengan tersenyum.


" Iya Faizal alhamdulillah.... Aku sudah pulih " Kyai Abas menimpali.


" Kau pergilah berwudlu dahulu karena sudah mau maghrib, kita sholat berjama'ah, nanti bisa di teruskan lagi berbincangnya " perintah Kyai Abas.


Faizal lalu memohon izin untuk berwudlu dan masuk ke ruangan khusus untuk sholat yang dekat dengan ruang makan.


" Dimana Aulia kenapa tidak kelihatan? Atau ia sedang tidak menjalankan sholat? " pikir Faizal dalam hati, heran.


Kyai Abas berdiri paling depan untuk mengimami sholat, lalu Faizal bediri di belakang kanan Kyai Abas dan Umi Tinah berdiri paling belakang sebelah kiri.


Selesai sholat mereka kembali ke ruang tamu, tanpa Umi Tinah.


" Duduk Faizal " Kyai Abas menawarkan.


Faizal duduk berhadapan dengan Kyai Abas, mereka diam sejenak sebelum Umi Tinah kembali datang dengan membawa dua gelas air teh untuk Imam dan Kyai Abas.


" Diminum Faizal " Umi Tinah menyuguhkan beberapa kue juga untuk pendamping minum teh.


" Terimakasih Umi.... " ucap Faizal.


Umi Tinah undur diri lagi meninggalkan Kyai Abas dan Faizal di ruang tamu.


" Bagaimana keadaan pesantren Faizal? " Kyai Abas membuka pembicaraan.


" Alhamdulillah aman Kyai " jawab Faizal singkat.


" Alhamdulillah.... Terimakasih sudah banyak membantu ya " ucap Kyai Abas.


" Jangan sungkan Kyai, saya senang bisa membantu " Faizal membalas dengan merendah.


Kyai Abas mengajak Fazal untuk meminum teh yang sudah disuguhkan oleh Umi Tinah.


Pikiran Faizal mulai kembali pada sosok Aulia, rasa ingin bertemunya semakin kuat.


" Ada apa Faizal? " tanya Kyai Abas setelah selesai meminun tehnya.


" Tidak Kyai, tidak ada apa-apa " jawab Faizal menutup-nutupi.


Kyai Abas tersenyum mendapat jawaban dari Faizal, ia menghela nafas panjang.


" Tadi siang kau bilang ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku, apa itu? " Kyai Abas mencoba mengingatkan.


Faizal mulai berpikir bagaimana caranya untuk mengutarakan apa yang ada di pikirannya?.

__ADS_1


Dari mana ia harus memulai membicarakan tentang Aulia pada Kyai Abas?.


Mata Faizal memandang Kyai Abas tapi pandangannya tampak kosong.


Kyai Abas menatap tatapan yang kosong itu, " Jangan melamun, nanti ada setan lewat " tegurnya.


" Tidak Kyai, saya hanya mencoba mengingat kembali apa yang ingin saya sampaikan " sambil tersenyum Faizal menjawab, sikapnya seperti kebingungan.


Ponsel Kyai Abas berbunyi, lalu diangkat oleh Kyai Abas " Assalamu'alaikum Nduk.... ".


Faizal memperhatikan Kyai Abas yang sedang berbicara dengan seseorang di ujung telepon sana.


" Nduk? Siapa ya? " tanya Faizal dalam hati.


" Alhamdulillah kalau sudah sampai Abi senang mendengarnya, cepat sekali ya baru jam segini sudah sampai " ucap Kyai Abas sambil melirik jam di dinding yang menunjukan pukul 19:05.


Faizal masih memperhatikan dan mendengarkan setiap kata Kyai Abas dengan seksama.


" Ya sudah beristirahatlah Nduk, besok kau harus bekerja bukan? " Kyai Abas menyarankan, seyumnya mengembang.


Bergantian Kyai Abas memberi waktu untuk si penelepon itu berbicara.


" Iya Nduk iya... Iya Abi akan istirahat nanti, lagipula Abi sedang kedatangan tamu " perbincangan Kyai Abas masih berlanjut.


Si penelepon berbicara di ujung sana.


" Faizal.... " Kyai Abas menyebutkan nama seseorang.


Tentu saja Faizal menatap wajah Kyai Abas, " Kenapa menyebutkan namaku? " pikirnya heran.


Kyai Abas tersenyum pada Faizal, lalu melanjutkan perbincangan.


Tak berapa lama Kyai Abas menutup pembicaraan dan melanjutkan obrolan dengan Kyai Abas, " Maaf ya Faizal, biasa Aulia memberi kabar ".


Ternyata si penelepon itu adalah Aulia.


" Aulia? " tanya Faizal sedikit bingung.


" Iya Aulia... Aulia baru saja pulang dari sini tadi sore jam setengah lima dan tadi jam tujuh lewat lima baru sampai di Jakarta " jelas Kyai Abas.


" Lho kok sudah pulang? " Faizal bergumam sendiri.


Kyai Abas mengerutkan alisnya heran mendengar gumaman Faizal.


" Kenapa memangnya? " Kyai Abas bertanya pada Faizal.


" Belum juga ketemu sudah pulang saja " ucap Faizal lirih.


Sedih rasa hati Faizal mendapati Aulia sudah kembali ke Jakarta.


" Kenapa cepat sekali? " gerutu Faizal dalam hati.


Kyai Abas memperhatikan gelagat Faizal yang ada di hadapannya.


Tampak sekali mimik wajahnya berubah yang semula ceria menjadi kusut.


" Kau tahu Aulia datang? " tanya Kyai Abas menyelidik.


Faizal kaget mendengar pertanyaan dari Kyai Abas, seketika ia teringat akan pesan Aulia yang memintanya untuk menyembunyikan kedatangan Aulia pada siapapun.


" Tidak Kyai " jawab Faizal singkat.


" Lalu kenapa kau berubah sikap seperti itu? " Kyai Abas masih ingin tahu.


Bingung, Faizal tidak tahu harus menjawab apa ia hanya terdiam dan kekesalan di dalam hatinya ia tahan.


" Aku pulang sajalah ke pondok " Faizal mengambil inisiatif.


Adzan Isya berkumandang, Kyai Abas diam sejenak untuk mendengarkannya.


" Aku mau sholat dulu, apa kau mau ikut? " Kyai Abas mengajak Faizal saat adzan sudah berhenti.


Tapi Faizal bukan mengiyakan melainkan ingin berpamitan.


" Maaf Kyai sepertinya saya mau kembali saja ke pondok " ucap Faizal.


" Lho kenapa? Sholatlah dulu di sini bersama kami " bujuk Kyai Abas.


" Sudah malam Kyai saya sholat di pondok saja nanti " jelas Faizal.


Setelah Faizal menjelaskan ia segera berpamitan dan tak lupa mencium tangan Kyai Abas dan mengucap salam.


Kyai Abas mengantar Faizal sampai di depan pintu, hanya di depan pintu bukan ke teras.


" Hati-hati ya.... " pesan Kyai Abas agak keras suaranya.


Faizal menyalakan motornya, diputar pegangan gasnya dan berjalanlah ia, sedikit agak kencang ia mengemudikan motornya.


" Faizal kenapa ya? " pikir Kyai Abas dalam hati.


" Motor siapa tadi yang Faizal pakai? Sangat berbeda sekali dengan Arsha yang memilih menggunakan sepeda untuk datang ke sini " Kyai Abas membatin.


Pandangannya masih di ujung jalan tempat Faizal tadi menghilang.


...****************...


Aulia sudah membersihkan diri dan sholay, ia beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan malamnya.

__ADS_1


Ia membuka bungkusan yang tadi disiapkan oleh Uminya, " Ternikmat " ucap Aulia.


Di rumahnya Aulia tinggal berdua bersama asisten rumah tangganya yang biasa ia sebut dengan panggilan Mbok Suti.


Rumah Aulia bisa dibilang cukup besar, bertingkat satu, bangunan yang bernuansa modern klasik bercat cokelat muda dan keramik cokelat tua terlihat sangat elegant dan rapi dengan sentuhan tangan Mbok Suti.


Mbok Suti adalah orang yang sangat baik, jika di lihat usianya lebih tua dari Umi Tinah.


" Ada keperluan apa ya Faizal tadi datang ke rumah? " pikiran Aulia tiba-tiba teringat Faizal.


" Awas saja kalau Faizal berbicara yang macam-macam " ancam Aulia lirih.


Aulia sudah kembali fokus pada kegiatannya yaitu menghangatkan masakan Umi Tinah.


" Mbok.... Ayo makan! " Aulia memanggil Mbok Suti.


" Iya Nduk.... " jawab Mbok Suti sedikit berlari.


Di rumah itu tidak ada boss atau pembantu, karena Aulia sudah menganggap Mbok Suti sebagai orangtuanya sendiri.


" Nduk, ini Nduk yang masak? " tanya Mbok Suti menunjuk makanan yang ada di penggorengan, Aulia tersenyum mendapat pertanyaan itu.


" Bukanlah Mbok, ini Umi yang masak " jawab Aulia sambil tertawa kecil.


" Harum banget Nduk " ucap Mbok Suti.


" Iya ya Mbok, ini masakan kesukaan saya Mbok " Aulia menimpali.


" Waduh Mbok baru tahu, nanti ajari si Mbok ya biar Mbok bisa belajar buatnya " pinta Mbok Suti sambil menyiapkan alat makan di meja makan.


" Jangan meledek saya Mbok, Mbok pasti lebih ahli daripada saya " jawab Aulia tertawa, dibalas tawa juga oleh Mbok Suti.


Aulia mengangkat makanan yang tadi ia hangatkan meletakan di piring saji dan membawanya ke meja makan.


" Ayo Mbok makan, saya sudah lapar sekali " perintah Aulia pada Mbok Suti.


Aulia dan Mbok Suti duduk berhadapan, Aulia mengambilkan makanan untuk Mbok Nah lebih dulu kemudian gilirannya mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Mereka makan malam bersama sambil bercerita, tidak ada rasa sungkan dan rasa canggung lagi bahkan tak jarang Aulia meminta saran pada Mbok Suti jika ia menghadapi masalah yang tak bisa ia selesaikan sendiri.


" Sudah Nduk biar si Mbok aja yang mencuci piring, gelas dan alat masak lainnya. Nduk Aulia istirahat saja ya kasihan pasti sangat lelah " bujuk Mbok Suti setelah mereka selesai makan.


Aulia tersenyum menatap Mbok Suti lalu mengangguk, " Baiklah Mbok, saya tinggal ya "


Mbok Suti mengangguk dan menjalankan tugasnya lagi, sementara Aulia kembali ke kamarnya yang terletak di lantai atas.


...****************...


Di pondok pesantren Arsha sedang berbaur dengan para santri lainnya.


Mereka bercerita dan bermain permainan tradisional, tidak ada yang memegang gadget atau ponsel.


Memang sudah menjadi peraturan yang ditetapkan bahwa tidak boleh memegang ponsel atau gadget bagi para santri dan santriwati.


Tak lama kemudian Faizal sudah datang dengan berjalan kaki, motor yang tadi ia gunakan sudah ia kembalikan pada Pakde Hadi.


Faizal berjalan mencari Arsha, mungkin agak lama untuk menemukan karena saat itu ia tidak tahu dimana Arsha berada.


Dari kejauhan terdengar suara senda gurau Faizal menghampiri semakin dekat semakin terlihat kalau suara itu berasal dari para santri yang sedang berkumpul.


Arsha melihat kedatangan Faizal dari kejauhan, tanpa pikir panjang ia berjalan untuk menjemput Faizal.


Ke duanya kini sudah saling berhadapan tapi di tengah jalan diantara dua serambi.


" Kau bohong padaku " Faizal membuka pembicaraan.


Tatapan mata Faizal menunjukan kalau dia sedang marah, mukanya masam.


Arsha tak mengerti dengan arah pembicaraan Faizal, ia mengerutkan Alisnya.


" Maksudnya apa Mas? " polos Arsha bertanya.


" Kau mengatakan padaku tadi bahwa kau tak bertemu dengan Aulia " Faizal mulai menjelaskan.


" Sementara Aulia kembali lagi ke Jakarta tadi jam setengah lima sore, itu berarti kau bertemu Aulia? " emosi Faizal mulai keluar.


" Ooo ternyata Mas Faizal baru pulang dari rumah Kyai Abas " Arsha membalas pertanyaan Faizal.


" Jadi begini Mas, memang tadi aku tak bertemu Aulia meskipun Aulia ada di rumahnya " sekarang giliran Arsha yang menjelaskan.


" Kau tahu kan kalau Aulia mau kembali ke Jakarta sore tadi " Faizal bertanya geram.


" Iya.... Tahu " Arsha menjawab cuek, mengangguk sambil mengedip-ngedipkan matanya.


" Lalu kenapa kau menyarankan aku untuk pergi ke rumah Kyai Abas? " kali ini Faizal benar-benar gemas terhadap Arsha.


" Mas... Mas... Lucu sekali, aku menyarankannya jam berapa Mas Faizal berangkatnya jam berapa? " Arsha berbicara dengan sedikit meledek.


" Jadi kenapa Mas Faizal tidak terbuka saja pada saat aku bertanya 'Mas mau kemana' tadi? " lagi-lagi Arsha berbicara dan menunjukan letak kesalahan Faizal.


Arsha melipat tangan di dadanya, kakinya ia majukan sedikit agak menyerong sambil menepuk-nepukan kakinya di jalan sela-sela serambi.


" Coba kalau Mas Faizal bilang ' ini lho Arsha aku mau ke rumah Kyai Abas' pasti aku akan melarang, Mas " nada bicara Arsha seperti dibuat-buat yang memang sengaja untuk menyindir Faizal.


Arsha berjalan menuju kamarnya meninggalkan Faizal dan kerumunan teman-temannya.


" Benar juga kata Arsha, aku yang salah, memang harusnya aku berbicara saja tak usah malu, Aaaaaah!!! " gerutu Faizal dan diakhiri dengan teriakan.

__ADS_1


" Kenapa Mas? " tegur salah satu santri yang berkerumun karena mendengar teriakannya.


Faizal kaget dan malu mendengar teguran itu, ia salah tingkah dan berlari ke kamarnya.


__ADS_2