Manisnya Jodohku

Manisnya Jodohku
Doa


__ADS_3

Pukul 19:00 Aulia sudah sampai di bandara, tas kecilnya ia selempangkan disebelah kanan, tangan kirinya menenteng tote bag yang berisi pakaian dan alat sholat, sementara tangan kanannya memegang ponsel.


Aulia begitu anggun mengenakan kemeja dengan setelan kantor yang casual, di balut outer panjang layaknya style film korea, tak lupa hijab simple namun elegan ia kenakan.


Sengaja ia tak mengabari Abi dan Uminya tentang kepulangannya, karena ia sendiri juga sebenarnya mau tak mau kembali ke kampung halamannya.


Mobil pesanannya sudah sampai , Aulia menaikinya dan mobilpun meluncur ke alamat yang ia sebutkan.


Sepanjang perjalanan Aulia memainkan ponselnya entah ia berkomunikasi dengan siapa, sambil sesekali memandang keluar jendela mobil.


Kenangan masalalunya kembali hadir memenuhi ruang pikirannya, " Husain.... Lagi-lagi Husain, kenapa harus dia?!! " Geram Aulia pada dirinya sendiri.


Perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari bandara menuju pondol pesantrennya, tapi cukup lama untuk bisa mengulangi kenangan akan seseorang yang sangat dicinta tapi juga sangat membuat lara.


" Waktu perjalanan yang sia-sia bahkan sampai seusiaku aku masih mengingatnya " Aulia marah pada dirinya sendiri.


Mobil berhenti, Pak Sopir terdiam mungkin Pak Sopir berfikir kalau Aulia akan segera turun, tapi ternyata tidak.


Pak sopir melirik kaca yang menghadap ke belakang di hadapannua sebelah atas, ia melihat Aulia sedang melamun.


" Mbak... Sudah sampai " Pak Sopir menegur, Aulia tak bergeming.


" Mbak.... Sudah sampai " Kembali Pak Sopir berusaha mengingatkan tapi tak ada respon dari Aulia.


Pak Sopir kali ini menoleh ke arah Aulia dan sedikit membesarkan volume suaranya " Mbak, sudah sampai di tujuan "


Kali ini Aulia tersadar dari lamunannya dan agak canggung ia menjawab


" Owh iya sudah sampai... "


" Alhamdulillah.... " Aulia mengucap syukur.


" Ini Pak " Aulia memberikan sejumlah uang untuk membayar taksi, Pak sopir menerimanya.


" Mbak ini... " Ucap Pak sopir.


" Sudah ambil saja lebihnya " Aulia memotong ucapan Pak sopir.


" Terimakasih banyak ya Mbak.. ! " Pak sopir bersemangat menerima pemberian dari Aulia


" Sama-sama Pak... " Jawab Aulia sambil tersenyum, lalu turun dari mobil yang ia tumpangi.


Aulia masih berdiri terpaku memandangi halaman belakang sebuah pondok pesantren yang luas, tak bergeming bahkan setelah mobil yang ia tumpangi tadi pergi.


Ponsel yang ada di genggaman Aulia bergetar, sengaja tak dibunyikan suaranya karena memang Aulia ingin tak ada yang mendengar ketika ponselnya berbunyi.


" Sudah sampai? Mamas sudah siapkan semuanya seperti yang Dek Aulia pinta " Isi dari sebuah pesan yang Aulia terima di ponselnya tadi.


Aulia tersenyum, " Hah Mamas katanya.... Kalau bukan karena aku perlu aku tidak mau menghubunginya "


Perlahan demi perlahan Aulia mulai memasuki halaman yang memang pagarnya tidak dikunci


" Bagus.... sesuai rencana " Pikir Aulia.


Suasana gelap, sempat Aulia menyalakan ponselnya untuk penerangan sambari melihat jam yang ada di layar, pukul 20:37.


Sayup terdengar suara mengaji, ya suara itu adalah suara para santri dan santriwati yang sedang mengaji, begitu damai mendengarnya begitu tenang di dalam jiwa.


Pikiran Aulia kembali berkelana mengingat hal-hal yang pernah ia alami waktu dulu di pondok pesantren itu.


" Dulu aku pernah bertekad tidak mau lagi datang kesini sebelum aku menikah " Ia bergumam dalam hati.


" Tapi aku harus berdamai dengan diriku sendiri, aku tak mungkin pulang ke rumah karena ini sudah malam, aku tidak mau mengganggu istirahatnya Abi " Aulia berhenti sejenak berusaha menyibak beberapa rerumputan yang berada di hadapannya.


" Atau mungkin bisa saja jodohku malah ada di dalam sana " Aulia bersuara lirih, sambil melanjutkan langkahnya.


" Apa jangan-jangan?? Mamas?! " Bertanya Aulia dalam hati, tersadar akan ucapan dalam hatinya segera ia beristighfar.


" Astaghfirullah.... Aulia kamu mikir apa sih ?!! " Imbuhnya sambil menepuk jidat, sambil bergidik.


" Tidak, tidak bisa... Jangan sampai sama dia " Ia bertekad.


Aulia berjalan dengan penerangan seadanya, halaman belakang memang sangat rimbun, seperti hutan kecil.


Ia berjalan penuh dengan hati-hati, suara jangkrikpun ikut menghiasi perjalan Aulia namun sayangnya ponsel Aulia kehabisan baterai lalu mati.


" Yah... Mati lagi " Gerutu Aulia, tapi Aulia tak ambil pusing, ia bergegas meneruskan langkahnya agar bisa segera sampai ketempat yang ia tuju.


Sementara di dalam pondok pesantren, Arsha tampak sedikit lesu, semangatnya seperti hilang saat mendengar ucapan Faizal bahwa Aulia tidak jadi datang.


" Seperti ada yang hilang " Ucap Arsha dalam hati.


" Bagaimana mungkin aku bisa seperti ini sementara memiliki saja aku tidak " Hatinya semakin banyak berucap.


" Jangankan memiliki, untuk sekedar bertemu atau melihat aku juga belum pernah " Arsha menundukan kepalanya.


" Yuk Ar... " Ajak Imam, Arsha menoleh dan mengangguk.


Imam adalah teman sekamar Arsha, sebenarnya satu kamar untuk beramai-ramai tapi kali ini tidak karena teman sekamar mereka sudah ada yang meninggalkan pondok jadi tinggalah sekamar berdua Arsha dan Imam.


Segera Arsha kembali ke kamar setelah ia dan teman-temannya selesai membaca Al-Qur'an bersama.


Sesampainya dikamar ia menuju ke sebuah lemari buku kecil yang berada di pojok ruangan.


" Ya Allah.... Jadikanlah ia jodohku " Ucap Arsha sambil memandangi Al-Qur'an yang dipegangnya sebelum ia simpan.

__ADS_1


Direbahkannya badan Arsha, berusaha untuk memejamkan mata tapi tak bisa, seperti ada yang mengganggu pikirannya.


Bayangan Aulia tampak jelas di pelupuk matanya, " Ya Allah maafkan saya, maafkan atas perasaan saya ini " Ucapnya lirih.


" Jagalah dia dimanapun ia berada, mudahkanlah segala urusannya dan jangan dipersulit " Doa Arsha lirih.


Seperti di dengar, doa itu dikabulkan oleh Allah. Tak berselang lama Aulia sudah sampai di depan bangunan yang menjadi tempat khusus untuk Abinya.


Bangunan yang terbuat daru kayu, bangunan yang memang sengaja dibuat seperti pendopo tempo dulu.


Biasanya Kyai Abas sering mengerjakan beberapa pekerjaan ditempat itu, tak jarang beliau menginap ditempat itu jika sudah terlalu larut untuk kembali pulang.


Aulia membuka pintu pendopo, lagi-lagi tak terkunci " Sejauh ini masih sesuai rencana " Aulia tersenyum kecil.


Beruntungnya bangunan itu terpisah dari bangunan yang lain, tepatnya ada di bagian pondok pesantren yang dekat dengan halaman belakang.


Sengaja Kyai Abas memilih tempat paling jauh dari keramainan karena memang Kyai Abas suka sekali dengan ketenangan.


" Assalamu'alaikum.... " Aulia mengucap salam sebelum ia memasuki pendopo.


Tak lupa ia melepas sepatunya dan membawanya masuk agar tak menimbulakan kecurigaan bagi siapapun yang melewati pendopo Abinya.


Dinyalakan lampu ruangan oleh Aulia, tampak kini betapa ruangan itu bersih dan tertata rapi.


" Abi memang selalu apik menata ruangannya, tak ada yang berubah sama sekali " Puji Aulia sambil memandangi ruangan.


Sejenak ia teringat dulu sepuluh tahun yang lalu saat Aulia sering membantu Abinya mengurus pondok, mengajar bahkan bercengkrama dengan Abinya di ruangan itu.


Bangunan itu memiliki dua lantai, tak berapa lama Aulia menaiki tangga untuk mencapai kamar Abinya di lantai dua.


Di lantai dua terdiri dari empat ruangan yang saling berhadapan layaknya seperti sebuah apartemen.


Aulia menuju kamar Kyai Abas, dibukanya tapi kali ini pintunya terkunci, " Sudah aku duga " Gumamnya.


Aulia merogoh tasnya untuk mencari kunci, setelah ditemukan lalu ia mencoba untuk membukanya kembali dan akhirnya bisa.


Dulu Aulia memang diberi kunci pendopo oleh Kyai Abas, lalu disimpan dijadikan satu dengan kunci rumah Aulia, jadi kemanapun Aulia pergia kunci pendopo selalu ikut serta.


" Alhamdulillah.... " Aulia tersenyum senang.


" Assalamu'alaikum.... " Aulia memberi salam sebelum memasuki ruangan.


Lampu kamar ia nyalakan, kembali Aulia melihat ruangan yang begitu tertata rapi dan masih tetap sama seperti dulu.


" Tak berubah sedikitpun.... " Aulia takjub.


Pandangan Aulia menyusuri seluruh ruangan kamar Kyai Abas, kini pandangannya tertuju ke meja kerja Abinya.


Ia menghampiri meja itu, pandangannya jatuh pada sebuah foto yang menjadi penghiasnya dengan figura yang cantik.


Seorang anak kecil yang memiliki kemampuan luar biasa dengan.


Foto itu adalah foto kecil Aulia, " Abi ..... " Lirihnya sambil menangis.


Tak berapa lama ia berada di meja kerja Kyai Abas, perutnya berbunyi ternyata Aulia lapar.


Aulia menghentikan aktivitasnya, ia berhambur ke luar kamar Abinya menuju dapur, segera ia membuka kulkas terdapat banyak makanan disana.


Sempat ia sedikit memasak air membuat susu dan menghangatkan makanan untuk disantapnya malam ini.


Setelah keperluannya selesai ia kembali ke kamar Abinya dan menghabiskan santap malamnya di sana.


Aulia menyantap makanannya dengan lahap, ia sangat menikmati suasana malam itu, mungkin saja ia melepaskan kerinduan masalalunya.


Selesai sudah makan malamnya, segera ia kembali ke dapur membersihkan peralatan makan, serta membersihkan diri di kamar mandi.


Langkahnya menuju dapur terhenti, ia melongok kebawah melalu sela-sela pagar lantai dua.


" Aku lupa mematikan lampu lagi, nanti ada yang curiga kalau ada yang lihat " Ucapnya lirih.


" Nanti kumatikan setelah wudlu " Ujarnya.


Ia lanjutkan langkahnya karena tangannya penuh dengan gelas dan piring.


Tak lupa ia mengambil wudlu untuk menjalankan sholat isya, setelah itu bergegas Aulia menuju ruang bawah dan mematikan lampu, sebisa mungkin ia menghilangkan jejak kedatangannya.


Kembali Aulia menuju kamar Abinya, segera ia sholat dan memadamkan lampu kamar, tak lupa ia mengisi daya ponselnya.


Aulia merasa sangat nyaman, ia merasa seperti sedang liburan perlahan-lahan rasa ngantuk mulai menyerangnya, tertidurlah Aulia.


Sementara Arsha masih belum bisa memejamkan matanya, tapi perasaannya sudah tak segundah tadi, ada sebuah ketenangan di dalam hatinya.


Arsha tersenyum, memang saat itu Imam yang teman sekamar nya sudah terlelap,


Arsha menengok ke arah ranjang Imam untuk memastikan.


Pondok pesantren sudah mulai sunyi dan akan ada kegiatan lagi nanti di pertengahan malam.


" Ya Allah tak baik jika saya terus memikirkannya, tolong jaga saya agar saya tidak melewati batas " Doa Arsha dalam hati.


Faizal memasuki kamar Arsha dan Imam, " Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikumssalam... " Jawab Arsha


" Lah kirain udah tidur " Ucap Faizal santai.

__ADS_1


" Belum Mas " Balas Arsha


Arsha bangun dan duduk di pinggiran tempat tidurnya.


" Mas mau apa? " Tanya Arsha.


" Aku tidur sini lagi ya " Faizal meminta izin pada Arsha, belum di izinkan tapi Faizal langsung merabahkan diri disalah satu ranjang yang berada di kamar Arsha.


Arsha hanya bisa memperhatikan tingkah laku Faizal, Faizal sadar diperhatikan oleh Arsha.


" Kenapa? " Tanya Faizal


" Tidak Mas, tidak apa-apa... " Jawab Arsha.


" Ada yang kamu pikirin ya? " Faizal bertanya lagi.


" Hmmm tidak Mas " Arsha berusaha meyakinkan.


" Kalau begitu tidurlah " Perintah Faizal pada Arsha, Faizal memjamkan matanya.


" Iya Mas.... " Jawab Arsha singkat tapi tak dilakukan.


Arsha masih duduk dipinggir ranjangnya memandangi Faizal.


Faizal diam-diam membuka matanya sedikit untuk mengintip Arsha.


" Hei kamu kenapa sih? " Faizal bertanya kesal pada Arsha.


Arsha kaget mendengar suara Faizal, mungkin karena dikiranya Faizal sudah tidur tapi ternyata belum.


Timbul niat Arsha untuk mencari tahu tentang Aulia lagi, keusilannya mulai muncul.


" Ini Mas, badanku rasanya pegal-pegal " Arsha menjawab pertanyaan Faizal samb sedikit meliukan badannya.


Faizal bangun dari tidurnya dan mengahmpiri Arsha.


" Kok bisa? " Tanya Faizal curiga.


" Mana aku tahu Mas " Jawab Arsha sekenanya.


" Kurang minum air putih kali? " Tanya Faizal lagi, Arsha menggelengkan kepalanya.


" Dari tadi minun terus Mas sampe kembung " Arsha menjawab sekenanya lagi, Faizal menatap tajam.


" Mau dipijitin? " Faizal menawarkan diri.


" Tidak Mas, terimakasih aku gelian " Arsha menolak secara halus.


" Sepertinya ini hanya kecapaian saja " Arsha mencoba mengembalikan pembicaraan.


Faizal mengernyitkan dahinya memperhatikan Arsha dengan seksama.


" Apa sih Mas, biasa aja kali " Arsha salah tingkah.


" Coba-coba jelaskan apa saja yang kamu kerjakan seharian ini " Faizal memerintahkan.


" Nah kesempatan... " Gumam Arsha dalam hati.


" Tadi pagi aku udah jalan ke rumah Kyai, pulangnya jalan lagi, terus sampai sini langsung bersih-bersih dan menyiapkan kedatangan putri Kyai " Arsha menjabarkan


Faizal yang semula mengangguk-angguk tiba-tiba terdiam kembali tatapannya menatap tajam pada Arsha. Arsha tersenyum, Faizal jutek.


" Kalau tahu tidak jadi datang mungkin aku tidak perlu buru-buru mas " Arsha mulai pembicaraan lagi.


Faizal melirik Arsha, " Oh jadi tidak ikhlas??? " Tanyanya


" Ya bukan begitu Mas, setidaknya aku kan bisa istirahat dulu " Arsha sedikit mengeluarkan jurus berkelitnya.


" Aku juga tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi sih " Faizal mencoba menjelaskan.


Arsha terdiam, ia memperhatikan tingkah laku Faizal yang sedikit mulai berubah.


" Kenapa Mas? " Arsha menyelidiki, Faizal terhenyak.


" Ah tidak, tidak ada apa-apa " Jawab Faizal memalingkan pandangannya.


" Mencurigakan " Pikir Arsha.


" Mas, kenapa mau tidur di sini? " Arsha bertanya lagi.


" Hmmmm bukan, bukan apa-apa sih " Faizal semakin aneh.


" Ya aku cuma mau memastikan aja apa kamu baik-baik aja atau tidak " Faizal berusaha meyakinkan.


" Hah tumben?? " Arsha meledek.


" Lho iya, betulan lho ini " Jawab Faizal sekenanya, Arsha tersenyum kecut sambil melirik.


" Ya kan kamu sering sekali begadang, ditambah sering keliling pondok kalau malam aku takutnya nanti kamu bangun kesiangan aja " Faizal menjabarkan alasannya.


Asrha mengangkat alisnya, masih dengan meilirik ke arah Faizal.


" Ma-sa? " Tanya Arsha meledek, Faizal sewot.


" Aku sebenarnya tahu kalau kamu kecapaian karena kegiatanmu hari ini terpantau olehku " Jelas Faizal kembali ke ranjangnya, Arsha terdiam.

__ADS_1


__ADS_2