Manisnya Jodohku

Manisnya Jodohku
Permainan (1)


__ADS_3

Arsha merenung sejenak, " Ada apa dengan Faizal? "


" Aulia tidak pernah mau dengan Faizal " Kyai Abas mulai berbicara.


Betapa senang Arsha mendengar ucapan Kyai Abas, seperti ada angin segar yang berhembus meniup tubuhnya.


" Alhamdulillah ... " Ucap Arsha.


Kyai Abas menatap Arsha heran lalu tersenyum " Kok Alhamdulillah? " Tangan Kyai Abas menepuk pundak Arsha.


Arsha terkejut salah tingkah ketika ia sadar bahwa ucapannya tadi terdengar oleh Kyai Abas.


" Oh tidak Kyai, saya hanya merasa senang mendengarnya " Arsha berusaha menutupi perasaaannya saat itu.


Kyai Abas mengangguk-angguk dan tertawa kecil, " Kau ini sempat membuatku heran saja Arsha... "


" Arshaka, kalau saja tadi Faizal yang jadi kesini apa kau tidak akan datang ke sini juga? " Kyai Abas bertanya, santai.


Arsha tersenyum medapat pertanyaan itu, " Tidak Kyai, saya tetap akan datang mengunjungi Kyai " Jawab Arsha.


Kyai Abas menatap dalam-dalam mata Arsha, lagi-lagi ia mengangguk.


" Untuk menyampaikan surat tadi? " Kembali Kyai Abas bertanya.


Dan lagi-lagi Arsha tersenyum, memang Arsha adalah orang yang murah senyum tapi dia tidak sadar senyumnya selalu bisa membuat orang lain terpesona.


" Salah satunya, karena itu amanah kan Kyai? " Jawab Arsha dengan pertanyaan.


" Iya kau benar Nak.... " Jawab Kyai Abas.


" Ya mungkin saya tidak mempersiapkan kedatangan saya dengan berpakaian rapi, wangi, ya saya seperti ini " Ungkap Arsha.


Mendengar ungkapan Arsha, Kyai Abas mengerutkan Alisnya, matanya menerawang pikirannya tertuju pada Faizal.


" Apa Faizal tadi seperti itu? " Tebak Kyai Abas dengan menggunakan pertanyaan.


Arsha kaget mendengar pertanyaan itu, ia tidak menyangka bagaimana Kyai Abas bisa mengetahui tentang Faizal tadi.


" Iya Kyai " Jawab Arsha singkat.


Kyai Abas tertawa mendengar jawaban Arsha, suaranya keras tapi tak membangunkan Aulia yang masih tertidur di kamarnya.


" Arsha.... Arsha.... Kau ini lucu sekali " Ucap Kyai Abas terkekeh.


Arsha salah tingkah, Kyai Abas menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


" Apa kau pernah melihatku membedakan penampilan antara orang satu dengan yang lain? Pernahkah kau melihat aku menilai sesorang dari penampilan? " Kini Kyai Abas serius.


Seketika Arsha terdiam hanya menggelengkan kepalanya dan tertunduk.


" Kau mau pakai baju apa saja tetap terlihat tampan dan gagah Nak " Kyai Abas menguatkan Arsha, Arsha memberanikan diri memandang Kyai Abas lalu menunduk lagi.


" Kenapa Faizal mau datang kesini harus berpakaian rapi dan menggunakan wewangian? Padahal ia jarang sekali berkunjung menemuiku bahkan jika bertemu di pondok pesantrenpun dia biasa saja " Lagi-lagi Kyai Abas bertanya.


" Entahlah.... " Jawab Arsha singkat, sebenarnya Arsha sudah mengerti jalan fikiran Faizal tapi tak diutarakan pada Kyai Abas.


" Karena ia ingin menemui Aulia!!! " Kyai Abas menjawab pertanyaannya sendiri dengan tegas.


" Tepat! Itu yang sedari tadi aku pikirkan " Arsha menggumam dalam hati.


" Maksud Kyai putri Kyai ada di sini? " Arsha memancing pembicaraan mencoba mencari tahu.


" Ia ada, dia baru datang tadi pagi sekarang sedang tidur di kamarnya " Jawab Kyai Abas.


Jawaban Kyai Abas membuat Arsha berpikir bahwa benar Aulia datang ke pondok pesantren kemarin malam tanpa sepengetahuan Kyai Abas dan hanya di ketahui oleh Faizal, sayangnya Arsha sendiri juga ikut mengetahuinya.


" Aku tidak menyangka putriku bisa tiba-tiba kembali padahal baru kemarin aku menceritakannya padamu " Senyum Kyai Abas mengembang.


" Apa kau mendoakannya agar segera pulang? " Kyai Abas menatap mata Arsha yang membuat Arsha gugup untuk menjawab.


Memang semenjak kepulangan Arsha dari rumah Kyai Abas kemarin selalu teringat wajah Aulia yang ada di foto, semenjak saat itu apapun yang Arsha lakukan selalu terbayang wajah Aulia.


Bahkan saat sholat tahajud tadi malampun wajah Aulia membayanginya, itu sebabnya Arsha selalu berdoa tentang Aulia, meminta untuk bertemu dan bisa mengenal Aulia.


" Aulia datang karena doa Kyai juga doa Umi Tinah pastinya " Jawab Arsha merendah.


" Oh iya Arsha bagaimana dengan perjodohanmu kemarin? " Kyai Abas mengalihkan pembicaraan.


" Tidak Kyai tidak akan ada perjodohan " Arsha menjawab.


" Sudah kau pikirkan baik-baik? " Sambung Kyai Abas.


" Iya Kyai, saya sudah memilih untuk tidak mau melanjutkan perjodohan itu " Mantap Arsha menjawab.


" Ya sudah kalau begitu jangan dipaksakan, tapi bagaimana dengan Ayah dan Ibumu? " Kembali Kyai Abas bertanya.


" Ehmmm marah pastinya, tapi setelah saya mengatakan saya punya jodoh sendiri yang mau saya pilih mereka berusaha untuk menerima " Jelas Arsha.


Kyai Abas mengangguk-angguk " Memang siapa yang kau pilih? Aku lihat kau tidak memiliki teman perempuan " Rasa ingin Tahu Kyai Abas mulai muncul.


" Iya, ada Kyai tapi bukan teman, bahkan kami belum saling kenal " Ungkap Arsha, Kyai Abas heran.


" Kok bisa? " Kyai Abas penasaran.


" Saya sendiri juga tidak tahu kenapa bisa, yang saya tahu dia orang yang baik karena dia berasal dari keluarga yang baik dan insya Allah dia juga di didik secara baik " Arsha meyakinkan Kyai Abas.

__ADS_1


" Jadi Nak Arsha malah sudah mengenal keluarganya dibanding pilihannya? " Rasa heran Kyai Abas belum hilang.


" Iya Kyai.... " Arsha tertawa kecil.


" Oh bisa begitu ya, lalu bagaimana? " Kyai Abas masih ingin tahu.


" Ya bagaimana menurut Kyai? " Arsha memberanikan diri untuk tahu.


" Maksudnya? " Kyai Abas berpikir keras.


" Iya... Saya sedang bertanya pada Ayah dari pilihan saya " Ucap Arsha serius.


Pikiran Abas mulai serius untuk memahami apa yang dikatakan Arsha, mengaitkan ucapan Arsha dari yang ia jabarkan dari awal sampai pembicaraan baru saja.


" Aulia? " Tanya Kyai Abas.


Arsha mengangguk mantap, tatapan matanya menunjukan keseriusannya dan tak pernah tetinggal adalah senyuman yang begitu mempesona.


Mendapat jawaban Arsha Kyai Abas tertawa lebar, tapi tetap tak mengganggu tidur Aulia, Aulia tak terbangun.


" Bagaimana bisa? Kau bahkan hanya melihatnya lewat foto " Kyai Abas mulai serius lagi.


" Kau terpesona dengan parasnya? Kau sendiri tahu kalian terpaut usia yang sangat jauh seharusnya kau memanggilnya Mbak kan? " Lanjut Kyai Abas.


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Arsha semakin memahami betapa seorang Ayah sangat menyayangi anak-anaknya, tak terkecuali Kyai Abas.


" Iya Kyai, Kyai benar ... Tapi saya punya niat baik untuk Aulia, untuk usia saya rasa bukan masalah karena Baginda Nabi saja pernah menikahi Sayyidah Khadijah yang terpaut limabelas tahun " Arsha berusaha meyakinkan.


" Tapi untuk paras saya merasa bahwa yang di foto belum apa-apa daripada aslinya karena itu bisa di edit bukan, jadi itu bukan alasan " Ungkap Arsha semakin meyakinkan, Kyai Abas tertegun mendengar penjelasan Arsha.


Kyai Abas memperhatikan Arsha dalam-dalam karena ia tidak mau salah dalam menilai jodoh untuk putrinya.


" Kalau begitu biar kukenalkan kau dengan Aulia, bagaimana? " Kyai Abas menawarkan, Arsha kaget mendapat tawaran itu.


" Oh jangan Kyai, jangan!!! " Arsha menolak tegas.


" Lho kenapa? Aku tidak bisa memutuskan karena biar bagaimanapun Aulia yang menjalani jadi biar Aulia yang memutuskan " Jelas Kyai Abas.


" Tidak Kyai, biar Allah yang menentukan jalannya semalam saya sudah meminta untuk itu " Malu-malu Arsha mengungkapkan.


" Owh pantas.... Ternyata kamu biangnya " Kyai Abas tertawa terbahak-bahak.


" Kau sudah menjelaskan masalah ini pada orangtuamu? " Lanjut Kyai Abas.


" Belum sedetail ini, saya hanya baru menjelaskan kalau saya sudah punya pilihan sendiri " Jawab Arsha.


" Bicarakan dulu pada orangtuamu, kalau mereka setuju kita bicarakan rencana selanjutnya " Usul Kyai Abas.


" Itu berarti dari Kyai sendiri sudah setuju?! " Arsha bertanya penuh semangat.


" Iya.... Kalau aku sendiri memang setuju tapi entah dengang Aulia " Ujar Kyai Abas.


" Terimakasih Kyai....! " Ucap Arsha sambil mencium tangan Kyai Abas.


Kyai Abas memeluk erat tubuh Arsha sambil menepuk-nepuk punggung Arsha, lirih Kyai Abas berkata " Aku percayakan Aulia padamu Nak "


Arsha mengangguk masih dengan memeluk erat tubuh Kyai Abas.


Umi Tinah keluar dari dapur dan melihat Kyai Abas yang sedang memeluk erat Arsha, sedikit ada rasa ingi tahu di dalam benaknya .


Berjalanlah ia menghampiri Kyai Abas dan Arsha, " Ada apa ini? sepertinya ada kabar baik ya? " Tanyanya.


Kyai Abas menyilakan Umi Tinah untuk duduk di kursi sebelahnya lalu ia ceritakan semua pembicaraan bersama Arsha tadi.


Umi Tinah terkejut ia menutup mulut, ia bahagia sekali mendengat kabar baik itu rasa syukur kepada Allah tak henti ia ucapkan.


" Berarti tinggal menunggu keputusan Aulia " Kata Umi Tinah.


" Saya mohon jangan sampaikan niat baik saya ini pada Aulia " Pintaa Arsha, Kyai Abas dan Umi Tinah mengangguk.


" Umi, Kyai saya bolehkan menyebutnya dengan nama Aulia? " Tanya Arsha Polos.


Kyai Abas dan Umi Tinah yang mendengar pertanyaan itu tertawa bersama.


" Iya Nak boleh, tentu saja boleh.... " Jawab Umi Tinah mewakili Kyai Abas juga.


Di ruang tamu Kyai Abas, Umi Tinah dan Arsha tertawa bersama sementara di kamar Aulia merasa sedikit terusik dengan tawa mereka.


" Siapa? " Suaranya parau tapi lirih, suara orang baru bangun tidur.


Aulia bangun, dia melihat sekelilingnya begitu banyak kertas yang berserakan.


Dirapikannya kertas-kertas itu, ia cek laptopnya masih menyala hanya saja terkunci karena hanya didiamkan saja dan di isi daya.


" Apa aku tadi yang mengisinya? " Pikir Aulia berusaha mengingat.


Ia cek kembali laptopnya sebelum ia matikan, ia lihat printernya yang sudah tidak menyala.


" Aman sudah " Ucap Aulia.


Jam di dinding sudah menunjukan pukul setengah tiga sore.


Sementara sayup suara Abi dan Uminya masih terdengar di ruang tamu.


" Mudah-mudahan bukan Faizal " Harap Aulia.

__ADS_1


Tak berapa lama Umi Tinah mengetuk pintu kamar Aulia, lalu membuka dan memasuki kamar.


Aulia yang duduk di pinggir ranjang dihampiri Umi Tinah, " Kau sudah bangun? " Tanyanya.


" Sudah Mi " Jawab Aulia singkat.


Umi Tinah melihat kamar sudah tidak berantakan kertas yang tadi berserakan sudah tidak ada dan laptop serta printer sudah dikembalikan ke tempat semula.


" Ada tamu ya Mi? " Aulia bertanya.


" Iya Nduk " Jawab Umi Tinah singkat sambil tersenyum.


" Siapa Mi? " Aulia ingin tahu.


" Oh itu... Itu dari pondoknya Abi " Jawab Umi Tinah bingung, dia takut keceplosan.


Aulia yang melihat gelagat Umi Tinah semakin ingin tahu siapakah yang datang.


" Faizal? " Tanyanya singkat.


Umi Tinah mengusap kepala Aulia sambil menggelengkan kepala.


" Bukan Nduk.... " Jawabnya singkat.


" Lalu siapa Mi? " Aulia masih penasaran.


Umi Tinah bingung mau menjawab apa, ia tutupi kebingungannya dengan mengambilkan air minum di meja sudut kamar untuk Aulia.


" Minum dulu " Umi Tinah memberikan segelas Air untuk Aulia.


Aulia menerimana lalu meminumnya.


...****************...


" Nak Arsha, menurutmu Nak Arsha apa yang harus aku lakukan untuk mempertahankan pondok pesantren? " Kyai Abas mulai berbicara pelan.


Arsha menoleh pada Kyai Abas, kali ini ia tak tersenyum.


" Memang ada apa dengan pondok Kyai? " Ia mencoba menanyakan duduk permasalahan.


" Sebenarnya bukan masalah besar, hanya karena masalah ini sudah terlalu lama dan belum terselesaikan " Pandangan Kyai Abas menerawang, Arsha memperhatikan dengan seksama.


" Kemarin setelah kau pulang dari sini, saudaraku menelepon nengingatkanku tentang pembagian pondok " Kyai Abas mulai bercerita.


" Pembagian pondok? " Arsha mengerutkan alisnya.


" Iya, jadi dulu pondok pesantren itu harusnya dikelola oleh saudaraku, tapi dia tidak mau maka Kakekku memberikannya padaku " Kyai Abas meneruskan ceritanya.


" Masalahnya adalah saat masih dikelola Kakek, pondok pesantren masih dalam pembangunan lalu Kakek meminta tolong oleh saudaraku untuk membantu dengan sejumlah biaya " Kyai Abas berhenti meneruskan ceritanya.


Sampai disitu Arsha sudah mulai mengerti kemana arah cerita Kyai Abas dan menganggukan kepala.


" Lalu sekarang saudara Kyai mau meminta uangnya kembali? " Arsha menatap Kyai Abas.


" Kau Tahu?! " Kyai Abas kaget mendengar pertanyaan Arsha, Arsha tersenyum tanda mengiyakan.


" Iya dia memintanya kembali, jika tidak maka ia akan membawa masalah ini kejalur hukum " Kata Kyai Abas.


Arsha mengusap lengan Kyai Abas, mencoba untuk menenangkan.


" Jika tidak ada perjanjian hitam di atas putih bagaimana bisa dibawa Kyai? Bukankah dibutuhkan bukti? " Ucap Arsha.


" Ada Nak, kwitansinya masih ada lengkap dengan keterangan dan jurnal di buku induk pesantren, ada " Jelas Kyai Abas.


" Hanya Aulia yang bisa menyelesaikannya " Kyai Abas tertunduk.


Arsha masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud Kyai Abas.


" Saudaraku itu adalah ayah dari mantan calon suami Aulia " Ucap Kyai Abas.


Arsha tersentak mendengar ucapan Kyai Abas, pikirannya mulai bermain dan menelusur jauh.


" Husain? " Tanya Arsha lirih.


Kyai Abas seketika menengok dan memandangi Arsha, " Bagaimana kau tahu Husain? "


Arsha tak menjawab, justru ia kembali bertanya " Kenapa hanya Aulia yang bisa menyelesaikannya Kyai? "


Kyai Abas menghela nafas dalam-dalam.


" Husain masih berharap Aulia mau kembali padanya " Jawab Kyai.


Seperti ada gemuruh di dalam dada Arsha saat mendengar perkataan Kyai Abas, bagaimana bisa sementara Aulia masih bukan siapa-siapanya.


" Apa Aulia tahu ini semua? " Arsha bertanya penuh hati-hati.


" Tidak, aku menyembunyikannya " Kyai Abas menahan sesak.


" Kau tahu kan bagaimana Aulia dari ceritaku? " Kyai Abas mencoba meyakinkan Arsha bahwa keputusannya benar.


" Iya Kyai, bagaimana kalau diganti dengan sejumlah uang yang dipergunakan? " Saran Arsha.


" Bisa saja tapi sangat banyak biayanya " Lirih Kyai Abas menjawab.


Kyai Abas mengeluarkan amplop yang ia simpan tadi lalu diberikannya pada Arsha, Arsha membuka lalu membacanya.

__ADS_1


" Jadi disini banyak pilihan tapi tidak menguntungkan sementara Aulia tidak mengetahui semuanya " Pikir Arsha dalam hati.


" Permainan apa lagi ini?!! " Gerutu Arsha.


__ADS_2