Manisnya Jodohku

Manisnya Jodohku
Mencari


__ADS_3

Aulia berada di kamar sejak tadi, ia berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk, semua file tersimpan rapi di drive ponselnya.


Laptop kesayangan yang dulu ia simpan di lemari pakaian masih berfungsi dan kini ia gunakan kembali.


Jika sudah begitu ia tak akan beranjak kemana-mana bahkan ia bisa menghabiskan waktu sampai malam.


" Baterai penuh, kuota full maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan? " Tanya Aulia pada dirinya sendiri sambil tersenyum.


Adzan dzuhur sudah terdengar, Aulia ke luar dari kamar untuk melaksanakan sholat dzuhur bersama Umi dan Abinya.


Setelah selesai melaksanakan sholat Aulia kembali ke kamarnya untuk melanjutkan kegiatannya.


...****************...


Arsha bersiap untuk pergi ke rumah Kyai Abas setelah melaksanakan sholat dzuhur di surau bersama teman-temannya yang lain.


" Panas sekali hari ini, apa aku harus berjalan kaki lagi ke sana? " Arsha berucap pelan.


Area pondok pesantren memang masih ramai saat itu, Arsha masih terduduk diam di pinggiran surau memperhatikan keadaan sekitar.


Ia merogoh saku bajunya, memeriksa apakah amplop yang diberikan Nurul tadi masih berada di sakunya dan memang masih ada.


" Bismillah.... " Arsha bangkit dari duduknya dan berjalan menuju gerbang utama pondok pesantren.


Faizal yang melihat Arsha kemudian menghampiri, sedikit berlari agar tak tertinggal oleh Arsha.


" Arsha... " Panggil Faizal.


Arsha menengok, di lihatnya Faizal menghampirinya, ia menghentikan langkahnya menunggu sampai Faizal sampai di hadapannya.


" Kau sudah mau berangkat? " Tanya Faizal memandang Arsha.


" Iya Mas " Arsha singkat menjawab dengan tersenyum.


" Ya sudah hati-hati " Pesan Faizal singkat.


" Iya Mas, terimakasih " Mantap Arsha menyahut.


Faizal membalikan badannya lalu berjalan meninggalkan Arsha.


" Mau kemana Nak Arsha? " Seseorang bertanya dengan suara yang hangat.


Arsha mencari arah suara yang memanggilnya, Pakde Hadi rupanya " Eh Pakde " Panggilnya.


Pakde Hadi adalah orang yang ikut membantu mengurus pondok pesantren, walaupun tidak tetap, Pakde Hadi sering datang ke pondok pesantren di waktu senggangnya .


Pakde Hadi menghampiri " Dari tadi aku perhatikan kamu banyak sekali melamun " Ucapnya.


" Pakde bisa saja " Arsha tersipu malu.


" Kau mau kemana? " Pakde Hadi bertanya.


" Owh anu saya mau ke rumah Kyai Abas, Pakde " Jawab Arsha agak gugup.


" Siang-siang begini? " Tanya Pakde Hadi.


" Jalan kaki? " Belum sempat Arsha menjawab Pakde Hadi sudah bertanya lagi.


Arsha yang mendapat pertanyaan dari Pakde Hadi tersenyum lalu menjawab " Iya Pakde, siang ini saya ke sana jalan kaki "


" Ini panas sekali lho Arsha " Pakde Hadi memandang ke arah lain sambil menyipitkan mata menahan silau.


" Tidak apa-apa Pakde, kemarin juga saya habis dari sana berjalan kaki, berjalan kaki juga menyehatkan badan Pakde? " Arsha menenangkan Pakde Hadi.


Pakde Hadi mengangguk lalu menepuk bahu Arsha, hangat sekali perlakuan Pakde Hadi.


Memang Arsha sudah banyak dikenal orang di sekitar pondok pesantren bahkan beberapa tamu yang berkunjung ke pondok pesantrenpun sangat terkesan terhadap pembawaan dan prestasi Arsha.


" Begini saja, kau ikut denganku ke rumah nanti kau bisa memilih mau berangkat ke rumah Kyai Abas menggunakan apa? " Bujuk Pakde.


" Oh tidak usah Pakde biar saya jalan kaki saja " Jawab Arsha canggung mendapat tawaran Pakde Hadi.


" Jangan begitu Arsha jangan menolak, memang kemarin kau ke sana berjalan kaki tapi tidak hari ini " Pakde Hadi mulai menjelaskan.


" Lagi pula kau tidak mau kan membuat Kyai Abas menunggu terlalu lama? " Lanjut Pakde Hadi.


Arsha mengangguk tanda membenarkan ucapan Pakde Hadi.


" Ayo kalau begitu ikutlah denganku! " Perintah Pakde Hadi dan dijawab anggukan oleh Arsha.


Arsha berjalan berdampingan dengan Pakde Hadi, tidak jauh rumahnya hanya bersebelahan saja jadi tidak butuh waktu lama untuk bisa sampai.


" Assalamu'alaikum.... " Arsha memberi salam saat memasuki pekarangan Pakde Hadi.


Pakde Hadi yang mendengar salam dari Arsha tersenyum lalu membalas " Wa'alaikumssalam.... ".


" Ayo sini masuk " Pinta Pakde Hadi, Arsha tersenyum melihat perlakuan Pakde Hadi.


Setibanya di halaman rumah tepatnya di depan pintu rumah Pakde Hadi terpakir dua buah sepeda gunung, tiga buah motor dan dua buah mobil.


" Pilihlah Arsha kau mau pakai yang mana? " Pakde Hadi memerintahkan Arsha.

__ADS_1


Arsha bingung sambil memandangi kendaraan milik Pakde Hadi itu.


" Masya Allah Pakde, terimakasih banyak ya sudah mau menolong saya " Ucap Arsha, Pakde Hadi mengangguk sambil tersenyum.


" Ayo pilihlah jangan sungkan " Pakde Hadi berjalan mengarahkan Arsha.


Arsha memandangi kendaraan milik Pakde Hadi, dipertimbangkannya baik-baik mana yang sekiranya pas untuk ia pakai.


" Saya mau menggunakan sepeda yang ini saja Pakde " Arsha mengungkapkan keinginannya sambil menunjuk salah satu sepeda yang berwarna merah bergradasi hitam.


" Yakin? " Pakde Hadi memastikan.


" Iya Pakde biar sekalian berolah raga " Jawaban Arsha meyakinkan Pakde Hadi.


Pakde Hadi mengangguk-angguk, lalu masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil kunci sepeda pilihan Arsha dan saat ia keluar lagi sudah membawa kunci sepeda serta plastik berisi bingkisan untuk Kyai Abas.


" Ini kunci sepedanya dan ini aku titip untuk diberikan pada Kyai Abas, titip salam buat beliau ya " Pakde menyerahkan kunci dan kantong plastik yang ia bawa dari dalam rumah tadi.


" Terimakasih banyak ya Pakde, iya nanti saya sampaikan pada Kyai Abas " Arsha berucap.


Setelah meraih kunci dan kantong plastik ia berpamitan pada Pakde Hadi dan menaiki sepeda lalu mengayuhnya ke arah rumah Kyai Abas.


...****************...


Aulia masih di dalam kamar, Umi Tinah mengetuk pintu kamar tapi tak ada sahutan lalu Umi Tinah berinisiatif untuk membuka pintu kamar Aulia dan memasukinya pelan-pelan.


Didapatinya Aulia sedang tertidur di atas ranjang dangan kertas-kertas berserakan rupanya Aulia kelelahan.


Printer masih menyala laptop mulai habis baterainya, Kyai Abas mengintip dari balik pintu kamar memperhatikan Istrinya.


Ia melihat istirnya membelai Aulia penuh kasih sayang, Umi Tinah merapikan kertas yang berserakan lalu mematikan printer dan mengisi ulang daya laptop Aulia.


Kyai Abas bergerak memasuki kamar Aulia, Umi Tinah agak terkejut lalu Kyai Abas menempelkan jari telunjuknya di mulutnya tanda jangan berisik pada Umi Tinah, Umi Tinah mengangguk.


Kyai Abas memperhatikan monitor laptop, melihat apa saja yang tertulis di sana.


Dibacanya apa yang ada di layar, di naikan krusornya lalu di turunkan kembali Kyai Abas semakin paham setelah melihat siapa nama yang bertanda tangan di sana.


Nama putrinya sendiri Aulia, sebagai pemilik dari yayasan sekolah islamiah yang berbasis kurang lebih mengadopsi pondok pesantren milik Abinya, Kyai Abas.


Seketika Kyai Abas berkaca-kaca air matanya menetes, Umi Tinah yang melihat suaminya menangis mendekatinya rasa ingin tahu membuatnya ikut menatap layar laptop.


" Masya Allah.... " Ucap Umi Tinah lirih.


Kyai Abas mengajak Umi Tinah ke luar dan menyuruh Umi Tinah membiarkan kertas yang berserakan itu agar tidak di rapikan.


Setelah ke luar kamar Kyai Abas dan Umi Tinah saling berpelukan mereka menangis haru, seraya mengucapkan syukur " Alhamdulillah... "


" Abi selalu yakin Mi, kalau Aulia tidak akan gagal, dalam diamnya dia membuktikan bahwa dia bisa dibanggakan dengan caranya sendiri Umi " Kyai Abas menggenggam erat tangan Umi, matanya menatap tajam.


...****************...


Arsha sudah menempuh setengah perjalanan, hatinya merasa bahagia sekali tak sedikitpun ia merasa panas padahal siang itu begitu terik.


Ia senang menaiki sepeda karena memang dulu itu adalah hobinya, ditambah bayangan wajah Aulia yang selalu bermain dipikirannya.


" Alhamdulillah Ya Allah.... Kau selalu berpihak padaku " Ucap Arsha.


Wajah Arsha tampak berseri-seri sehingga wajahnya yang rupawan semakin menawan.


" Alhamdulillah sebentar lagi aku akan sampai " Arsha semakin bersemangat mengayuh sepedanya.


...****************...


" Abi seharusnya Abi berbicara mengenai masalah pondok pesantren kita ini kepada Aulia " Saran Umi Tinah.


" Umi, Umi tahu sendiri kalau Aulia tidak mau membantu mengurus pondok pesantren sebelum dia menikah " Kyai Abas mengingatkan.


" Bukan minta bantuan Bi.... Tapi bertukar pikiran, bagusnya bagaimana begitu maksud Umi " Umi Tinah menjelaskan lagi.


Setelah mengatur perasaan masing-masing Kyai Abas kembali ke ruang tamu, sementara Umi Tinah kembali ke dapur entah apa yang akan dikerjakan di sana tapi memang Umi Tinah tidak bisa berdiam diri .


...****************...


Arsha sudah sampai di depan rumah Kyai Abas, rumah yang sangat asri dengan berbagai macam pepohonan yang tumbuh subur di sekelilingnya.


Ia turun dari sepedanya dan meletakannya di halaman lalu ia mengetuk pintu dan mengucap salam.


...****************...


Di dalam rumah tepatnya di ruang tamu Kyai Abas duduk di kursi jatinya, bersandar dan matanya terpejam.


Tidak lama kemudian pintu rumah diketuk dari luar, terdengar orang mengucap salam " Assalamu'alaikum.... "


Kyai Abas menjawab " Wa'alaikumssalam warahmatullahi wabarakatuh .... "


...****************...


Arsha menunggu untuk dibukakan pintu, sambil sedikit membenahi rambutnya yang berantakan.


...****************...

__ADS_1


Umi Tinah berjalan dari arah dapur untuk membukakan pintu " Wa'alaikumssalam " balasnya sambil memegang daun pintu.


" Eh Nak Arsha, ayo Nak sini masuk! " Umi Tinah mempersilahkan Arsha masuk.


" Iya Umi, saya datang lagi " Ucap Arsha tertawa kecil sambil menyalimi Umi Tinah.


Umi tinah memandangi Arsha dengan mata bersinar, Umi Tinah senang sekali dengan kedatangan Arsha.


" Umi malah senang sekali kalau Nak Arsha datang lagi " Timpal Umi.


Mereka berjalan memasuki ruang tamu dan menghampiri Kyai Abas.


" Abi... Ada tamu " Tegur Umi Tinah.


Abi membuka mata, lalu menoleh ke arah Umi Tinah, di lihatnya ada Arsha yang berdiri di sebelah Umi Tinah.


" Eh Arshaka.... " Kyai Abas langsung berdiri.


" Assalamu'alaikum Kyai " Arsha meraih tangan Kyai Abas lalu menyalimi.


" Wa'alaikumssalam warahmatullah wabarakatuh " Balas Kyai Abas tersenyum dengan mengusap rambut Arsha.


" Ayo-ayo silahkan duduk " Pinta Kyai Abas sambil mengarahkan tangannya lalu mengambil posisi duduk lebih dahulu.


" Iya Kyai, terimakasih " Arsha duduk bersebelahan dengan Kyai Abas.


" Oh iya ini Kyai ada titipan dari Pakde Hadi " Arsha menyerahkan plastik yang ia bawa.


" Waduh apa ini? Pakai repot-repot segala " Gumam Kyai Abas, Arsha hanya tertawa kecil.


Plastik yang diterima Kyai Abas di serahkan pada Umi Tinah dan segera Umi Tinah kembali ke dapur.


" Sampaikan rasa terimakasihku pada Pakde Hadi ya " Kyai Abas berpesan.


" Iya Kyai, insya Allah.... " Ucap Arsha singkat.


Sesaat Arsha terdiam dan teringat akan amplop yang ada di saku bajunya.


" Ehmm iya Kyai, ini saya ada titipan dari Nurul untuk Kyai " Arsha menyampaikan amplop itu dan diterima oleh Kyai Abas.


Kyai Abas menerima amplop itu perlahan ia buka dan ia baca apa isinya lalu terdiam, Arsha hanya bisa memperhatikan tak bertanya.


" Siang-siang begini minum teh panas tidak apa-apa kan Nak Arsha? " Umi Tinah tiba-tiba datang dengan sedikit tertawa kecil.


Kedatangan Umi Tinah memecahkan kehenigan, segelas teh panas bersama kudapannya sudah tersaji di meja tamu.


" Monggo Nak Arsha dinikmati " Umi Tinah menawarkan.


" Terimakasih Umi... Maaf ya saya jadi merepotkan " Ujar Arsha.


" Ah Tidak, Umi senang kalau Nak Arsha datang " Umi Tinah lalu mengalihkan pandangannya pada Kyai Abas yang masih berdiam diri.


Arsha memahami keadaan itu, tapi Arsha belum mau mencari tahu, kemudian Arsha mengambil gelas teh yang ada di hadapannya lalu meminumnya.


Umi Tinah tidak menegur suaminya, dia hanya memperhatikan saja setelah itu ia kembali pergi meninggalkan Arsha dan Kyai Abas.


Arsha mengambil makanan kecil di meja tamu lalu memakannya, pandangan Arsha mulai berkeliling dari ruang tamu, sesekali agak melongok ke ruang yang lain.


" Kenapa sepi ya? Tidak ada tanda-tanda Aulia disini " Tanya Arsha dalam hati.


" Atau mungkin Aulia tadi langsung bertolak lagi ke Jakarta? " Masih bertanya dalam hati.


Arsha lalu tersadar bahwa ada Kyai Abas di sampingnya, kini pandangannya ia tujukan kembali pada Kyai Abas.


Kertas yang dibaca Kyai Abas tadi masih belum terlepas dari tangan Kyai Abas, sementara Kyai sendiri masih memejamkan matanya sambil memegangi keningnya.


" Kyai, apa Kyai baik-baik saja? " Tanya Arsha pada Kyai.


" Tenanglah Arshaka, aku baik-baik saja " Jawab Kyai Abas.


" Kyai mengantuk? Ingin beristirahat? " Arsha memberi pertanyaan lagi.


" Tidak, aku hanya berpikir sejenak " Jawab Kyai Abas pelan.


Hening kembali, biarkan seperti itu sebentar lalu Kyai Abas sudah bisa menguasai dirinya lagi.


" Apa ini yang tadi mau disampaikan oleh Faizal padaku? " Tanya Kyai Abas menggerakan kertas yang ia pegang.


" Tidak Kyai, itu dari Nurul, Nurul sendiri yang memberikan pada saya saat ia masuk ke ruang pengurus " Arsha menjelaskan, Kyai Abas mengangguk.


" Jadi Faizal belum tahu tentang ini? " Kyai Abas mengguncangkan kertas itu lagi.


" Belum Kyai, memang kertas itu berisi apa Kyai? " Arsha mencoba memberanikan diri untuk bertanya.


Kyai Abas kembali diam, kertas yg ia pegang tadi ia lipat dan dimasukan lagi ke amplopnya.


" Bukan, bukan apa-apa... " Jawab Kyai Abas sambil tangan segera menyimpan amplop itu di bawah tumpukan buku di bawah meja tamu.


Arsha hanya tersenyum melihat sikap Kyai Abas, " Kyai apakah Mas Faizal adalah calon mantu Kyai? " Arsha berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Calon mantu? " Kyai Abas heran mendengar pertanyaan Arsha.

__ADS_1


" Iya Kyai, soalnya tadi nomor Kyai disimpan oleh Mas Faizal dengan nama calon mertua " Arsha memberi penjelasan.


Kyai Abas beristighfar pelan, kepalanya menggeleng " Tidak Arshaka " Jawab Kyai Abas, Arsha menarik nafas lega mendengar jawaban Kyai Abas.


__ADS_2