Manisnya Jodohku

Manisnya Jodohku
Pesan Aulia


__ADS_3

Di ruang makan Kyai Abas, Umi Tinah dan Aulia menyantap makanan yang Aulia bawa tadi.


Asem-asem merupakan makanan khas Demak yang menjadi makanan terfavorit bagi Kyai Abas.


Lahap sekali Kyai Abas melahap makanannya begitupun dengan Umi Tinah, Aulia tak henti-hentinya mengucap syukur.


" Abi rasa asem-asem kali ini jauh lebih nikmat dibanding yang lalu-lalu " Puji Kyai Abas.


" Abi bisa saja, ini Aulia beli ditempat langganan kok rasanya sama saja " Aulia menimpali.


" Abi mungkin lapar sekali karena dari sakit tidak nafsu makan " Aulia menambahkan.


" Tambah lagi Abi Umi... " Aulia menawarkan.


Kyai Abas menyodorkan piringnya tanda bahwa ia meminta untuk menambahkan makanannya.


Piring itu disambut Umi Tinah, " Segini cukup Bi? " Tanyanya pada Kyai Abas.


" Iya cukup " Tangannya menerima kembali piring dari Umi Tinah.


" Makan yang banyak ya Abi biar cepat pulih " Kata Aulia sambil menyuap makanannya.


" Tentu saja....! " Kelakar Kyai Abas, Umi Tinah tersenyum.


" Nikmat sekali ya Bi? " Umi Tinah bertanya.


" Owh iya jelas sekali Umi " Jawab Kyai Abas.


" Alhamdulillah .... " Serempak Umi dan Aulia membalas perkataan Kyai Abas, mereka saling tatap dan sedikit tertawa.


" Lho kok Alhamdulillah? " Tanya Kyai Abas lagi.


" Itu berarti Abi sudah sembuh " Jawab Aulia dengan mata bersinar.


" Iya Abi itu sembuh karena Aulia datang " Timpal Umi Tinah.


" Obatnya ada di Aulia " Umi Tinah menatap Aulia dalam-dalam.


Aulia tidak membalas ucapan Umi Tinah, ia tetap melanjutkan makannya sampai habis.


" Alhamdulillah.... " Ucap Kyai Abas setelah menghabiskan makanannya, mencairkan suasana.


Umi Tinah dibantu Aulia membersihkan meja makan, setelah selesai mereka duduk kembali di kursi meja makan.


Dengan menikmati teh hangat mereka bertiga, Kyai Abas, Umi Tinah dan Aulia berbincang.


" Abi senang sekali kau pulang Nduk " Kyai Abas memandang putrinya, Aulia.


" Nduk, rasanya sudah lama sekali kita tidak makan bersama seperti ini, Abi sangat merindukan hal-hal seperti tadi " Kyai Abas melanjutkan, Aulia memeprhatikan Kyai Abas.


" Umi juga.... " Umi Tinah ikut urun suara, Aulia menengok ke arah Uminya yang duduk di kursi sebelahnya.


" Kau terlalu lama pergi Nduk sampai mungkin kau lupa jalan pulang " Kata Umi Tinah.


Aulia terdiam dan sedikit menahan sesak di dadanya, pikirannya menerawang entah kemana.


Lagi-lagi bayangan Husain datang menghampirinya, perasaan sakit yang dulu pernah ada sekarang terasa kembali.


Aulia berusaha menutupi itu semua di depan Umi dan Abinya yang sedari tadi memperhatikannya, Aulia tersadar bahwa ia harus tetap terlihat baik-baik saja di depan orangtuanya.


Kembali Aulia menatap Umi Tinah dan Kyai Abas, lalu tersenyum sambil berkata " Maafkan Aulia, Aulia hanya ingin mengejar cita-cita Aulia ".


Entah itu jawaban sejujurnya atau bukan, yang pasti adalah Aulia masih belum bisa melupakan rasa sakitnya terhadap Husain, bahkan setiap sudut kota Demak bisa mengingatkan kembali akan kenangan Aulia bersama Husain.


Itulah sebab utama kenapa Aulia lebih memilih meninggalkan kota kelahirannya daripada terus teringat kenangan yang membuat laranya tak kunjung sembuh.


" Mau sampai kapan kau membiarkan masalalu terus me gejarmu Nduk? " Tanya Umi Tinah.


Aulia terkejut mendengar pertanyaan Umi Tinah, " Entahlah Umi " Aulia hanya bisa menjawab dalam hati.


" Nduk, Abi percaya bahwa bagian Allah sedang Allah kerjakan " Kyai Abas tersenyum.


Aulia ganti menatap wajah Kyai Abas, lalu mengalihkan pandangannya.


" Iya benar, aku sebagai manusia hanya bisa mengerjakan bagianku saja yaitu berdoa dan berusaha " Ucap Aulia dalam hati.


Aulia menarik nafas lalu pikirannya kembali bisa ia kuasai.


" Abi minum obat dulu ya " Aulia mengingatkan, sekaligus ia berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Tidak, Abi tidak pernah minum obat kok Nduk " Ucap Abi.


" Abi minum-minuman herbal yang dibuat oleh dokter kita, Umi mu " Ucap Kyai Abas dengan nada menggoda istrinya.


Umi tersenyum malu, Aulia tertawa kecil melihat tingah ke dua orangtuanya.


" Tapi sebenarnya memang Abi ini sudah sembuh hanya saja masih lemas sedikit " Kyai Abas memberikan penjelasan.


" Dan setelah Aulia datang Abi jadi segar bugar " Umi Tinah bersemangat, Umi Tinah tersenyum.


" Abi sudah minum jamu lagi? " Tanya Aulia pada Kyai Abas.


" Sudah tadi pagi sebelum kau datang " Jawab Kyai Abas.


" Abi rasa nanti Abi mau ke pondok pesantren " Lanjut Kyai Abas.


Aulia dan Umi Tinah kompak memandang Kyai Abas, pandangan mereka seperti kode melarang dan Kyai Abas bisa mengartikan pandangan mereka.


" Lho kenapa? Abi kan sudah sembuh, sudah pulih, sudah fit " Abi menggerakan badannya untuk meyakinkan pada Aulia dan Umi Tinah kalau ia benar" sudah pulih.


" Tidak Abi! " Ucap Aulia tegas, Kyai Abas heran.


" Abi tidak boleh ke pondok pesantren " Larang Aulia, Umi Tinah diam saja.


" Tapi Nduk, Abi sudah 4 hari tidak ke sana, Abi hanya ingin melihat keadaan dan permasalahan yang harus di selesaikan " Abi berusaha menjelaskan.


" Permasalahan apa? " Aulia bertanya, Abi hanya terdiam.


" Ada masalah apa Bi? Apa tidak bisa diwakilkan? " Tanya Aulia ingin tahu.

__ADS_1


" Bisa, bisa sekali !!! " Kyai Abas menjawab penuh dengan semangat.


" Aulia mau mewakilkan Abi menjalankan pondok pesantren? " Tanya Kyai Abas.


" Lho kok Aulia Bi? " Aulia berbalik bertanya alisnya mengkerut.


" Siapa lagi yang bisa Abi andalkan kalau bukan anak sendiri " Umi Tinah ikut urun suara.


" Ya karena memang hanya kau yang bisa Abi harapkan Nduk " Tatapan mata Kyai Abas sedikit memelas.


" Tidak Bi, Aulia hanya akan mengurus pondok pesantren jika Aulia sudah menikah " Tolak Aulia.


" Kalau begitu kapan kau menikah? " Tanya Kyai Abas.


Aulia salah tingkah mendengar pertanyaan Kyai Abas, Umi Tinah menenangkan Aulia dengan mengelus bahu Aulia.


" Pokoknya Aulia tidak mau mengurus pondok pesantren sebelum Aulia menikah dan Abi tidak boleh berangkat ke pondok pesantren hari ini " Aulia bersikukuh melarang.


" Kalau Abi masih nekat, Aulia mau berangkat hari ini juga ke Jakarta! " Tegas Aulia sedikit mengancam.


Kyai Abas menggeleng-gelengkan kepalanya tapi tetap tersenyum, begitupun dengan Umi Tinah yang menahan tawa.


" Umi, lihatlah anakmu ini dia melarangku untuk pergi tapi dia tidak mau mewakili, lalu bagaimana nasib pondok pesantren kita Mi? " Tanya Kyai Abas sedikit menggoda Aulia.


" Abi punya orang kepercayaan kan di sana? Suruh saja orang itu mewakili Abi untuk beberapa hari " Aulia memberi saran.


Kyai Abas dan Umi Tinah saling pandang.


" Siapa? " Kyai Abas bertanya sambil mendekatkan dirinya pada Aulia.


" Siapa saja, asal jangan Faizal! " Aulia tegas menjawab.


Kyai Abas dan Umi Tinah saling pandang lagi.


" Aulia tidak mau Faizal yang membantu Abi mengurus pondok pesantren secara personal " Aulia menegaskan kembali.


" Nduk, Faizal pernah membantu Abi saat mau melepaskanmu dari serangan kekasih gelapnya Husain " Kyai Abas berusaha mengingatkan jasa Aulia.


Aulia menengok ke arah Abinya, dengan tatapan mata datar Aulia berkata, " Iya, dia membantu tapi karena memiliki niat lain "


" Maksudnya? " Umi Tinah bertanya.


" Abi dan Umi pasti mengerti apa yang Aulia maksud tapi terlepas dari itu sebenarnya Faizal orang yang baik " Tutur Aulia.


" Saran Aulia kalau bisa Abi mulai mencari orang yang benar-benar bisa dipercaya selain Faizal, sambil menunggu Aulia menemukan jodoh " Aulia memberikan saran yang menenangkan.


" Pasti ada Bi, insya Allah pasti ada Abi jangan khawatir semua ada jalannya, entah itu siang ini atau beberapa hari ke depan " Lanjut Aulia yang sebenarnya ia sendiri tidak tau arah tujuan ucapannya.


" Baiklah Nduk... " Ucap Kyai Abas, sambil mengeluarkan ponselnya.


Aulia dan Umi Tinah hanya bisa terdiam dan memperhatikan Kyai Abas.


Kyai Abas menekan nomor Faizal, kemudian Aulia teringat akan pekerjaannya yang belum ia selesaikan.


" Pasti email sudah menumpuk " Pikir Aulia dalam hati.


...****************...


Faizal masih memperhatikan gerak gerik Arsha dan Nurul, ponselnya berdering tapi ia tak mendengarnya


...****************...


Sementara Kyai Abas masih menunggu jawaban dari telepon di seberang sana.


...****************...


Faizal mulai menyadari ada getar di saku celananya, segera ia merogoh ponselnya dan melihat layar terdapat tulisan " Calon Mertua " iya Faizal menuliskan nama Kyai Abas sebagai calon mertua.


Tidak mau membuat Kyai Abas menunggu lama, segera ia mengangkat telepon " Assalamu'alaikum Kyai.... "


...****************...


" Wa' alaikumsallam warahmutullahi wabarakatuh " Jawab Kyai Abas.


...****************...


" Bagaimana keadaan Kyai sekarang? " Faizal melanjutkan pembicaraan.


Arsha tak menghiraukan apa yang Faizal bicarakan dengan Kyai Abas tapi Faizal bergaya seolah-olah ingin memanasi Arsha karena ia ditelepon oleh Kyai Abas.


...****************...


" Alhamdulillah sudah membaik, Faizal apa kau bisa membantuku? " Kyai Abas mulai bicara serius, Umi Tinah meninggalkannya sendiri.


...****************...


" Oh iya tentu boleh Kyai, apa yang bisa saya bantu? Atau saya langsung ke rumah Kyai agar bisa membantu? " Faizal bertanya penuh dengan semangat, ia bangkit dari duduknya dan beranjak ingin pergi.


Arsha hanya diam memperhatikan sementara yang lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


...****************...


" Tidak, tidak usah malah merepotkan Faizal nanti, biar Arsha saja yang ke sini ya " Kyai Abas menolak secara halus.


...****************...


Faizal terWdiam mendengar jawaban dari Kyai Abas di telepon seberang sana.


Mata Faizal sekarang menatap wajah Arsha dalam-dalam, sementara Arsha yang mengetahui dirinya di tatap Faizal hanya bisa tersenyum sambil menganggukan kepala seperti memberi hormat.


" Tidak kok Kyai tidak merepotkan sama sekali, saya memang sudah ada niat untuk menjenguk kyai siang ini " Faizal mencoba meyakinkan Kyai agar dirinya diizinkan untuk datang ke rumahnya.


...****************...


Kyai Abas menoleh ke arah istrinya Umi Tinah, Umi Tinah memberikan dorongan agar Kyai Abas melanjutkan pembicaraannya di telepon.


" Jadi begini Faizal, ada yang ingin aku bicarakan dengan Arsha jadi biar saja Arsha yang datang ke sini ya " Kyai Abas memberikan penjelasan.


...****************...

__ADS_1


Seperti tak terima dengan penjelasan Kyai Abas Faizal berusaha lagi untuk menjelaskan niatnya.


" Tapi Kyai saya juga ada yang mau dibicarakan " Ungkap Faizal sambil tersenyum nada bicaranya sedikit melemah diselingi tawa kecil.


Arsha sibuk mengerjakan tugasnya, tugas mengajar dan dan tugas pelajarannya maklumlah selain mengajar Arsha juga masih belajar.


...****************...


Kyai Abas seperti kehabisan kata untuk menolak perminataan Faizal, tapi Umi Tinah menggenggam tangan Kyai Abas untuk tetap menyemangatinya.


" Kau bisa menyampaikannya padaku lain waktu Faizal tapi untuk hari ini aku harus menyampaikan hal yang memang berkaitan dengan Arsha " Ungkap Kyai Abas sedikit berbohong.


...****************...


Sampai di sini Faizal mulai terdiam dan berpikir sejenak, " Apa kiranya yang ingin Kyai bicarakan? Kenapa tidak kemarin saja, padahal kemarin Arsha juga datang "


" Ehmmm Kyai kalau boleh tahu bicara tentang apa ya? " Faizal mulaie mencari tahu.


...****************...


Kyai Abas mulai mengerti kenapa Aulia tidak menyukai Faizal sedikit demi sedikit watak asli Faizal mulai terbuka.


" Ini urusan Arsha dan keluarganya, kau dan aku tak perlu tahu Faizal tugasku hanya menyampaikan pesan dari orangtuanya! " Kyai Abas mengaskan ucapannya.


...****************...


Setelah mendengar ucapan Kyai Abas Faizal tersadar bahwa ia memang keterlaluan.


" Oh iya Kyai maafkan saya, nanti akan saya sampaikan pada Arsha untuk mengunjungi Kyai " Arsha bersikap biasa lagi dan mengendorkan intonasi bicaranya.


Arsha yang merasa namanya disebut-sebut menghentikan aktivitasnya lalu mengalihkan pandangannya pada Faizal.


...****************...


" Terimakasih Faizal untuk pengertiannya, lain kali jangan ikut campur urusan orang lain lagi ya " Kyai Abas berpesan pada Faizal.


...****************...


Faizal yang mendengar pesan dari Kyai Abas jadi merasa sangat bersalah, sikapnya celingukan seolah ia sedang berhadapan dengan Kyai Abas.


" Iya Kyai maafkan saya, saya memang salah tadi " Faizal membalas Kyai Abas lemas.


...****************...


" Bisakah aku bicara dengan Arsha saja sekarang? " Kyai Abas meminta pada Faizal, Kyai Abas mengantisipasi kalau-kalau Faizal tidak menyampaikan pesannya.


...****************...


" Baik Kyai, tunggu sebentar " Jawab Faizal, langkahnya menghampiri Arsha.


Tangan Faizal menyodorkan ponselnya pada Arsha, Arsha yang melihat Faizal segera meraih ponsel itu.


" Dari Kyai Abas " Gerak-gerik mulut Faizal, Arsha mengangguk.


Sekilas Arsha melihat layar ponsel yang Faizal berikan tadi " Calon Mertua " Tulisannya.


" Calon mertua? Kok calon mertua? " Tanya Arsha dalam hati kebingungan.


" Buruan " Faizal mengingatkan


" Oh iya-iya " Arsha mengambil posisi duduk sigap, ditempelkan ponsel Faizal di telinganya.


" Assalamu'alaikum.... " Arsha mulai berbicara


...****************...


"Wa'alaikumssalam Arshaka... " Jawab Kyai Abas membalas salam dari Arsha.


...****************...


" Kyai sudah pulih? " Tanya Arsha, sementara Faizal kembali ke mejanya dan mulai mengerjakan pekerjaannya.


...****************...


" Alhamduliah sudah.... " Kyai Abas menjawab pertanyaan Arsha.


...****************...


" Alhamdulillah.... Saya senang mendengarnya Kyai " Arsha berbicara kembali.


...****************...


" Iya Nak.... " Sahut Kyai Abas.


" Oh iya nanti siang datang lagi ya ke rumah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu " Lanjut Kyai Abas.


...****************...


" Boleh Kyai, nanti saya ke sana sekitar bakda dzuhur ya " Arsha menyetujui permintaan Kyai Abas, mata Arsha tertuju pada Faizal yang menyibukan diri seolah tak mendengar suara Arsha.


...****************...


" Baiklah kalau begitu aku tunggu ya, assalamu'alaikum.... " Kyai Abas mengakhiri pembicaraan.


...****************...


" Wa'alaikumssalam warahmatullahi wabarakatuh " Arsha juga mengakhiri teleponnya.


Di lihatnya kembali layar ponsel milik Faizal, " Calon mertua " mengakhiri obrolan tulisannya.


Arsha berjalan menghampiri Faizal, " Terimakasih ya Mas " Ucap Arsha.


" Iya sama-sama " Singkat Faizal menjawab, Arsha masih berdiri memperhatikan Faizal.


" Kenapa masih di sini ? Tanya Faizal pada Arsha.


" Iya Mas, nanti abis dzuhur kok aku ke rumah calon mertuanya Mas " Ledek Arsha pelan tapi mendalam.


Faizal salah tingkah mendengar ucapan Arsha, sementara Arsha hanya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2