
Enam tahun berlalu semenjak Aulia meninggalkan kampung halamannya, Kyai Abas dan Umi Tinah mencari kesibukan lain di luar rumah.
Memang kesibukan utama dari Kyai Abas adalah mengurus ponpesnya, selain sebagai pemilik beliau juga sebagai guru disana.
Berbeda dengan Umi Tinah yang memang kesibukan utamanya hanyalah di rumah mengurus rumah tangga, tapi semenjak kepergian Aulia semua terasa berbeda, terasa sepi.
Kyai Abas tidak tega melihat Umi Tinah yang sering terlihat murung, ia membujuk Umi Tinah untuk ikut serta bersamanya mengurus ponpes, meskipun tidak selalu di " Iya " kan ajakan suaminya itu.
Pagi itu sepertinya berbeda, selain udara yang begitu dingin dan memang keadaan Kyai Abas kurang sehat maka ia mengambil keputusan untuk beristirahat di rumah saja.
Ia berada di kamarnya sendirian, sementara Umi Tinah berada di dapur membuat ramuan tradisional dari rempah-rempah alami yang diambilnya dari apotek hidup di kebun belakang rumahnya.
Terdengar ucapan salam dari depan rumah " Asalamu'alaikum.... "
Umi Tinah menoleh sebentar, lalu menghentikan aktivitasnya dan bergegas menuju pintu depan rumahnya sambil menjawab salam " Wa'alaikumssalam.... "
Pintu terbuka, " Oh Nak Arsha rupanya, mari-mari silahkan masuk " Ucap Umi Tinah setelah tahu siapa tamunya yang mengucapkan salam tadi.
Umi Tinah tersenyum senang, bagaimana tidak Arsha adalah salah satu murid kesayangan Kyai Abas yang sangat berpotensi, selain rupawan juga berwibawa bahkan Arsha telah di dapuk untuk menjadi pengajar di ponpes milik Kyai Abas dalam beberapa tahun terakhir ini, walaupun usianya baru menginjak tujuhbelas tahun tapi kepandaiannya tidak bisa di remehkan.
" Ada angin apa Nak Sepagi ini sudah berkunjung kesini? " Tanya Umi Tinah, Arsha tersenyum
" Iya Umi, kedatangan saya kesini hendak menanyakan Kyai Abas karena sudah tiga hari ini tidak nampak keberadaannya di ponpes " Jawab Arsha masih di depan pintu.
" Owh iya silahkan masuk Nak " Perintah Umi Tinah mempersilahkan Arsha untuk masuk, Arsha mengikutinya dari belakang.
" Abi ada di kamar, kebetulan selama tiga hari ini Abi sedang tidak enak badan jadi Abi membutuskan untuk tidak berkunjung dulu ke ponpes, tapi alhamdulillah keadaannya sekarang sudah mulai membaik " Umi Tinah menjelaskan sambil berjalan ke arah ruang tamu yang masih diikuti oleh Arsha.
" Duduk Nak Arsha " Pinta Umi Tinah pada Arsha sambil menunjuk sofa di ruang tamunya.
" Oh iya Umi, terimakasih " Jawab Arsha, santun sambil duduk.
" Sebentar ya Umi ke dapur dulu " Izin Umi Tinah.
" Iya Umi silahkan " Arsha mempersilahkan Umi Tinah untuk meninggalkannya.
Tak berapa lama kemudian Umi Tinah kembali ke ruang tamu untuk menemui Arsha sambil membawa dua gelas berisi air teh hangat dan ramuan tradisional yang ia rebus tadi.
" Silahkan diminum Nak " Umi Tinah mempersilahkan, Arsha tersenyum lalu memandangi gelas yang Umi Tinah letakan di atas meja tepat di hadapannya.
Umi Tinah mengerti dengan apa yang Arsha pikirkan, " Tenanglah Nak, Umi memberikan dua gelas untukmu agar kau bisa memilih mana minuman yang ingin kau minum " Ucap Umi Tinah memecahkan pikiran Arsha.
" Yang satu air teh manis hangat, yang satunya lagi ramuan tradisional yang Umi buat untuk menjaga kesehatan badan, cuaca akhir-akhir ini tidak bersahabat " Terang Umi Tinah, Arsha masih tertegun mendengar penjelasan Umi Tinah lalu mengalihkan pandangannya kembali ke gelas yang ada di hadapannya.
" Abi tadi juga sudah meminumnya, sebelum aku datang kembali menemuimu terlebih dahulu aku menemui Abi di kamar untuk memberikan ramuan ini " Umi Tinah melanjutkan penjelasannya tadi,
Arsha mengalihkan pandangan dari gelas ke arah Umi Tinah lalu ke gelas lagi.
" Minumlah selagi hangat " Bujuk Umi Tinah tersenyum
" Terimakasih Umi... " Ucap Arsha sambil memilih jamu yang terbuat dari rempah-rempah ramuan tradisional, Umi Tinah memandangi Arsha penuh kasih layaknya Ibu kepada Anaknya.
Umi Tinah yang duduk berhadapan dengan Arsha tak henti-hentinya tersenyum melihat ekspresi wajah Arsha saat meminun minuman pilihannya.
" Bagaimana Arsha? " Tanya Umi Tinah sesaat setelah Arsha meminum habis ramuan itu.
Muka Arsha tampak begitu lucu, wajahnya yang putih tampak kemerahan, matanya yang coklat kehijauan tampak sedikit berair.
" Rasanya aneh Umi " Arsha berusaha menjelaskan, setelah tenggorokannya sudah kembali normal, Umi Tinah tertawa kecil.
" Apa kau tidak tahu sebelumnya kalau ramuan itu tidaklah senikmat teh manis hangat? " Tanya Umi Tinah meledek masih dengan tawanya yang kecil, Arsha ikut tertawa menertawakan dirinya sendiri.
" Ya Umi, saya sudah tahu, hanya saja saya sengaja memilihnya karena saya tahu dengan meminum ramuan ini akan lebih bermanfaat untuk tubuh saya dibandingkan air teh manis " Jelas Arsha.
Umi Tinah terdiam seketika, " Sebegitu dalam analogi yang ada di dalam pikiran anak ini " Gumamnya dalam hati.
" Masuklah ke kamar, Abi sedang menunggumu " Ucap Umi Tinah sambil berdiri dan berjalan menghantarkan Arsha ke depan kamar, Arsha mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
" Abi.... " Ketuk Umi Tinah.
" Iya Mi, masuk saja... " Sahut Kyai Abas dari dalam.
" Masuklah Nak Arsha, Umi kembali ke dapur ya " Perintah Umi Tinah.
" Iya Umi terimakasih " Ucap Arsha.
" Assalamu'alaikum.... " Arsha memasuki kamar tempat Kyai Abas tidur.
" Wa'alaikumssalam.... Masuklah Arsha." Balas Kyai Abas, lalu menoleh ke arah Arsha.
" Arsha, kau sudah datang " Ucap Kyai Abas, ia mulai bangun dan duduk bersandar bantal yang diletakkan menempel dinding.
" Iya Kyai, Kyai bagaimana keadaannya? " Tanya Arsha sambil duduk di sebelah ranjang tempat Kyai duduk.
" Alhamdulillah sudah membaik " Jawab Kyai Abas singkat dengan senyum yang mengembang.
" Kyai, Kyai Abas sudah tiga hari tak mengajar juga tidak mengunjungi ponpes, itu alasan yang membuat saya datang untuk mencari tahu apa gerangan yang terjadi pada kyai " Terang Arsha.
Kyai Abas mengedipkan mata lemah, " Iya aku memang sedang tidak enak badan, tapi berangsur pulih " Ucapnya.
" Terimakasih sudah mau mengunjungiku, Arsha " Lanjutnya sambil menepuk lengan Arsha, Arsha mengambil posisi duduk tepat di sebelah kanan ranjang Kyai Abas.
" Oh iya Arsha, kemarin Ayah dan Ibumu meneleponku maaf jika aku kemarin tidak bisa menyampaikannya padamu karena keadaanku yang sedang tidak baik " Ungkap Kyai Abas.
" Tidak apa Kyai " Arsha menimpali ringan.
" Sepertinya kau tidak semangat sekali, ada apa Arsha? " Kyai menatap Arsha ingin tahu.
" Kyai tahulah kenapa saya seperti ini " Arsha enggan menatap Kyai Abas yang tersenyum melihat sikap Arsha.
" Iya aku tahu, Ayahmu sudah bercerita banyak kepadaku termasuk tentang kau yang selalu menolak perjodohan itu " Kata Kyai Abas
" Kenapa kamu menolak untuk di jodohkan? " Tanya Kyai Abas serius melanjutkan perkataannya tadi, Arsha hanya terdiam dan tertunduk.
" Hmmm yaya memang sulit rasanya memulai sesuatu jika belum siap, tapi bukankah terkadang untuk memulai tidak harus menunggu siap? " Kyai Abas bertanya kembali masih dengan menatap Arsha dalam-dalam.
" Kyai dari dalam hati saya memang saya tidak mau, jika ditanya apa alasannyapun saya tidak tahu " Arsha mulai menjelaskan.
" Bukan karena kau tidak mencintai pilihan Ayah Ibumu? " Kembali Kyai Abas mencoba menyelidiki
" Mungkin, entahlah kyai saya belum pernah bertemu juga dengan perempuan yang Ayah calonkan, lagipula saya enggan untuk membahas hal itu jika Ayah sudah menelepon selalu saja perjodohan yang dibahas " Jawab Arsha cuek, Kyai Abas hanya tersenyum dan menepuk bahu Arsha lagi yang duduk di bangku sebelahnya.
" Kalau begitu bicarakan kembali dengan Ayahmu baik-baik Nak, jangan buat Ayah dan Ibumu berpikir yang tidak-tidak, ungkapkan apa yang ada di dalam hatimu, sampaikanlah... ini pakai seluluarku saja " Kyai Abas menyodorkan selularnya pada Arsha.
Arsha menerima selular milik Kyai Abas, ia mulai menyalakan selular yang tak memakai kata sandi itu.
Tampak sebuah foto di wallpaper layar utama, Arsha memandangnya penuh ketakjuban.
" Masya Allah.... Cantik sekali " Puji Arsha dalam hati.
Sebuah Foto perempuan yang cantik mengenakan gamis dan hijab berwarna hitam, sangat cantik dan santun dengan pakaian yang sangat islami, tanpa polesan make up benar-benar kecantikan alami yang terpancar dari hati.
Kyai Abas memperhatikan sikap Arsha terdiam memandangi selularnya, " Sudah jangan menatap layar k
terlalu lama, nanti sakit pengelihatanmu he... he... " Goda Kyai Abas yang membuat Arsha salah tingkah.
" Kyai ini siapa? " Arsha bertanya pada Kyai Abas sambil menunjukan wallpaper selularnya, seperti biasa Kyai Abas tersenyum melihat tingkah Arsha.
" Dia putri bungsuku, kenapa? " Jawab Kyai Abas santai
" Saya tidak pernah melihatnya Kyai? " Arsha mulau berani memandang Kyai Abas, sementara Kyai Abas yang semula selalu tersenyum sekarang berubah menjadi sedikit muram.
" Dia tidak ada disini, putriku menetap di Jakarta sejak enam tahun yang lalu " Kyai Abas mulai bercerita dengan tatapan yang menerawang, Arsha mendengarkan dengan seksama.
" Kenapa ia pergi Kyai? " Arsha bertanya lagi ingin tahu, Kyai Abas meliriknya dan membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
" Kenapa kau ingin tahu? " Kyai Abas menggoda Arsha sambil menaik turunkan alisnya, Arsha yang di perlakukan seperti itu menjadi salah tingkah.
" Iya, putriku ingin mengejar cita-citanya setelah lulus kuliah " Kyai Abas meneruskan ceritanya.
" Dia seorang putri yang sangat berbakti, dia bisa aku andalkan untuk bisa meneruskan yayasan ponpes ini " Lesu Kyai Abas bercerita
" Dia sangat cerdas itu sebabnya dia mendapatkan beasiswa, dia mudah bergaul, saat masih dalam bangku kuliah dia juga sudah mandiri dan punya usaha sendiri " Mata Kyai Abas mulai berkaca-kaca suaranya sedikit serak, Arsha tertegun mendengarkan cerita Kyai Abas.
" Tapi sayang keceriannya terenggut, dia harus pergi dengan membawa luka di dalam hatinya " Kyai Abas tertunduk, Arsha bangkit dan mulai menenangkan.
" Terenggut bagaimana maksudnya Kyai? Luka apa yang ada di dalam hatinya? " Arsha bertanya-tanya dalam hati.
" Semenjak putriku ditinggalkan begitu saja oleh Husain, tanpa sebab dan alasan, bahkan tak ada kata maaf yang terucap dari Husain ataupun keluarganya " Kyai Abas masih melanjutkan ucapannya walau sedikit tersendat.
" Husain siapa Kyai? " Arsha memberanikan diri untuk bertanya.
" Husain adalah orang yang pernah datang menemuiku bersama keluarganya untuk meminta putriku menjadi pendamping hidupnya tapi ia pergi begitu saja setelah aku merestui hubungan mereka " Kyai Abas mulai bisa mengatur emosinya.
" Padahal sebenarnya Husain adalah orang yang baik " Kyai Abas sudah bisa tenang.
" Kalau begitu kenapa dia bersikap seperti itu kyai? " Arsha bertanya tanpa ragu.
" Dia diguna-guna oleh perempuan lain, bahkan mereka melakukan hal yang dilarang oleh Allah " Kyai Abas menerangkan.
" Astaghfirullahal'adzim.... " Arsha sedikit kaget.
" Aku sudah berusaha menyembuhkannya, tapi perempuan itu selalu menambahi guna-gunanya saat Husain mulai tersadar dan yang lebih parahnya keselamatan putriku terancam, perempuan itu mulai menyerang putriku secara halus " Kyai Abas menarik nafas panjang.
" Alhamdulillahnya putriku kuat ia hanya sakit sebentar, tapi sakit di dalam hatinya masih belum bisa di sembuhkan " Kyai Abas menatap Arsha.
" Apa putri Kyai tahu kalau dia dicurangi? " Tanya Arsha.
" Aku rasa tidak, dia tidak percaya dengan hal seperti itu " Jawab Kyai singkat
" Maka dari itu aku ingin berpesan kepadamu Arsha untuk lebih mendekatkan diri pada Allah, pertebal iman dan islammu " Kyai Abas berpesan pada Arsha, Arsha mendengarkan dengan seksama.
" Kau adalah orang yang baik dan rupawan, kau sangat diidamkan oleh kebanyakan perempuan di luar sana, maka jagalah sikapmu, jaga batasanmu " Kyai Abas menambahkan pesannya.
Arsha mengangguk tatapan matanya yang begitu tajam pada Kyai Abas menandakan bahwa ia bertekad memenuhi pesan Gurunya tersebut.
" Ayo segeralah hubungi orangtuamu " Kyai Abas mengingatkan Arsha untuk menelepon orangtuanya
" Baik Kyai.... " Arsha meraih selular milik Kyai Abas, lalu memohon izin untuk keluar sebentar agar bisa leluasa berbicara dengan orangtuanya.
Umi Tinah datang membawakan makanan " Terimakasih Umi, sepertinya keadaanku sudah sangat baik apa aku masih perlu meminum jamu itu? " Tanya Kyai Abas sambil menerima piring yang berisi makanan dan meletakan dipangkuannya.
" Biar Umi bantu menyuapkan makanan ya Abi " Umi Tinah mengambil kembali piring itu dan mulai menyuapkan makanan untuk Kyai.
" Tentu saja Abi masih harus meminum jamu itu, kalau perlu saat Abi nanti sudah sehat selalu rutin meminumnya " Umi Tinah menjawab pertanyaan yang sempat Kyai Abas lontarkan tadi.
" Baiklah, jika istri Abi ini yang meminta Abi bisa apa? " Goda Kyai Abas pada Istrinya, Umi Tinah.
Kyai Abas dan Umi Tinah bercanda sambil menyuapkan makanan, tanpa sadar Arsha sudah kembali dan menyaksikan keharmonisan mereka.
" Alhamdulillah... Senangnya bisa menyaksikan keharmonisan Kyai, semoga bisa menjadi contoh untuk saya kelak jika sudah berkeluarga " Ucap Arsha mengagetkan Kyai Abas dan Umi Tinah.
" Nak Arsha ini lho, masih kecil sudah bicara tentang berkeluarga saja " Umi Tinah menimpali sambil sedikit meledek Arsha, Arsha berjalan mendekati mereka.
" Umi belum tahu memangya kalau Arsha mau dijodohkan oleh Ayah Ibunya? " Kyai Abas menyela, Umi mengerutkan keningnya.
" Yang benar saja Abi??? " Tanya Umi Tinah tak percaya.
" Iya tentu saja, tapi Arsha menolaknya, iya kan Arsha? " Kyai Abas melemparkan pertanyaan pada Arsha yang sedari tadi hanya senyum-senyum saja saat di ledek.
" Tidak Kyai, sekarang saya mau dijodohkan tapi bukan dengan pilihan Ayah dan Ibu tapi dengan pilihan saya sendiri " Ucap Arsha mantap, matanya bersinar.
Kyai bingung dalam hati, " Kenapa Arsha berubah pikiran begitu cepat? Bukankah dia bilang tadi bahwa belum siap? "
__ADS_1