
Aulia kembali ke kamar setelah melakasanakan sholat Ashar bersama Umi dan Abinya.
" Nduk hati-hati ya di sana, bekerjalah dengan jujur dan ikhlas " Pesan Kyai Abas yang ternyata mengikutinya.
" Iya Bi.... Terimakasih " Aulia mengapit lengan Kyai Abas.
Tangan Umi Tinah digenggam erat oleh Aulia, sepertinya mereka enggan untuk berpisah.
" Maafkan Abi dan Umi yang tidak bisa mengantarmu ke bandara " Ucap Kyai Abas.
" Tidak apa-apa Abi, Aulia sudah terbiasa pergi ke sana-sini sendiri " Aulia menenangkan.
" Memang sering pergi kemana saja? " Tanya Kyai Abas.
" Ya pergi kemana saja Bi, kalau ada tugas luar dari tempat kerja " Jawab Aulia, tangannya merapikan hijabnya.
" Bekerja di perusahaan ekspor impor? " Kyai Abas masih penasaran.
" Iya Bi, alhamdulillah Aulia diberi kepercayaan untuk selalu menghandle pekerjaan dengan pihak luar " Jelas Aulia.
Kyai menganggukan kepalanya, " Apa iya Aulia bekerja diperusahaan seperti itu? " Tanyanya dalam hati.
" Jangan terbawa oleh pergaulan ya Nduk " Umi Tinah urun suara.
" Tidak Umi, Aulia bisa jaga diri kok " Aulia meyakinkan.
" Umi sudah siapkan makanan kesukaanmu Nduk, nanti jangan lupa dibawa ya " Pesan Umi Tinah.
" Iya Umi... Terimakasih banyak ya " Aulia mencium pipi Umi Tinah.
" Oh iya Bi, nanti Aulia berangkat jam setengah lima ya dari sini " Aulia melanjutkan.
" Iya Nduk... " Kyai Abas menjawab lirih tertunduk.
Aulia paham kalau orangtuanya sebenarnya belum ingin berpisah darinya.
" Ehmmm Abi, tadi siapa yang datang berkunjung? Sepertinya membicarakan hal yang seru " Aulia penasaran.
Kyai Abas bingung mau menjawab pertanyaan Aulia, karena tidak mungkin mengatakan tentang Arsha pada Aulia.
Seperti pesan Arsha tadi sebelum pulang kalau ia tidak ingin Aulia tahu tentang Arsha terlebih dahulu.
" Oh itu, itu.... Orang yang Abi percaya untuk membantu mengurus pondok pesantren " Kyai Abas mulai menjawab pertanyaan Aulia.
Aulia memperhatikan jawaban Kyai Abas " Faizal? "
" Bukan Nduk, bukankah Aulia sendiri tadi yang berpesan pada Abi agar tidak meminta Faizal yang membantu mengurus? " Kyai Abas menjelaskan.
Aulia memandang wajah Kyai Abas, pandangannya tenang karena memang Aulia menyadari bahwa ia sendiri yang berpesan pada Kyai Abas.
" Lalu siapa Bi? Tadi Aulia tidak dapat mendengar suaranya dengan jelas " Aulia masih penasaran.
Semakin bingung Kyai Abas mendengar pertanyaan dari Aulia.
" Astaghfirullah.... Masa iya aku harus berbohong " Ucap Kyai Abas dalam hati.
Sadar bahwa jawabannya di tunggu oleh Aulia, " Iya itu anak baru, jadi Aulia tidak mengenalnya walaupun Abi sebutkan namanya ".
Aulia mengangguk-angguk, " Iya juga sih " Ucapnya.
" Alhamdulillah.... Aulia sudah tidak penasaran lagi " Gumam Kyai Abas dalam hati.
Aulia memainkan ponselnya untuk memesan mobil agar bisa mengantarnya ke bandara.
" Nduk, sebenarnya apa yang membawamu sampai kau pulang? " Serius Kyai Abas bertanya.
Aulia menghentikan kegiatannya yang memainkan ponsel, ia tersenyum manis.
" Entahlah Bi, yang Aulia tahu Aulia ingin sekali pulang dan ternyata Abi sedang sakit. Mungkin itu ikatan batin " Aulia menjelaskan sambil tertawa.
" Masya Allah.... " Kyai Abas takjub.
" Abi rindu sekali melihat keceriaanmu seperti ini Nduk " Ucap Kyai Abas.
" Umi juga.... " Umi Tinah merangkul Aulia dari samping.
" Mobil yang Aulia pesan sudah mulai jalan " Aulia memberitahu Umi dan Abinya.
Kyai Abas dan Umi Tinah mengikuti jalannya Aulia ke arah ruang tamu.
Disana Aulia menunggu di temani Kyai Abas, sementara Umi Tinah kembali ke dapur untuk mengambil beberapa bawaan yang akan di bawa Aulia.
" Jadi sebenarnya Aulia datang tanpa perencanaan? " Kyai Abas menyambung pembicaraan tadi.
" Iya Bi.... " Aulia menegaskan lagi.
" Manjur juga ya doanya Arsha " Suara Kyai Abas sedikit berbisik pada dirinya sendiri.
Sayup Aulia mendengar apa yang Kyai Abas ucapkan tadi.
" Apa Bi? Doa apa? " Tanya Aulia menyelidiki.
Kyai Abas kaget mendengar pertanyaan Aulia.
" Tadi Abi bilang doa, doa apa? Jangan berbisik Abi... " Aulia ingin tahu.
Umi Tinah sudah kembali dari dapur membawakan bungkusan untuk dibawa oleh Aulia.
Diletakannya bungkusan itu di meja tamu, lalu ia duduk di bangku yang sama dengan Aulia, mereka bersebelahan.
" Terimakasih Umi... Abi, Abi ayo doa apa? " Aulia mengalihkan pandangannya dari Umi Tinah ke arah Kyai Abas.
Kyai Abas kebingungan, Umi Tinah memperhatikan gelagat suaminya itu dan ingin tahu apa sebenarnya yang mereka bahas.
Aulia mengguncang-guncang lengan Kyai Abas, " Doa apa Nduk? " Sergah Umi Tinah.
__ADS_1
Lengan Kyai Abas sudah dilepaskan oleh Aulia dan Aulia kembali tenang.
" Umi tanyakan saja pada Abi " Jawab Aulia bersungut.
Umi Tinah menatap Kyai Abas, Kyai Abas memberikan kode dengan menemyebutkan nama Arsha tanpa suara.
Kode itu dapat dimengerti oleh Umi Tinah dan Umi Tinah ikut membantu menjelaskan pada Aulia.
" Doa yang dimaksud Abi mungkin adalah doa dari seseorang buat kamu Nduk " Umi Tinah memberikan penjelasan semampunya.
Aulia menoleh ke arah Abinya, tak menghiraukan Uminya.
" Jadi maksud Abi, Aulia datang karena di doakan oleh seseorang begitu? " Aulia bertanya tegas.
" Benar, maksud Abi mungkin saja ada seseorang yang mendoakanmu sehingga kau mau pulang " Segera Kyai Abas meluruskan.
" Siapa? " Aulia ingin tahu.
" Ya Abi juga tidak tahu Nduk " Jawab Kyai Abas, Umi Tinah hanya bisa memperhatikan saja.
" Abi... Dimana-mana doa orangtua yang akan lebih cepat sampai " Aulia mengelak.
Kyai Abas dan Umi Tinah tertawa melihat raut wajah Aulia.
" Abi dan Umi pasti akan sangat merindukan masa-masa seperti ini Nduk " Rendah suara Kyai Abas mengutarakan isi hatinya.
" Abi..... Umi..... " Aulia menggenggam tangan kedua orangtuanya menenangkan.
" Umi senang kau sudah kembali ceria dan seperti dulu, walaupun belum sepenuhnya " Ujar Umi Tinah mendekatkan kepalanya dengan kepala Aulia.
" Apa kau sudah bisa melupakan Husain Nduk? " Tanya Kyai Abas dalam hati.
" Apa yang sebenarnya membuatmu seceria ini? " Pikir Kyai Abas.
Kyai Abas takut untuk bertanya pada Aulia, takut perasaan itu masih ada, entah perasaan suka atau sakit hati.
Terlebih jika mengingat kedekatan mereka dulu, kedekatan yang sangat menjaga batasan.
Beruntungnya Aulia adalah orang yang sangat memegang prinsip dan bertanggung jawab tehadap dirinya sendiri, jadi Aulia tidak terbawa pada pergaulan yang kebablasan
Ponsel Aulia berdering ada notifikasi masuk dari mobil yang ia sewa.
" Umi, Abi.... Mobilnya sudah datang, Aulia harus segera berangkat " Suara Aulia bergetar.
Jauh di dalam hatinya Aulia juga merasa berat untuk meninggalkan Umi dan Abinya sendiri di rumah.
" Ya sudah berangkatlah Nduk, hati-hati di jalan, jangan lupa pesan Abi tadi ya " Ucap Kyai Abas tegar.
Aulia berjalan menuju halaman diantar oleh ke dua orangtuanya.
Setelah berpelukan, mencium tangan ke dua orangtuanya Aulia berpamitan dan segera memasuki mobil yang sudah terparkir, menunggunya.
" Hampir saja tadi Abi keceplosan Mi " Ucap Abi sambil memandangi kepergian mobil yang ditumpangi Aulia.
Kyai Abas duduk di kursi teras rumah sendirian karena Umi Tinah sudah kembali ke dalam Rumah.
...****************...
Faizal berjalan entah kemana tujuannya, pikirannya masih mempertimbangkan saran dari Arsha untuk datang mengunjungi Kyai Abas.
" Sekarang atau nanti ya? " Tanya Faizal pada dirinya sendiri.
" Sepertinya sekarang saja, tapi kalau sekarang dengan berjalan kaki sampai sana bisa nenjelang maghrib " Faizal masih mempertimbangkan.
" Tapi kalau sampai disana maghrib, berarti bisa berjamaah dengan Aulia " Mempertimabangkan lagi.
" Tadi Arsha kesana naik apa ya? Kenapa bisa cepat sekali? " Pandangan Faizal melirik ke arah serambi kamar tempat santri menginap.
" Kenapa Mas? " Tiba-tiba ada yang menyapa Faizal dari belakang dan ternyata itu adalah Imam teman satu kamar Arsha.
" Kau mengagetkanku saja Mam " Gerutu Faizal yang tadi merasa terkejut.
" He... He ya maaf Mas " Imam meminta maaf.
" Mas mau kemana kok jalannya ke sini? " Imam ingin tahu.
" Mau menginap di kamar kami lagi ya? " Lanjut Imam bertanya.
" Tidak, aku sendiri juga bingung mau kemana " Jawab Faizal sekenanya.
" Lho kok bisa begitu Mas? " Imam bertanya heran.
" Hati-hati lho Mas nanti kesambet " Ledek Imam.
" Ssstttt sudah jangan berisik, mendingan kamu buru-buru ke surau, bersihkan surau atau apalah " Saran Faizal dengan nada memerintah.
" Iya Mas, iya... Saya masih menunggu Arsha " Jawab Imam.
Faizal memperhatikan Imam dengan seksama, penasaran kenapa harus menunggu Arsha.
" Memang ada apa sampai harus menunggu Arsha? " Faizal mulai mencari tahu.
" Tidak ada apa- apa sih Mas, hanya saja tadi Arsha berpesan untuk menunggunya karena ia sedang pergi mengambil donasi dan dikumpulkan di Surau " Imam menjelaskan.
" Jadi Arsha sedang pergi.... " Gumam Faizal dalam hati.
" Donasi? Kenapa harus diambil bukan diantar? " Faizal bertanya pada Imam, penasaran.
" Mungkin donaturnya belum tahu jalan atau Arsha ingin membantu meringankan donatur, Mas " Lagi-lagi Imam menjelaskan.
" Hmmm iya sih masuk akal juga " Pikir Imam dalam hati.
" Kalau berjalan kaki sampai sini mungkin sudah mepet dengan adzan maghrib " Faizal membuka suara.
" Siapa bilang Arsha jalan kaki Mas? Arsha naik motor kok " Jawab Imam santai.
__ADS_1
" Sudah dulu ya Mas, saya tunggu Arsha di surau saja, Assalamu'alaikum " Imam mengakhiri obrolannya dengan Faizal.
Faizal tidak menghiraukan kepergian Imam bahkan tidak membalas salam dari imam.
Tak berapa lama Arsha datang dengan beberapa barang bawaan di depan dan jok belakang.
Motor itu melaju lambat menuju area surau, Imam menghampiri dan membantu Arsha menurunkan barang-barang dari motor.
Faizal berjalan cepat, untuk bisa mendekati Arsha.
" Darimana Sha " Tanya Faizal setelah sampai di samping Arsha.
Arsha tidak menggubris, ia masih sibuk mengangkut barang yang ia bawa tadi untuk diletakan di dalam surau.
Faizal hanya menunggu Arsha tanpa memberi bantuan, Imam melirik tak berkata apapun.
Ketika Arsha kembali lagi ke motornya Ia ditanya lagi oleh Faizal, lagi-lagi Arsha tak menggubrisnya.
Barang bawaannya sudah habis, tapi Arsha tidak kembali ke tempat motornya diparkir melainkan duduk di teras surau bersama Imam sambil melepas lelah.
Faizal gemas dengan sikap Arsha, disusulnya Arsha.
" Arsha, kamu ditanya darimana kenapa tidak dijawab? " Faizal bertanya tegas.
Asrha hanya melirik Faizal lalu melemparkan pandanganya ke depan.
Imam menatap Faizal dengan tatapan tajam, Faizal mulai kesal.
" Kamu mulai gak sopan ya Arsha! " Hardik Faizal.
Imam berdiri, " Yang tidak sopan siapa Mas? " Lantang Imam bersuara.
" Mas Faizal sendiri kan yang dari tadi bertanya tapi tidak peka " Lanjut Imam.
Faizal gelagapan mendapat perlakuan dari Imam, tidak mengerti dimana letak kesalahnnya.
" Aku tidak berbicara padamu " Ucap Faizal geram pada Imam, Arsha masih diam, tak bergeming.
" Mas, ayolah dikoreksi dirinya sendiri sebelum menyalahkan orang lain, jangan maunya menang sendiri " Imam berbicara.
" Coba Mas Faizal tadi bertanya baik-baik, bantu Arsha membawa barangnya, atau tunggulah waktu yang tepat " Lanjut Imam.
Faizal merasa bersalah mendengar ucapan Imam, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk meminta maaf, ia mengambil posisi duduk di samping Arsha.
Imam pergi meninggalkan mereka berdua karena tidak mau ikut campur urusan mereka.
" Aku pergi ya " Begitulah ucapan Imam.
Arsha mengangguk tanda memberikan izin.
Hening, tinggal Arsha dan Faizal berdua tak bersuara tak berbicara.
Faizal mengatur emosinya sementara Arsha menunggu kekesalan Faizal mereda.
" Kau darimana tadi? " Tanya Faizal memecah suasana.
" Mengambil donasi di dua tempat " Jawab Arsha datar matanya masih memandang ke depan.
" Apa itu? Kenapa harus diambil bukan diantar? " Faizal bertanya lembut.
Mendengar nada suara Faizal yang lembut Arsha menoleh lalu tersenyum.
" Keperluan pondok, donaturnya agak kerepotan jadi aku berinisiatif untuk membantunya, nanti juga mereka datang untuk membawa sisanya " Arsha menjelaskan.
" Oh begitu.... " Faizal menganggukan kepalanya tanda ia mengerti.
Faizal teringat akan niatnya untuk menjenguk Kyai Abas dan ingin bertanya pada Arsha naik apa tadi Arsha ke sana, tapi di urungkannya.
" Kenapa Mas? " Arsha bertanya setelah memperhatikan Faizal.
" Apa kau akan pergi lagi Sha? " Faizal balik bertanya.
" Tidak Mas, ada apa ya? " Mata Arsha menyelidiki sikap Faizal.
" Aku mau pakai motornya " Jawab Faizal singkat.
" Lho memangnya Mas Faizal mau kemana? " Arsha mulai merasa aneh.
" Mau pergi dulu sebentar... Mana kuncinya? " Ucap Faizal agak memaksa.
" Mas Faizal tidak menunggu doanturnya datang? " Arsha masih belum memberikan kunci
" Aku percayakan padamu Sha, sini kuncinya! " Suara Faizal tergesa-gesa.
" Mas, kalau Mas ada keperluan pribadi lebih baik mas berjalan kaki saja, motor ini digunakan hanya untuk keperluan pondok! " Arsha berbicara tegas.
Mendengar ucapan Arsha Faizal langsung terdiam tak berkutik.
" Bagaimana dia tahu kalau aku mau apel? " Tanya Faizal dalam hati.
" Mas hemat bensin ya, akan lebih baik jika Mas Faizal berjalan kaki, sehat " Bujuk Arsha sambil menepuk-nepuk bahu Faizal.
Arsha bangkit dari duduknya Faizal mengikuti, Arsha cuek.
" Kau tadi naik apa ke rumah Kyai Abas? Kenapa cepat sekali? " Faizal menyelidik.
" Naik sepeda " Jawaban Arsha singkat dan padat.
" Jadi aku tidak boleh menggunakan motornya? " Tanya Faizal lagi.
" Apa Mas Faizal sedang mengujiku? Seharusnya Mas Faizal lebih tahu bukan? Karena Mas lebih lama tinggal di sini " Arsha berwibawa memberi jawaban.
Faizal menatap wajah Arsha dengan perasaan campur aduk, ada rasa takut ada rasa bersalah dan malu.
" Kalau Mas Faizal benar-benar ada keperluan pribadi yang penting sekali, aku sarankan untuk ke rumah Pakde Hadi lalu meminta izin untuk meminjam sepedanya " Arsha mengerlingkan matanya.
__ADS_1