Mantu Untuk Mak

Mantu Untuk Mak
Paula


__ADS_3

"Abang ...." Mak Nur menggebrak pintu berwarna coklat itu. Rumah panggung ber-cat hijau sedikit bergetar kala tangan tuanya menggedor pintu kamar anak semata wayangnya. Sambil membenarkan letak kain yang menutupi kepalanya, wanita berusia menjelang enam puluh tahun itu kembali berteriak, "gimana rejeki mau dekat, jam segini masih tidur!"


"Kenapa, Mak? Pagi-pagi udah marah?" Laila yang mengenakan gamis hijau namun masih mengenakan handuk di kepala menghampiri mertuanya yang masih berdiri di depan kamar. Napas wanita tua itu masih memburu, terlihat jelas dari dadanya yang turun naik, "biar saya aja yang bangunin Abang." Laila mengusap lembut bahu Mak Nur. Tanpa banyak bicara, wanita paruh baya itu mengalah dan berlalu dari depan kamar.


"Bang ... bukain pintu, ih." Laila mengetuk pintu kamar pelan. Perlahan pintu kamar terbuka, lelaki jangkung itu menarik lengan istrinya, pintu kamar kembali ditutup.


"Udah siang, loh. Abang nggak ker ...." Kalimat Laila terhenti kala Paul mendaratkan sebuah kecupan di bibir tipis istrinya.


"Cukup Mak aja yang berisik. Kalo Laila ikutan, Abang jamin, Laila mandi junub tiap hari," ucap Paul dengan suara parau di dekat telinga kiri Laila. Bulu kuduk wanita itu berdiri saat embusan napas suaminya begitu dekat dengan leher.


Lelaki berkacamata itu kembali merebahkan diri di atas kasur, membiarkan Laila berdiri mematung di pintu. Wanita itu membuka handuk yang berada di kepalanya, rambut panjangnya yang setengah basah terurai bebas. Laila menggantung handuk di belakang pintu, lantas duduk di depan cermin.


"Laila udah mandi?" tanya Paul, ia menatap istrinya yang sedang menyisir di depan meja rias.


"Abang pikir, rambut Laila basah kenapa?" tanya Laila tanpa menoleh. Ia bisa melihat posisi suaminya yang masih tidur dengan posisi tengkurap dari balik cermin.


"Entah ...," ucap Paul singkat.


Lelaki bertubuh kurus itu meraih bantal guling yang berada di sudut kasur lalu memeluknya. Memutar tubuhnya menghadap tembok, membelakangi Laila.


"Abang bangun. Abang 'kan mau kerja." Laila mendekati Paul yang masih berbaring, tangan kirinya menepuk pelan lengan kiri suaminya, namun lelaki itu enggan membuka mata.


"Abang ba ...." Paul menarik lengan Laila, hingga tubuh wanita itu dengan pasrah berbaring di sampingnya. Paul melempar bantal guling yang semula dipeluknya, dan menarik bahu Laila mendekat. Tangan dan kaki Paul berada di atas tubuh Laila, menguncinya dalam pelukan.


"Jangan berisik, atau Abang bikin Laila keramas lagi." Suara parau Paul terdengar jelas di telinga Laila. Wanita bertubuh berisi itu pasrah berada dalam pelukan sang suami, "biarin Abang tidur sepuluh menit lagi, oke!" Lelaki berkacamata itu tersenyum penuh kemenangan saat menyaksikan wajah Laila yang tak berdaya. Sesekali Paul mencium pipi sang istri.


"Ya udah. Abang tidur lagi. Laila nggak ganggu. Tapi biarin Laila keluar, mau bantu Mak masak." Laila berusaha melepaskan diri dari pelukan Paul, tapi lelaki itu sengaja mengencangkan pelukan. Lelah. Laila membiarkan dirinya tetap berada di posisi itu.


"Sayang," panggil Paul.

__ADS_1


"Humm ...."


"Kenapa bisa suka sama abang?"


"Emang siapa yang bilang kalo Laila suka sama Abang?" Laila menengadah kepalanya, menatap Paul yang sedang menatapnya juga.


"Kok gitu? klo Laila nggak suka sama abang, abang nggak akan biarkan siapa pun mendapatkan Laila!" seru Paul. Kedua tangannya semakin mengeratkan pelukan membuat Laila sulit bernapas.


"Ngancemnya jelek. Lagian Abang kaya anak kecil aja. kita udah nikah pun, kenapa masih menanyakan hal itu?"


"Nggak, Sayang. Abang heran aja kenapa bisa Laila terima lamaran abang. kan abang nggak punya harta berlimpah. Ngeselin pula. Kok bisa Laila betah sama manusia model abang."


"Abang, Sayang. kebahagiaan itu bukan diukur dari harta atau tahta. Laila bahagia sama Abang, hati Laila nyaman. Soal Abang yang ngeselin, mah itu udah bawaan orok. nggak bakal bisa dirubah juga."


"Terus?" tanya Paul.


"Terus. Abang lepasin Laila sekarang. Laila mau bantuin Mak masak."


"Ngasih apa?" tanya Laila bingung.


"Yang semalam!" seru Paul.


"Apaan. Laila lupa ngasih apa semalam."


"Ngasih ini, nih!" Paul mendekatkan wajahnya ke wajah Laila, mencium belakang telinganya. Membuat Laila bergidik geli.


"Ya udah. Abang mending tidur aja, deh. Laila nggak ganggu." Laila berusaha melepaskan diri dari pelukan Paul.


"Nggak mau. temani Abang sampai tidur."

__ADS_1


"Jangan gitu, dong. Laila mau masak, Bang."


"Nggak mau. Laila harus temani abang sampai tidur."


"Abang ngeselin!" seru Laila.


"Biarin. ngeselin juga Laila sayang 'kan?"


"Nggak!"


"Nggak salah lagi!" seru Paul. ia bisa menebak isi hati Laila. pasalnya ia sendiri tahu jika Laila begitu mencintainya. Laila membiarkan Paul terus memeluknya sampai lelaki itu benar-benar tidur dengan nyenyak.


Pelukan Paul mengendur dan Laila bisa membebaskan diri dari terkaman suaminya. Laila bangun, turun dari ranjang dengan sangat pelan agar lelaki itu tidak terbangun. Ia lantas mengambil kerudung dari dalam lemari, dan keluar kamar.


"Mana, Abang?" tanya Mak saat melihat Laila sudah berada di dapur.


"Masih tidur, Mak," ucap Laila.


"Bener-bener itu anak. Udah punya istri masih aja kaya begini." Mak Nur bangkit dari duduknya, hendak menghampiri putra semata wayangnya yang masih tidur. Dengan cepat, Laila meraih lengan Mak Nur dan menggelengkan kepala.


"Biarin, Mak. Nanti juga Abang bangun sendiri."


Mak Nur kembali duduk, tangannya kembali sibuk menghaluskan bumbu yang akan dibuat sambal.


**


Laila Nazilatul Anwar, seorang gadis cantik yang berdarah Jawa, memikat hati seorang Paul, lelaki berdarah dingin yang berasal dari tanah Sumatra. Awal perkenalan mereka cukup singkat, bertemu pandang di sebuah bengkel kala motor matic yang ditumpangi Laila mengalami bocor ban, dan ditambal pada sebuah bengkel yang kala itu Paul sedang nongkrong di sana. Pesona gadis berhijab itu membuat lelaki berkacamata itu jatuh cinta pada pandangan pertama, hingga pada akhirnya Paul memberanikan diri meminta nomor ponsel milik Laila, tapi ditolaknya mentah-mentah.


Tak habis disitu, Paul mencari informasi tentang diri pribadi Laila, gadis yang memiliki wajah bundar yang telah mencuri hatinya. Laila adalah putri sulung dari seorang ustadz, gadis itu mengajar pada sekolah ibtidaiyah Islamiyyah. Pesona ketampanan Paul membuatnya dengan mudah mendapatkan nomor ponsel Laila dari salah satu rekan pengajar di sekolah tempat Laila memberi ilmu.

__ADS_1


Menjalani masa ta'aruf selama empat bulan, Paul yang bekerja pada sebuah toko di pasar, memberanikan diri untuk meminang Laila. Usaha dan tekad yang kuat akhirnya berhasil meyakinkan keluarga besar Laila, juga Mak. Dengan resepsi sederhana di tanah kelahiran Laila di tanah Jawa, dengan satu kali tarikan napas, Paul mengucapkan ijab qobul dan gadis itu menjadi istri sahnya.


__ADS_2