Mantu Untuk Mak

Mantu Untuk Mak
Terlambat


__ADS_3

Paul menelepon Ridwan dan memintanya menutup kedai dua hari, karena sudah beberapa hari ini membantunya tanpa mengeluh, lelaki berkacamata itu memberikan libur pada Ridwan.


Pagi ini Paul mengajak Laila juga Mak ke showroom survei mobil baru yang dibelinya. Awalnya Mak dan Laila menentang keputusan Paul membeli kendaraan roda empat tersebut, tapi karena alasan agar mudah untuk memboyong semuanya saat akan bepergian, mau tidak mau kedua wanita itu mengiyakan.


Paul beruntung memiliki keluarga yang selalu mendukung apa pun keputusannya. Dulu, saat ayah Paul wafat, Wak turut serta mengurus Paul hingga lulus sekolah. Setelahnya Wak mengajak Paul bekerja di pasar, mengangkut barang dagangan menggunakan mobil. Awalnya Paul hanya menemani Wak, tapi lama-kelamaan Wak mengajarkan Paul bagaimana caranya mengendarai kendaraan roda empat tersebut. Sampai pada akhirnya Paul bisa mendapatkan SIM untuk kendaraan roda empat.


Setelah melihat isi showroom, pilihan Paul jatuh pada mobil berwarna putih. Laila dan Mak pun mendukung. Lelaki berkacamata itu tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada kedua wanita kesayangannya, atas semua doa juga dukungan yang diberikan.


Setelah semua urusan beres, Paul pun memboyong kendaraan barunya menuju rumah. Laila membiarkan Mak Nur untuk duduk di depan, di sebelah Paul. Rona wajah wanita paruh baya itu tampak bahagia, saat melihat kesuksesan berada di pihak putra semata wayangnya.


Paul melajukan mobilnya menuju rumah, banyak pasang mata yang tertuju kepadanya, apa lagi saat mobil putih itu berhenti di pekarangan rumah.


"Abang punya rezeki lebih sampe beli mobil baru, nggak lupa sedekah, kan?" tanya Laila saat sudah berada di dalam rumah. Laila menyuguhkan dua gelas minuman dingin untuk Paul dan Mak Nur.


"Abang nggak lupa, Sayang. Nanti sore kita ke panti asuhan. Sekalian mampir ke rumah Abi." Paul tersenyum, ia bersyukur memiliki Laila yang tak pernah lelah untuk terus mengingatkan sembahyang juga bersedekah.


"Baiklah ...."


Laila beranjak menuju dapur, bersiap memasak untuk makan siang. Mak Nur mengganti pakaian, dan berjalan menuju kebun belakang rumah. Wanita paruh baya itu menghabiskan waktunya untuk mengurus kebun di belakang rumah. Ia memanfaatkan sedikit ladang dengan ditanami pohon cabe juga bawang. Pohon-pohon itu tumbuh subur. Ditambah dua buah pohon mangga tumbuh tinggi di samping kanan rumah dan sedang berbunga.


Perlahan Laila mulai melupakan kejadian tempo hari yang membuatnya cemburu buta. Ia merasakan lelah saat hatinya dilanda perasaan itu. Beruntung ia memiliki mertua yang selalu mengingatkan dirinya agar tetap menjaga kepercayaan juga tak mudah termakan isu. Meski bukti terpampang jelas di depan mata, selama itu masih ada penjelasan ia harus menghadapi itu semua dengan kepala dingin.


Paul merebahkan tubuhnya di atas kasur, beberapa hari belakangan lelaki itu sudah bekerja dengan sangat keras, hingga mengabaikan dirinya sendiri. Garis hitam terlihat jelas pada kelopak matanya.


Setelah selesai memasak dan membereskan dapur, Laila menyiapkan satu gelas minuman untuk Paul, guna memulihkan stamina lelaki itu.


Di dalam kamar, tampak Paul tertidur memeluk bantal guling. Kebiasaannya tidur selalu bertelanjang dada. Laila meletakkan jamu buatannya di nakas, perlahan ia membangunkan Paul. Lelaki itu tak bergeming. Ia pun membiarkan tertidur, lalu duduk di kursi yang terletak di sudut kamar dan menyalakan laptop.


"Laila lagi apa?" suara lirih Paul mengagetkan Laila. Ia pun menoleh ke belakang. Paul masih dengan posisi tidurnya, tak berubah. Laila pun bangkit dan mendekati Paul.


"Abang udah bangun? Minum dulu jamunya." Laila duduk di sisi ranjang. Paul memutar tubuhnya ke posisi telentang.


"Laila buatin abang jamu? Biar kuat, ya?" ledeknya dengan mata masih terpejam.


"Ish ... masih aja suka goda. Ini minum dulu."


Laila meraih gelas dan memberikan kepada Paul yang enggan bangun. Lelaki itu masih saja berbaring dengan mata terpejam meskipun sudah bangun.


"Ini jamu biar abang nggak gampang sakit. Bukan jamu kuat. Nggak usah ge'er."


"Uhhh ... galaknya istri abang."


"Udah. Minum dulu. Nanti lanjut lagi tidurnya."


"Laila nanti temenin abang tidur, ya."


"Ish ... nggaklah. Laila masih ada kerjaan. Besok tugas harus dikumpulkan buat rapat." Laila meletakkan kembali gelas di nakas.


"Kan bisa malam dikerjain. Sekarang biar abang yang ngerjain Laila." Paul membuka matanya, dan menatap ke arah Laila.


"Ya udah kalo nggak mau minum. Laila ngerjain tugas dulu." Dengan cepat Paul menarik lengan Laila yang hendak berdiri.


"Iya, iya ... Abang minum jamunya." Paul bangun dan meminum habis jamu itu.


"Abang pintar ...." Laila tersenyum dan mencium pipi Paul. Ia berusaha melepaskan tangan yang masih digenggamnya.


"Lah ... ini apa lagi?" tanya Laila bingung. Paul tak kunjung melepaskan genggaman tangannya.


"Laila harus temenin abang tidur." Dengan cepat Paul menarik hingga terduduk di pangkuan. Paul menyandarkan kepalanya di dada Laila.


"Ini masih siang loh, Bang."


"Justru karena masih siang. Biar maennya bisa lama." Paul membaringkan tubuh Laila lalu menarik selimut dan menutupi tubuh keduanya.


"Ish ... Abang nakal ...."


Paul menenggelamkan wanita kesayangannya ke dalam cinta.


**

__ADS_1


Setelah mandi dan berganti pakaian Laila dan Paul bersiap menuju panti asuhan dan pulangnya mampir ke rumah Abi. Mak Nur enggan ikut serta karena lelah seharian mengurus kebun kesayangannya. Keduanya pun pamit dan bersiap menuju panti asuhan yang letaknya lumayan jauh dari rumah.


Laila menyandarkan punggungnya, matanya terpejam untuk beberapa saat karena kepala yang tiba-tiba terasa pusing.


"Laila kenapa, Sayang? Sakit?" Paul melirik ke arah Laila yang duduk di sebelahnya, wajahnya terlihat sedikit pucat.


"Nggak tahu, Bang. Cuma terasa sedikit pusing."


"Kuat, nggak? Atau abang putar arah ke rumah Abi. Biar abang aja sendirian yang ke panti."


"Nggak apa-apa, Bang. Laila mau nemenin."


"Ya udah. Tapi kalo kerasa apa-apa, bilang, ya?"


"Humm ...."


Laila kembali memejamkan matanya, kepalanya terasa pusing juga perut yang tiba-tiba saja mual.


Satu jam perjalanan akhirnya sampai di tempat yang dituju. Paul membangunkan Laila yang sepanjang perjalanan tidur. Wajahnya terlihat semakin pucat.


"Udah sampe, Bang?" Laila melihat ke arah bangunan yang ada di hadapannya. Beberapa anak-anak yang berusia sekitar tujuh dan delapan tahun yang sedang asyik bermain menatap ke arahnya.


"Udah ... kok muka Laila tambah pucat? Pulang nanti kita ke rumah sakit, ya? Abang nggak mau ada apa-apa sama Laila."


"Nggak apa-apa, abang." Laila mengusap lengan Paul, meyakinkan lelaki itu bahwa dirinya baik-baik saja.


Keduanya pun turun dari dalam mobil, dan disambut seorang wanita yang mengenakan cadar hitam. Ia menangkup kedua tangannya ke arah Paul, lalu memeluk erat pada Laila. Keduanya pun dipersilakan masuk ke dalam ruangan pengurus panti.


Setelah berbincang-bincang cukup lama, Paul pun menyerahkan amplop cokelat ke pada Ibu panti dan setelahnya pamit pulang. Doa yang dipanjatkan Ibu panti diaminkan oleh Paul dan Laila.


Paul menggandeng tangan Laila yang nyaris saja terjatuh saat hendak masuk ke dalam mobil. Pandangan Laila tertuju pada seorang anak perempuan penghuni panti yang sedang asyik bermain boneka.


"Insyaallah, Allah akan memberikan kita keturunan," ucap Paul, seolah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan istrinya. Laila tersenyum lalu masuk ke dalam mobil. Kendaraan putih tersebut melaju kembali ke rumah. Paul mengurungkan niatnya mengunjungi Abi, karena melihat kondisi Laila yang sedang sakit.


Sesampainya di rumah, Paul mengajak Laila segera ke dalam kamar. Lelaki itu pun mengecek suhu tubuh sang istri yang ternyata demam. Dengan telaten Paul merawat Laila, Mak Nur pun membuatkan minuman tradisional khusus untuknya.


Malam hari, Paul tak bisa tidur dengan nyenyak. Ia terus saja bangun kembali memeriksa suhu tubuh sang istri. Pukul satu dini hari suhu tubuh Laila kembali normal dan lelaki itu bisa tertidur dengan nyenyak.


**


Sesampainya di kedai, Ridwan tampak sedang membersihkan etalase. Kedatangan sang bos disambut senyuman hangat oleh Ridwan. Setelah meletakkan tas, Paul mengeluarkan beberapa barang dan meletakkannya di depan kedai.


Matahari perlahan beranjak naik, satu persatu pembeli berdatangan. Banyak di antara mereka yang berbasa-basi menanyakan perihal tutupnya kedai kemarin. Ridwan dengan sabar menjelaskan jika kemarin kedai tutup.


Selepas solat Zuhur Ridwan mengantarkan beberapa barang, tinggallah Paul seorang diri. Dari jauh Fitri memerhatikan ke arah kedai, dan perlahan mendekat saat Ridwan sudah benar-benar pergi.


**


Laila hari ini tak mengajar, karena kondisinya yang terasa masih kurang enak. Ia melihat kotak bekal Paul yang masih tergeletak di atas meja makan. Laila meminta ijin pada Mak untuk mengantarkan ke kedai. Tapi melihat kondisi Laila yang masih terlihat pucat, akhirnya Mak Nur pun menemaninya mengantarkan bekal tersebut.


**


"Abang ...." Fitri masuk ke dalam kedai tanpa mengucapkan salam seperti biasanya. Raut wajahnya terlihat berantakan dengan kedua mata yang sembab. Paul yang sedang menulis nota terperangah melihat kondisi Fitri yang tak biasanya.


"Fitri ... ada apa?" tanya Paul heran. Ia tetap dengan posisinya duduk di sudut kedai.


Perlahan Fitri berjalan mendekat ke arah Paul. Kedua tangannya lalu membuka kerudung yang selama ini menutupi kepalanya. Kerudung itu pun jatuh ke lantai. Entah setan apa yang sedang merasuki jiwa gadis cantik itu, hingga bersikap seperti ini.


Paul memalingkan wajahnya saat perlahan Fitri berjalan mendekat sambil membuka satu kancing gamisnya.


"Apa-apaan, ini?" tanya Paul dengan nada sedikit tinggi.


"Apa lebihnya Laila? Aku lebih cantik dan kaya dari pada istri Abang. Kenapa Abang lebih milih dia dibanding aku!" cecar Fitri.


Paul bangkit dan mengambil kerudung Fitri yang terjatuh. Wajahnya tak mampu menatap gadis di hadapannya. Tangan kanannya terulur memberikan kerudung miliknya. Dengan keras ditepis dan kerudung itu kembali jatuh ke lantai.


"Aku cinta sama Abang. Sampai kapan pun, aku nggak rela Abang jadi milik orang lain. Aku nggak ikhlas!" seru Fitri disela tangisnya yang perlahan pecah.


"Pulanglah ... tenangkan dirimu, Fitri. Ini tidak benar. Kamu bersikap seperti ini hanya akan timbul fitnah!"

__ADS_1


"Jelasin ke aku. Apa lebihnya Laila!" bentak Fitri.


Paul berjalan mundur, saat Fitri kembali berjalan mendekatinya. Fitri terus menatap Paul tanpa memerhatikan langkahnya, hingga kakinya tersandung kardus sepatu dan nyaris terjatuh, refleks Paul meraih lengan Fitri hendak menolongnya namun malah tubuh Fitri menabrak tubuh Paul. Keduanya pun jatuh dalam posisi berpelukan.


"Abang ...." Laila memandang keduanya dengan tatapan ... entah. Air matanya mengalir deras tanpa permisi.


Dengan cepat Paul menjauhkan diri dari Fitri. Paul berdiri dan berjalan mendekati Laila. Mak Nur masuk ke dalam lalumeletakkan bekal di atas meja, membantu Fitri bangun dan menjauhkannya dari Paul. Wajah Fitri memerah saat Mak Nur menatapnya dengan tatapan marah. Laila tetap berdiri mematung di ambang pintu.


"Laila ...." Paul tak bisa berkata-kata, ia menatap Laila yang terus menangis.


"Laila pulang duluan sama Abang. Biar Mak yang urus Fitri."


Tanpa kata Laila ke luar kedai. Menyandarkan tubuhnya di tiang sambil menanti Paul yang masuk ke dalam mengambil kunci motor. Lelaki itu menatap wajah Laila yang terlihat semakin pucat. Ia khawatir jika kondisinya semakin parah.


"Kita ke rumah sakit dulu, ya, Sayang. Laila tambah pucat!" seru Paul dengan nada khawatir.


"Pulang!" ucapnya dengan nada bicara yang tak bisa dibantah.


"Abang bisa jelasin semuanya."


"Terlambat! Laila nggak akan percaya lagi sama Abang!"


Paul menyerah, ia pun menghidupkan motornya dan Laila duduk di boncengan. Paul melajukan motornya kembali pulang. Sepanjang perjalanan Laila tetap dengan diamnya, dan Paul tak tahu bagaimana caranya menjelaskan. Ia sangat paham jika wanitanya sedang marah. Sangat marah. Awan hitam perlahan menyelimuti langit, seolah mengerti bagaimana isi hati Laila.


Sesampainya di rumah, Laila langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia merasakan tubuhnya benar-benar lemas. Juga kepala yang semakin pusing. Jika berdiri terlalu lama, seperti akan jatuh.


"Kita ke dokter, ya. Abang nggak mau terjadi apa-apa sama Laila." Paul menyiapkan baju ganti untuk Laila, juga mengganti pakaiannya dengan kaos yang diambilnya dari lemari. Laila tetap dengan diamnya. Ia terus berbaring menatap dinding tak memedulikan Paul.


"Sayang ...." Paul menyentuh kening Laila, tapi segera ditepisnya. Laila sama sekali enggan disentuh Paul. Suhu badannya kembali naik. Segera Paul beranjak menuju dapur mengambil air juga kain untuk mengompres.


Tak lama Paul kembali membawa mangkuk dan kain untuk mengompres, tapi tak ia jumpai Laila di kamar. Panik. Paul mencari Laila ke sekeliling rumah. Ia mencari sang istri hingga ke kebun belakang. Nihil. Laila tak ia jumpai. Wanita itu seperti hilang ditelan bumi.


"Abang cari siapa?" Mak Nur masuk ke dalam rumah saat Paul sudah membawa kunci mobil. Di luar hujan deras, beruntung sang Mak sudah sampai di rumah sebelum hujan.


"Laila nggak ada, Mak." Raut wajah Paul semakin bingung. Ia takut jika Laila sampai pulang ke rumah Abi. Di tengah kekalutannya, ia berusaha untuk tenang. Mak Nur menyarankan agar menelepon Abi. Untuk memastikan jika Laila benar-benar ada di sana. Jika memang tidak ada, barulah dicari ke tempat lain.


Setelah mempertimbangkan cukup lama, Paul menuruti saran sang Mak. Dengan perasaan takut, ia pun menelepon mertuanya. Dengan perasaan tak tentu Paul bertanya perihal keberadaan Laila, dan dengan tenang dijawab oleh Abi bahwa Laila memang ada di sana. Hati Paul sedikit tenang sat mendengar Laila berada di tempat aman.


"Besok, Abang jemput Laila pulang. Mak temani," ucap Mak Nur dan meninggalkan putranya di ruang tengah. Paul menyandarkan punggungnya ke kursi. Baru beberapa saat Laila pergi dari rumah, hatinya sudah terasa hampa.


**


Bibi menyambut kedatangan Laila dengan perasaan cemas. Wanita itu datang seorang diri dalam keadaan basah kuyup. Ditambah wajahnya yang pucat dengan bibir membiru.


Laila masuk ke dalam kamarnya, mengganti pakaian dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Abi yang baru pulang selepas mengisi kajian di masjid terkejut saat bibi menjelaskan kedatangan putri semata wayangnya. Abu mengangguk paham, dan membiarkan Laila tenang tanpa banyak tanya.


Bibi menyuguhkan susu hangat lalu meletakkan di nakas. Laila bangun dan meminumnya hingga tersisa setengah.


"Makasih, ya, Bi."


"Sama-sama."


"Bibi masak apa?" tanya Laila. Kening bibi berkerut. Tak biasanya jika Laila menanyakan hal itu. Biasanya ia akan langsung menuju dapur dan makan apa yang ada di meja makan.


"Masak sayur sop, tahu balado, sama sambal. Laila mau makan?"


"Makan martabak keju kayanya enak, Bi." Bibi semakin menatap aneh ke arah Laila. Bibi tahu Laila sejak kecil, dan dari dulu Laila tidak menyukai keju.


"Martabak keju?" tanya bibi. Memastikan jika ia tidak salah dengar.


"Iya ...."


"Ya sudah. Nanti bibi belikan."


Bibi pun ke luar kamar, ia langsung meminta ijin pada Abi untuk membelikan pesanan Laila. Abi Anwar pun terkejut dibuatnya. Dulu, pernah sekali ia memaksa Laila agar mau makan keju. Dan ia langsung muntah. Tapi agar Laila mau makan, Abi pun memberikan uang pada bibi dan membelikan martabat keju untuk Laila.


Laila melahap habis satu porsi martabak keju yang dibelikan bibi. Wanita itu tampak bingung melihat keponakannya makan dengan begitu nikmat. Setelah melahap habis pesanannya, Laila pun tertidur. Ia merasakan kantuk. Bibi pun membiarkannya sendiri di dalam kamar.


**

__ADS_1


Di sudut ruangan lainnya, Paul memandang kasur di sebelahnya yang biasa ditempati Laila. Air matanya perlahan jatuh.


"Sayang ... Abang rindu," lirihnya.


__ADS_2