
"Maakkk ...." Paul membuka pintu rumah, mencari sosok sang Mak yang dicarinya tak ada di dalam kamarnya. Bahkan di dapur, juga di ladang tak juga ia temukan. Paul melepas kacamatanya, menaruh di atas meja kecil. Ia lalu menyandarkan tubuhnya di kursi, angin yang masuk dari pintu yang terbuka membuatnya nyaman sampai memejamkan mata.
"Loh, Abang tumben udah pulang." Wanita paruh baya itu muncul dari luar rumah. Paul yang semula memejamkan mata bahkan nyaris saja tertidur, membuka mata dan menatap sang Mak yang duduk di hadapannya.
"Mak, Abang udah nggak tahan."
"Kenapa?" tanya Mak. Tidak biasanya ia melihat putra semata wayangnya seperti ini.
"Abang ingin segera menjadikan Laila halal buat abang ... ternyata, cobaan sebelum pernikahan itu banyak juga, ya?" ucap Paul.
"Kenapa? Fitri ngejar-ngejar Abang?"
"Humm ... tadi dia datang ke kedai. Dan Laila melihat kami yang sedang mengobrol berdua." Paul menopang wajahnya dengan kedua tangan, bibir tipisnya sedikit dimanyunkan.
"Terus?" tanya Mak Nur penasaran.
"Laila marah. Sebab Laila pikir abang ada hubungan sama wanita lain. Tapi ... Alhamdulillah sudah selesai. Abang udah jelasin itu ke calon istri abang."
"Alhamdulillah kalo gitu. Mak mandi dulu, tadi habis dari rumah di ujung gang, ada perlu tadi di sana." Tanpa menunggu Paul menjawab, Mak Nur berlalu dari ruang tengah.
**
Waktu berjalan begitu cepat, hingga masa ta'aruf selama satu bulan tak terasa. Laila menerima khitbah Paul dan hari pernikahan sudah ditetapkan. Abi, Mak Nur juga keluarga besar keduanya mengucap syukur karena proses ta'aruf juga lamaran berjalan dengan lancar.
Kedai Paul semakin ramai, omsetnya pun lumayan, "Allhamdulilah, Bang. Kedai ramai. Ini pasti rezeki calon istri abang!" seru Ridwan. Meski usianya selisih dua tahun lebih muda dari Paul, tapi ia sudah lebih dulu menikah dan sudah dikaruniai satu orang putra.
"Masa sih, Wan?"
"Iya ...." Ridwan tersenyum senang melihat rona wajah sang bos kembali membaik. Bahkan terlihat lebih bahagia dari sebelumnya. Karena hari pernikahan kurang dari dua Minggu. Paul semakin sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Laila.
__ADS_1
Lelaki itu sangatlah bersyukur, memiliki seorang Mak yang menjaganya sendiri hingga sekarang. Berkat bantuan Wak, persiapan untuk pernikahan beres.
**
Rumah Laila yang sederhana kini terlihat mewah. Tenda berwarna biru berdiri kokoh di halaman rumah, dengan pelaminan hiasan cantik khas Jawa tertata rapi di sana.
Lepas sembahyang subuh, perias pengantin datang untuk memoles wajah Laila, juga para kerabat yang akan turut serta menjadi pagar ayu. Jauh-jauh hari keluarga besar Laila dari Jawa turut hadir di hari bahagianya.
"Ini mah, bukan lagi cantik. Calon suaminya pasti akan tergila-gila. Ya Allah, cantik sekali!" seru si perias, memuji kecantikan Laila seusai didandani. Mengenakan kebaya berwarna putih, juga siger khas Jawa yang menghiasi kepalanya yang terbalut kerudung, menambah kesan anggun.
Kamar gadis itu dihiasi dengan sedemikian rupa, bertabur kelopak mawar merah di atas kasur yang dibalut sprei berwarna putih. Usai dirias, Laila duduk di kursi yang diletakkan di sisi kanan tempat tidurnya. Pengantin wanita baru akan keluar jika mempelai laki-laki selesai mengucapkan ijab qobul.
Debarannya semakin kencang seiring detak jarum jam pada dinding. Waktu seolah berjalan begitu cepat. Melirik jam pada ponselnya yang tergeletak di meja. Pukul sembilan pagi, diperkirakan Paul beserta keluarga besarnya akan segera tiba.
Abi Anwar tampak gagah mengenakan pakaian khas Jawa, ia beserta keluarga bersiap menyambut kedatangan calon menantu.
**
Wanita paruh baya itu lalu duduk di tepi ranjang, wajahnya tertunduk. Paul lantas memutar tubuhnya, duduk bersimpuh di hadapan sang Mak.
"Ikhlaskan rezeki abang, dari lahir sampai sekarang, Mak." Paul membenamkan wajahnya di pangkuan Mak Nur, diiringi Isak yang lolos dari mulut lelaki bertubuh kurus itu.
"Mak ikhlas lahir batin, Bang. Ridha Mak akan selalu menyertai Abang." Kedua tangan Mak Nur menyentuh pucuk kepala Paul yang tertutup kuluk--topi yang biasa dipakai oleh pengantin pria. Paul terisak, tidak biasanya ia secengeng ini di hadapan sang Mak.
"Sudah. Jangan menangis. Nanti mata Abang sembab." Mak Nur mengangkat wajah putranya, kedua tangannya yang mulai keriput menyeka air mata di wajah Paul.
Keduanya lalu keluar rumah, menemui sanak saudara yang sudah berkumpul hendak mengikuti ke rumah mempelai wanita.
Mas kawin, juga beberapa bawaan yang akan diberikan kepada pihak keluarga Laila sudah disiapkan dalam sebuah mobil bak terbuka. Tanpa membuang banyak waktu, rombongan berangkat menuju rumah Abi Anwar.
__ADS_1
Tiga puluh menit perjalanan, Paul dan keluarga tiba di rumah Laila. Kedatangannya disambut hangat oleh Abi Anwar beserta keluarganya yang sudah menanti. Sholawat juga ucapan selamat datang menggema dari pengeras suara. Beberapa kerabat juga tetangga turut membantu menerima hadiah yang dibawa oleh keluarga Paul.
Abi Anwar mempersilakan untuk masuk ke dalam ruangan yang akan digunakan ijab qobul. Ditemani Mak Nur juga Wak, Paul mengikuti langkah Abi Anwar yang memasuki ruangan yang dihiasi sedemikian rupa dengan sebuah meja kecil di tengahnya.
Lelaki berkacamata itu menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok calon istrinya. Paul tampak gelisah saat duduk bersila, dengan Abi Anwar duduk di hadapannya, bapak penghulu duduk di sebelah kanan beliau.
Setelah melalui perbincangan juga basa-basi yang panjang. Akhirnya tiba saatnya Paul mengucapkan sebuah kalimat yang akan membuatnya sah menjadi suami Laila.
"Bagaimana, saudara Paul. Sudah siap?" tanya Abi Anwar. Paul mengangguk pasti.
Lelaki paruh baya itu mengulurkan tangan kanannya, disambut oleh Paul.
"Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti, Laila Nazilatul Anwar binti Anwar, 'alal mahri sepuluh gram emas beserta seperangkat alat sholat, hallan."
(Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, puteriku-nama pengantin perempuan-dengan mahar-bentuk mahar atau mas kawin-dibayar tunai).
Abi Anwar mengayunkan tangannya yang berjabat dengan Paul. Lelaki berkacamata itu menarik napas panjang.
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq," jawabnya.
(Saya terima nikah dan kawinnya dengan mas kawin (mahar) yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah).
"Bagaimana para saksi?" Pak penghulu yang mengenakan jas hitam menoleh ke kanan dan kiri, menanti jawaban dari para saksi.
"Sah!" seru Wak. Disusul ucapan kata 'sah dari kerabat juga tetangga yang turut hadir di ruangan juga di luar ruangan tersebut.
Barakallah lakuma wabarakaalaikuma wajam'a bainakuma fi khair ....
Air mata haru juga bahagia saat doa pernikahan dilantunkan. Kini Paul berhasil mempersunting Laila, gadis pujaan hatinya.
__ADS_1
Digandeng salah seorang bibi, Laila dibawa masuk lantas duduk di samping kanan Paul. Mak Nur memasangkan selendang berwarna putih di kepala keduanya. Dengan malu-malu, Laila mencium punggung tangan Paul dengan ta'zim. Begitu pula dengan lelaki itu yang mencium kening Laila. Pandang mata bahagia bertemu dalam ikatan yang suci.