Mantu Untuk Mak

Mantu Untuk Mak
Ngidam


__ADS_3

Laila merebahkan tubuhnya di kasur, ia merasa mual dan terus saja ingin muntah. Paul dengan siaga menjaga dan merawat Laila. Lelaki berkacamata itu sudah tertidur lelap di sebelah Laila, tubuhnya menghadap dinding dengan memeluk bantal guling. Laila menyandarkan punggungnya di ranjang dengan diganjal bantal.


Tangannya mengusap lembut rambut Paul. Hatinya mengucap syukur yang tak terhingga bisa mendapatkan seorang suami sabar juga dewasa seperti Paul. Meski terkadang suka iseng menggoda, tapi ia tahu bahwa Paul adalah lelaki terbaik.


Pintu kamar terbuka, Mak Nur masuk membawa nampan berisi teh hangat dan meletakkannya di nakas. Wanita paruh baya itu lantas duduk di sisi ranjang.


"Maaf ya, Mak. Laila nggak bantu masak dulu. Masih mual," ucap Laila.


"Nggak apa-apa. Mak juga dulu merasakan hal yang sama saat hamil abang. Malahan Mak ngidam aneh," ucap Mak. Menoleh ke arah putra semata wayangnya yang tertidur pulas.


"Ngidam apaan, Mak?"


"Ahh ... udah ah. Lupain aja. Nanti Abang malu kalo Mak cerita."


"Cerita aja, Mak. Laila pengen tau."


"Mak ngidam pengen ngelus janggut ustadz yang suka datang mengisi kajian di masjid. Padahal rumahnya jauh dari sini."


"Terus ...?" tanya Laila penasaran.


"Abah mengabulkan ngidam, Mak. Lalu pinjam motor sama saudara buat ke sana. Alhamdulillah Abang sama ustadz itu memiliki kesamaan wajah. Ya karena memang Mak suka lihat gaya beliau ceramah."


"Tapi, Mak. Laila malah suka kesel liat Abang. Nggak suka aja gitu. Wajar nggak, sih?"


"Wajar aja, itu karena Laila sayang banget sama anak Mak. Iya, kan?"


"Ihh ... Mak." Laila membuang muka, menggigit bibir bawahnya menahan tawa.


"Laila mau makan apa? Biar Mak buatkan."


"Nggak usah, Mak. Makasih."


Laila kembali merasakan mual, dengan cepat keluar kamar menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa semakin lemas, ditambah pagi tadi makan hanya sedikit. Sekarang sudah muntah lagi.


"Muntah lagi, Sayang?" Paul memijat tengkuk Laila. Wanita itu tak banyak bicara, hanya bisa mengangguk lemas. Setelah mencuci mulut Laila, Paul menuntun ke dalam kamar. Mak Nur menatap khawatir, bahkan tadi pun sempat membangunkan Paul yang masih tertidur, takut terjadi apa-apa pada menantunya.


"Laila makan ya. Mau makan apa, Sayang?" tanya Paul.


Laila merebahkan diri di kasur, ia merasakan tubuhnya sangat lemas. Kepalanya juga pusing.


"Nggak napsu makan, Bang."


"Laila harus makan. Biar nggak lemas."


"Tapi nggak mau, mual, Bang!" Laila kesal. Selalu saja memaksa untuk makan. Kenapa Paul begitu memaksanya untuk makan.


"Sedikit aja. Ya," bujuk Paul, tanpa lelah.


"Abang ngerti nggak sih! Laila nggak pengen makan apa pun. Nggak enak! Mual!" Laila seolah habis kesabaran.


Paul meraih tangan Laila, dan menggenggamnya erat.


"Maafin, abang. Karena abang Laila harus merasakan nggak nyaman. Dan kehilangan napsu makan. Maaf."


"Kenapa Abang harus minta maaf. Ini semua kehendak Allah. Nggak ada yang harus disalahkan."


Paul mendekatkan wajahnya dan mencium kening Laila, "Terima kasih, Sayang."


"Abang ambilkan makan, tadi Mak minta abang kasih buat Laila."


Pasrah. Laila mengangguk, lelaki berkacamata itu pun beranjak menuju dapur. Di sana Mak Nur sudah menyiapkan sepiring nasi yang dimasak dengan lembut juga ayam yang disuwir . Untuk beberapa hari ini Laila sama sekali tidak berselera untuk makan, terkecuali bubur atau nasi yang dimasak dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Terima kasih, Mak, sudah menerima Laila dan menyayangi istri abang." Paul duduk di seberang meja.


"Anak bodoh. Kenapa harus bilang terima kasih. Ini Mak lakukan karena Mak menyayangi istrimu. Laila anak yang baik, tentu banyak yang menyayanginya. Sudah, cepat kasih makan Laila, kasihan anakmu kelaparan karena ibunya yang nggak napsu makan."


Paul menuruti perintah sang Mak, dan membawa nampan tersebut. Di dalam kamar tampak Laila sedang berjalan mondar-mandir mengelilingi kamar.


"Ngapain, Sayang?" Paul meraihnya dan mendudukkan di sisi ranjang.


"Nggak ngapa-ngapain. Cuma bosen aja. Mau keluar, lihat matahari kok bikin pusing, ya?"


"Nggak apa-apa. Kata Mak itu wajar. Setiap wanita pasti ngalamin ngidam yang berbeda-beda. Dan abang menikmati setiap proses itu. Abang akan jaga dan merawat Laila segenap hati."


"Abang lebay!" seru Laila. Tangannya menggamit lengan Paul, dengan manja menyandarkan kepalanya di sana.


"Makan dulu, ya. Abang suapin. Habis itu minum vitamin biar nggak terlalu mual."


Laila mengangguk, dan makan dengan lahap makanan yang disodorkan Paul.


"Besok abang ke sekolah, ya. Urus cuti. Untuk satu bulan ke depan, abang larang Laila buat ngajar!" ucap Paul dengan tegas.


"Tapi, Bang ...."


"Nggak pake tapi tapi, abang lebih khawatir sama keadaan Laila."


Kata-kata suaminya sama sekali tak bisa dibantah. Dalam hati Laila, ia sudah sangat merindukan anak didiknya. Rindu mengajar juga bercengkrama dengan sesama guru. Tapi di lain hal, ia juga tak ingin membantah Paul. Demi menjaga dirinya, lelaki itu rela mengabaikan pekerjaannya dan membiarkan Ridwan bekerja sendiri di kedai.


"Kenapa melamun?" Paul menyentuhkan tangannya ke wajah Laila, wanita itu tergagap sadar jika dirinya tengah melamun.


"Nggak apa-apa, Bang." Laila menyentuh tangan Paul yang berada di pipinya.


"Ridwan bilang jika ada saudaranya dari jauh butuh pekerjaan. Jadi abang ijinkan bekerja di kedai. Lagi pula abang juga harus merawat Laila." Paul menaruh piring di nakas, lalu menyandarkan punggungnya di ranjang. Matanya sedikit terpejam, ia merasakan kantuk karena beberapa hari ini Laila sering mengajaknya begadang karena mual dan minta di usap punggungnya.


Paul menggelengkan kepalanya, matanya sudah benar-benar terpejam. Lelaki berkacamata itu sudah tidur. Laila menepuk-nepuk bantal, lalu meraih tubuh Paul.


"Abang tidurnya jangan begitu, nanti bisa sakit leher."


Paul membuka mata sekejap, lalu merebahkan tubuhnya, " Maaf ya, abang beneran ngantuk."


"Nggak apa-apa. Abang tidur aja." Laila mencium pucuk kepala Paul, dan beranjak ke luar menyimpan piring bekas makannya. Ia lantas mencucinya dan menyimpan kembali di rak.


Mak tak ada di dapur, tapi dari arah luar terdengar suara Mak yang sedang sibuk membersihkan rumput. Ingin keluar membantu, tapi matahari membuat kepala Laila terasa pusing. Laila pun kembali masuk ke dalam kamar.


**


Setelah solat Magrib, Mak Nur menyuruh untuk makan malam. Masakan buatan Mak tersaji di meja makan.


“Makan ini, untuk mengurangi mual.” Mak Nur menyendok sayur bening ke piring Laila.


“Makasih, Mak.”


Ketiganya makan dengan lahap. Begitu pun dengan Laila, ia menahan rasa mual dan mencoba untuk makan. Ia juga begitu merindukan masakan mertuanya.


Setelah selesai makan, Laila mencuci piring juga sendok. Mak dan Paul sudah lebih dulu beranjak dan duduk di ruang tengah menonton televisi. Laila mengupas beberapa buah mangga yang matang dan menyuguhkan di meja. Wanita itu duduk di sebelah Paul dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.


Azan Isya berkumandang dan Mak Nur solat lebih dulu, setelahnya masuk ke dalam kamar.


“Besok abang ke kedai nggak apa-apa?” tanya Paul, tapi matanya menatap lurus ke depan televisi.


“Nggak apa-apa. Insyaallah.”


“Baiklah kalo gitu ... solat, yuk. Habis ini istirahat. Laila harus banyak istirahat. Biar anak kita sehat “

__ADS_1


Keduanya pun mengambil air wudhu dan solat Isya. Setelahnya Paul mematikan televisi dan mengunci pintu. Laila mengganti pakaian dengan baju tidur, sementara Paul masih mengenakan sarung juga baju koko.


Laila mengambil posisi tidur di tengah, dan menaruh kepalanya di lengan Paul, ia berusaha memejamkan matanya. Sementara lelaki berkacamata itu sudah terlelap lebih dulu. Laila memutar tubuhnya, berusaha mencari posisi enak agar matanya mau terpejam. Tapi sia-sia. Hingga menjelang tengah malam, ia masih terjaga.


“Abang ....”


Laila menyentuh pipi Paul, lelaki itu membuka matanya sedikit. Pipinya menyunggingkan senyuman.


“Apa, Sayangnya abang?”


“Laila nggak bisa tidur.”


“Sini, abang peluk biar Laila bisa tidur.”


“Nggak mau. Dari tadi juga dipeluk Abang. Tapi susah.”


“Atau mau masuk sarung abang. Sini.” Paul membuka sarungnya. Tapi tangan Laila mencegahnya.


“Ish ... Abang masih aja sempat goda. Laila lapar, Bang!”


Sontak mata Paul membelalak. Diliriknya jam di dinding, pukul dua belas lewat.


“Makan? Jam segini?” Paul menatap kedua mata Laila yang tidur di lengannya.


“Mau sate ayam.” Laila menyunggingkan senyuman. Kedua matanya menatap Paul. Lelaki itu memasang wajah ... entah. Hal pertama yang harus dilakukan bagi seorang suami adalah menuruti keinginan istrinya yang sedang hamil.


“Nggak bisa ditunda besok pengennya, Sayang?” Paul membenamkan wajahnya di bahu Laila, ia sangat lelah. Tubuhnya nyaris tidak tidur belakangan ini, ditambah Laila yang meninggalkan rumah karena kasusnya akibat Fitri.


“Ya udah. Besok aja makan satenya.” Laila menatap langit-langit kamar, tangannya mengusap perutnya yang masih rata. Paul memerhatikan sikap istrinya. Ia menyerah. Segera bangkit dan mengganti sarung dengan celana panjang, lalu meraih jaket biru yang tergantung di belakang pintu.


“Loh, Abang mau ke mana?” tanya Laila bingung.


“Bukannya tadi Laila bilang pengen makan sate ayam?” Paul membenarkan letak jaketnya.


“Abang cape. Besok aja belinya.”


“Nggak apa-apa. Abang belikan sekarang. Laila tunggu, ya.” Paul mencium kening Laila, tak lupa perutnya yang akan segera hadir calon buah hatinya.


“Jangan nakal, ya. Abi beli sate dulu buat umi.” Paul mengusap perut Laila.


Mobil putih itu pun ke luar dari halaman rumah, dan menerobos angin malam, mencari keberadaan tukang sate ayam berada. Ia berusaha mendatangi gerobak sate yang biasa mangkal di dekat kedai. Tapi tempat itu tutup. Ia lupa jika setiap malam Senin tutup. Berusaha mencari ke tempat lain yang ternyata lumayan jauh. Usaha Paul tak sia-sia, setelah satu jam mencari akhirnya ketemu.


Paul memesan sepuluh tusuk sate ayam, juga satu porsi sate kambing untuk dirinya. Lelaki berkacamata itu merasakan lapar karena lelah mencari keberadaan tukang sate.


Pukul setengah dua malam, Paul baru sampai rumah. Ia menaruh sate pesanan Laila di piring. Juga untuknya. Di dalam kamar, Laila terlihat sudah tertidur lelap dengan posisi memeluk bantal guling. Perlahan Paul mengusap lengan Laila. Wanita itu pun terbangun dan duduk di sisi ranjang.


“Makan dulu. Sate ayam pesanan Laila.” Paul menyodorkan sepiring sate dan menaruhnya di nakas.


“Itu sate siapa?” tanya Laila, menunjuk ke piring satunya.


“Itu sate kambing. Abang juga jadi ikutan lapar. Makan bareng, ya.”


Laila mengangguk, tangannya mengambil satu tusuk sate dan memakannya lantas minum. Setelahnya Laila kembali membaringkan tubuhnya di kasur.


“Loh, kok nggak dihabiskan.” Paul heran menatap sate yang masih tersisa banyak.


“Laila kenyang, Bang. Abang habiskan, ya.”


Paul menelan ludah. Ia membayangkan harus menghabiskan dua porsi sate sekaligus.


“Ya Allah, Sayang. Kalo Laila ngidam begini tiap malam. Abang bisa gemuk mendadak.” Laila tersenyum mendengar penuturan Paul.

__ADS_1


__ADS_2