Mantu Untuk Mak

Mantu Untuk Mak
Resepsi


__ADS_3

Duhai senangnya pengantin baru, duduk bersanding bersenda gurau ....


Bagaikan raja dan permaisuri, tersenyum simpul bagaikan bidadari ....


Duhai senangnya menjadi pengantin baru ....


Lagu pengantin baru menggema dari pengeras suara yang disimpan di sudut tenda. Kedua mempelai sengaja tidak menyewa organ tunggal melainkan seorang ustadz yang akan mengisi acara pada malam harinya. Karena ia ingin menikmati momen pernikahan dengan hikmat.


Usai bertukar cincin juga prosesi acara lainnya, kini saatnya Paul dan Laila duduk bersanding di pelaminan. Di sebelah kanan Paul, Mak Nur duduk di sana, juga di sebelah Laila duduk Abi Anwar. Rona bahagia terpancar dari dua keluarga besarnya.


Tanpa disadari, di belakang sound sistem, seorang gadis jelita menutup wajahnya dengan kain. Mata indahnya sembab seiring tangis yang tiada henti dari semalam.


"Kita pulang, Fit!" Lelaki paruh baya itu menepuk pelan bahu Fitri. Gadis itu mengangguk lemah. Mereka pun berlalu meninggalkan rumah Laila.


"Abang, bahagia sekali!" seru Paul, wajahnya tak henti memandangi wajah Laila. Gadis itu tak kuasa menahan bahagia yang memenuhi rongga dadanya, sampai-sampai sejak selesainya ijab qobul yang dilakukan Paul hanya dengan satu kali tarikan napas, Laila tak mampu memandang wajah lelaki yang sudah sah menjadi suaminya kini.


"Abang, jangan liatin Laila kaya gitu. Malu!" Laila memalingkan wajahnya, menghindari pandangan Paul. Lelaki itu sengaja tak melepaskan pandangannya, ia bahagia bisa menggoda istrinya. Beruntung para tamu belum pada datang, ia bisa leluasa menggoda Laila.


"Laila cantik. Ana uhibbuka fillah." Paul menggenggam tangan Laila, sontak gadis itu melepaskan tangannya. Kedua matanya menatap tajam ke arah Paul. Selain dengan Abi, Laila sama sekali tidak pernah bersentuhan tangan dengan lelaki mana pun.


"Astagfirullahal'adzim!" seru Laila, memegang dadanya. Napasnya naik turun, kaget saat Paul menyentuh tangannya.


"Ini abang ... Sayang. Kita sudah halal." Paul mencoba menenangkan, takut-takut akan menjadi tontonan para tamu juga saudara yang ada di dekatnya.


"Maaf, Abang." Laila menyentuh lengan lelaki di sebelahnya, ia sama sekali tidak ingin ada salah paham, karena ia benar-benar terkejut.


"Nggak apa-apa. Abang paham. Terimakasih sudah menjaga diri demi abang, Laila." Paul tersenyum manis, lesung pipinya membuat debaran di hati Laila semakin bergemuruh. Rasanya ia akan pingsan jika terus-menerus memandangi wajah Paul.


Sahabat Paul juga rekan di sekitar kedai berdatangan. Juga rekan guru tempat Laila mengajar. Tak sedikit murid-murid Laila turut hadir memberikan doa juga restu pada guru tersayangnya. Kerabat Mak Nur juga Abi Anwar menghadiri pesta pernikahan yang berjalan dengan hikmat.


Azan Zuhur berkumandang, Laila terlebih dulu undur diri untuk melaksanakan solat. Disambung dengan mengganti pakaian pengantin. Selesai solat, Laila bersiap untuk kembali dirias juga mengganti pakaian pengantin berwarna merah.


Kulit putihnya terlihat sangat kontras dengan baju yang dipakainya.


"Abang, kenapa?" tanya Laila tampak bingung saat dirinya kembali duduk di atas pelaminan. Paul yang melihatnya nyaris tak berkedip saat wanita itu duduk manis di sampingnya.


"Cubit abang. Ini bukan mimpi, 'kan?" Paul meraih tangan Laila lalu menyentuhkan ke pipinya.


"Kenapa? Bicara yang jelas!"

__ADS_1


"Abang nggak salah lihat, kan? Yang duduk di sebelah abang bidadari!"


Wajah Laila yang terbalut make up merona. Ia merasakan Paul sedang menggodanya. Ia lalu menarik tangannya yang menempel di pipi lelaki berkacamata itu, "abang jangan menggoda Laila. Atau Laila balas nanti!" seru Laila mengancam.


"Apa yang akan Laila lakukan buat membalas, abang?" Paul mendekatkan wajahnya ke wajah Laila.


"Liat aja nanti malam!"


"Uhhh ... Abang udah nggak sabar nunggu nanti malam." Paul terkekeh-kekeh. Ia lalu turun dari pelaminan untuk solat Zuhur juga mengganti pakaian. Sementara orang tua kedua mempelai sudah turun dari singgasana sejak azan berkumandang tadi. Tinggallah Laila seorang diri di sana.


Abi Anwar sibuk menyambut para kerabat dekat juga rekan sesama pensiunan, sedangkan Mak Nur istirahat di kamar yang memang di khususkan para kerabat jauh.


Usai solat dan berganti pakaian, Paul tampak semakin gagah dengan pakaian pengantin berwarna merah itu. Tubuh tingginya juga wajahnya yang rupawan mengalihkan pandangan siapa saja yang memandang. Tak terkecuali Laila, ia pun menatap sang suami nyaris tak berkedip.


"Abang memang tampan, Laila. Nggak usah liatin kaya begitu." Paul duduk dengan gayanya yang sok cool di samping Laila. Wanita itu tergagap saat dirinya memang memandangi Paul dengan tatapan sedemikian rupa.


"Ish, Abang ge'er." Laila membuang muka. Dan Paul tertawa bahagia melihat istrinya salah tingkah.


"Barakallah lakuma wabarakaalaikuma wajam'a bainakuma fi khair." Ridwan menyalami juga memeluk erat Paul, ia turut bahagia melihat sang bos akhirnya mendapatkan wanita impiannya. Bahagia juga ada wanita yang berhasil menaklukkan hati seorang Paul.


"Syukron, Wan."


"Barakallah, Mba. Abang Paul akhirnya melabuhkan hatinya di hati, Mba. Biasanya dia akan bersikap dingin, tapi jujur saya bahagia melihat Abang yang sekarang, lebih hangat." Ridwan berbicara dengan sedikit berbisik pada Laila, membuat wanita itu tersenyum.


"Syukron, Bang. Alhamdulillah." Laila menangkupkan tangannya di depan dada.


Menjelang sore, tamu semakin banyak berdatangan. Laila dan Paul tampak sangat lelah menyalami tamu yang berdatangan tiada henti. Tapi hati keduanya bahagia, di momen bahagianya semua dalam keadaan sehat.


Azan Maghrib berkumandang, Laila dan Paul turun dari pelaminan bersama. Paul dengan mesra menggandeng tangan istrinya, wajah Laila terlihat pucat. Meski tadi pagi ada acara suap-suapan sebelum naik pelaminan, tapi tak dipungkiri bahwa menjelang malam, keduanya sudah lelah.


Laila mengganti pakaian pengantin dengan warna putih, dengan ujung gaun yang panjang. Terlihat sangat anggun juga mewah. Ia duduk di samping ranjang, menunggu Paul yang sedang menggantikan pakaian.


"Abang udah beres?" tanya Laila saat melihat Paul masuk ke ruangan rias.


"Udah. Tapi abang nyari Mak. Mak kemana ya?" Paul tampak bingung mencari sosok Mak yang tidak terlihat selepas solat Zuhur tadi.


"Laila bantu cari Mak, ya."


"Boleh. Hayu!"

__ADS_1


Paul menggandeng tangan istrinya. Tangan kiri Laila menggamit ekor gaunnya yang panjang. Keduanya keluar dari rumah sebelah yang dipakai menjadi ruang rias, sedangkan rumah Laila hanya didekorasi saja. Para tamu undangan di fokuskan di tenda utama.


"Mak mungkin istirahat di rumah," ucap Laila. Ia menuntun Paul menuju rumahnya yang berada di belakang tenda. Kamar pengantin terkunci, hanya bibi yang memegang kunci, ia yang bertanggung jawab kado juga barang-barang berharga lainnya.


Laila membawa Paul ke kamar tengah, tampak Mak nur berbaring di sana. Lelaki berkacamata itu melepaskan gandengan tangannya, menghampiri sang Mak yang tertidur.


"Mak ...." Paul berjongkok, tangannya membelai pucuk kepala sang Mak yang tertutup kerudung. Wanita paruh baya itu membuka mata, terkejut melihat kedua pengantin tidak berada di pelaminan.


"Kenapa Abang ke sini? Harusnya Abang di pelaminan, kan?" tanya Mak.


"Abang khawatir. Makanya abang cari Mak ke sini."


"Ya Allah. Mak nggak apa-apa." Mak Nur bangun lalu duduk di tepi ranjang.


"Iya, Bang. Nggak usah khawatir. Ada saya yang jagain Mak." Bibi Laila masuk ke dalam kamar, membawa satu gelas teh manis hangat juga makanan.


"Biar Laila temani Mak ya." Laila duduk di samping Mak Nur. Wanita paruh baya itu tersenyum.


"Kalo Laila temani Mak di sini. Apa Laila rela jika ada yang temani Abang di pelaminan?" tanya sang Mak.


Laila melirik ke arah Paul. Lelaki itu merapatkan mulutnya, menahan tawa.


"Kalo Laila di sini temani Mak. Biar abang sama bibi aja di pelan menyalami para tamu." Paul bangkit dan menggandeng tangan bibi yang sedang memegangi nampan makanan.


Laila tak menjawab candaan Paul, ia salah tingkah jika dihadapkan pada situasi seperti ini, hanya bibirnya saja yang sedikit dimonyongkan.


"Anak nakal ...." Mak Nur memukul pelan paha Paul, dan itu membuat lelaki berhidung mancung itu tertawa kecil, "berhenti menggoda istrimu. Cepat bawa ke luar. Kasian para tamu yang pengen liat pengantin." Mak Nur menyatukan tangan keduanya.


"Iya, Mba. Biar bibi yang temani Mak di sini."


"Makasih ya, Bi!" seru Laila.


"Nitip Mak ya, Bi!" seru Paul.


Keduanya lalu keluar dari rumah, kembali ke pelaminan.


"Abang udah nggak sabar, pembalasan apa yang akan Laila lakukan nanti malam?" goda Paul.


"Lihat saja nanti malam. Jangan menyesal sudah nantangin Laila!" seru Laila.

__ADS_1


__ADS_2