Mantu Untuk Mak

Mantu Untuk Mak
Fitri


__ADS_3

Laila menatap kosong pada layar laptopnya, berulang kali ia menyeka air mata yang turun membasahi pipinya. Baru beberapa hari tinggal di rumah Paul sudah membuatnya rindu pada Abi. Ia rindu rumah. Laila ingin pulang.


"Laila kenapa? Kok nangis?" Tiba-tiba Paul sudah berdiri di belakang Laila. Dengan cepat ia menyeka air matanya menggunakan lengan. Kepalanya mendongak dan memandang wajah Paul.


"Laila nggak apa-apa, Bang." Laila berdiri dan memeluk tubuh Paul. Lelaki itu memahami apa yang sedang istrinya pikirkan, dua hari belakangan ini senyumnya terlihat dipaksakan, juga ada gurat kesedihan di raut wajahnya. kebahagiaan yang baru beberapa saat mereka rasakan, tiba-tiba saja hilang entah ke mana.


"Laila kangen sama Abi?" tanya Paul.


Laila terdiam, wajahnya semakin dibenamkan di dada Paul, tangis Laila pecah dan air mata membasahi baju koko Paul. Paul mengusap lembut punggung sang istri, untuk beberapa saat, ia membiarkan Laila menumpahkan segala perasaan yang sedang berkecamuk di sana.


"Laila cengeng ya, Bang?" Laila mengangkat wajahnya dan menatap Paul. Lelaki itu menyeka air mata yang menempel di pipi Laila. Untuk sesaat keduanya saling menatap.


Paul menggelengkan kepalanya, kembali meraih kepala Laila dan memeluknya erat. Paul merasakan betapa rindunya jika berjauhan dengan orang tua. Bahkan dirinya pun selalu dirasuki rasa rindu saat berada di kedai dan Laila di rumah.


"Lusa cuti Laila habis. Udah harus masuk ngajar."Laila melepaskan diri dari pelukan Paul, lalu duduk di sisi ranjang. Lelaki berkacamata itu pun duduk di sebelah istrinya.


"Lalu?"


"Laila kerja bantu Abang, nggak apa-apa, kan?" tanya Laila.


"Selagi itu tidak membuat Laila lalai akan kewajiban sebagai seorang istri, abang ijinkan. Jika Laila mampu, silakan." Paul mencium kening Laila.


"Makasih, Bang." Laila mencium pipi Paul. Ia bersyukur memiliki seorang suami yang begitu pengertian juga memahami isi hatinya.


Usai mematikan laptop, Laila mengganti gamisnya dengan baju tidur, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Paul tidur disebelahnya, tidur telentang agar Laila dengan mudah memeluknya.


"Badan Laila kok beda? Demam?" Paul menyentuh kening juga leher istrinya, terasa hangat di sana. Laila menggeleng lemah, tangannya semakin erat memeluk tubuh Paul. Lelaki itu mengendurkan pelukan, hendak bangkit namun dicegah Laila.


"Abang mau ke mana?" tanya Laila dengan tangan masih memeluk erat.


"Abang mau ambil obat. Sebentar, ya." Perlahan Paul mengendurkan pelukan Laila dan bergegas ke dapur mengambil obat juga air putih hangat.


Laila duduk dengan punggung diganjal bantal, Paul dengan penuh kasih sayang memberikan obat, setelahnya ia membaringkan Laila di atas kasur. Paul meletakkan gelas di meja kecil, lalu merebahkan tubuhnya di samping Laila. Wanita itu menggeser tubuhnya, dan meletakkan kepalanya di lengan Paul.


"Ini bantal paling nyaman yang Laila punya." Laila tersenyum, lalu membenamkan wajahnya ke ketiak Paul.


"Hey ... tadi abang nggak mandi loh."


"Biarin ... wangi kok." Laila semakin menggesekkan wajahnya di sana, membuat Paul menggeliat geli.


"Abang tumben nggak ganti sarung kalo mau tidur?"


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa, sih."

__ADS_1


"Kan Laila mau abang sarungin!" seru Paul dengan nada menantang.


"Boleh!" jawab Laila tak kalah menantang.


"Tapi abang lagi nggak pake celana selutut, loh."


"Ya nggak apa-apa. Emang kenapa?" Laila menyipitkan matanya sebelah, membuat Paul semakin gemas. Lelaki itu mencubit hidung istrinya.


"Sini masuk sarung Abang!" Paul menekan tombol lampu di nakas dekat kepalanya, kamar pun gelap. Namun cerita cinta tercipta terang nan indah.


**


Laila menyiapkan sarapan, tak lupa bekal untuk suami tercinta. Segelas kopi hitam tersedia di meja, pagi ini Paul yang mengenakan kaos hitam lelaki itu terlihat cool juga memesona.


"Oh ya. Hari ini abang kayanya pulang malam. Ada banyak kerjaan di kedai. Juga ada beberapa pengiriman barang ke luar kota."


"Iya, Bang."


Mak Nur dengan lahap menyantap masakan Laila, meski Laila berasal dari tanah Jawa, beruntung masakannya bisa dengan mudah diterima oleh Paul dan Mak-nya.


"Oya, Mak. Laila ikut Mak ke ladang, ya. Lagian berkas untuk sekolah sudah selesai, jenuh di rumah terus."


"Jangan! Mak sendiri aja. Nanti Laila capek kalo ikut ke ladang."


Laila mengantar Paul ke garasi, usai mencium kening Laila, Paul pun berangkat. Sementara Mak Nur sudah lebih dulu ke ladang.


"Assalamu'alaikum."


Laila yang sedang melipat pakaian di ruang tengah menghentikan aktivitasnya, dan berjalan ke arah sumber suara.


"Waalaikumsalam." Pintu terbuka, di hadapannya berdiri seorang wanita dengan wajah secantik bidadari, "maaf, cari siapa, ya?"


"Humm ... Mak Nur, ada?" tanya wanita itu. Matanya melihat Laila dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Maaf, Mak lagi ke ladang. Ada perlu apa, ya? Nanti saya sampaikan."


"Kamu istri Bang Paul?" tanyanya dengan nada kurang suka. wanita itu menatap Laila dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Benar. Maaf. Silakan duduk dulu, Mba." Laila mempersilakan tamunya untuk duduk di kursi teras, dengan tatapan sinis wanita itu membuang muka dan duduk.


"Saya nggak bisa lama-lama. Saya bawakan ini untuk Mak Nur. Tolong sampaikan, ya." Wanita itu menyerahkan bungkusan biru dan meletakkan di atas meja. Lalu berdiri meninggalkan teras.


"Maaf, nama Mba, siapa?"


"Saya ... Fitri!" Wanita itu pun berlalu meninggalkan Laila yang berdiri mematung di teras. Memandangi bungkusan pemberian Fitri, pikiran Laila dipenuhi banyak tanya. Siapa wanita itu, juga kenapa begitu repot memberikan bungkusan untuk mertuanya.

__ADS_1


Laila menimang-nimang benda pipih di genggamannya, ingin rasanya menelepon Paul dan menanyakan perihal Fitri. Tapi berulang kali ia menekan tombol hijau, segera Laila menekan kembali tombol merah. Ia takut jika menelepon Paul akan mengganggu pekerjaannya.


Ponsel diletakkannya kembali di atas meja, kembali meneruskan melipat pakaian dan menyimpannya ke dalam lemari. Hatinya masih saja tak tenang. Berbagai pikiran negatif bersarang di otak Laila. Apakah wanita itu mantan pacar Bang Paul, atau jangan-jangan ....


Laila memukul kepalanya, ia berusaha menepiskan pikiran buruk tentang suaminya. Bagaimana pun, tidak boleh berpikir negatif. Segera Laila mengambil air wudhu dan solat Dhuha, mencoba mencari ketenangan melalui salat.


Menjelang siang, Laila menuju dapur. Mencoba menenangkan pikirannya dengan memasak untuk makan siang. Dari dalam kamar, ponselnya berdering. Gegas Laila meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Tertera nama 'Abang sayang di sana.


Percakapan seperti biasa. Paul memang selalu menelepon setelah solat Zuhur, memastikan istrinya tidak tinggal solat, dan mengingatkan untuk makan. Laila menahan diri untuk tidak menanyakan perihal wanita bernama Fitri yang tadi datang ke rumah. Biar nanti ditanyakan saat Paul pulang.


**


Mak Nur pulang dari ladang lebih cepat, usai membersihkan diri dan berganti pakaian wanita paruh baya itu duduk di dapur menikmati secangkir teh manis hangat buatan Laila.


"Oya, Mak. Tadi ada yang kirim bungkusan buat Mak." Laila menyerahkan bungkusan pemberian Fitri.


"Dari Fitri, ya?" tanya Mak. Seolah bisa menebak siapa si pemberi dari bungkusan tersebut. Wajah Mak Nur terlihat semringah saat melihat isinya. Dan itu membuat hati Laila sedikit nyeri.


Laila tak banyak bicara, setelah menyiapkan teh dan sedikit camilan buat sang mertua, ia berlalu meninggalkan sang Mak sendirian. Laila menekan dada sebelah kirinya, ada sedikit rasa yang membuatnya ingin menangis. Terlebih saat melihat ekspresi wajah Mak Nur yang bahagia saat membuka pemberian Fitri.


"Dia siapa, sih!" rutuk Laila kesal. Ia memukul-mukul sisi kasur, meremasnya sampai seprei itu kusut. Laila sendiri merasa aneh, kenapa ia harus kesal ketika ia melihat sang Mak senang. Kenapa harus menaruh curiga pada Fitri. Apakah ia cemburu pada wanita itu?"


**


Pukul sebelas malam Paul sampai rumah. Laila membuka pintu dan langsung menguncinya kembali. Tanpa mencium punggung tangan Paul seperti biasa, Laila meninggalkan lelaki itu sendiri di ruang tengah dan masuk ke dalam kamar.


"Laila, kenapa?" Paul meletakkan tasnya dan duduk di samping Laila. Wanita itu diam, wajahnya menunduk menatap lantai. Paul menangkup wajah Laila dengan kedua tangannya, mau tidak mau Laila memandang Paul.


"Abang baru pulang kerja. Jangan kasih abang cemberut. Abang nggak suka!"


Laila menyentuh tangan Paul yang menempel di pipinya, menggenggamnya erat.


"Laila mau tanya, Abang jawab jujur, ya."


"Tanya apa?" Paul melepaskan tangannya dari wajah Laila, lalu membuka kaos dan melemparnya ke sandaran kursi, bertelanjang dada, lalu menyandarkan punggungnya.


"Nantilah. Laila buatkan kopi buat Abang, ya." Laila berdiri hendak keluar kamar, tapi terhenti saat tangan Paul mencegahnya.


"Abang lagi nggak mau kopi. Mau langsung tidur, aja." Paul merebahkan tubuhnya, memejamkan mata. Laila membuka lemari, mengambilkan kaos oblong untuk Paul. Lelaki itu menolak. Tak lama Paul sudah tertidur dengan nyenyak, dengkuran lolos dari bibir tipisnya. Laila melepas kacamata yang masih menempel di wajahnya, dan meletakkan di nakas. Tangannya mengusap pelan rambut suaminya, wajah tampan itu terlihat lelah, ia tak tega untuk menanyakan hal itu sekarang.


Laila memandangi Paul yang tertidur pulas. Wajahnya yang rupawan sudah pasti akan membuat siapa saja jatuh cinta bagi yang memandangnya. Ada sedikit keraguan di hati Laila, jika Paul sama sekali belum pernah dekat dengan siapa pun. Wajah tampan dengan hidung mancung sempurna, siapa sih yang akan nolak. Rajin ibadah dan baik pada siapa saja.


Wanita itu menggeser tubuhnya, meletakkan kepalanya di lengan Paul. Memberi respon, lelaki itu mengubah posisi tidurnya menjadi miring. Hangat, dan nyaman.


"Maaf, Laila. Abang beneran cape," lirih Paul. Lelak itu memeluk erat tubuh Laila, begitu pun sebaliknya. Aroma tubuh Paul memberikan rasa nyaman tersendiri, dan itu membuat Laila semakin enggan untuk menjauh.

__ADS_1


__ADS_2