Mantu Untuk Mak

Mantu Untuk Mak
Tuduhan Palsu


__ADS_3

Mak Nur memerhatikan tingkah laku anak semata wayangnya, lelaki berkacamata itu terus saja menempel pada menantunya, Laila. Bahkan saat wanita itu sedang mandi pun, Paul dengan setia menunggu di luar pintu kamar mandi.


Wanita paruh baya itu menghela nafasnya berat. Ia tak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Baginya, Paul sudah dewasa dan bisa menangani masalahnya sendiri. Ia pun meninggalkan keduanya dan masuk ke dalam kamar.


"Ya Allah, Abang ngapain berdiri di sini?" tanya Laila saat dirinya keluar kamar mandi dan melihat Paul berdiri menyandarkan punggung di tembok. Laila sudah mengenakan pakaian ganti dan mengenakan handuk yang menutupi kepalanya.


"Nunggu Laila mandi. Kenapa?" lelaki itu malah berbalik nanya.


"Ngapain nunggu? Abang kebelet?"


"Nggak."


"Terus?"


"Takut Laila kenapa-napa. Makanya abang nunggu di sini. Biar Laila aman."


"Ya Allah." Laila menepuk keningnya sendiri. Ia tak habis pikir jika sikap suaminya bisa over protektif begini.


"Ke kamar, yuk. Biar abang bantu keringin rambut." Paul menarik lengan Laila pelan, dan menuntunnya masuk ke dalam kamar.


Lelaki itu mendudukkan Laila di depan meja rias. Meraih hairdryer dan mengeringkan rambut panjangnya. Laila hanya diam, menikmati setiap sikap mesra dari Paul. Tapi jujur saja, dalam hatinya masih banyak hal yang ingin ditanyakan. Tapi, ia tak ingin menambah beban lelaki itu.


"Oke ... sudah kering." Paul mematikan hairdryer dan menyimpannya kembali di meja. Kedua tangannya menyentuh kepala Laila, lalu mengecup pucuk kepalanya.


"Geli, Bang." Laila bergidik geli saat kedua tangan Paul mengusap kepala hingga lehernya.


"Siap mandi junub lagi, Sayang?" bisik Paul di belakang telinganya.


"Abang nakal, ish." Laila mencubit gemas tangan Paul yang memegangi bahunya. Lelaki itu tersenyum. Tangannya memutar tubuh Laila agar menghadap ke arahnya. Paul duduk bersimpuh di hadapan sang istri, kedua tangannya menggenggam erat tangan Laila.


"Laila ... Abang memang tidak setampan Yusuf. Tidak sekaya Sulaiman. Tidak sesempurna Muhammad. Tapi hati abang cuma buat Laila." Lelaki itu menatap lekat ke wajah sang istri.


"Abang ... Laila tidak setaat Hadijah. Tidak solehah layaknya Fatimah. Tapi Laila akan berusaha menjadi baik, meski bukan yang terbaik. Demi masa depan kita." Tubuh Laila luruh dan duduk bersimpuh di lantai.


Keduanya saling menatap, Laila menyadari ada yang sedang lelaki itu pikirkan. Hanya saja, Paul enggan untuk terbuka.


"Abang kenapa? Apa yang sedang mengganggu pikiran Abang?"


Paul melepaskan genggamannya, ia tergagap dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Bang ...."


Laila meraih wajah Paul dan mengarahkan padanya. " Jawab jujur. Jangan bohong."


"Nggak apa-apa." Paul melepaskan tangan Laila dari wajahnya. Ia lantas berdiri meninggalkan Laila yang masih duduk di lantai. Paul merebahkan tubuhnya di kasur, tak peduli pada Laila yang menatapnya dengan tatapan cemas.


Laila mengembuskan napasnya berat, ia lalu berdiri dan meraih kerudung yang diletakkan di gantungan yang menempel di dinding. Meraih handel pintu dan keluar dari kamar.


Laila meraih pisau hendak mengupas beberapa buah untuk Mak dan Paul. Meletakkan tiga buah apel yang diambilnya dari kulkas, dan meletakkan di meja. Ia berusaha untuk tenang agar tidak terlalu memikirkan hal yang tidak perlu. Tapi semakin lama, sikap aneh suaminya benar-benar mengganggu pikirannya. Belum lagi ucapan bibi kemarin yang menanyakan soal keberadaan di mana Adam. Padahal sudah beberapa tahun ini ia pun tak tahu di mana keberadaan lelaki itu.


Laila duduk di meja makan sendirian, tangannya sibuk mengupas buah. Mak Nur sedang tidur siang di kamarnya. Sedangkan Paul, entah apa yang ada dalam pikirannya. Semakin ditanya, semakin lelaki itu enggan berbicara. Mau tidak mau, Laila membiarkan Paul sendirian.


Awww ....


Laila meringis saat pisau mengenai jari telunjuk kirinya. Ia bahkan masih bisa melamun dan malah mengupas kulit jarinya sampai dalam. Ia berdiri dan membasuh tangannya yang berdarah, lalu meraih obat di kotak P3K yang berada di ruang tengah.


Brakk ....

__ADS_1


Kotak obat yang diletakkan di atas lemari terjatuh, dan membuat isinya berserakan di lantai. Dengan cepat Laila merapikan kembali obat-obatan dan memasukkannya ke dalam kotak. Darah masih mengalir dari ujung jarinya dan menetes di lantai.


“Sayang ... itu apa yang jatuh?” seru Paul. Laila tak menoleh ataupun menjawab.


Lelaki itu keluar kamar dan melihat Laila yang sedang duduk sedang mengobati jarinya yang berdarah.


“Ya Allah. Laila kenapa?” tanya Paul. Lelaki itu hendak meraih obat tetes yang dipegang Laila. Tapi dengan cepat Laila mengelak.


“Abang mau apa?”


“Abang bantuin, ya.”


“Nggak usah. Laila bisa sendiri!” seru Laila. Ia berusaha tak memedulikan Paul yang menatapnya dengan tatapan cemas. Paul duduk di sebelah Laila dan memerhatikan.


“Awww ....”  Laila meringis kesakitan saat obat yang ia teteskan terasa perih. Tak tahan dengan sikap dingin istrinya, sedikit memaksa Paul meraih pergelangan Laila dan meniupnya pelan. Berusaha agar rasa perihnya sedikit berkurang.


“Udah nggak sakit, kok. Abang nggak usah repot-repot bantu.” Laila menarik kembali tangannya yang digenggam Paul, lalu membalut jarinya dengan kasa.


“Kenapa? Nggak butuh bantuan abang?” tanya Paul dengan nada sedikit tinggi. Matanya menatap tajam ke arah Laila yang masih tak peduli dengan keberadaannya.


“Laila ... jawab abang!” seru Paul. Berusaha menahan nada suaranya agar tidak terlalu tinggi dan bisa saja Mak terbangun dari tidurnya.


“Nggak ada yang harus dibahas. Laila bisa sendiri, kok.” Laila berdiri dan menyimpan kembali kotak obat di tempatnya. Ia pun kembali ke dapur dan meneruskan mengupas buah.


Paul mengembuskan napasnya berat. Ia beranjak menyusul Laila ke dapur. Laila merapatkan bibirnya, berusaha fokus mengupas buah dan tidak memedulikan Paul yang berdiri di belakangnya.


“Ke kamar ... Abang mau bicara,” ucap Paul. Ia menahan nafasnya yang memburu. Ini pertama kalinya ia merasakan marah pada sikap dingin istrinya.


“Nanti, ya. Tunggu Laila selesai kupas buah,” ucap Laila tanpa menoleh ke arah Paul.


Laila mengembuskan napasnya, ia meletakkan pisau dan buah di meja, dan menyusul Paul ke kamar.


Paul duduk di ranjang bersila, pandangannya lurus ke depan. Saat Laila masuk ke dalam kamar, lelaki itu bahkan tak menoleh.


“Apa yang ingin Abang bicarakan?” tanya Laila. Ia berdiri di samping Paul.


“Duduk!” seru Paul. Sikap dan ucapannya dingin. Tanpa banyak komentar, Laila menuruti ucapan Paul. Ia lalu duduk di hadapan Paul, menatap lelaki berkacamata di hadapannya.


“Laila udah duduk. Ada apa?” tanya Laila. Ucapannya dingin.


“Kenapa tadi nggak mau dibantu abang?”


“Laila bisa sendiri, kok. Abang jangan lebay, ah.” Laila berusaha bersikap santai. Meski hatinya tak suka mendengar Paul yang berbicara dengan nada tinggi.


“Lebay apanya? Biasanya juga mau dibantu abang! Apa Laila udah bosen sama abang? Jawab!” seru Paul. Matanya melotot menatap Laila.


“Ya Allah. Abang! Segitu jauhnya jalan fikiran Abang sama Laila? Istighfar, Bang!” seru Laila. Ia berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.


“Sikap Laila akhir-akhir ini berubah. Kenapa? Kangen seseorang 'kah?” tanya Paul dengan nada tak suka.


“Jangan asal nuduh, Abang! Ya Allah.” Laila menangkup wajahnya, air matanya mengalir. Ia tak menyangka jika harus melihat sikap dingin Paul secepat ini. Lelaki di hadapannya tampak mengerikan jika sedang marah.


Paul diam. Ia membiarkan Laila menangis. Wanita itu menangis sesenggukan.


“Hati dan fikiran Laila ada mas Adam? Laki-laki masa lalu Laila itu 'kan? Jawab!” seru Paul lagi.


Tangis Laila semakin jadi. Lelaki itu bahkan membiarkannya menangis, bahkan menuduhnya semakin dalam.

__ADS_1


“Jangan asal nuduh, Abang!” seru Laila. Ia mengusap air matanya. Berusaha menatap paul yang seperti orang lain.


“Lalu ... Abang sendiri. Kenapa akhir-akhir ini bersikap aneh?”


“A-aneh apanya?” tanya Paul sedikit tergagap. Ia memalingkan wajahnya, kehilangan nyali saat Laila berbalik menatapnya lekat.


“Jawab Laila. Jangan bisanya nuduh tanpa bukti!”


“Abang nggak suka lihat Laila bahas soal Adam sama bibi. Abang nggak suka Laila terus-menerus melamun mikirin lelaki itu!”


“Abang tahu apa soal apa pikiran Laila? Asal Abang tahu ... Laila cuma mikirin Abang! Nggak ada sedikit pun mikirin lelaki lain!” seru Laila. Hatinya terasa sakit dituduh begitu. Mulut Paul terbuka hendak membalas ucapan Laila.


“Satu hal lagi. Selama ini Laila udah cukup sabar menghadapi semua wanita yang mendekati Abang. Kejadian tempo hari bareng Fitri, udah Laila lupain. Laila berusaha untuk bersikap netral. Tapi Abang bisa nuduh Laila begini. Abang tega!”


Laila menyeka air matanya yang mengalir semakin deras. Hijab yang dikenakan pun basah oleh air mata. Paul menundukkan wajahnya, ia tak menyangka jika ucapannya akan berakhir begini.


“Laila, Sayang. Bukan itu maksud abang.” Paul mengangkat wajahnya,  tangannya hendak meraih tangan Laila, tapi segera ditepisnya.


“Lalu apa maksud Abang? Hah!” seru Laila. Napasnya memburu. Untuk pertama kalinya Laila marah pada Paul. Lelaki itu hanya diam, Paul mendekatkan dirinya berusaha meraih Laila dalam pelukannya. Kembali menenangkannya agar berhenti menangis.


“Laila, maafin abang.” Paul menyentuh bahu Laila, tapi wanita itu terus bergerak mundur, menjauh dari tubuh Paul. Perlahan tangis Laila berhenti. Wajahnya tertunduk, tapi tangannya memegangi perut, ia merasakan kram di sana.


“Ya Allah, sakit!” Laila merintih, tubuhnya terkulai di atas kasur dengan terus memegangi perut. Lelaki berkacamata itu panik, diraihnya Laila dalam pelukan. Berusaha menenangkan dirinya.


“Maafin abang, Sayang. Ya Allah. Abang bodoh. Abang salah!”


Paul merasakan napas Laila yang memburu. Tubuh istrinya bergetar hebat. Paul melupakan pesan bidan tempo hari, agar menjaga mood wanita yang sedang hamil.


“Sayang ... maafin abang. Tenang ya. Abang salah tadi asal bicara.” Paul mengeratkan pelukannya, berusaha memberikan ketenangan. Rasa nyeri perlahan hilang, Laila berusaha mengumpulkan kembali kekuatannya.


“Laila mau pulang! Nggak mau sama Abang!” Laila berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Paul. Tapi dekapan lelaki itu terlalu kuat.


“Nggak ... jangan. Jangan tinggalin abang. Nggak. Abang minta maaf!” ucap Paul disela tangisnya yang pecah. Ia terus menguatkan pelukannya karena Laila terus berontak berusaha melepaskan diri.


“Lepasin Laila, Abang!”


“Nggak akan. Laila akan tetap di sini sama abang!”


“Nggak! Laila mau pulang ke rumah Abi!”


“Jangan! Abang nggak kasih ijin!”


“Awas! Lepasin Laila!”


“Nggak. Abang minta maaf, Sayang. Maaf ....” Paul mengendurkan pelukannya, lelaki berkacamata itu semakin tenggelam dalam tangisnya. Kaos yang dipakainya pun basah. Laila mengusap air mata di pipinya. Berusaha untuk bersikap netral.


“Laila benci sama Abang. Abang kekanak-kanakan. Laila benci Abang main tuduh tanpa bukti!”


“Iya ..  Abang paham. Abang salah. Laila mau maki-maki Abang silakan. Abang terima.”


“Antar Laila pulang. Abang tenangin diri sendiri. Laila capek!”


Laila berdiri, mendekati lemari dan membukanya. Meraih beberapa pakaian mengajarnya dan meletakkan di kasur. Paul bangkit dan mencegah tangan Laila yang hendak memasukkan baju-baju itu ke dalam tas.


“Kasih Abang kesempatan kedua. Abang janji nggak akan begini lagi.” Paul menatap Laila dengan tatapan memohon.


“Janji?”

__ADS_1


__ADS_2