Mantu Untuk Mak

Mantu Untuk Mak
Sahabat Lama


__ADS_3

Setelah hampir satu Minggu lebih Paul tidak datang ke kedai membantu Ridwan. Bukan tanpa alasan ia tidak ke sana, hanya saja kali ini ia harus memberikan perhatian lebih untuk Laila yang sedang mengandung buah cinta mereka.


Pagi ini, setelah sarapan dan membawa bekal buatan laila-meski dengan berulang kali harus mual karena mencium aroma nasi yang baru matang, wanita itu pun menyelesaikan bekal untuk suami tercinta.


"Kalo ada apa-apa, telepon abang, ya." Paul mencium kening Laila di teras rumah. Setelah itu menyalakan mesin motornya dan berlalu membelah jalanan. Semangat Paul semakin membara untuk mencari nafkah, karena kali ini bukan hanya Laila dan Mak yang menjadi tanggungan, melainkan akan ada calon anak.


Sepanjang perjalanan Paul senyum-senyum sendiri saat sedang menghayal tentang anak yang sedang dikandung Laila itu lahir. Akan mirip siapa ... dirinya atau malah mirip Laila, laki-laki atau perempuan? Ahh ... baginya apapun jenis kelamin anaknya kelak, sama saja. Anak adalah rezeki yang Allah berikan.


Tiga puluh menit Paul sampai di sekolah tempat Laila mengajar, ia lalu masuk ke ruang guru dan mengurus cuti. Setelah berbincang-bincang dengan beberapa rekan guru yang menanyakan kondisi Laila, Paul pun undur diri dan kembali menuju kedai.


Cuaca hari ini cerah, secerah harapan Paul juga keluarga kecilnya. Dari luar tampak motor Ridwan terparkir, sedangkan lelaki tambun itu tampak sedang mengepak barang di dalam kedai, dibantu oleh seorang lelaki yang memiliki perawakan seperti Paul, tinggi kurus, tapi memiliki wajah kuning, tidak seperti Paul yang hitam tapi manisnya kebangetan.


"Assalamu'alaikum."


Paul masuk ke dalam kedai, usai memarkirkan kendaraannya di sebelah motor Ridwan. Kedua lelaki yang ada di dalam kedai menoleh dan tersenyum.


"Waalaikumsalam," ucap keduanya berbarengan. Ridwan pun memperkenalkan saudaranya yang datang dari jauh.


"Paul ...." Lelaki itu mengulurkan tangannya, yang segera disambut lelaki berambut lurus itu.


"Adam ...," ucapnya.


Perkenalan berlangsung singkat, karena Ridwan meminta Adam untuk menemaninya mengantar barang ke suatu daerah yang lumayan jauh. Usai pamit pada Paul, keduanya pun berlalu dari kedai. Paul meletakkan tas kecilnya di meja, lalu mulai mengecek barang juga buku nota.


Tangannya membenarkan letak kacamatanya yang terasa sedikit miring, hatinya bisa bernapas lega, bersyukur memiliki karyawan sekaligus sahabat jujur seperti Ridwan. Lelaki bertubuh tambun itu sudah mendampingi Paul sejak dirinya masih sekolah. Hingga detik ini, Ridwan masih menjadi orang yang paling setia, terus berada di sisinya.


**


Laila meraih sapu yang terletak di sudut dapur. Ia merasa tidak enak pada tubuhnya, jika terlalu sering tidur. Apa lagi sampai tidak melakukan apa-apa. Obat yang diberikan bidan tempo hari benar-benar membuat rasa mual sedikit berkurang. Laila pun berusaha untuk makan meski sedikit, ditambah ia tak ingin terus-terusan membuat sang suami khawatir.


Laila menghentikan aktivitas menyapu saat ponselnya yang tergeletak di atas kasur berdering. 'Abang sayang tertera nama di sana.


"Assalamu'alaikum, Sayang. Lagi apa?" tanya suara dari seberang.


"Laila lagi nyapu, Bang. Tiduran terus cape tau!"


"Emang udah kuat? Kalo nggak kuat istirahat aja di kamar."


"Iya, Abang."


"Ya udah. Abang lanjut kerja lagi. Laila jangan lupa solat, dan minum vitamin. Biar anak kita selalu sehat."


"Iya ...."


Sambungan telepon terputus, benda pipih itu diletakkan di meja dan Laila melanjutkan membersihkan lantai yang tinggal sedikit. Setelah itu ia beranjak menuju dapur, perutnya terasa sedikit lapar.


Laila mencari sosok Mak, tak ia jumpai di sana. Di kebun belakang pun tak ada. Laila pun masak, meski sesekali rasa mual menderanya. Sekuat mungkin Laila menahan diri hingga masakan buatannya selesai, baru ia akan kembali beristirahat.

__ADS_1


Dua jam kemudian, masakan Laila matang. Setelah kembali membereskan perkakas, ia pun kembali masuk ke dalam kamar. Rasa lapar hilang setelah selesai memasak. Ia pun merebahkan tubuhnya di kasur.


**


Adam dan Ridwan kembali ke kedai. Barang yang dipesan pun sudah diantar ke alamat yang tepat dengan selamat. Keduanya lantas masuk dan melayani pembeli yang datang berbelanja.


"Adam, kalo cape istirahat aja. Tiduran di sana aja dulu. Ini biar saya yang melayani pembeli," ucap Paul pada Adam. Lelaki berbulu mata lentik itu pun mengangguk, lalu berjalan melewati Paul dan masuk ke dalam ruangan kecil yang biasa digunakan Paul atau Ridwan untuk beristirahat juga untuk solat.


Adam muncul dari toilet dan masuk ke dalam ruangan. Iseng, Paul berjalan mendekat dan mengamati sikap karyawan barunya  di sana tampak Adam sedang melaksanakan solat Dhuha, karena saat lelaki berkacamata itu menoleh pada jam di dinding baru pukul sebelas kurang.


Hati Paul sedikit tenang karena Ridwan tidak salah mengajak orang untuk bekerja di kedainya. Ia sendiri pun tidak pernah melarang Ridwan untuk menunda pengiriman barang dan mengutamakan solat. Karena baginya solat adalah hal yang paling utama.


Ridwan duduk di sudut, dan membereskan kardus sepatu dan menyusunnya rapi. Sementara Paul menghitung pengeluaran dan pemasukan. Pembeli yang berdatangan sedikit, Ridwan pun bisa sedikit bersantai sampai nanti akan melakukan pengiriman lagi jika Paul memintanya.


Paul menulis total pengeluaran di buku agenda kecil, tapi tangannya terhenti saat kedua telinganya mendengar lantunan ayat suci Al-Quran dari dalam ruang istirahat. Ia menyipitkan matanya dan melihat ke dalam, terlihat Adam sedang mengaji. Suaranya begitu merdu, membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi luluh.


Lelaki itu melantunkan surat-surat pendek, tapi mendengarnya membuat suasana hati menjadi tenang. Paul berusaha kembali fokus pada kertas di hadapannya, kepalanya tertunduk. Ia merasa tidak ada apa-apanya dibanding Adam yang memiliki suara yang sangat merdu.


**


Selepas solat Zuhur, Paul ijin pamit kepada Ridwan dan Adam. Ia mengatakan masih khawatir jika meninggalkan Laila di rumah dengan kondisi yang masih lemah. Keduanya pun mengangguk paham. Lelaki berkacamata itu pun berlalu meninggalkan kedai dan kembali pulang.


**


Paul memarkirkan motornya di garasi, lantas masuk ke dalam rumah yang tidak terkunci. Mengucapkan salam lalu masuk ke dalam kamar. Di sana tampak Laila sedang asyik di depan laptop.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, abang kapan masuk? Maaf Laila nggak dengar?" Laila segera meraih tangan Paul dan menciumnya ta'zim. Lelaki berkacamata itu pun meraih wajah Laila dan mencium keningnya.


"Laila asyik sama laptop, sih. Abang pulang sampe nggak tau," ucap Paul dengan bibir sedikit dimonyongkan.


"Ish, Abang ngambek. Nanti gantengnya ilang, loh."


"Kegantengan abang nggak bakal ilang, Sayang. Udah permanen ini." Paul terkekeh lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Ia menarik tangan Laila dan menidurkan di sebelahnya.


Laila tertawa mendengar penuturan receh suaminya.


"Abang mau nanya." Nada suara Paul tiba-tiba terdengar serius. Laila mendongakkan kepalanya menatap wajah Paul.


"Tanya apa?"


"Laila nerima khitbah abang kenapa?"


"Kok Abang nanya gitu?"


"Abang mau tau aja. Nggak boleh?"

__ADS_1


"Aneh aja. Abang tiba-tiba pulang siang dan nanya ini. Ada apa?"


Laila bangun dan duduk di sebelah Paul. Ia menatap wajah Paul yang terpancar keresahan di sana. Lelaki itu mengembuskan napasnya berat, melirik sekilas ke arah sang istri yang sedang menatapnya.


"Abang cuma takut kehilangan Laila suatu saat nanti. Abang nggak mau, dan abang nggak siap." Paul memiringkan tubuhnya dan merebahkan kepalanya di pangkuan Laila.


"Kok Abang bilang gitu. Aneh ah. Ada apa? Laila nggak paham!"


"Ridwan ngajak saudaranya bekerja di kedai. Kerjanya bagus, juga ... tadi abang lihat dia solat Dhuha dan ngaji. Suaranya merdu banget. Abang iri aja."


"Terus apa hubungannya sama Laila, Abang?"


"Abang takut Laila pindah ke lain hati. Dan nyari yang lebih baik dari abang." Paul semakin membenamkan wajahnya di pangkuan Laila, tak menyangka jika dirinya akan secengeng ini.


"Abang ...."


Paul mengangkat wajahnya dan menatap Laila.


"Kesempurnaan itu hanya milik Allah. Bagi Laila, abang adalah suami yang baik. Laila bahagia punya Abang. Itu cukup." Paul bangkit dan duduk menghadap sang istri, dan menggenggam erat tangannya.


"Tapi suara abang nggak semerdu saudaranya Ridwan."


" Udah, ah. Abang jadi baperan gini, sih. Mendingan makan. Laila udah masak makanan kesukaan abang."


"Laila masak?"


"Humm."


"Udah nggak mual?"


"Sedikit. Tapi dipaksakan aja. Dan nggak apa-apa, kok. Laila malah lebih baik sekarang."


"Alhamdulillah. Laila harus sehat. Biar anak kita juga sehat." Paul mengusap lembut perut Laila.


"Iya ... btw, saudara Ridwan itu siapa namanya?"


"Adam ...."


Jantung Laila seolah berhenti berdetak saat Paul menyebut nama karyawan barunya di kedai. 'Adam ... ingatan Laila seolah menariknya pada seseorang yang memiliki nama yang sama.


"Nama panjangnya, siapa, Bang?" Laila berusaha menutupi keterkejutannya.


"Nggak tahu. Tapi ciri-cirinya dia punya postur tubuh kaya abang. Rambutnya lurus, dan agak putih," ucap Paul. Menjelaskan ciri-ciri yang dimiliki Adam.


Mulut Laila sedikit terbuka, ia menatap lekat ke wajah Paul yang tidak menatapnya. Lelaki itu menatap lurus ke langit-langit kamar karena posisinya sudah kembali berbaring.


"Kenapa? Laila kenal?" tanya Paul, kini keduanya saling menatap.

__ADS_1


"N-nggak kenal, Bang," ucap Laila sedikit tergagap. Ia lalu mengajak Paul menuju pohon mangga yang berada di sebelah rumah. Tiba-tiba saja Laila ingin makan mangga muda.


__ADS_2