
Paul menekan dada sebelah kirinya, percakapan dengan Laila melalui ponsel membuat debaran hebat di dadanya. Jangka waktu kurang dari satu bulan, terasa sangat lama bagi Paul, membuat lelaki itu tidak sabar, untuk segera menjadikan gadis itu halal baginya.
"Kenapa, Bang? Senyum-senyum sendiri?" Ridwan menepuk pelan bahu Paul, lelaki itu sedikit terkesiap, bangkit berdiri lalu keluar kedai.
"Saya belikan kopi ya ,Wan!" seru Paul. Tanpa menunggu jawaban dari Ridwan, lelaki itu berjalan ke warung soto milik orang tua Naurak, di sana ia juga berjualan kopi panas, juga minuman dingin.
"Kopi susu ya, Bu!" seru Paul pada seorang wanita bertubuh sedikit gemuk yang sedang duduk asyik menonton televisi.
"Eh, Nak Paul. Sekalian makan soto." Bu Siti menawarkan makan, lelaki berkacamata itu menggelengkan kepalanya.
"Kopi saja, dua." Senyum ramah Paul, membuat wajahnya semakin terlihat rupawan.
Bu Siti menyerahkan kopi yang diseduh dalam gelas plastik sekali pakai, lelaki itu pun berlalu setelah membayar pesanannya.
"Makasih, Bu." Paul berlalu keluar dari warung soto, kembali ke kedai. Lelaki berhidung mancung itu menyerahkan satu gelas kopi kepada Ridwan yang sedang sibuk mengecek barang, sedangkan Paul duduk di kursi plastik di depan kedai, tempat para pembeli menunggu atau sekadar mengantri.
"Assalamu'alaikum, Bang." Seorang gadis mengenakan gamis hijau muda berdiri di hadapan Paul yang sedang menikmati sebatang rokok. Paul mendongak melihat ke arah si pemilik suara.
"Fitri?" ucapnya pelan. Wajahnya sedikit terkejut, tak biasanya gadis itu datang ke kedai.
Tanpa meminta izin, gadis itu duduk menghadap Paul.
"Ada apa?" tanya Paul.
"Abang benar mau menikah?" tanya Fitri. wajah gadis itu tampak sedih.
Paul menghela napas berat, "berhubung kamu menyinggung soal saya yang akan menikah, alangkah tidak baiknya jika saya duduk berdua dengan wanita lain." Paul menenteng gelas kopinya, berdiri dan hendak meninggalkan Fitri.
"Jadi, beneran Abang mau nikah?"
Langkah Paul terhenti. Fitri bangkit dari duduknya.
"Jika benar, lantas kenapa?" Paul membalikkan tubuhnya dan menatap gadis ayu tersebut.
"Saya suka sama, Abang!"
"Maaf, tapi saya tidak suka padamu. Semoga kamu paham," ucap Paul tegas.
__ADS_1
"Apa lebihnya wanita itu. Saya bahkan lebih cantik dari dia." Fitri mencerca Paul dengan kalimatnya.
"Karena Laila memiliki hati yang jauh lebih baik darimu. Dia bahkan mampu menjaga hatinya dari cinta akan dunia." Tanpa perasaan, Paul meninggalkan Fitri yang mulai terisak.
Bukan tanpa pertimbangan Paul lebih memilih Laila dari Fitri. Fitri memang memiliki kecantikan yang luar biasa, tapi kecintaannya terhadap dunia terlalu dia pamerkan. Sedangkan Laila, sosok gadis dengan kesederhanaan juga kelembutannya, mampu mencuri cinta juga perhatian seorang Paul, lelaki berhati dingin, yang dipuja semua gadis di kampungnya.
Ridwan terkejut saat melihat Paul masuk ke dalam kedai dengan raut wajah yang sedikit risau. Lelaki bertubuh tambun itu melirik ke arah depan kedai, ia melihat sosok Fitri yang perlahan meninggalkan tempat yang diduduki Paul. Lelaki itu paham benar bagaimana keadaan sang bos, ia pun membiarkan Paul dengan segala kemelut tanpa bertanya.
Paul menyandarkan punggungnya ke kursi kayu di dalam kedai, matanya menatap kosong ke arah kardus-kardus sepatu di hadapannya. Ia pun terkesiap saat ponsel di dalam saku kemejanya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Wak, adik Mak Nur yang rumahnya bertetangga dengan Laila.
"Assalamu'alaikum," ucap Paul.
'Waalaikumsalam, maaf sebelumnya mengganggu. Ini ada kabar kurang enak. Abang jangan kaget, ya.'
"Ada apa, Wak?" tanya Paul tak sabar.
''Hadiah yang tadi Abang suruh Wak antar buat Laila, dibalikin lagi.''
"Maksud Wak, Laila menolak hadiah pemberian abang?"
''Iya ....''
Satu kali ... dua kali ... tiga kali ... usaha Paul sia-sia. Laila menolak telepon dari Paul. Tak tahan dengan keadaan ini, Paul berlalu meninggalkan kedai usai berpamitan pada Ridwan, dan berpesan padanya untuk menutup kedai jika sudah saatnya tutup karena dirinya tidak akan kembali ke kedai meski urusannya sudah selesai.
Jarak kedai menuju rumah Laila tak begitu jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit menggunakan kendaraan roda dua. Paul sebenarnya merasa sedikit ragu untuk datang berkunjung, tapi hatinya takut jika keadaan ini dibiarkan berlarut-larut ia akan kehilangan Laila, gadis pujaannya.
Rumah Laila terlihat sepi, motor milik gadis itu terparkir di sudut teras, tanda si pemilik ada di rumah. Wak mengatakan jika Laila adalah gadis rumahan, kesehariannya hanya dihabiskan untuk mengajar juga di rumah. Paul memberanikan diri mengetuk pintu bercat putih tersebut.
"Assalamu'alaikum."
Tak lama terdengar suara dari dalam menjawab salamnya. Pintu terbuka, Laila muncul dari dalam.
"Ada apa, Bang?" tanya Laila, wajahnya tertunduk, tak berani menatap lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Harusnya abang yang tanya, kenapa Laila kembalikan pemberian abang?"
Laila diam, tangannya menggenggam erat handel pintu. Gadis itu tidak mempersilakan Paul masuk atau sekadar duduk di kursi teras.
__ADS_1
"Jawab, Laila!" seru Paul. Lelaki itu tak tahan dengan sikap diamnya.
"Abang nggak salah kirim 'kan? Apa benar hadiah itu buat Laila? Bukan buat wanita yang Abang ajak bicara di kedai?" Laila menggigit bibir bawahnya, kalimat yang terlontar menunjukkan bahwa dirinya sedang marah. Lebih tepatnya ... cemburu.
Lelaki bertubuh kurus itu menatap lekat, sadar bahwa calon istrinya sedang dilanda cemburu. Hatinya mengatakan jika tadi ia melihat sedang berbincang dengan Fitri di kedai.
"Laila, cemburu?" tanya Paul, penuh selidik. Wajah Laila semakin menunduk. Ia tak sanggup mengangkat wajahnya yang sedang merona. sejak Paul datang, ia sama sekali tidak menatap wajahnya. Lelaki berkacamata itu pun berjalan mundur, lalu menyandarkan punggungnya di kursi kayu teras. Lelah jika harus lama-lama mengobrol dalam posisi berdiri, ditambah dengan debaran jantung yang semakin menggebu. Ingin pingsan saja rasanya.
"Saya buatkan minum." Tanpa menunggu persetujuan Paul, Laila masuk ke dalam rumah, sementara Paul tersenyum senang, berhasil menggoda gadis kesayangannya.
"Assalamu'alaikum, Wak. Abang di rumah Laila. Wak di mana?" tanya Paul saat panggilan telepon tersambung.
"Ya udah. Abang tunggu di sini. Tolong ya, Wak. Hadiah tadi dibawa juga. Terimakasih." Paul mematikan sambungan telepon.
"Minum dulu, Bang." Laila menyuguhkan segelas teh manis hangat, gadis itu turut duduk di seberang Paul. Suasana canggung menyelimuti keduanya, Laila merasa bersalah karena mengambil keputusan sepihak atas apa yang dilihatnya tadi, sampai mengembalikan hadiah pemberian Paul.
"Maaf, ya, Bang." Laila memainkan ujung hijabnya, wajahnya masih saja menunduk.
"Maaf, buat apa?" Paul meraih cangkir teh buatan Laila. Meminumnya sedikit karena minuman itu masih sedikit panas lalu meletakkannya kembali.
"Iya, maaf. Hadiah pemberian Abang saya kembalikan pada, Wak."
"Aduhai, Laila. Cemburunya bikin abang gemas." Paul menutup mulutnya, sadar jika ucapannya yang baru saja terlontar sama sekali tidak pantas.
"Astagfirullahal'adzim, maaf." Lelaki berhidung mancung itu mengusap wajahnya.
Keduanya kembali terdiam, tak ada yang berani berbicara hingga Wak datang membawa hadiah beberapa kain tenun yang sangat cantik untuk Laila. Usai menyerahkan kembali pada Laila, Wak undur diri karena sedang ada kesibukan lainnya.
"Abang juga pamit, Laila. Nggak baik lama-lama di sini." Paul berdiri dan berjalan menuju motornya yang terparkir di halaman rumah. Laila mengangguk, dan mempersilakan lelaki itu untuk pulang.
"Kalau ada apa-apa, bilang. Jika ada perlu, telepon abang." Paul mengenakan helm lalu menaiki motornya. Laila masih diam, tak menjawab.
"Hati-hati, Bang!" seru Laila.
"Jangan cemburu lagi, ya. Abang nggak tahan menghadapi gadis yang cemburu."
Laila tersenyum, dan itu membuat hati Paul meledak merasakan bahagia. Jika pernikahan semudah menyeduh kopi, ingin rasanya ia lakukan itu saat itu juga. tak sabar jika harus menghadapi masa ta'aruf yang dirasa begitu lama.
__ADS_1
"Sekali lagi Laila bersikap kaya tadi, sampai nggak angkat telepon abang. Abang nggak segan-segan nyulik Laila ke pelaminan. Biar langsung sah ... Assalamu'alaikum!" seru Paul. Lelaki itu pun menyalakan mesin motornya, dan berlalu meninggalkan Laila yang berdiri mematung di halaman rumahnya.
Laila menyentuh wajahnya yang terasa panas, ia lalu memutar tubuhnya, merapikan gelas bekas minum Paul, juga tiga kotak kain tenun pemberian lelaki yang berhasil membuatnya merasakan cemburu untuk pertama kali.