Mantu Untuk Mak

Mantu Untuk Mak
Jujurlah


__ADS_3

Paul berangkat ke kedai lebih pagi dari biasanya. Setelah menyeruput kopi buatan Laila dan meraih bekal buatannya, lelaki berkacamata itu langsung tancap gas. Alhamdulillah, sejak menikah kedai Paul semakin ramai dan omset naik sampai lima kali lipat. Mungkin ini berkah pernikahan.


Laila berusaha bersikap biasa dan menutupi apa yang sedang berada di pikirannya. Jelas, kehadiran wanita itu benar-benar membuat Laila gelisah. Berbagai pertanyaan terus-menerus bergentayangan di kepalanya, juga dugaan tak baik terhadap suaminya selalu menghantui dirinya.


Semalam karena kondisi Paul yang benar-benar lelah, membuat Laila tak tega untuk bertanya dan membiarkan lelaki itu tidur dengan nyenyak. Menjelang subuh selepas solat pun Paul masih sibuk dengan nota dan merekap penjualan. Laila kehilangan celah untuk bertanya.


Menjelang tengah malam lelaki berkacamata itu baru pulang. Laila berusaha untuk bersikap seperti biasa, mencium punggung tangan Paul dan menyiapkan segelas kopi untuknya.


"Kemarin, hal apa yang ingin Laila tanyakan sama abang?" tanya Paul saat sudah membersihkan diri dan berganti pakaian. Laila duduk di sisi ranjang, disusul Paul duduk di sebelahnya.


"Nggak apa-apa, Bang. Laila udah lupa mau nanya apa," dusta Laila. Lelaki itu paham jika wanita tersayangnya tengah dilanda resah. Namun sungkan untuk bercerita. Tak ingin memaksa Laila, Paul pun mengajaknya untuk tidur.


"Besok abang antar Laila ke sekolah ya. Udah masuk ngajar, kan?" ucap Paul, memeluk tubuhnya. Laila mengeratkan pelukan saat bayangan Fitri hadir di pelupuk matanya. Laila menggelengkan kepalanya, berusaha menepis segala ketakutan yang sama sekali belum terbukti. Ia berusaha untuk selalu memercayai Paul, suaminya.


**


Laila mengambil kunci cadangan yang diberikan Paul, karena selesai jam mengajar selepas Zuhur dan bisa pulang tanpa menunggu Paul. Mak Nur sudah lebih dulu ke ladang, katanya hari ini panen jadi harus lebih datang lebih pagi. Sejak wafatnya ayah Paul, wanita paruh baya itu menggantungkan hidupnya dari ladang. Beruntung Paul adalah anak yang mau berusaha keras hingga memiliki usaha sendiri.


Jarak rumah Paul ke tempat Laila mengajar lumayan jauh, letaknya harus melewati kedai, sehingga harus membuat Paul berputar arah. Setengah memaksa, Paul mengantarkan sampai sekolah di hari pertamanya mengajar setelah menikah.


"Abang hati-hati," ucap Laila. Mencium punggung tangan Paul setelah mengantarnya sampai parkiran sekolah. Lelaki berhidung mancung itu mengangguk dan langsung berputar arah menuju kedai.


Laila senang bisa kembali bertemu dengan murid-murid kesayangannya, juga menjalani profesinya sebagai guru yang diidamkan selama ini. Beruntung Paul tidak keberatan untuk terus mengajar meski sebenarnya lelaki itu sanggup memberikan nafkah yang cukup baginya. Tapi bagi Laila, menjadi seorang guru bukan hanya sekadar uang, tapi berbagi ilmu yang dimilikinya itu membuatnya senang.


'Assalamualaikum.' Paul menelepon pada jam istirahat. Lelaki itu menanyakan bagaimana suasana sekolah di hari pertamanya. Dengan nada ceria Laila menceritakannya, lelaki itu tenang mendengar suara istrinya yang terdengar kembali ceria.


Paul mengatakan akan lambat pulang lagi, dia juga minta maaf tidak bisa menjemput pulang mengajar. Laila mengerti kesibukan sang suami, dia pun bisa pulang mengajar menggunakan angkutan umum.


Sebuah angkutan umum berwarna merah berhenti di hadapan Laila, segera wanita itu masuk ke dalam. Setelah itu mobil merah itu pun melaju menerobos padatnya jalanan. Angkutan yang dinaiki Laila akan segera melintasi kedai Paul, iseng Laila memutar tubuhnya menghadap ke arah kedai suaminya.

__ADS_1


Kedai Paul berada di pertigaan jalan berdekatan dengan sebuah lampu lalu lintas, sesaat akan melintas lampu jalan menunjukkan warna merah, otomatis kendaraan yang ditumpangi Laila berhenti tepat di depan kedai.


Dari kejauhan, terlihat seorang laki-laki mengenakan kaos merah cerah sedang duduk di kursi depan kedai tempat pembeli menunggu sedang asyik mengobrol dengan seorang wanita mengenakan hijab merah, senada dengan kaos yang dikenakan lelaki di hadapannya. Seingat Laila, pagi tadi pun Paul mengenakan kaos yang sama, tapi buat apa dia berbicara begitu asyik dengan seorang wanita. Berdua saja pula.


Laila menyipitkan matanya, berusaha menajamkan penglihatan. Sekelebat ide melintas di kepala, Laila meraih ponsel dari dalam tasnya dan menekan sebuah panggilan keluar.


Terlihat jelas lelaki yang sedang asyik mengobrol itu merogoh saku celananya dan mengangkat sebuah telepon.


"Abang di mana? Udah makan?" Laila meremas tas kerjanya, berusaha bertanya dengan nada yang diusahakan normal, meski dalam hatinya dibakar cemburu.


"Abang lagi sama Ridwan. Ngecek barang yang mau dikirim sebentar lagi."


Laila menggigit bibir bawahnya, menekan perasaan sakit di dada juga air mata yang nyaris tumpah, sekuat tenaga Laila menahan semua sakit itu.


"Abang jangan lupa solat dan makan. Laila sudah di jalan. Sebentar lagi sampai rumah."


Laila menekan tombol merah, memutuskan sambungan telepon tanpa mengucapkan salam. Untuk apa suaminya berdusta, sementara dengan jelas di depan mata Paul sedang asyik mengobrol dengan Fitri. Tanpa membuang kesempatan, Laila mengabadikan momen indah sekaligus menyakitkan baginya dengan kamera ponsel, cepat atau lambat ia ingin mengetahui ada hubungan apa di antara mereka.


Laila menghempaskan tubuhnya ke ranjang, batinnya remuk, hancur. Air mata sudah tak bisa lagi dibendung sejak turun dari angkutan tadi, beruntung derasnya air mata yang mengalir bisa terhalang oleh masker yang dikenakannya.


Laila memandang langit-langit kamar, tatapannya kosong. Yang terbayang di benaknya hanyalah suami yang dicintainya sedang asyik berbincang-bincang dengan wanita lain yang bukan mahramnya. Kenapa ia mengatakan kebohongan. Ingin rasanya ia marah. Segera Laila bangkit dan mengganti pakaian mengajarnya dengan gamis, lalu membasuh wajahnya dan bergegas memasak untuk makan malam.


Mak Nur masuk dari pintu belakang saat Laila selesai memasak. Ia sedang mencuci perabot yang tadi digunakannya. Wanita paruh baya itu memandangi wajah sang menantu yang sedikit berbeda.


"Laila kenapa? Sakit?" tanya Mak Nur saat melihat mata Laila yang sedikit sembab.


"Ahh ... Laila nggak apa-apa, Mak." Laila membuang muka saat keduanya beradu pandang. Laila merapikan piring yang sudah dicucinya ke dalam rak, dan setelahnya membuat minuman untuk sang mertua.


"Lihat, Mak. Ada apa?" Mak Nur mencekal lengan Laila, mau tidak mau Laila memandang wajah sang Mak. Wanita paruh baya itu menatap menantunya penuh selidik.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Mak. Beneran." Laila berusaha tersenyum, berusaha menutupi rasa getir di hatinya.


"Kalo Abang berulah, kasih tau, Mak." Mak Nur melepaskan lengan Laila, lalu masuk ke dalam. Laila terduduk di kursi dapur, berusaha untuk tegar dan air matanya tidak jatuh.


Laila meraih sebuah tasbih di atas nakas, berusaha menenangkan hatinya dengan berdzikir. Beruntung Mak Nur setelah selesai makan malam langsung berdiam diri di dalam kamar seperti biasanya, jika tidak Laila tidak akan mampu menampung rasa gejolak yang ada di dalam dadanya, dan sudah pasti akan bercerita pada mertuanya.


Deru motor Paul terdengar dari luar, Laila melirik jam di dinding, pukul setengah sebelas malam. Ia meletakkan tasbih di tempat semula dan bergegas membukakan pintu.


Pintu terbuka, tampak raut wajah Paul yang lelah. Laila meraih punggung tangannya dan menciumnya ta'zim, lelaki itu menangkup wajah Laila dan mencium keningnya.


"Wajah Laila kelihatan lelah. Tadi ngajar cape?" tanya Paul dengan penuh perhatian. Laila tak menjawab, ia berlalu dan menuju dapur mengambilkan minum.


"Laila nggak cape. Abang kan lebih capek." Laila menaruh secangkir teh hangat. Paul menyandarkan punggungnya di kursi, matanya terpejam untuk sesaat.


Laila duduk di sebelah Paul, memandangi lekat lelaki berkacamata itu.


"Kenapa liatin abang kaya gitu? Ada yang ingin Laila sampaikan?" Seolah bisa menebak apa isi kepalanya, Laila berdiri dan masuk ke dalam kamar, meninggalkan Paul sendiri di ruang tengah.


Laila meremas seprei hingga kain itu kusut, tak lama Paul masuk ke dalam kamar. Laila terkejut saat melihatĀ  sang suami masuk dengan bertelanjang dada, juga wajah yang basah.


"A-abang betah amat tengah malam nggak pake baju. Nanti masuk angin," ucap Laila dengan sedikit terbata-bata. Ia bangkit hendak mengambilkan kaos di dalam lemari. Dengan cepat Paul meraih lengan Laila, dan menggendong tubuhnya.


"Istri abang yang cantik. Ada apa? Kalo abang ada salah. Laila bisa langsung tegur abang." Paul yang sudah tak memakai kacamata menatap lurus ke wajah Laila, membuatnya salah tingkah.


Laila berusaha berontak, melepaskan diri dari gendongan Paul. Dengan cepat lelaki itu merebahkan tubuh Laila di atas kasur.


"Jangan bohongi abang. Ada apa?" Paul mengunci tubuh Laila dengan kedua lengannya.


"Laila mau tanya, apa Abang siap ngomong jujur?"

__ADS_1


Lelaki itu mengangguk. Melepaskan tubuh Laila yang beranjak mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Bisa Abang jelaskan, ada hubungan apa Abang dengan Fitri?"


__ADS_2