Mantu Untuk Mak

Mantu Untuk Mak
Hamil


__ADS_3

"Abang ngapain ke sini!" seru Laila saat melihat Paul masuk ke dalam kamar. Dia sendiri heran kenapa suaminya belum juga pulang bersama Mak, padahal ia sudah meminta Mak  untuk pulang dan tidak terlalu mengkhawatirkan keadaannya.


"Abang suami Laila. Kenapa nggak boleh masuk ke kamar sendiri!" seru Paul dengan nada bicara dingin. Ia berjalan mendekati ranjang.


"Ish ... Laila nggak suka liat Abang ada di sini. Keluar!" usir Laila. Ia lalu turun dari ranjang dan membuka pintu. Segera Paul menutupnya kembali, lalu menguncinya. Dengan ringan Paul menggotong tubuh Laila dan membaringkan tubuhnya di kasur. Meski berulang kali Laila memberontak, lelaki berkacamata itu tetap menidurkan istrinya yang bertingkah seperti anak kecil di kasur.


"Udah ... jangan kaya anak kecil nggak dikasih jajan. Segini aja ngambeknya. Abang ...." Paul duduk di samping Laila, mendekatkan wajahnya, dan membenamkan wajahnya di bahu sang istri.


"Abang kangen sama Laila," ucap Paul lirih. Ia memeluk tubuh buah Laila yang terbaring di sisinya.


"Abang, sakit?" Laila mengusap bahu Paul. Lelaki itu bangkit lalu membaringkan tubuhnya di samping Laila.


"Abang sakit kalo kelamaan tidur sendirian." Paul memeluk tubuh Laila.


Untuk beberapa saat, Laila membiarkan Paul memeluknya. Ia sendiri pun sangat merindukan lelaki di sebelahnya. Sekelebat ingatannya kembali saat beberapa hari lalu memergoki Paul yang sedang berpelukan dengan Fitri.


"Jangan manja. Udah sana Abang pulang." Laila menghempaskan tangan Paul yang memeluk tubuhnya. Lelaki berkacamata itu terkejut saat mendapati reaksi Laila yang di luar dugaan.


"Kenapa? Laila masih marah sama abang soal kejadian tempo hari?" tanya Paul seolah bisa membaca apa isi kepala Laila. Wanita itu diam, sementara Paul beranjak dari kasur dan meraih laptop yang tergeletak di meja.


Paul menyalakannya dan memutar sebuah video yang berisi rekaman CCTV yang diberikan Mak. Laila bangun lalu duduk, menyandarkan punggungnya. Untuk beberapa saat ia terdiam dan melihat semua isi rekaman sampai habis.


"Jadi sekarang, apa Laila masih bisa marah sama abang? Kenapa abang harus dihukum atas perbuatan yang tidak abang lakukan." Paul meletakkan laptop di nakas, tangannya menggenggam jemari Laila. Tapi masih saja ditepisnya.


" Ya Allah, Sayang ...." Paul membenamkan wajahnya di pangkuan Laila. Lelaki berkacamata itu tak menyangka jika masalah ini akan berkepanjangan.


"Abang pulang!"


"Nggak mau. Abang masih mau di sini."


"Kasian Mak. Sana temani Mak. Bila perlu bawa gadis itu pulang ke rumah. Jangan minta Laila untuk pulang!"


"Mak udah pulang diantar Wak. Abang mau di sini temani Laila!" Paul mengangkat wajahnya dan menatap lekat.


"Laila nggak suka lihat wajah Abang!"


" Ya Allah ... istri abang kalo lagi ngidam begini bener. Nyiksa jadinya!"


Laila menyipitkan matanya. Ia benar-benar terkejut atas kalimat yang baru saja terlontar.


"Hamil? Siapa?" tanya Laila bingung. Pasalnya tadi saat bidan memeriksa, ia hanya mengatakan jika dirinya hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran.


"Istri abanglah yang hamil!" seru Paul dengan nada bicara girang, lalu mengecup kening Laila.


"Besok abang antar Laila cek kandungan," ucapnya lagi.


"Abang jangan becanda. Tadi dokter bilang kalo Laila hanya kelelahan. Bukan hamil."


"Makanya dokter minta abang antar Laila cek up besok."


Laila diam. Wajahnya menatap lurus ke depan. Tak memedulikan Paul yang masih menatapnya dengan penuh kerinduan.


"Laila mikirin apa?" Paul menggenggam erat tangan Laila. Ia berharap istri tersayangnya tidak marah lagi.


"Laila, takut."

__ADS_1


"Takut kenapa?"


"Takut Abang ninggalin Laila." Kedua mata Laila berembun. Perlahan air matanya jatuh membasahi pipi. Paul menyentuh pipi Laila, dan mengusap air matanya.


"Sampai kapanpun, cinta dan kasih sayang abang cuma untuk Laila. Paham!"


Laila mendekatkan wajahnya ke telapak tangan Paul, merasakan kehangatan dari sana.


"Jangan tinggalin Laila, Bang." Tubuh Laila luruh di pangkuan Paul. Dengan penuh kasih sayang, lelaki berkacamata itu mengusap pucuk kepala Laila.


Untuk sesaat keduanya hanyut dalam ketenangan. Hingga menit kemudian Laila kembali merasakan mual, lalu muntah. Paul tak tega melihat kondisi Laila yang terus menerus muntah. Wajahnya terlihat sedikit pucat, dan tubuhnya lemas.


"Laila belum makan apa pun sejak pagi. Kasih tau abang. Laila mau makan apa?" tanya Paul saat Laila kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Laila memutar bola matanya, mencoba memikirkan apa yang ingin dimakannya.


"Entah, Bang. Laila nggak mau makan apa-apa."


"Tapi kata bibi sejak pagi Laila belum makan nasi."


"Gimana mau makan. Cium aroma nasi aja mual, Bang. Udah ah. Abang jangan bawel, Laila mau tidur aja." Laila memutar tubuhnya, membelakangi Paul yang duduk di sisi ranjang.


Menyerah ... Paul berdiri hendak ke luar kamar, tapi langkahnya terhenti saat Laila memanggilnya. Perlahan Paul kembali mendekat.


"Apa, sayangnya abang, hmm."


"Temani Laila tidur,  mau?" pinta Laila dengan nada manja. Tangannya menepuk-nepuk kasur di sebelahnya. Paul tersenyum, tanpa menunggu lama, ia merebahkan tubuhnya di sebelah Laila. Tangan kirinya terbuka, dan memudahkan Laila meletakkan kepalanya di sana. Keduanya saling memeluk erat, saling melepas rindu setelah beberapa hari terpisah.


"Jangan tinggalin abang, Sayang." Paul mencium pucuk kepala Laila. Wanita itu menganggukkan kepalanya yang menempel di dada Paul.


"Jangan melakukan tindakan serupa hal kemarin, Bang. Laila bisa hancur!"


"Jangan kaya gitu lagi. Laila nggak bisa lihat abang sama yang lain."


"Abang paham, Laila. Sebisa mungkin abang akan jauhin semua wanita. Karena bagi abang, cuma Laila yang terbaik."


"Laila sayang, Abang."


"Abang tau, kok."


"Tau apa?"


"Tau kalo Laila sayang sama abang."


"Ish ... pede."


Keduanya tersenyum dalam dekap hangat. Perlahan Laila menutup matanya, dan mulai terlelap. Paul dengan setia menemani, tangan kanannya mengusap lembut perut Laila.


**


Paul turun dari ranjang perlahan, berharap tidak membangunkan Laila yang sedang tertidur. Lelaki berkacamata itu lantas menuju dapur, dan mencoba membuat sesuatu untuk Laila. Bibi yang sedang memasak pun membiarkan Paul melakukan apa yang ingin dilakukannya.


"Laila ke mana, Bang?" tanya bibi.


"Tidur, Bi." Paul memasukkan satu gelas beras ke dalam panci. Ia berniat membuatkan bubur agar Laila mau makan.


"Semoga Laila dan calon bayinya sehat selalu ya, Bang."

__ADS_1


"Aamiin, Bi."


Bibi pun meninggalkan Paul sendiri, karena masakannya sudah beres. Tiga puluh menit berlalu, dan bubur buatan Paul sudah siap.


Paul sedari dulu terbiasa memasak. Hidup di perantauan membuatnya harus mandiri. Hingga mau tidak mau ia belajar memasak, meski bukan untuk orang lain, setidaknya ia bisa masak untuk dirinya sendiri.


Paul membawa satu mangkuk bubur ke dalam kamar. Saat dirinya masuk Laila sudah duduk di sisi ranjang. Lelaki berkacamata itu meletakkan nampan di nakas lalu duduk di sebelah Laila.


"Makan, ya. Abang bawain bubur."


Laila mengangguk. Ia pun merasakan perutnya terasa lapar, tapi tak tahu harus makan apa. Rasa mual juga ingin terus muntah membuatnya kehilangan selera makan. Paul menyuapi Laila, sampai tak terasa bubur habis tak tersisa.


"Abang beli bubur di mana?" tanya Laila saat mangkuk itu benar-benar kosong.


"Mau tahu?"


"Humm."


"Mau ketemu siapa yang bikin?"


"Emang bisa?"


"Bisa ...," ucap Paul dengan bangga.


"Siapa yang bikin?"


"Kalo tau siapa yang bikin bubur ini. Laila mau apa?"


"Laila mau kasih cium."


"Kalo gitu, cium abang."


Laila meraih wajah Paul, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi kanannya. Paul menatapnya heran, karena dengan begitu mudahnya Laila memberikan kecupan setelah kemarin sama sekali enggan disentuh.


"Abang nggak usah bingung gitu. Laila tahu kalo bubur ini Abang yang buat. Makanya Laila berani bilang mau kasih cium sama yang buatin bubur ini."


Paul tersenyum, dan membalas mencium pipi kanan istrinya.


"Makasih. Abang sayang Laila."


Seharian keduanya menghabiskan waktu di dalam kamar. Laila yang selalu merasa tak enak, bahkan tak suka melihat matahari membuatnya terus-menerus berada di dalam kamar.


**


Pagi ini Laila dan Paul bersiap menuju dokter kandungan. Setelah berpamitan pada Abi dan bibi, Paul melajukan mobilnya menuju jalan raya. Tak berselang lama, kendaraan berwarna putih tersebut tiba di sebuah klinik yang cukup ramai. Tanpa harus mengantri keduanya memasuki ruang periksa.


Seorang wanita berpakaian serba putih meminta Laila berbaring di ranjang periksa. Paul dengan setia menemani dan terus berada di samping sang istri.


Cairan putih dioleskan ke bagian perut Laila, dan dengan mudah dilakukan USG. Paul dan Laila mendengarkan dengan saksama, jika usia kehamilan Laila memasuki tiga Minggu.


Wajah Laila terlihat bahagia, jika pada akhirnya ia bisa hamil. Paul menggenggam tangan Laila, keduanya beradu pandang dan tersenyum bahagia. Dokter juga menjelaskan jika keadaan kandungan Laila dalam keadaan baik juga sehat. Hanya saja, ngidam Laila yang harus diatasi. Selesai USG, dokter memberikan resep vitamin, untuk mengurangi rasa mual.


**


Paul meminta Laila menunggu di dalam mobil, sementara dirinya ke apotik guna menebus resep obat yang disarankan. Setelah itu, keduanya pun kembali ke rumah Paul, sesaat sebelumnya Laila mengabarkan pada Abi bahwa mereka akan pulang ke rumah Mak.

__ADS_1


Mak Nur menyambut kedatangan Laila dengan pelukan hangat. Laila meminta maaf pada Mak karena sikapnya yang terlalu kekanak-kanakan. Wanita paruh baya itu mengangguk paham. Ia lalu menyuruh Laila beristirahat di dalam kamar. Laila bersyukur memiliki mertua yang sangat menyayanginya.


__ADS_2