Mantu Untuk Mak

Mantu Untuk Mak
Pengantin Baru


__ADS_3

Laila membuka mata saat telinganya mendengar suara ayam berkokok. Diliriknya jam di dinding, pukul satu dini hari. Bukan hal aneh baginya mendengar ayam berkokok tengah malam begini. Ia berusaha menggerakkan tangan yang terasa kebas. Ia berusaha merenggangkan tangan Paul yang memeluk tubuhnya. Susah, padahal lelaki itu masih tertidur, pikir Laila. Kepalanya mendongak, menatap wajah sang suami.


"Abang memang tampan, Laila!" Paul mengembuskan napasnya berat, membuka mata lalu menoleh ke arah sang istri yang masih tertidur di lengannya sedang memandangnya.


"Ish ...." Laila berdecak. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia sendiri enggan beranjak untuk bangun, dekapan Paul benar-benar hangat dan memberikan rasa yang sangat nyaman.


"Laila nggak tidur?" tanya Paul. Gadis itu diam tak menjawab. Pandangannya menatap lurus ke langit-langit kamar.


"Laila ...." Tangan kiri Paul menyentuh pipi, mengangkat wajah Laila agar menatapnya.


"Laila mikirin apa?"


"Nggak mikir apa-apa, Bang."


"Kenapa melamun?"


"Nggak apa-apa." Laila menggeser kepalanya menjauh dari dada Paul, meraih ikat rambut di atas nakas, "Laila mau ke kamar kecil."


Laila turun dari ranjang, bergegas ke kamar mandi.


"Laila," panggil Paul. wanita itu menghentikan langkahnya, menoleh.


"Nggak ada hadiah pagi gitu buat kesayangan?"


"Maksud, Abang?" Laila berjalan mendekat dan berdiri di sebelah Paul yang masih berbaring.


Paul bangun lalu duduk bersandar, "sini abang kasih tau." Paul menarik lengan Laila, meraih tubuh sang istri ke atas pangkuannya.


Cup ....


Sebuah ciuman mendarat di bibir Laila. Paul menatap wajah istrinya dengan penuh cinta. Sesaat mata keduanya beradu pandang. Tubuh Laila direngkuhnya dalam pelukan, debar jantung semakin kencang saat dada keduanya beradu. Laila tampak sangat malu diperlakukan begitu mesra, saat leher juga belakang telinganya tak lolos dari ciuman Paul.


Lelaki itu kembali merebahkan tubuh Laila di atas kasur, kecupan Paul semakin intens di wajah juga leher Laila. Sesekali lelaki itu menyebut nama 'laila dengan suaranya yang parau.


Tubuh Laila bergetar saat Paul menghujaninya dengan kecupan. Ia bahkan membiarkan saat tangan lelaki itu melepaskan satu persatu kancing baju tidurnya. Sesekali Laila menyebut nama 'paul dengan suara yang tak kalah parau, disela napasnya yang memburu, juga desahan yang lolos dari mulutnya.

__ADS_1


Paul menarik selimut, lalu menutupi tubuh Laila yang bergetar. Laila menutup mata, ia benar-benar merasa tak berdaya saat Paul menghujaninya kecupan di bahu, juga belahan dadanya. Laila meletakkan kedua tangan di leher Paul, dan menguncinya dalam pelukan.


"Sayang ...." Paul membisikkan kata-kata mesra di telinga, membuat Laila semakin tenggelam dalam gairah.


**


Laila membuka mata, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Matanya menatap ke arah Paul yang masih tertidur nyenyak di bahunya, terdengar dari suara dengkuran yang lumayan keras. Sebagian tubuh Paul menindih tubuh Laila, sekuat tenaga Laila menggeser badan lelaki itu.


Laila menepuk-nepuk punggungnya pelan, ingatannya memutar kejadian semalam. Saat dirinya benar-benar hanyut dalam cumbu rayu Paul. Tenggelam dan menikmati setiap kecupan. Laila mengusap pucuk kepala suaminya, ia benar-benar lelaki terbaik. Usai menghujaninya dengan ciuman yang memabukkan, mengajaknya hingga mencapai puncak surga dunia, Paul tidak membiarkannya begitu saja, dengan mesra ia membasuh juga kembali memasangkan pakaian Laila seperti semula.


Mata Laila membelalak saat melirik jam di dinding, pukul setengah enam, ia terlambat salat Subuh.


"Abang, kita terlambat solat Subuh." Laila menepuk bahu Paul. Lelaki itu menggeliatkan tubuhnya. Matanya terbuka, bibirnya menyunggingkan senyuman.


"Assalamu'alaikum, Umi Laila!" seru Paul. Lelaki itu meletakkan kepalanya di dada Laila.


"Abang, ini udah telat buat solat Subuh, loh!" seru Laila galak. Ia menggeser tubuh Paul, dan melepaskan diri dari pelukannya. Dengan cepat Paul menarik kembali lengan Laila, dan merengkuhnya dalam pelukan.


"Abang mau minta lagi," ucap Paul, kembali menciumi pipi hingga belakang telinga. Laila menahan napasnya, berusaha untuk tidak tergoda oleh cumbuan suaminya. Sadar Laila tidak memberikan respon, Paul menghentikan ciumannya dan membiarkan Laila mandi.


Usai mandi dan solat, Laila mengenakan gamis yang dibelikan Paul saat sebelum pernikahan. Wanita itu terlihat lebih anggun. Bahkan si pemberi pun dibuat tak berkedip.


"Ciye ... pengantin baru bangunnya pagi bener!" seru Bibi yang sedang membereskan perkakas dapur. Laila tersenyum simpul menanggapi saudara dari Abi nya itu. Wanita salihah yang berusia lima puluh tahun itu begitu sayang padanya, bahkan ia adalah pengganti umi saat beliau wafat. Abi enggan untuk menikah lagi, dan memercayakan dirinya untuk mengurus Laila.


"Abi, ke mana, Bi?" tanya Laila saat tidak mendapati sosok Abi nya di ruang mana pun. Biasanya selepas solat subuh, ia sudah berada di dapur menyiapkan secangkir teh hangat. Abi Anwar terbiasa menyiapkan segala keperluannya sendiri.


"Abi ada di depan, liatin orang yang lagi bongkar tenda."


Laila meraih toples yang berisi gula, ia membuat satu cangkir kopi hitam untuk Paul, juga teh untuk Abi.


"Laila bikin apa?" Paul berdiri di belakang Laila, kedua tangan melingkar di pinggangnya, pelan ia mengecup lembut pucuk kepala. Bibi yang menyaksikan adegan romantis itu hanya bisa senyum. Ia pun turut bahagia melihat keponakannya bahagia.


Paul melirik bibi yang sedang sibuk meletakkan perkakas besar ke tempatnya. Dua buah dandang berukuran besar biasa diletakkan di atas , dengan sekuat tenaga wanita itu menggeser dan mengangkatnya. Benda itu terlalu berat, bibi tidak kuat mengangkatnya.


Segera Paul mendekati bibi, dan membantu mengangkat dandang lalu meletakkannya di atas. Wanita itu menepuk bahu Paul, dan mengucapkan terima kasih. Ia lalu menuntunnya ke ruang tamu, menyiapkan satu piring kue. Abi Anwar muncul dari luar, dan duduk di sebelah Paul, tak lama Laila datang membawa minuman untuk keduanya.

__ADS_1


"Hari ini Paul mau bawa Laila ke rumah ya, Abi. Boleh?" tanya Paul.


"Siapa yang akan melarang abang membawa Laila? Anak Abi sekarang sudah seratus persen tanggung jawab Laila."


"Terima kasih, Abi."


"Oya, Laila. Nanti bawa itu juga buat mertua kamu, ya." Bibi menunjuk bungkusan merah di atas meja. Laila mengangguk.


Laila berdiri dan meninggalkan Abi dan Paul berdua, ia membantu bibi membereskan dapur juga mengumpulkan sampah sisa pesta kemarin. Laila meraih sapu hendak membersihkan halaman belakang rumah, yang kemarin dipakai dapur dadakan.


"Nggak usah, nanti baju kamu kotor. Udah, kamu urus aja suamimu. Ini biar bibi yang beresin." Bibi merebut sapu juga pengki dari tangan Laila. Dari dulu, ucapan wanita itu sama sekali tidak bisa dibantah. Ia pun menuruti, kembali ke dalam rumah, matanya mencari sosok kedua lelaki yang tadi mengobrol di ruang tengah, kini tidak ada di sana.


Laila masuk ke dalam kamar, ia melihat Paul sedang mengangkat bantal dan menaruhnya di atas kursi, hendak merapikan tempat tidur.


"Abang lagi apa?"


"Beresin tempat tidur, dong."


"Nggak usah. Biar Laila aja yang kerjakan." Segera ia meraih bantal yang dipegang Paul.


"Bukannya tadi pagi ada yang ngeluh sakit pinggang, ya?" ucap Paul dengan nada menggoda. Lelaki itu menatap wajah istrinya yang salah tingkah. Laila membuang muka, menghindari tatapan Paul.


Laila membalikkan badannya, membiarkan Paul membereskan tempat tidur sesuai keinginannya.


"Maafin abang, ya. Kalo tadi malam tidak memperlakukan Laila dengan lembut." Paul memutar tubuh Laila agar mengarah padanya, wajahnya tertunduk. Ia tak menjawab permintaan maaf dari lelaki itu.


"Kenapa diam? Laila marah sama abang?" Paul merengkuh tubuh Laila dalam pelukannya, ia ingin memberikan ketenangan pada sang istri.


"Laila juga minta maaf, jika tidak memberikan kesan di malam pertama kita?" Laila membenamkan wajahnya di dada Paul.


"Loh, kata siapa? Abang bahagia. Laila sudah memberikan, juga memasrahkan segalanya pada abang."


"Maksud abang?" tanya Laila bingung.


"Ahh ... sudahlah. Pokonya Abang bahagia dan bersyukur bisa mendapatkan Laila!" Paul semakin mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Sudah siap bermalam di kamar Abang, Sayang?" Lagi-lagi Paul menggoda Laila.


"Ish, Abang nakal!" Laila mencubit gemas perut Paul yang rata. Keduanya tampak bahagia dalam pelukan.


__ADS_2