
Laila memasukkan beberapa gamis dan hijab ke dalam tas. Tak lupa laptop juga beberapa berkas-berkas sekolah yang harus segera diselesaikan.
"Gimana, udah siap?" Paul menyentuh bahu Laila. Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Paul mengangkat tas hitam berukuran sedang itu lalu memasukkan ke dalam bagasi mobil, beserta bungkusan merah yang sudah disiapkan bibi.
Keduanya menaiki mobil milik keluarga Laila. Pengantin baru duduk di depan dekat sopir, sehingga memudahkan untuk Paul mengarahkan ke rumahnya. Abi Anwar juga bibi duduk di kursi tengah.
Suasana kota Sidempuan pagi ini terlihat cerah, matahari pagi menerangi bumi dengan sempurna, sesempurna kebahagiaan yang dirasakan Paul dan Laila.
Keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Laila sendiri bingung apa yang harus dibicarakan, karena ia sendiri tidak tahu hal apa yang akan dibicarakan. Sedangkan lelaki itu terus saja memandangi Laila, membuat wanita itu salah tingkah.
"Abang liatin Laila begitu. Emang ada yang salah di wajah Laila?" tanyanya. Ia merasa risih juga dipandangi sedemikian rupa.
"Nggak ada apa-apa. Abang nggak mau lepasin mata abang dari memandang Laila. Takutnya pas abang nengok ke arah lain, Laila udah nggak ada di situ."
Wajah Laila merona, lelaki itu benar-benar pintar menggoda dan membuat hatinya seolah terbang.
"Abang belajar gombal dari siapa?"
"Entah. Sejak kenal Laila abang jadi begini."
"Bohong!"
"Demi Allah!"
"Abang dengan mudah goda Laila. Sudah pasti abang begini sama semua wanita. Iya, 'kan?" Ada nada penekanan dari kalimat yang terlontar, itu membuat Paul sedikit marah. Ia tak suka dituduh begitu. Apa lagi menyangkut dirinya yang memang sulit bergaul dengan wanita mana pun.
Paul meraih tangan Laila dan menaruhnya di dada, "cinta dan sayang abang, itu cuma ada Laila. Laila adalah wanita pertama dan akan jadi yang terakhir yang akan abang goda. Paham!" ucap Paul, tegas.
Laila memandang ke arah Paul, terlihat keseriusan dari wajahnya. Laila merasakan debaran di dada Paul yang ia rasakan dari tangan yang berada di sana.
"Maafkan Laila, Bang." Laila menundukkan wajahnya, ia merasa bersalah karena sudah mengatakan kalimat yang membuat suaminya marah. Paul mengusap tangan Laila, ia paham jika istrinya tidak mungkin bermaksud membuat perasaanya tak enak.
Sepasang pengantin baru itu mengobrol dengan santai, seolah dunia milik mereka berdua, bahkan tak memedulikan bibi yang memerhatikan ke arah keduanya dengan sesekali senyum.
"Gang depan belok ya, Bang." Paul memberikan instruksi kepada sopir agar berbelok. Mobil yang ditumpangi pun berhenti di sebuah rumah panggung bercat hijau.
Paul menggandeng tangan Laila saat memasuki halaman rumahnya. Banyak pasang mata menatap ke arahnya. Bagaimana tidak, seorang Paul dengan tegas menolak banyak lamaran yang datang padanya dan memilih Laila yang berasal dari keluarga sederhana sebagai pendamping hidup.
"Laila nggak apa-apa?" tanya Paul. ia menyadari bahwa ada yang memandang ke arah mereka.
"Nggak apa-apa, Bang." Laila menggenggam erat tangan Paul.
__ADS_1
Mak Nur berdiri di ambang pintu, menyambut kedatangan rombongan. Dibantu salah seorang keluarga membawakan barang-barang dari bagasi dan memasukkannya ke dalam rumah. Paul menjinjing tas Laila dan meletakkan di dalam kamarnya.
"Assalamu'alaikum, Mak." Laila mencium punggung tangan Mak Nur ta'zim, disusul Paul melakukan hal yang sama. Abi Anwar dan bibi menyalami Mak Nur. Semuanya pun masuk dan duduk di ruang tamu.
Perbincangan hangat menyelimuti dua keluarga yang kini menjadi satu. Mak Nur dengan tangan terbuka menerima kehadiran Laila, ditambah ia hanya memiliki satu orang putra, dan dengan hadirnya Laila menjadi lengkap kebahagiannya.
Abi Anwar dan bibi hanya bisa berkunjung sebentar, itu pun karena ingin mengantar Laila ke rumah mertuanya. Lelaki paruh baya itu sudah menyerahkan sepenuhnya Laila pada Paul, ia berharap semoga Paul mampu menjaga Laila dengan segenap jiwanya.
Sepulangnya Abi Anwar dan bibi, Mak Nur menyuruh Laila beristirahat di kamar. Wanita paruh baya itu paham benar jika menantunya masih sangat lelah usai pesta semalam. Mak Nur berjalan menuju dapur, meninggalkan Paul dan Laila yang masih terduduk di ruang tengah.
"Laila capek? Istirahat aja di kamar abang." Paul membimbing Laila masuk ke dalam kamarnya. Ini adalah kali pertama Laila masuk ke dalam kamar laki-laki. Sikap canggung Laila bisa dirasakan oleh Paul, lelaki itu pun memeluk istrinya dan membimbingnya duduk di sisi ranjang.
"Laila tiduran di sini, ya. Abang mau lihat Mak." Paul meraih sebuah bantal, lalu menepuk-nepuk. Perlahan ia merebahkan kepala Laila. Paul bangkit berdiri hendak keluar kamar, dengan cepat Laila meraih tangan Paul.
"Abang mau ke mana? Ngapain?" tanyanya.
"Abang mau lihat Mak sebentar. Nanti abang balik lagi."
"Laila ikut."
"Nggak usah. Lagian tadi Mak nyuruh Laila istirahat. Nanti kalo Mak liat Laila masih di luar, Mak bisa marahin abang."
Paul mengecup kening Laila, dan berlalu dari dalam kamar. Lelaki itu mencari sosok sang Mak, wanita paruh baya itu sedang merapikan bungkusan pemberian keluarga Laila.
"Semalam tidur nyenyak, Bang?" tanya Mak. Tangannya masih sibuk membuka satu persatu bungkusan kue.
Paul tersenyum, "nggak bisa tidur, Mak. Rasanya aneh aja."
"Aneh bagaimana?" tanya Mak heran.
"Aneh aja. Laila adalah wanita kedua setelah Mak yang pernah tidur sama abang."
"Lalu?"
"Ya gitu deh." Paul sendiri bingung bagaimana menjabarkan keadaan hatinya yang bahagia. Yang ada dalam hatinya hanyalah ia tidak ingin berjauhan dengan Laila.
"Abang istirahat lah. Abang juga semalam pasti nggak tidur." Mak Nur bisa melihat dengan jelas bagaimana keadaan putra semata wayangnya, terlihat dari guratan hitam di matanya.
"Ya udah. Mak jangan ke ladang dulu. Mak juga istirahat." Mak Nur mengangguk. Paul beranjak dari dapur kembali ke dalam kamar.
Laila duduk di meja kecil di sudut kamar, pokus pada laptop di hadapannya, dan tidak menyadari kalau Paul sudah berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Istri abang lagi ngapain?" Paul membungkukkan badannya dan mencium lembut pucuk kepala Laila.
Laila terkejut saat kedua tangan Paul melingkar di lehernya.
"Ya Allah, Abang. Sejak kapan ada di belakang Laila?"
"Sejak tadi. Laila aja yang terlalu serius."
"Ya jangan bikin Laila kaget, dong." Laila berdiri dari kursi, berusaha melepaskan diri. Dengan cepat Paul meraih tangan Laila dan meraih tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Mulai sekarang, Laila harus terbiasa dengan abang. Soalnya abang nggak bisa jauh dari Laila." Paul mendekatkan bibirnya ke wajah Laila, membuat wanita itu salah tingkah.
"Ish ... Abang nakal." Laila membenamkan wajahnya di dada Paul, lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.
pandangan Laila terhenti pada sebuah benda di sudut kamar sang suami. Perlahan ia mengendurkan pelukannya.
"Abang merokok?" tanya Laila. tangannya menunjuk asbak yang masih ada puntung rokok. Paul menundukkan wajahnya, malu.
"Iya ... tapi, abang janji. Mulai saat ini abang akan berhenti merokok. Demi Laila!"
"Kenapa demi Laila? Harusnya demi diri Abang sendiri. Demi kesehatan Abang!" ucap Laila. Matanya menatap tajam ke wajah Paul yang merasa bersalah.
"Iya ... istri abang yang paling cantik!"
"Gombal!" Laila mencubit gemas perut Paul, membuat lelaki itu sedikit meringis.
"Laila!" panggil Paul.
"Iya, kenapa, Bang?" Laila menatap heran ke wajah Paul yang memandangnya dengan tatapan menggoda.
"Yuk!"
"Apa?" tanya Laila bingung.
"Ayuk!"
"Ke mana?"
"Ahh ... Laila suka gitu!" Tak sabar, Paul meraih tubuh Laila dalam gendongan, lalu menidurkannya di ranjang.
"Ini yang abang mau!" Paul mendekatkan wajahnya, mencium bibir tipis Laila. lagi-lagi, Laila hanya bisa pasrah saat lelaki yang dicintainya kembali membawanya ke dalam kebahagiaan.
__ADS_1