Marru Pahlawan Dunia Lain

Marru Pahlawan Dunia Lain
dua belas


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan dari Swie semua terdiam termasuk , Harris dan teman-temannya , sudah cukup lama juga mereka berbincang-bincang pada akhirnya semua kelelahan dan tertidur lelap ,


Tidak terasa malam yang telah larut begitu cepat bergulir , tidak terasa pula Pagi pun telah tiba , pada saat ini Marru sedang mengamati jendela yang berada dikamar Hotel , ia merasa ada yang janggal pada satu atap bangunan yang cukup jauh jika dilalui dengan berjalan kaki , ia melihat bagian atap atau roof top terdapat satu sosok hitam , namun sosok tersebut sepertinya tidak ingin bereaksi apapun ,


Dari gedung tersebut yang terdapat lantai tujuh terlihat satu nyala lampu penerangan , ia sendiri tidak dapat memastikan apakah didalamnya masih ada manusia ataupun sebaliknya ,


Marru terus mengamati gedung tersebut dari atas sampai lantai tujuh ,


Rais yang melihat Marru yang tidak bergeming sedari tadi , ia pun mendekati dirinya ,


" Marru , ada apa .. kenapa kamu begitu serius melihat sesuatu " tanya Rais yang membuat Marru melihat ke arahnya ,


Marru menunjuk kearah gedung tersebut ,


" Lihat , disana " katanya sambil menunjuk kearah gedung , Rais seketika terkejut melihat sesosok tubuh yang memiliki bulu lebat dengan taring dan ekor yang bercabang ,


" Itu , makhluk itu adalah manusia yang terkena dampak Blue Hole Raksasa " kata Rais spontanitas yang membuat semua orang yang saat ini berada di ruangan hotel tersebut terperanjat , bahkan Merlina yang baru saja terbangun dari tidurnya ia pun segera berdiri menghampiri Marru dan Rais , begitu juga dengan yang lainnya mereka mencoba melihat makhluk yang dimaksud oleh Rais itu ,


Semua orang tercengang dan bergidik ngeri , membayangkan sosok yang sangat menakutkan itu , jika mereka di serang olehnya , apakah diantara mereka akan selamat ,


Semua orang yang berada didalam Ruangan sibuk dengan alam pikiran mereka ,


" Barru , Swie kita harus segera bertindak sebelum makhluk itu dapat turun dan datang kemari " kata Marru ,


Swie dan Barru hanya menganggukkan kepalanya saja , beda dengan Rais ia pun masih terdiam dan pada akhirnya ia pun ingin bertarung bersama dengan Barru dan Marru ,


" Aku ikut kalian " kata Rais yang segera mencari senjatanya ,


" Kalian disini menjaga para wanita , jangan ada yang keluar sebelum kita kembali " kata Marru kepada semua yang tidak ikut bertarung ,


" Marru , …. " Harris ingin menghentikan langkah Marru dan teman-temannya , namun ia sadar bahwa dirinya tidak dapat membantu Marru melawan monster itu ,


Marru berbalik menghadap Harris , namun Harris hanya tersenyum sebab ia sendiri tidak tahu harus berkata apa ,


" Hati - hatilah " kata Harris lagi , Marru menganggukkan kepalanya lalu ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu ,


Barru , Rais , Swie dan Marru segera berlarian menuju gedung tersebut , walaupun jaraknya terlalu jauh mereka terus berlari dengan cepat , banyak jalan dan lorong penghubung menuju arah gedung tersebut , walaupun mereka tidak mengetahui secara persis letak gedung itu namun dengan adanya Swie mereka dapat melalui jalan pintas yang paling terdekat ,


Keempat pemuda itu terus berlari sambil memanjat dan melompati pagar yang menghalangi langkah mereka , sampai pada akhirnya mereka tiba di lokasi gedung tersebut ,


" Kita sudah sampai didepan pintu masuk gedung " kata Swie yang menjadi pemandu mereka ,

__ADS_1


" Iyah , bagaimana dengan rencana selanjutnya " Rais mencoba bertanya rencana apa yang akan mereka lakukan ,


" Masuk saja , tapi tetap waspada " kata Marru yang sudah merubah penampilannya menjadi pahlawan dari Dunia Lain ,


Begitu juga dengan Barru dan Swie , mereka segera merubah dirinya , Rais segera mengeluarkan senjata yang dibuat oleh Swie , senjata itu mengeluarkan energi yang dapat membunuh binatang apapun ,


Keempat pemuda itu segera memasuki ruangan tersebut , satu demi satu ruangan mereka masuki , sampai akhirnya mereka tiba diatas lantai 2 , suasana masih sunyi namun suara monster itu terdengar dari atas lantai dua ,


Keempat pemuda itu terus menyusuri lorong koridor gedung , sampai pada akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan yang dilihat oleh Marru ,


Secara perlahan-lahan knop pintu dibuka dari luar ruangan oleh Barru , ketiganya berjalan dari arah belakang Barru ,


Setelah pintu terbuka lebar , ruangan itu masih temaram namun tidak redup , mereka berempat menyeruak masuk kedalam ruangan tersebut ,


" Marru , sepertinya tidak ada orang " kata Barru yang sudah lebih dulu memasuki ruangan tersebut ,


" Coba periksa keseluruhan ruangan , jangan ada satupun terlewatkan " Marru memerintahkan semua teman-temannya ,


" Baiklah " jawab Swie dan Rais secara bersamaan , mereka berempat berpencar keseluruhan ruangan , namun mereka tidak menemukan tanda-tanda , dari dalam ruang yang lainnya Swie menemukan seorang gadis kecil tengah meringkuk sambil menangis ,


" Swie , gadis kecil itu " Barru mendekati mereka berdua ,


" Missel , jangan takut itu teman kak Swie , mereka datang untuk menyelamatkan missel , jadi missel jangan takut " kata Swie mencoba membujuk missel gadis kecil yang ditemukan oleh Swie ,


Dengan malu-malu Missel keluar dari belakang Swie ,


" Kak , missel takut … papa missel belubah menjadi monstel " kata missel dengan nada bicara anak kecil ,


" Jadi yang diatas itu papa missel " Marru pun mendekati missel bocah kecil yang sangat cantik itu ,


Missel menjawab pertanyaan Marru dengan anggukan kepala saja ,


Keempat pemuda itu menghela nafas panjang , ia pun merasa ibah melihat kondisi missel yang sudah tidak memiliki siapapun dalam usia masih kecil ,


Usia missel sekitar empat atau lima tahunan , bocah kecil itu membuat Swie memeluk dan menggendongnya ,


" Aku punya ide , kalian bereskan monster itu , biar missel aku bawa kehadapan tuan putri " kata Swie yang saat ini sudah menggendong tubuh kecil missel ,


" Yah , baiklah kau jaga dia dengan baik , kami akan membereskan semuanya " kata Marru yang diangguki oleh Rais dan Barru ,


Mereka berpencar kearah masing-masing ,

__ADS_1


Marru dan kedua temannya yaitu Rais dan Barru menuju lantai paling atas dari gedung yang saat ini mereka selidiki ,


Sedangkan Swie ia akan kembali kehottel tempat Hellin dan yang lainnya sedang menunggu kabar dari Marru dan teman-temannya ,


Swie mengunakan energi transformasi teleport , ia dengan secepat kilat menuju gedung tersebut dengan membawa tubuh kecil missel , sesampai mereka didepan ruang Hotel tempat Hellin berada , Swie mengetok pintu ruangan tersebut ,


" Tok .. tok " pintu diketok dari arah luar ruangan , dari dalam ruangan muncullah sandres yang berusia Sebelas tahun itu ,


" Kak Swie datang " katanya yang langsung berhambur menggandeng tangan Swie , semua berbalik melihat kearah Swie yang saat ini sedang menggendong bocah kecil bernama Missel , bahkan saat ini Damin tengah duduk sambil bersandar di atas tempat tidur ,


" Damin , kamu sudah sadar " Damin yang tidak mengenali Swie ia pun hanya mengangguk saja , seraya tersenyum kearah Swie yang saat ini menggendong bocah kecil yang sangat cantik ,


" Kak Swie , siapa gadis kecil itu " sandres bertanya kepada Swie siapa gadis yang saat ini berada di dalam gendongan Swie ,


" Dia missel yang kami temukan di gedung itu , sandres berteman dengan missel yah " kata Swei seraya menurunkan Missel dari gendongannya ,


Missel yang malu-malu ia kembali bersembunyi dibelakang Swie , Swie pun berjongkok sambil tersenyum , ia kembali membujuk Missel agar mau menjadi teman sandres dan menganggap Hellin sebagai tantenya yang akan menjaga missel ,


Gadis kecil itu akhirnya mau mengikuti bujuk rayu Swie terlebih lagi Hellin yang begitu lembut merayunya , sandres pun sangat senang bertemu dengan missel yang akhirnya mereka berteman dan mau bermain bersama ,


Hellin memberikan missel sebotol susu hangat dan beberapa makanan yang missel inginkan kebetulan juga makanan tersebut tersedia pada perbekalan mereka ,


Missel ditemani oleh sandres memakan roti yang ingin disantapnya , mereka berdua seperti kakak beradik , membuat Swie sangat terharu melihat kondisi Missel yang tidak merasa terbebani oleh masalah yang sudah dihadapinya , namanya juga masih bocah mana tahu tentang urusan orang dewasa ,


Untuk saat ini missel tidak bertanya tentang kedua orang tuanya ,


Swie akhirnya berpamitan kepada semua teman-temannya untuk membantu Marru dan yang lainnya ,


" Tuan putri , saya akan membantu pangeran " kata Swie yang sudah membungkuk dihadapan Hellin ,


Hellin pun mengijinkan Swie membantu Marru dan yang lainnya ,


Seberkas asap putih tebal menggumpal , dengan hilangnya asap tersebut tubuh Swie menghilang ,


Harris yang baru mengetahui siapa Swie mencoba bertanya kepada Hellin dan Sena ,


" Kak , siapa kak Swie itu " tanya Harris kepada Sena dan Hellin ,


" Sebenarnya .. " Hellin menjedah ucapannya , yang pada akhirnya ia pun bercerita siapa , Marru , Barru , Swie dan dirinya ,


" Oh .. pantas saja , kalian sangat berbeda , bahkan aku pikir kak Marru dan Rais itu adalah saudara kembar , ternyata bukan dan kalian adalah utusan dari dunia lain , namun tubuh kalian adalah manusia seutuhnya " kata Harris bersama teman-temanya ,

__ADS_1


" Iyah begitulah , kami hanya ingin mencari kedamaian dan membantu kalian serta mengembalikan Dunia ini seperti dulu " kata Hellin lagi , mereka pun mempercayai penjelasan dari Hellin , lain halnya dengan Missel dan Sandres kedua bocah itu tengah asik bermain dan sesekali memakan cemilan yang disediakan oleh Hellin dan Merlina ,


__ADS_2