
Dia bertemu dengannya saat sedang menjalankan rawat inap di salah satu rumah sakit yang berada di kota Seoul, Korea Selatan. Dia mengalami sebuah kecelakaan mobil karena mencoba mengakhiri hidupnya akibat cinta tulus yang ia miliki, dikhianati begitu saja oleh gadisnya. Gadis yang disebut sebagai gadisnya itu hanya mempermainkannya, memloroti hartanya dan meninggalkannya begitu saja tanpa ada sebab dan akibat bersama laki-laki lain. Hal itu juga membuat pemuda bernama Kim Taehyung yang merupakan kakak kandung keduanya, membenci dirinya hingga sekarang.
Pemuda yang hatinya telah rapuh itu bernama Kim Jungkook. Ia terpuruk dalam kegelapan saat ini, dan tidak ingin memainkan musik atau mendengar alunan melodi. Padahal mendengarkan sebuah musik atau melodi adalah rutinitas kesukaanya setiap hari, namun sepertinya rasa suka itu sudah ia kubur jauh di dalam hatinya yang paling dalam. Hingga ia berharap, jika nanti akan ada seseorang yang membuatnya kembali menyukai hal tersebut.
"Sudah ku bilang berapa kali, aku tidak ingin meminum obat itu. Kau paham, Hyung !" Ucapnya kasar kepada seorang pemuda yang lebih tua darinya .
Kim Jimin, nama orang tersebut. Ia adalah kakaknya yang pertama dan sangat menyayangi adik bungsunya ini begitu tulus. Berbeda dengan Kim Taehyung yang hanya bisa menyindirnya dan benci dengannya semenjak kejadian itu. Itu hanya dalam perasaan Jungkook saja.
"Biarkan saja anak ini, Hyung ! diperhatikan malah ngelunjak. Aku tidak pernah suka dengan dia dari dulu, semenjak dia menghabiskan harta keluarga kita hanya untuk gadis nakal!" Sindiran itu keluar dari mulut Kim Taehyung dengan penuh amarah.
"Kau pikir aku akan merengek seperti bayi?" Jungkook membalasnya dengan menahan air mata yang mungkin sebentar lagi akan keluar dari tempatnya.
"Kau mau kemana, Kook?" Tanya Kim Jimin yang melihat Jungkook akan pergi dari ruangan rawat inapnya. Dan menaruh obat di meja sebelah ranjang pasien.
"Biarkan dia pergi. Sekalian jika bisa, mati saja. Terserah dia mau kemana ... Aku begitu membencinya." Taehyung mengeluarkan kalimat yang seharusnya tidak keluar dari mulut seorang kakak.
Jungkook memberhentikan kursi roda yang akan membawanya keluar dari ruangan ini. Kata-kata yang keluar dari mulut sang kakak berhasil membuat air mata yang ia tahan supaya tidak terjatuh, akhirnya terjatuh juga. Jungkook mencoba mengusap air matanya yang telah jatuh lalu menjawab sindiran Taehyung.
"Kau ingin aku mati? Tetapi kenapa kau menyelamatkanku saat kejadian kecelakaan itu?" ucapnya sambil menatap tajam mata Taehyung dengan matanya yang kini sudah memerah.
Kemudian ia pergi dari tempat yang hanya akan membuatnya menjadi semakin merasa bersalah itu dengan kursi roda yang ia naiki.
"Tae!!! Sadar! apa yang kau katakan kepada adik bungsumu itu sangat menyakitkan!" Bentak Jimin pada Taehyung karena yang Taehyung katakan tadi sangat kejam.
"Aku membencinya!" Taehyung mengucapkan kalimat kejam itu lagi, walaupun kini matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Taehyung segera pergi dari kamar rawat Jungkook. Entah kemana arah tujuannya, ia tidak tahu. Tetapi yang ia tahu dari hatinya yang terdalam, ia tidak bisa membenci adik bungsunya itu.
Langkah kakinya kini tertuju ke arah parkiran mobil di rumah sakit ini.
__ADS_1
"Aku membencimu, Kook! Aku membencimu!" Taehyung terus saja merapalkan kalimat itu walaupun hatinya berkata lain.
"Jika kau ingin tau, kenapa aku membencimu. Aku membencimu karena kau memandangku sebelah mata! kau menganggap ku egois! kau menganggap ku membencimu, betapa aku sangat menyayangimu Kook hikss ... Aku sangat menyayangimu hikss ... Aku tidak ingin kehilangan mu," ucapnya dengan tangisannya yang semakin menjadi-jadi.
"Argh! Adikku membenciku ... Kakak macam aku ini!" teriaknya yang tidak mempedulikan dimana dirinya berada sekarang. Ia menangis memukulkan tangannya ke dinding yang posisinya berada disebelah mobilnya yang terparkir. Taehyung tidak bisa mengontrol dirinya saat ini, ia mencoba melukai tangannya dengan memukul-mukul dinding parkiran.
"Cukup, Tae!"
Lalu datanglah Jimin dan memberhentikan tindakannya yang konyol itu.
"Lihat tanganmu berdarah! Kau gila!" ucap Jimin tidak percaya apa yang telah dilakukan oleh adiknya ini.
Taehyung menatapnya dengan tatapan sayu. Seperti mengatakan pada Jimin, bahwa ia ingin semua kesalah pahaman antara dirinya dan sang adik segera berakhir.
Jimin mengerti jika Taehyung tidak benar-benar membenci adik bungsu mereka. Jimin pun menarik Taehyung dalam dekapannya, membiarkan Taehyung menangis di dalam pelukannya.
Di dalam hati Taehyung, ingin sekali dirinya bisa melakukan pelukan seperti ini dengan adik bungsunya, Taehyung sangat merindukan pelukan itu. Jimin ikut larut dalam kesedihan yang Taehyung rasakan saat ini, dan hanya bisa terbungkam. Membiarkan tetesan air mata adiknya membasahi pakaian yang ia kenakan.
Di tempat yang lain, tengah ada seseorang yang masih berusaha menjalankan kursi roda yang ia gunakan dengan kedua tanganya. Walaupun dirinya masih kesusahan, yang terpenting saat ini adalah pergi jauh dari orang yang sudah mengatakan bahwa orang tersebut membencinya.
Ingin rasanya Jungkook mengakhiri hidupnya saat ini juga. Melihat lorong rumah sakit ini yang sepi, membuatnya berpikir jika ia bisa melajukan kursi roda ini dengan cepat dan menabrakkan dirinya ke arah dinding, mungkin setelahnya ia bisa terbebas dari rasa sesal ini.
Namun upaya bunuh dirinya itu gagal, karena seorang perawat cantik menghalangi jalannya. Dia memberhentikan ayunan yang Jungkook berikan pada kursi rodanya supaya bisa berjalan cepat itu dengan mengajukan tangannya kedepan. Lebih tepatnya, dihadapan wajah Jungkook.
"Kau sedang apa?" kata perawat itu sambil melihat kearah belakangnya.
"Kau ingin mengakhiri hidupmu?" tanya perawat tersebut sambil memandang Jungkook dengan matanya yang begitu indah.
"Kau seharusnya beruntung, saudara laki-lakimu membawamu kemari dengan menggendongmu. Dia menangis saat kau dalam keadaan kritis. Jangan pernah melakukan ini lagi," ucap perawat itu yang membuat otak Jungkook berpikir dan menyimpulkan.
__ADS_1
"Mungkin yang dimaksud perawat ini adalah Jimin hyung, tidak mungkin Tae hyung ... Walaupun saat aku setengah sadar, dia lah yang ku lihat dalam lokasi kejadianku," batinnya.
"Kau Kim Jungkook kan?"
Jungkook hanya bisa diam menatap perawat yang mengetahui namanya itu.
Perawat tersebut berjalan kearah belakangnya, menarik kursi roda yang digunakan Jungkook dan mengajaknya jalan-jalan. Jungkook tidak mengenal perawat itu, tapi dia membutuhkannya untuk membantu mendorong kursi roda ini karena dirinya sudah lelah.
"Kau akan membawaku kemana?" tanya Jungkook sambil menoleh kebelakang.
Gadis itu tersenyum pada Jungkook, dia mendorong kursi roda itu tanpa berniat menjawab pertanyaan yang Jungkook ajukan.
Jungkook hanya bisa terdiam, ia menjadi sangat canggung kepada wanita semenjak gadis yang dicintainya meninggalkan dirinya begitu saja.
"Boleh aku bertanya kepadamu?" tanya Jungkook sambil memainkan tangan karena rasa canggung yang menyelimutinya.
"Boleh. Kau ingin bertanya apa kepadaku?" Kali ini perawat itu menjawab pertanyaan yang Jungkook ajukan.
"Siapa namamu?"
Gadis cantik itu memberhentikan gerak laju kursi roda yang ia dorong tepat di depan mata Jungkook yang terdapat sebuah taman di sana. Gadis yang belum memberi tahu kan namanya itu, berjalan ke arah depan Jungkook lalu menjulurkan tangannya kepadanya.
"Choi Melody," ucap perawat itu dengan tangannya yang sudah terulur, mengajak Jungkook bersalaman.
Jungkook menatapnya, dia selalu tersenyum ke arahnya. Beberapa detik kemudian, Jungkook pun juga menjulurkan tangannya hingga tangan mereka saling menyatu.
Ditempat itulah Jungkook mengetahui namanya.
Wanita yang ingin sekali ia miliki sampai akhir hayatnya, merawatnya, dan menjadi seorang ibu dari anak-anakku nanti.
__ADS_1
Dia ....
Melody yang telah di cari Jungkook selama ini. []