
•Flashback On
"*Jungkook!!! Astaga lihat apa yang dilakukan Jungkook kali ini hyung! Ayo segera kita bawa dia ke rumah sakit." Taehyung mendapati Jungkook sudah berlumuran darah karena kepalanya yang terbentur setir mobil dengan keras.
Beberapa menit yang lalu, ia dan Jimin mengikuti mobil yang dikendarai oleh adik mereka , dan Taehyung melihat jika sang adik dengan sengaja membuang setirnya ke kanan sehingga berhasil menabrak pohon yang lumayan besar.
Taehyung dan Jimin sangat terkejut dan khawatir. Mereka berdua segera menghampiri Jungkook dan membawa tubuh Jungkook masuk ke dalam mobil mereka. Dengan Taehyung yang kini menggendong tubuh sang adik yang kekar itu, sedangkan Jimin menyetir menuju rumah sakit terdekat.
Jungkook merasakan pening di kepalanya, ia sadar pasti ini efek benturan pada setir tadi. Mata bulatnya sedikit terbuka dan terlihat samar-samar seseorang yang berada di atasnya sebelum mata itu kembali tertutup. Sepertinya itu Taehyung--kakaknya. Namun ia membuang jauh-jauh pikiran tersebut, karena tidak mungkin Taehyung yang membawanya. Taehyung saja sangat membenci dirinya, bagaimana bisa Taehyung adalah orang yang menolongnya. Itulah yang dipikirkan oleh Jungkook.
Sesampainya mereka di rumah sakit, dengan gesit Taehyung membawa adiknya ke ruangan gawat darurat, berharap sang adik mendapatkan pertolongan pertama dengan cepat.
"Dokter tolong selamatkan adik saya, saya akan membayar berapapun asalkan adik saya bisa selamat." Taehyung benar-benar meminta bantuan pada dokter yang akan menangani Jungkook ini dengan permintaan tulus dari hatinya. Ia sangat menyanyangi adiknya itu, bahkan melebihi harta yang ia miliki.
"Saya akan bekerja dengan semaksimal mungkin tuan, permisi," ucap dokter itu dan masuk ke ruangan dimana Jungkook berada.
Ia benar-benar frustasi melihat adiknya yang selalu mencoba bunuh diri. Ia tidak ingin kehilangan adik kesayangannya itu. Walupun dulu ia pernah membencinya. Dan rasa benci terhadap saudara itu tidak akan bertahan lama bukan?
Hati kecil Taehyung, merasa sesak melihat adiknya serapuh ini. Air mata yang ia tahan, sudah tidak bisa ia bendung. Ia menangis dalam diam.
"Apa yang harus ku lakukan hikss?" gumamnya.
"Tae ....," Panggil Jimin ketika mendapati Taehyung tengah meletakkan wajahnya pada lutut yang tertekuk sambil terisak. Ia juga sangat cemas dengan keadaan Jungkook, tapi ia bisa mengkontrol emosinya, tidak seperti Taehyung.
Taehyung mencondongkan kepala menuju suara yang memanggilnya, dengan menghapus jejak air matanya. "Ada apa hyung?"
"Kurasa kau harus mencoba melakukan apa yang kau pikirkan dulu?" ucap Jimin yang sudah mendudukan diri di sebelah Taehyung. Mereka berdua duduk pada lantai rumah sakit yang sangat dingin malam ini.
"Tentang Melody? Tapi itu resikonya sangat besar hyung. Kau tahu kan, Jika dulu Jungkook pernah mencintai gadis itu? jika Jungkook kembali mencintainya bagaimana? Melody kan sudah milik seseorang." Taehyung menatap mata Jimin dengan tatapan frustasi.
"Kau bisa mengatakan pada Melody agar tidak membuat Jungkook jatuh cinta padanya lagi. Kau pasti bisa," ujar Jimin dengan mengenggam tangan Taehyung, mencoba memberikan semangat untuk sang adik.
"Baiklah aku akan membicarakan ini pada Yoongi hyung dan Melody. Btw, kau punya nomor baru Yoongi hyung? Aku tidak memilikinya," tanya Taehyung.
"Kau minta saja pada Jin hyung, dia sepertinya punya," jawab Jimin.
Drtttt.....
"Yoboseo ... Hyung?"
"Eoh, ada apa Tae?"
"Aku hanya minta nomor Yoongi hyung yang baru, kau bisa kirim sekarang hyung?"
"Tentu saja. Tapi ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kau minta nomor Yoongi yang baru?"
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa hyung, besok saja akan ku ceritakan kalau kau sudah tidak sibuk. Gomawo hyung."
Tuttttt.
Sambungan terputus secara sepihak, Taehyung yang memutuskannya. Ia segera menelpon nomor baru Yoongi yang sudah diberikan oleh Jin, tanpa membalas satupun pesan yang berisi omelan dari orang yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri itu, karena Taehyung sudah tidak bisa berlama-lama melihat adiknya-- Jungkook, seperti ini.
Setelah menelpon Yoongi, Taehyung sudah memberi tahu jika mereka akan bertemu di kafe xxxx. Dan Yoongi sudah mengabarkan jika setengah jam lagi dia akan sampai.
Taehyung segera pergi ke tempat tujuanya dan menunggu hingga Yoongi datang.
"Ada apa Tae? Kenapa kau menghubungiku dan mengadakan pertemuan mendadak seperti ini?" tanya Yoongi yang sudah duduk menghadap Taehyung dengan raut bingung.
"Jungkook mencoba bunuh diri lagi hyung," ucap Taehyung dengan ekspresi sedihnya.
"Apa?" Sedangkan Yoongi melebarkan matanya, seakan-akan matanya itu akan keluar dari tempatnya.
"Iya hyung. Dia sepertinya kembali teringat dengan masa lalunya." Taehyung menceritakan semua yang Jungkook lakukan untuk membunuh dirinya sendiri dan membuat Yoongi bergidik ngeri mendengar cara-cara yang dilakukan Jungkook itu, karena terlalu ekstrim.
"Jadi aku memintamu kemari karena aku ingin meminta bantuan padamu dan juga ... Tunanganmu." Taehyung sempat ragu untuk mengucapkannya. Namun ini semua untuk adiknya. "Kau tahu kan jika Melody itu sangat berpengaruh pada Jungkook?" lanjutnya.
Yoongi hanya menganggukkan kepala tanda ia paham.
"Aku ingin membuat Melody bisa membantu adikku untuk melupakan kekasihnya dulu dan membuatnya bisa hidup dengan bahagia kembali hyung hikss ... Aku tidak mau lagi melihat adikku yang selalu melukai dirinya sendiri hyung hiksss ...." Taehyung tidak bisa menahan tangisannya.
"Hmmm aku tahu itu Tae. Tapi, apa kau sudah merencanakan sesuatu?" tanya Yoongi dengan menepuk bahu Taehyung, supaya bisa membuat anak itu tenang.
"Maksud mu?" tanya Yoongi yang masih belum mengerti rencana Taehyung.
"Biarkan Melody merawat Jungkook hyung, hanya dia teman semasa SMA Jungkook yang mengetahui semua tentang Jungkook. Hanya Melody yang bisa membangkitkan semangat Jungkook hyung," pinta Taehyung sekali lagi pada Yoongi.
"Emm ... Sepertinya aku membutuhkan izin dari Melody juga Tae ....," jawab Yoongi dengan menyesap kopi panas yang sudah dingin karena ia biarkan untuk mendengar cerita dari Taehyung tadi.
Taehyung hanya mengangguk pasrah mendengar ucapan Yoongi. Ia akan menunggu jawaban dari seorang yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri ini, yang kini sedang berbicara dengan sang tunangan melalui ponsel pintarnya.
"Melody setujuh Tae," ucap Yoongi dengan senyuman manisnya hingga menunjukan gusi merah mudanya pada Taehyung ketika mengabarkan jika sang tunangan setuju.
"Jinjja?" mata Taehyung berbinar-binar kan jadinya. Ia senang, tentu saja.
"Dia juga bekerja di tempat dimana Jungkook dirawat sekarang." Yoongi melanjutkan ucapannya.
"Wah tepat sekali hyung ... Gomawo hyung." Taehyung membuat kotak senyumnya dan memperlihatkannya pada Yoongi.
"Tapi hyung ...." Taehyung seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi ia ragu. "Jangan beri tahu Jungkook, jika kalian sudah bertunangan. Sebelum waktunya tiba*."
•Flashback Off
__ADS_1
Tepat pukul sepuluh malam, Jungkook, kakak-kakaknya dan juga Melody, sudah sampai di kediaman Kim.
Mereka sebenarnya berniat pulang siang tadi, tetapi jimin dan taehyung masih ada urusan di kantor. Jadi pekerjaanlah yang menunda kepulangan mereka.
Taehyung menyuruh Melody untuk membawa Jungkook ke kamar dan menyuruh Jungkook istirahat.
"Kookie ... Sekarang kan sudah malam, jadi Kookie tidur ya," ucap Melody kepada Jungkook dengan nada lembutnya.
"Aishhh kau ini ... Jangan panggil aku Kookie! Aku sudah besar, Mel!" Jungkook tidak terima dengan panggilan itu—lagi. Terakhir ia mendengarnya pada saat hari kelulusannya dengan Melody.
"Wae? Aku sangat senang memanggilmu dengan nama itu," ucap Melody dengan nama sedih yang ia buat-buat karena Jungkook tidak suka dengan nama yang ia berikan.
"Terserahmu, Mel." Jungkook hanya bisa pasrah dan memutar bola matanya jengah.
"Nah begitu dong uri Kookie," ucap Melody senang mendengar jawaban dari sahabatnya.
Setelah memastikan jika Jungkook sudah benar-benar tertidur, Melody keluar kamar dengan pelan tidak ingin membuat suara apapun yang bisa menggangu tidur nyenyak Jungkook.
Ia menuruni anak tangga dan sudah menemukan sang tunangan di sana, tunangannya sedang duduk dengan tenang di sofa dan bermain game di ponselnya. Entah sejak kapan tunangannya itu mulai menyukai dunia game.
"Yoongi oppa," panggilnya hingga membuat orang yang dipanggil tersebut menoleh ke arahnya.
"Eoh, kau sudah menidurkan selingkuhanmu itu?" Yoongi hanya bercanda. Ia mematikan ponselnya dan beralih melihat sang tunangan yang menuju ke arahnya.
"Aishhh kau ini bicara apa sih oppa?" Melody memukul pelan lengan Yoongi setelah mendudukan dirinya disebelah pemuda itu. Yoongi hanya balas tertawa dan memeluk tunangannya itu. Rindu, tentu saja.
"Yak hyung ! Jangan pacaran di sini, ini masih awal bagi Jungkook jika mengetahuinya." Seseorang datang dari arah tangga dengan memakai piyama yang bergambar kartun dengan kepala kartun itu yang berbentuk love dan berwarna merah.
"Mian mian, Tae. Aku kelepasan hehehe," ucap Yoongi dengan melepaskan pelukannya.
"Apakah kau selalu memakai piyama itu oppa?" tanya Melody dengan menahan tawa.
"Wae? Wae? Bagus kan?" tanya Taehyung balik dengan bergaya seperti model-model fashion show.
"Sudahlah, Tae! Kau menyuruhku kemari untuk membicarakan soal apa?" Yoongi yang memang orangnya tidak suka dengan pembicaraan yang basa-basi, ia langsung menanyakan apa tujuan Taehyung menyuruhnya kemari.
"Oh iya, aku hampir saja lupa," ucap Taehyung dengan menepuk pelan jidatnya. Iyalah pelan, nanti kalau keraskan ketampanannya jadi berkurang. Lupakan.
"Aku hanya ingin meminta Melody untuk tidak akan membuat Jungkook jatuh cinta padanya lagi. Kau bisa kan, Melody?" tanya Taehyung pada Melody.
"Akan aku coba oppa. Tapi sebenarnya aku memiliki ide yang lain untuk mencegah hal itu bisa terjadi ... Aku akan membawa temanku yang sifatnya kurang lebih sama sepertiku dan aku akan membuat Jungkook jatuh cinta padanya. Bagaimana?" Melody menceritakan rencana yang sudah ia buat pada mereka semua.
"Itu bukan hal yang buruk," kata Jimin yang entah dari mana sudah berada disebelah Taehyung.
"Astaga! Hyung, kau mengejutkanku .... " Taehyung terkejut karena tiba-tiba ada kakaknya disampingnya.
__ADS_1
Hanya ada kekehan yang keluar dari mulut Jimin dengan matanya yang hilang, entah kemana. []