
Ada beberapa hal yang makin di tunda makin baik dan makin di percepat makin buruk tapi semua hal lambat laun harus dihadapi. Jadi percayalah bahwa takdir-Nya tak akan mengkhianati...
Adakalanya kita tidak dibiarkan pergi dan diharapkan untuk menetap sedangkan diri menginginkan untuk membebaskan diri dari belenggu ikatan tak pasti.
Kabur memang bukanlah cara menyelesaikan masalah tapi memberikan diri istirahat sejenak dan tidak dipungkiri mungkin dapat memperkeruh keadaan.
Banyak yang terjadi dan terdengar lewat telinga kanan dan dikeluarkan lewat telinga kiri alasannya karena tidak peduli namun nyatanya untuk menjauhkan diri dan mulai mengasingkan diri dalam kesepian yang tak berhujung.
Selalu ada masalah yang harus dihadapi meski awalnya terus dihindari. Seperti sungai yang kering di musim kemarau dan penuh dengan air saat musim penghujan. Meski ada sampah yang sebagai penghambat atau penghalang tapi air didalamnya tetap mengalir meski sedikit demi sedikit karena masih ada sedikit celah yang jika semakin digunakan semakin besar.
Dipaksakan mungkin bukan hal yang baik tapi entahlah kala hati tidak mau menerima lagi apalah daya diri ini yang telah tersakiti untuk berbicara?
Kecewa, karena terus dipaksa.
Menangis, kala diri sudah tidak sanggup menerima.
Pada siapa diri ini harus mengadu keluh kesah?
Pada siapa mata meneteskan setiap bulir air matanya?
Pada siapa...? Pada SIAPA...?
Hatiku sudah terluka.
Jiwa dan raga ku telah hancur berkeping-keping.
Berpisah dari satu menjadi beribu-ribu, dari satuan menjadi puluhan, dari puluhan menjadi ratusan, dari ratusan menjadi ribuan, dari ribuan menjadi jutaan dan begitulah seterusnya.
Banyak kata yang ingin diungkapkan namun mulut sulit untuk mengatakan.
__ADS_1
Tak bisa!
Aku tak bisa berbicara hal yang menyakiti hati orang lain.
Aku tak mau ada orang yang terluka karena kata-kata yang keluar dari mulutku.
Aku tak mau menyakiti lebih banyak orang karena sedikit hal yang sederhana.
Ya, sederhana karena hanya beberapa hal yang tidak ku terima.
Ada benarnya karena aku tak bisa menerima.
Ada hati ku yang sedang ku jaga.
Ada mataku yang sedang menahan untuk tak menitihkan air matanya.
Sungguh tak bisa di terima. Orang-orang yang ku jaga selama ini adalah orang yang menyakiti diriku saat ini.
Disakiti oleh orang yang ku percayai.
Dikhianati lagi dan lagi-lagi.
Tapi tetap diam dan tersenyum menerima sikapnya dalam keramaian namun menangis bahkan menjerit dalam kesendirian karena sakit yang menjalar menusuk ke kedalaman hati.
Tak dipungkiri ketegaran ku di keramaian adalah kesedihan ku di kesendirian.
Sendiri seperti sebuah hikmah sedangkan keramaian sama seperti sebuah kutukan.
Banyak kebencian yang tak terlihat di keramaian.
__ADS_1
Banyak ejekan yang melesat keluar dari mulut orang-orang tak bertanggung jawab yang enggan menanggung apa yang ia ucapkan dari mulut harimau nya itu.
Tak jarang...
Banyak suka yang diam-diam melindungi dari gelapnya keramaian.
Banyak cinta yang tanpa imbalan, ada kasih dan sayang tanpa dipintai.
Ironisnya aku tak tau apa yang salah dengan diriku ini.
Dihujat, dihina, dicaci bahkan dimaki karena kesalahannya.
Siapa aku?
Dimana aku?
Bagaimana ini?
Apa yang harus aku lakukan?
Kemana aku harus bertanya?
Kapan ini berakhir?
Humm...
Tak bisa terus seperti ini!
Aku harus melakukan perlawanan.
__ADS_1
Mempertahankan diri dan mengokohkan posisi.