
Langit cerah berwarna biru, seperti air lautan yang tenang.
Awannya berkumpul terpisah pertanda hujan tak akan turun.
Pohon beringin berdiri tegak dengan daunnya yang layu menguning oleh teriknya mentari.
Katak di ladang menyanyi meminta hujan.
Sedangkan burung menari kesana kemari.
Seorang petani duduk dibawah pohon beringin yang rindang. Menatap langit dengan topi sebagai kipas ditangan.
Tanpa sadar ia terlelap karena lelah bekerja seharian.
__ADS_1
Angin dan gemersik rerumputan seperti suguhan dari sebuah nyanyian pertunjukan.
Tanpa diketahui, disebrang jalan ada seorang pelajar dari kota besar sedang mengagumi di dalam mobilnya sambil berkata...
"Sungguh elok pemandangan yang terjadi dari sang pencipta dengan karunia yang tiada tara... Sepertinya hidup di perbukitan desa bukanlah hal yang buruk. Sampai-sampai aku terbuai dan ingin terus menetap menikmati sajian dari para petani yang bekerja tiada henti..."
"Lelah seolah bukanlah sebuah masalah bagi dirinya melainkan seperti ia sedang menunggu sebuah berkah tersembunyi yang akan di berikan oleh sang penciptanya. Mungkinkah dalam benaknya ada banyak harapan agar panennya berlipat ruah meski hama dan penyakitnya tak terhitung oleh jari tangan. Sungguh kasihan mereka disini, sedangkan kami di perkotaan hanya menerima semua yang telah mereka sajikan tanpa tau proses yang telah dilalui para petani di pedesaan ini." lanjutnya sambil menghela nafas panjang merasa dirinya telah meremehkan dan terlalu merendahkan para petani.
Dalam benak sang pelajar terpikirkan sebuah cara agar dapat menjunjung tinggi para petani.
Tanpa terpikir lagi, langit cerah di siang hari mulai menggelap menandakan sore telah tiba.
Sang petani telah terbangun dari tidurnya dan beranjak untuk pergi ke rumahnya yang tak jauh dari ladangnya.
__ADS_1
Burung yang terbang disiang hari pun ikut kembali ke sarangnya untuk beristirahat sedangkan katak terus bernyanyi meminta hujan dari sang ilahi.
Di rumahnya sang petani telah ditunggu oleh anak dan istrinya. Anaknya yang gembira melihat sang ayah pulang dan meminta ditemani bermain, sedangkan sang istri hanya tersenyum dan bersyukur bahwa sang suami telah pulang dengan selamat.
Mungkin sebagian orang berpikir seorang petani tak memiliki resiko tinggi namun perlu diketahui bahwa seorang petani sama halnya dengan pekerjaan lainnya bahkan mungkin lebih mengerikan resiko menjadi petani tapj banyak petani membahayakan nyawanya untuk saudara-saudara lainnya.
Seorang petani memiliki resiko digigit ular saat sedang di ladang. Ulah memiliki berbagai spesies ada spesies yang berbisa dan ada yang tidak berbisa (hanya melilit mangsa sampai mati).
Seorang petani bisa saja bertemu dengan babi hutan yang telah memiliki luka yang dikatakan lebih ganas dari babi hutan lainnya.
Seorang petani memiliki banyak kemungkinan nyawanya dalam bahaya, tapi mereka tak pernah menyerah untuk mendapatkan yang terbaik untuk makan dirinya sendiri dan orang lain.
Jadi tolong hargai petani diluar sana yang berjuang untuk pangan kalian.
__ADS_1
Jangan sesekali meremehkan seorang petani meski ia tak sekolah tinggi karena kebanyakan petani handal dari pengalaman bukan dari tingkatan sekolahnya.
Yang sekolah tinggi saja belum tentu sukses tapi yang berpengalaman memiliki jaminan lebih besar untuk mendapatkan hasil yang memuaskan untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain yang ia tidak kenali.