Membenci Cinta

Membenci Cinta
Kelinci kecil


__ADS_3

Melawan?


Aku seorang diri?


Apakah akan ada yang mendengarkan setiap kata yang ku ucapkan?


Adakah yang mau membantu dan membela diriku yang tak memiliki apapun saat ini?


Lagi-lagi aku merasa diriku sungguh ironis.


Tak memiliki sandaran selain sang pencipta.


Tak memiliki kekuatan selain dorongan dari dalam diri sendiri.


Tapi semangat dan keinginan ku ini sedikit demi sedikit telah terkikis karena tidak memiliki kebebasan untuk memilih.


Hanya menerima keputusan dirinya.


Tak mampu lagi berkata-kata.


Yang terlintas dalam ingatan hanya kata-katanya.


Tubuh ini bergerak tak lagi dengan intuisi tapi mendengarkan apa yang dia katakan.


Jangan bertanya tentang jiwa, dari awal jiwa ini telah lama meninggalkan raga dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


Ya, pikiran yang tak ingin dikendalikan.


Tak ingin menjadi robot hidup tanpa keinginan.


Jatuh ke dalam jurang keputusasaan.


Cukup mengesalkan kala tak bisa memilih sendiri.


Cukup membuat diri ini terasa jengkel dikala tidak mendapatkan apa yang diinginkan diri sendiri.


Di sini, ditempat ini aku seperti seekor kelinci kecil di hadapan harimau.


Harimau yang kelaparan dan sedang mencari mangsanya.


Aku yang seekor kelinci yang menyedihkan dihadapan harimau berharap bisa berlari menjauh menghindari tikamannya dan menyelamatkan diri.


Aku dan dia memiliki perbedaan yang cukup besar. Dia dengan insting membunuhnya sedangkan aku mengandalkan telinga untuk menerka setiap gerakan nya. (Aku disini sebagai kelinci).


Seperti perlombaan siapa yang lebih baik antara aku yang memiliki tubuh kecil yang mudah bersembunyi dan dia dengan tubuh besar yang setiap langkahnya lebih besar berkali-kali lipat dari kaki kecilku.


Dengan indera penciumannya yang membuat mangsa ketakutan saat mencari tempat persembunyian.


Seperti inilah perbedaan kita, seperti ini juga jarak yang ada di antara kita.


Siapa yang menerima maka ia yang harus ikhlas dan mengalah.

__ADS_1


Tak peduli jadi santapan makanannya ataupun jadi mangsanya yang menerima harus bersedia melakukan apapun yang diminta oleh pemenangnya.


Menerima kekalahan tak harus sepenuhnya putus asa. Masih banyak cara untuk pergi mencari tempat atau cara yang lebih baik dan tidak meninggalkan masalah dikemudian hari yang akan merusak masa depan anak dan cucu (7 generasi) kita.


Jangan berkhianat, jangan serakah dan jangan menyerah.


Selalu ada kunci untuk setiap pintu rumah yang tertutup.


Selalu ada celah untuk angin menerobos masuk kedalam rumah.


Tak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya selalu ada jalan yang mudah tapi tanpa sadar kita selalu memilih yang sulit.


Entah bodoh atau terlalu ceroboh tapi ini memang kenyataannya diterima atau tidak kadang itu telah kau pilih sendiri dan takdirmu.


Jadi sisanya kerjakan sebisa dan sebaik mungkin agar kau tak kecewa bahkan putus asa akan pilihan yang kau buat maupun pilih.


Pada akhirnya semua terhubung dengan takdir yang telah ditetapkan oleh sang pencipta bukan hanya tentang diri sendiri saja.


Ikhtiar, berdoa dan berusaha merupakan cara terbaik mendapatkan sesuatu yang terbaik.


Semua memang telah ditakdirkan namun dengan berdiam diri serta hanya menunggu itu bisa memperburuk keadaan.


Tanpa usaha tak akan ada yang didapatkan dengan mudah.


Untuk sepucuk surat saja perlu pena, kertas dan amplop. Apalagi tentang hidup.

__ADS_1


Perlu banyak hal yang harus dilakukan dan penuhi untuk mendapatkan hasil yang terbaik.


__ADS_2