
Sulit untuk dihadapi...
Ternyata cinta yang selama ini aku impi-impikan adalah suatu hal yang membuat diriku terluka sedalam ini.
Cinta yang membuat fisikku menurun drastis. Cinta yang membuat diriku menjadi tak berdaya.
Menahan segala rasa sakit karena tak dipercayai, kecewa karena di abaikan, lapar karena tak mau membebani dan tak ingin meminta karena takut dimarahi.
Membiarkan luka ini menusuk hingga kehulu hati.
Menahan sakit karena tak dipercayai dan selalu disalahkan.
Berbeda pemikiran dan sering terjadi perdebatan.
Terkadang berharap akan hal-hal baik terjadi namun nyatanya yang diharapkan belum pernah tiba. Sampai lelah rasanya, hati menahan sedih demi menjadi yang terbaik.
Selalu mengalah agar dianggap baik namun pada akhirnya tetap saja jadi alasan akan sakit maupun kepergiannya.
Disalahkan akan apa yang dilakukan, keberadaan ku seolah menjadi beban.
Aku membenci cinta yang sering kau katakan.
Aku tak lagi mengidamkan yang dinamakan dengan cinta.
Aku hanya bisa berharap bisa pergi dengan tenang.
__ADS_1
Tidak ingin kembali dalam waktu yang lama.
Ingin pergi juga tak ingin.
Ada misi yang belum dilakukan.
Ada suatu hal yang belum terwujudkan.
Ada hati yang meminta keadilan.
Ada cinta yang meminta balasan.
Ada rasa yang belum terbalaskan.
Ada aku yang menunggu kembalinya dirimu.
Kecewa sudah tak lagi bisa diungkapkan.
Sedih sudah tak ingin lagi menitihkan air mata.
Senang pun sudah tak bisa tertawa.
Semua perasaan dicurahkan lewat air mata karena bahagia sudah tak lagi berguna.
Saat dirinya senang mungkin bahagiaku juga akan datang.
__ADS_1
Berbeda halnya kala aku bahagia dan dia terluka. Aku akan dipertanyakan atas alasan terlukanya dirinya. Aku akan dimintai pertanggungjawaban atas lukanya dia. Aku akan disalahkan akan luka itu. Aku juga akan dikecilkan karena lukanya itu.
Disaat itulah aku yang selalu salah dimata semua orang. Aku disalahkan dari seluruh arah. Tanpa ada yang membela, tanpa ada yang melindungi, tanpa ada yang memberikan pundak sebagai sanggahan dan tanpa pendukung.
Disinilah aku berpikir bahwa keberadaan diriku adalah sebuah kesalahan.
Keberadaan diriku seperti sebuah beban. Meski aku telah diingatkan bahwa semua yang hidup adalah sebuah beban. Namun banyak hal yang tak dapat ku terima, terlewat dari luka yang pernah ku jalani, pengkhianatan yang ku derita, diadu dombakan, bahkan dijadikan kambing hitam.
Menderita? Tidak. Aku hanya kecewa pada yang terjadi. Aku hanya belum menerima apa yang sedang ku hadapi.
Keegoisan yang ada dalam diriku masih belum menghilang dan rasa sedihku masih ku simpan dilubuk hatiku.
Sudah lama air mataku bendung, tangisku ku tahan. Tak ada rasa yang ingin ku ungkapkan.
Terkadang aku hanya ingin menangis sekeras mungkin ditengah hujan deras.
Tak ingin orang tau bahwa aku terluka bahkan tersakiti.
Disini aku ingin menyendiri, tak ingin peduli pada siapapun lagi karena kebanyakan orang hanya ingin dipedulikan namun tak ingin memperdulikan.
Sungguh lucu bukan?!.
Lucu karena hanya menginginkan hal baik tapi tidak memberikan kebaikan pada orang lain.
Entah bodoh atau terlalu baik jika aku terus memperdulikan orang lain yang terus acuh tak acuh pada diriku.
__ADS_1
Aku terus belajar yang terbaik untuk orang lain namun aku terkadang lupa bahwa akupun perlu bahagia seperti mereka.