
Tiba Di desa Keumala pukul setengah lima sore, disambut hujan lebat. Terpaksa harus berteduh di salah satu gubuk di tepi jalan. Sepertinya gubuk petani menjaga kebunnya, karena bila untuk ditempati sehari-hari terlihat tidak layak.
"Mbak!"
"Astaghfirullah, i-iya." Lamunanku membuyar. Aku ternganga menyaksikan pemandangan di depan. Seorang pemuda memakai kaus putih berlengan pendek.
"Mbak," ulangnya.
"Iya, Assalamu'alaikum," ujarku kikuk.
Ia pun menjawab salamku.
Ya Tuhan, apa aku tersesat di kahyangan, sehingga berjumpa dengan pangeran ini?
"Mas, saya izin berteduh, ya?"
"Iya iya, silakan. Cuma saya terkejut saja tiba-tiba ada orang asing di sini," pungkasnya sembari mengulum senyum.
Aku membuang pandang, kembali menatap tetesan air hujan yang mencumbui tanah. Aku kurang yakin ini manusia. Karena ketampanannya menggetarkan hati yang memandang. Lebay.
"Maaf," ujarnya.
Ia mendongak menatap atap bocor yang airnya jatuh mengenai bahuku.
"Mbak tetap basah berteduh di rumah saya," sambungnya.
Kutarik sudut bibir hingga menjadi sebuah senyum. "Ga papa," ujarku.
"Oh ya, nama Mbak siapa?"
Ramah. Ini yang terlintas di benakku. "Azzazira. Panggil saja Zira," jelasku padanya.
Pintu rumahnya tidak tertutup rapat, tampak pemandangan indah di dalam. Ujung bingkai kaligrafi tertangkap oleh mataku. Ini cocok dengan slogan, 'Rumahku Istanaku'.
"Orang sini, bukan?" Masih ia melempar tanya. Ujung jari kelingkingnya menggaruk kening dengan alis yang terukir tebal di sana.
"Bukan, Mas. Oh ya, nama Mas siapa?" Aku balik bertanya.
"Khabab Al-Masri, panggil saja Khabab," titahnya.
Hidung mancung, ditambah pula dengan bibir merah ranum bagai bergincu bak bibirnya perempuan. Meyakinkan pemuda ini bukan perokok. Barusan aku dengar namanya Khabab Al-Misteri, eh, Al-Masri. A good name. Langka. Semacam ketampanan dirinya.
Ini pasti makhluk tersesat di desa Keumala atau memang penduduk di sini tampan semua, ya? Tapi nggak mungkin, toh mas Fattah hancur banget, kagak kebangetan juga sih.
"Jadi tujuan ke desa ini, apa?" tanyanya dengan sopan.
"Ke rumah Pakcik Rahman."
Iya bermanggut-manggut.
kemudian tercipta jeda di antara kami. Terasa kikuk sendiri, sehingga aku putuskan merogoh ponsel dari saku gamis. Menggeser-geser layar benda pipih tersebut, singnalnya hilang-hilang timbul.
Hujan mulai reda, hanya sisa-sisa gerimis.
"Makasih, Mas Khabab, udah ngizinin Zira berteduh," kataku. Ponsel kusimpan kembali ke saku.
__ADS_1
"Iya, sama-sama. Kirim salam buat Fattah ya, saya denger sudah balik dari kota dua hari yang lalu, tapi belum berkunjung ke sini."
"Iya iya, Insya Allah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Kupijaki tanah becek yang baru sebentar hujan sudah digenani air. Berjinjit-jinjit hingga menapaki jalan meninggalkan gubuk reot tersebut, yang sebelah kirinya sudah ditopang dengan bambu, mungkin agar tidak bersujud. Jalan di sini masih bertanah batu belum teraspal.
Aku kembali menoleh ke belakang tempat Mas Khabab berdiri, ia menyungging senyum. "Perlu diantar?"
"Nggak papa, Mas," tolakku halus.
Aku memang baru pertama ke sini, tapi dengan gambaran alamat yang Mas Fattah beri semalam, Allhamdulillah tidak terlalu rumit diikuti.
Anak-anak berlarian bermain lumpur, sesekali sengaja mempeleset diri dalam genangan air. Tubuh dekil, celana kumal selutut tak terlihat lagi warna aslinya. Kemudian terdengar suara tangis diantara bocah itu, salah satu dari mereka terpeleset saat berlari. Namun, kawannya tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh terlalu, tapi itulah kawan ... tertawa dulu baru membantu.
"Azzazira!"
"Mas Fattah?" Aku tersenyum bahagia, akhirnya Mas Fattah anak Paman, datang menjemput. Memang lumayan berat tas ransel yang kupikul. Punggung sudah terasa pegel dengan tangan juga ada beban, menarik koper.
Mas Fattah menyungging senyum pada anak-anak itu. "Main baik-baik, kalo terkilir yang sakit siapa?" tanya ia pada anak yang terjatuh tadi. Mas Fattah membantunya berdiri.
Aku berjalan mendekat. "Mas, bantu bawain tas aku, ya." Kukerutkan kening memelas.
"Sudah lama sampai?"
Aku menyerahkan tas padanya, "Lumayan, tapi tadi berteduh bentar di sana." Tunjukku ke belakang. Rumah pemuda tadi tidak tampak lagi dari sini.
***
"Mas, kenal dengan Mas Khabab?" Aku duduk dengan kedua tangan melingkar di lutut, manatap bulan separuh di langit.
Mas Fattah duduk di anak tangga, sedangkan aku di lantai teras.
"Kenal, kamu kok kenal?"
"Katanya, Mas sekembali dari kota belum ke rumahnya, dia nitip salam."
"Aku curiga, nih, napa kenal ama Khabab," ujarnya seperti ingin tahu sekali. Ekor matanya melirikku.
Namun, ponselku dari saku keburu berdering. Tak bisa kulanjut topik pembicaraan dengannya.
"Halo," sapa orang di seberang sana.
"Iya." Bergegas bangun dan menjauh dari Mas Fattah.
"Kenapa nggak ngabarin kalo uda sampe, Ra?"
"Nggak ada signal di sini, Mas. Maaf," ujarku.
Tempo hari ketika aku masih di kota, katanya, "Nanti ada lelaki alim di desa itu dan kamu melupakanku."
"Nggak kok, Mas. Mas istimewa di bilik hatiku, cuma namamu yang terukir indah," ujarku lebay.
Mas Ajmul tertawa, "Yasudah, jaga diri dan jaga hati di sana."
__ADS_1
.
Dia atas dipan aku merebahkan tubuh. Kutanya pada pria di seberang sana, ia sedang apa, agar pembicara tak cepat berakhir.
"Lagi merindukanmu," sahut Mas Ajmul. Tanpa terasa dua sudut bibirku tertarik hingga sempurna terbentuk senyum. Akan tetapi ia lupa bertanya balik.
Kusinggung dengan sinis. "Seharusnya setiap sesuatu itu harus ada timbal balik. Nggak nanya balik aku lagi apa?"
"Nggak, karena pasti kamu juga sedang merindukanku," tuturnya diiringi cekikan tawa.
"Dih geer amat."
Entah membahas apa hingga malam sudah larut.
Mas Ajmul, lelaki setia yang aku kenal. Ia mahasiswa tingkat akhir dan aku pada saat itu semester lima. Awal kami mengenal karena sama-sama mengikuti sebuah seminar. Aku sangat mencintainya.
Ia lelaki yang suka menegurku ketika aku salah. Misalkan saat ia sudah lulus, dan aku mulai menyusun skripsi, setiap teleponan, ditanya berapa halaman skripsi selesai hari ini? Bahkan kadang aku menipunya. Ia sama sekali tidak mengizinku membayar orang untuk menyusun skripsi tersebut. Inilah salah satu sebab tak mau berpaling hatiku untuk mencintai orang lain. Dia seorang.
Mas Ajmul anak seorang pengusaha sukses. Ayahnya suka mengandalkannya, ia harus mengikuti ke manapun sang Ayah menyuruh. Ibarat mengendarai mobil ayahnya yang memegang setir.
Ia berkuliah di jurusan manajemen pun katanya itu kemauan sang Ayah bukan keinginannya.
"Ekhem." Suara deheman terdengar dar luar, cepat-cepat aku diam.
"Sudah malam," sindir Mas Fattah. Ia berpura-pura berbicara dengan yang lain, tujuannya aku. Kalau memang berbicara dengan orang lain, siapa? Bunda dan Pakcik sudah tidur.
"Mas, sudah dulu, ya, Assalamu'alaikum," ujarku pada Mas Ajmul.
"Wa'alaikum salam. Kenapa?"
"Sudah, sudah, bye."
"Miss you."
"Miss you too." Ponsel pun aku matikan. "Sudah, nggak usah nyindir kali." Aku beralih membalas ucapan Mas Fattah.
"Sayang aku capek," ejeknya lagi.
Kalau dengannya tak akan pernah selesai. Selalu saja ada lagi dan lagi argumennya. Kalau tidak begitu, bukan Fattah namanya.
"HUEK," sinisku, "orang jomlo iri banget." Dari dalam kamar aku merespon lawan bicara yang di luar.
Ia pun tertawa.
Mulai saat ini, akan muncul cerita tentang aku dan desa Keumala. Menyesuaikan diri dengan desa ini. Melewati hari-hari yang entah akan bagaimana, sukakah? Dukakah? Namun, harus kuterima.
Sebenarnya aku sudah disuruh pulang ke sini sejak Ibu meninggal, tapi aku menolak. Usai S1 kemarin aku pun baru menyetujui. Kurelakan saja mimpiku dan sambil menunggu Mas Ajmul menjemput untuk menikah.
Bersambung
Acut, 15 Feb '20
Revisi
06 April '20
__ADS_1