
Seharian ini ponselku tak berbunyi, setidaknya sekedar tanda pesan masuk.
Matahari sudah jatuh ke barat, hendak masuk ke peraduan senja. Mas Ajmul ke mana? Kenapa ia tidak menghubungiku? Apa benar-benar marah karena panggilannya kemarin tidak kujawab? Hah? Apa seambisi itu dirinya?
Akhirnya kuputuskan untuk menghubunginya. Namun, tuut ... tut.
tak diangkat.
'Maaf Zira, aku lagi sibuk.'
Aku mengulang-ulang membaca sebuah pesan masuk darinya. Sibuk? Hingga matahari hampir terbenam, kau masih sibuk juga?
Positif, ayo Zira berpikir positif!
Kutarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan-lahan. Setelah itu kubenamkan wajah di kasur dan menimbun kepala dengan bantal. Dadaku sesak, karena tak pernah diabaikan selama aku mengenalnya. Aku rindu ..., Mas.
Selesai maghrib, aku duduk di ruang tamu. Bersama Bunda dan Pakcik. Mereka bercerita tentang ladang. Dan aku hanya menjadi penyimak.
Tiba-tiba, aku teringat tentang tabungan. Segera menuju kamar, lantas naik ke kursi meraih celengan di atas lemari.
Terkadang hati begitu cepat berburuk sangka, tapi kali ini perasaanku berbeda. Adakalanya, apa yang dikhawatirkan hati benar terjadi. Aku benar-benar ingin bertemu Mas Ajmul.
Angin malam menyibak tirai kamar, aku lupa menutup jendela.
Duhai daksa, tak terundang orang lain untuk menciptakan luka di kalbumu. Kau sendiri yang menaburnya.
Uang yang aku miliki, lumayan. Bisa untuk pulang pergi. Aku ingin ke alun-alun kota, tempat yang sering aku kunjungi bersama Mas Ajmul. Tertawa lepas di sana. Sambil melihat anak-anak berlari. Badut pesulap, yang hidungnya tiap kali copot.
.
"Mas, jangan pergi! Zira gak tau jalan pulang!" seruku. Mas Ajmul tidak peduli sama sekali.
"Mas!" Suaraku sudah tidak dapat keluar lagi. Aku benar-benar tidak tahu jalan pulang. Kiri-kanan semak belukar. Kupandang sendal pemberian Mas Ajmul saat ulang tahunku tempo hari. Kini sudah putus. Kenapa bisa? Padahal sendal ini sangat kuat. Jadi, aku harus pulang jalan kaki?
Aku menangis terisak dipenuhi rasa takut. Matahari hampir terbenam. "Mas!" Aku tak putus asa memanggilnya. Berharap ia akan menoleh. Lagi, ia tidak peduli.
__ADS_1
"Mbak! Kenapa di sini?"
Bruak!
Aku tersentak dengan suara benda jatuh.
Mengusap peluh yang bercucuran. Ternyata cuma mimpi. Tapi cukup membuatku lelah dan takut, nafas terengah-engah. Jantung berdegup tak beraturan.
.
Pagi hari, aku meminta izin pada Pakcik dan Bunda untuk ke terminal bus. Membeli tiket.
Keesokannya langsung berangkat. Pada anak-anak sudah kuberitahu bahwa tidak ada belajar bersama beberapa hari ke depan.
Tuan, semua yang aku lakukan atas nama cinta. Kuingin bersua denganmu karena cinta.
Kau kisah yang tak ingin kukisah, namun membuatku gelisah bila tak kukisahkan.
Tuan, Rindu ini tak dapat kugambarkan. Apalagi dengan modal pena dan kertas saja. Rindu ini jiwa. Jiwa ingin bersua. Apa kau merasakan hal yang sama?
Kutarik koper menuju jalan.
Anak-anak berseragam putih merah, putih biru dan putih abu-abu melintas depan rumah, ada yang berjalan kaki, naik sepeda dan juga diantar oleh bapaknya dengan kereta butut. Aku berdiri di pintu pagar. Anak-anak itu tersenyum padaku. Sesekali ada yang menyapa, "pagi, Kakak."
"Pagi, Kak Zira."
"Hati-hati ya, Kak Zira."
"Jangan lupa balik, ntar Mas Khabab rindu." Sambil cekikan.
Deg.
Ada-ada aja ini anak.
"Haha ... kalau ...."
__ADS_1
Hendak kubalas seloroh mereka. Namun, ada suara yang memotong omonganku.
"Mau ke mana, Mbak Zira?" Pria memakai kemeja mocca berlengan pendek dipadu celana kain hitam.
"Mas Khabab sendiri mau ke mana?"
.
Akhirnya kami berangkat sama-sama ke terminal. Mas Khabab ada keperluan sendiri. Sedangkan aku melanjutkan perjalan menuju kota.
"Mbak Zira, betah di sini?" Ia bertanya ketika aku hendak masuk ke bus.
Gimana ya aku jawab? Sebenarnya sih nggak betah. Namun, aku membetah-betahkan diri.
"Betah kok, Mas. Tiap hari kita ngehirup udara sejuk penggunungan, mendengar kicauan burung. Itu menenangkan, di kota nggak ada," jelasku.
Sang karnet pun berteriak, aku segera berpamitan pada Mas Khabab.
"Hati-hati, Mbak Zira. Jangan lupa balik, ya!"
Aku tersenyum sambil mengacungkan jembol kanan.
"Jangan buatkan saya merasakan kehilangan selanjutnya."
Deg.
"Ada-ada aja, Mas," selorohku.
Ia tersenyum lebar, bahkan sangat lebar.
Otakku mencerna kalimatnya. Sedangkan tangan kami saling melambai, sebagai kata sampai jumpa lagi.
Bus melaju meninggalkan terminal. Benda di sekeliling bergerak semu.
Terkadang memang begitu, setelah kita mengenal akrab, rasa takut kehilangan itu pasti muncul.
__ADS_1
Bersambung