Mememani Cinta Pertama Hingga Ke KUA

Mememani Cinta Pertama Hingga Ke KUA
Part 08


__ADS_3

"Sudah Mas bilang, Zira! Jangan dengan pemuda itu!" Intonasi Mas Fattah meninggi.


Mas Fattah baru pulang kerja sudah marah-marah. Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. 


Cemilan yang sedang aku kunyah hilang selera, tak ada lagi rasa. Memang kenapa? Sok ngatur-ngatur!


"Memang kenapa, Mas?" Kucoba meredam amarah. Namun, saat Mas Fattah membanting pintu kamarnya. Aku terhenyak.


"Mas, memang kenapa?" Aku bertanya lagi agak menekan suara.


"Aku malu, Ra." Suaranya dari dalam kamar terdengar pelan.


Nggak jelas, memang dia malu apa? Mas Ajmul kaya dan aku miskin? 


Lama hening. Mas Fattah keluar lagi, rambutnya masih basah.


Kini ia duduk di sampingku berbicara pelan, "Zira, tau, kenapa Mas Malu?"


Aku menggeleng. 


"Kehadiran Zira kemari, membuat rencana Pak Samsul gagal."


"Pak Samsul, siapa?"


"Papanya Ajmul, Ajmul ingin dinikahkan. Awalnya sudah kelar semua, tapi kekasih Ajmul pulang. Sehingga yang tadinya Ajmul nurut, sekarang mulai membantah. Pak Samsul memintaku untuk mencaritahu siapa kekasih Ajmul tersebut."


Aku menyimak. 


"... dan ternyata perempuan itu adalah kamu, adikku, siapa yang nggak malu, Ra?"


Aku memeluk bantal, memilin ujungnya. Mata memperhatikan gerak mulut Mas Fattah yang sedang bercerita. 


"Mas kasih uang, kembalilah ke desa sana, ya," pintanya.


Luruh juga, tetes bening mendarat di pipi. Cepat-cepat aku menyekanya. 


"Mas Bohong! Mas Ajmul memang mencintai Zira! Nggak mungkin ngelakuin itu! Kami sudah kenal sejak lama, Mas!" Kini tangis berpadu dengan tawa ragu. 


Aku membenam wajah di bantal sofa.


"Sudahlah Zira, kamu bukan lagi anak kecil. Walaupun sudah bersama sekian lama, bila tak ditakdirkan untuk bersama, apa boleh kita perbuat? Takdir atas jodoh, Allah yang menentukan."


"Mas bohong!" pekikku lalu beranjak pergi.


Akan kucari kebenaran. 


"Kamu mau ke mana?"


"Zira!"


"Zira!"


"Jangan edan ya, Ra, ini sudah malam!"


Tak kuhiraukan panggilan Mas Fattah. Sepupuku itu kali ini bersikap lebih dari menyebalkan.


Aku segera mencari taksi, tapi yang ada hanya ojek. Menembus udara malam menuju taman alun-alun kota.


Bila nanti aku harus mendengar kebenaran, apa aku harus marah, mencak-mencak di depannya? Apa aku? bukan kekasih halalnya, tak ada hak mengatur hidup orang.


Namun, semua kembali ke insting masing-masing.  Bila kau sudah membuat seseorang merasa betah, tolong jangan pergi.


"Kembaliannya, Mbak," ujar tukang ojek. 


Angin malam terus berhembus, aku duduk menunggu Mas Ajmul. Sudah kuberitahu dia untuk datang. 


Aku terus meringkuk, kedinginan. Tadi lupa meraih jaket. 


"Pakai," ujar seseorang dari belakang.

__ADS_1


"Mas Fattah, ngapain ke mari?" selidikku. 


Ia tidak menjawab, berdiri dengan tangan kiri ke saku dan tangan kanan menyerah jaket padaku.


"Lebih baik Mas pulang!"


"Pakai!" Perintahnya lagi, "kamu kalo dibilang jangan ngeyel, bisa gak? Tau 'kan sekarang kamu tinggal di mana? Dan menjadi tanggung jawab siapa?"


"Jangan sok ngatur, juga sok perhatian!" kelakarku. "Sekarang aku pergi, biar nggak lagi jadi tanggung jawabmu."


"Mas!" pekikku saat tangan Mas Fattah hendak mendarat di pipiku. 


Mas Fattah kemudian didorong oleh Mas Ajmul yang tiba-tiba datang menarik lenganku.


"Lepaskan!" perintah Mas Fattah. 


Namun, Mas Ajmul tidak peduli. "Begini sikapmu? Apa juga yang dewasa, Fattah."


Aku menyaksikan dua pria sedang berselisih. 


"Hei, itu bukan urusanmu, aku sedang mengajari saudaraku tentang adap!" Mas Fattah benar-benar tampak marah. Sekarang jelaskan pada Zira keadaan yang sebenarnya. Karena tujuan dia ke sini saat ini ingin mendengar penjelasanmu!" tegas Mas Fattah.


Aku menarik pergelangan tangan dari cengkeraman Mas Ajmul, "Sekarang Mas Jelaskan apa benar Mas hendak menikah?"


Mas Ajmul menatap Mas Fattah, akan tetapi ia pura-pura tak peduli.


"Sudah, kalian selesaikan berdua. Pun kamu harus ingat kau itu seorang perempuan." Tatapan Mas Fattah seperti ingin menelan saja. 


".... Kuberi waktu lima belas menit!" Ia berlalu meninggalkanku dengan Mas Ajmul.


Aku belum pernah melihat Mas Fattah sepanas itu.


Kendaraan-kendaraan berlalu-lalang. Buanaku sekarang bagai fatamorgana. 


"Sudah aku bilang bukan, aku tidak leluasa untuk memegang setir. Bahkan tidak sedikit pun diberi kesempatan," pungkas Mas Ajmul padaku.


"Hingga sampai pendamping hidup, kamu nggak diberi kesempatan untuk memilih?"


Saat semua asa hancur, luka hati tercipta. Bagaimana bisa aku menuntut diri untuk berlagak gembira, bukankah suasana wajah tergantung suasana hati?


"Mas!"


"Iya?"


"Kenapa Mas diam?"


"Sudahlah, besok kita menikah."


Nafasku tercekat, apa-apaan dia?


"Hatiku hanya milikmu, Zira, percayalah aku sama sekali tidak mencintai perempuan itu." Ia menunjukkan sikap orang sedang depresi, tangannya meremas rambutnya sendiri. Menunduk.


   Aku tetap 'kan setia


   Bersama janji yang dibina


   Mengapa engkau berubah


   Kala cinta di penghujungnya


  


   Mengharap sinar yang terang


   Menyinari kerinduan


   Agar terobat keresahan


   Tapi luka yang kau kirimkan ....

__ADS_1


"Sudah Zira! Sudah! Jangan menyindir, bisa?!" pekik Mas Ajmul.


Mas Ajmul tersindir dengan lirik yang aku senandungkan. Ya, memang nyatanya begitu.


Air mata ini terus keluar, meraung dalam diam. Sakit. Bagaimana kujabarkan. Ternyata, tak ada guna aku merawat rindu selama ini. 


"Ayo, ikut aku sekarang." Ia menarikku. 


"Ke mana, Mas?"


"Kita menikah. Yang lain kita pikirkan nanti."


"Sudah Zira, kita pulang sekarang!" sanggah Mas Fattah, "kehilangan logika dalam mencintai itu boleh Ajmul, tapi tidak boleh kehilangan syara', kita memiliki agama, bukan?"


".... Mencintai tak harus memiliki, kalimat tersebut seringkali kita dengar." Mas Fattah terus berbicara.


"Namun, harus di perjuangkan, Fattah," sahut Mas Ajmul. 


Mas Fattah melangkah pelan, "Lepaskan saudaraku, Ajmul. Musyawarah dulu bersama keluargamu yang gila materi itu."


Mas Fattah membawaku masuk ke mobil. Dalam mobil tangisku pecah, yang sejak tadi kubendung. Sebelum mobil bergerak pergi, sempat aku melihat Mas Ajmul yang berdiri mematung, bagaimana hatinya sekarang? Hancur? Sehancur apa dan lebih hancur siapa?


"Mencintai serupa menggenggam mawar, Zira, yang berani menggenggam berani pula menerima luka. Aku tidak melarangmu menangis." Mas Fattah berbicara sambil menyetir.


Di perjalanan mobil kembali berhenti, terparkir di depan sebuah Cafe. 


"Untuk menangis perlu juga tenaga, yuk, makan," ujarnya.


Aku menolak, "Nggak usah, Mas pergi sendiri aja." 


Diraihnya selembar tisu untukku, kemudian menyeretku keluar. 


Aku berjalan keluar tanpa menggunakan alas kaki, hanya sekilas ia melihat ke arah kakiku, selanjutnya tak peduli lagi. 


"Mas!"


"Iya?"


"Kerudungku, kusut gak?" Saat berbicara masih ada sesegukan.


Ia tersenyum, "Adikku tetap cantik, walau sekusut apa pun. Yang penting auratmu tertutup."


Terimakasih Tuhan, Engkau mengirim untukku sosok saudara yang begitu baik.


Aku melangkah masuk, pengunjung yang ada di sini melihat ke arahku dan Mas Fattah dengan tatapan aneh.


"Hei lihat, itu sepasang kekasih yang sepertinya baru usai bertengkar." Mungkin mereka akan berkata begitu.


Atau ....


"Hei, kenapa kusut gitu perempuannya?"


Ah, entahlah. 


Mas Fattah menarik kursi. "Mataku merah?" tanyaku.


"Nggak ...."


"Benarkah?"


"Tapi mereka membisikku," pungkasku lagi.


"Karena kamu cantik. Sudah."


Teruslah tersenyum, hingga dunia iri. Mengira kau baik-baik saja. Cukup seorang yang tahu bahwa kau sedang terluka. 


Dialah yang sedang berada di hadapanmu sekarang, Zira.


Hati tersepuh luka itu biasa, menandakan kau manusia sempurna. Masih dapat merasakan segala rasa. 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2