
Pov 3
Siang.
Panas membakar bumi, seorang gadis melangkah menuju bus yang rute ke Lingga Lama. Sesekali tangannya bergerak, ada sesuatu yang disekanya. Entah keringat atau mungkin air mata.
Dadanya sedang terluka. Mendapati pujaan hati hendak bersanding dengan yang lain.
"Hati-hati, ya," ujar Fattah, sepupunya. "Ini uang untuk Ayah. Bilang, Mas belum bisa pulang." Ia menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribu pada Zira.
"Iya, Mas."
Bibir yang terpoles gincu itu memaksa senyum. Matanya kemudian terbuang ke segala penjuru, memindai kendaraan yang keluar masuk terminal. Agar mata yang berkaca-kaca itu tidak tertangkap oleh lawan bicaranya.
Supir bus membawa koper milik Zira ke jok belakang.
Tertanamlah asa, punahlah janji yang pernah dibina.
"Mencintai bisa berakhir kapan saja, Dik. Maka buatlah janji sesederhana mungkin, karena janji yang kita buat sebelum halal itu fatamorgana. Tidak ada janji yang indah melainkan janji di hadapan-Nya nanti." Demikian kata Fattah tadi ketika masih di rumah, menasehati Zira. Agar kuat hatinya menerima perpisahan dengan Ajmul.
Ketika masuk waktu shalat Ashar bus berhenti di sebuah mushalla rumah makan, para penumpang turun untuk menunaikan shalat.
Air dingin membasuh muka.
.
"Ya Khaliq, tiada suatu pun datang dan pergi melainkan dalam pengawasan-Mu." Zira menadah tangan, bermunajat pada-Nya.
Kemudian ia melipatkan kembali sajadah dan mukena.
"Mas Khabab!" Mulutnya tiba-tiba menyebut sebuah nama ketika mendengar lantunan ayat-ayat suci. Orang yang sedang melakukan hal yang sama di sampingnya menatapnya heran.
Apa benar itu suara Mas Khabab? Ah, mana mungkin. Dia, 'kan, lagi desa. Zira menepis prasangkanya.
Zira mengenal suara Khabab karena gadis tersebut pernah mendengar pemuda itu mengaji ketika mengajar anak-anak privat di rumah pakciknya Zira. Zira mengajari bahasa inggris, sedangkan Khabab mengajarkan agama sesekali, kalau ada yang bertanya.
Suatu hari ada anak yang meminta Khabab untuk melengkapi potongan ayat. Khabab membaca sambil mencarinya di Al-qur'an.
Kuat batin Zira mengatakan itu suara Khabab, ia pun mencoba mencari sumber suara.
"Mbak, busnya mau berangkat tuh." Lelaki paruh baya, pengurus mushalla memperingati Zira.
"Oh iya, Pak, makasih," sahutnya sambil menyungging senyum.
Ternyata hanya feeling Zira saja, yang ada hanya seorang lelaki duduk di dekat mimbar sana dengan postur tubuh gemuk. Zira pun berbalik, keluar dari mushalla tersebut.
Suasana yang tadi panas kini mulai meredup, awan pucat menggantung di cakrawala.
"Permisi, Mbak, sendal saya."
Zira yang sedang membungkuk mengikat tali sepatunya sedikit bergeser.
Ting ....
Ponsel Zira berbunyi. Ada sebuah pesan yang masuk dari Fattah.
'Ra, kamu pulang sendiri aja, Khabab gak ada sudah ke kota kemarin kata Ibu.'
Zira dengan cepat menoleh ke sekeliling, menyisir lalu lalang pengunjung mushalla dan juga RM di sampingnya.
__ADS_1
Apa benar yang tadi itu Mas Khabab? Kembali ia membatin.
Ingin mencoba mencari lagi. Namun, sudah telat. Bus hendak berangkat. Ia tidak punya waktu lagi.
.
Tiba di Lingga Lama pukul setengah tujuh malam. Di situ Zira berdiri sangat lama. Padahal tukang becak sudah beberapa kali menawarinya naik, tapi ia menolak.
"Mbak, memang mau ke mana?"
"Desa Keumala, Mas."
"Kalo begitu naik aja ke sini, biar saya yang antar."
"Nggak perlu, Mas."
"Tidak dibayar pun tidak apa-apa, kok. Daripada duduk di situ malam-malam, tidak baik anak dara begitu. Malam harusnya di rumah." Zira diceramahi oleh tukang becak.
"Eh, bukan begitu kok, Mas, rencana mau naik bus lagi."
"Tapi bukannya tadi baru turun, desa Keumala nggak bisa ditempuh dengan bus, Mbak."
"Bukan, Mas, saya mau kembali lagi ke kota."
"Ohh." Ia bermanggut-manggut. "Nah, itu bisa ditanyai langsung, sepertinya mau berangkat lagi." Tunjuknya ke bus warna biru. Zira pun beranjak untuk bertanya. Ternyata benar, ia akan berangkat searah dengan tujuan Zira.
Tukang becak pun beranjak pergi dari hadapan Zira, "Mas, tunggu!" seru Zira.
Lelaki tersebut tampak heran dengan panggilan Zira. "Apa, Mbak?"
"Mas, tolong antar ini ke alamat ini." Diserahnya koper dan selembar kertas berisi alamat rumah pakciknya. Uang pemberian Fattah sudah dimasukkan ke dalam koper, "nanti bilang sama yang nerima barang ini, suruh buka langsung karena ada barang yang cepat busuk di dalamnya," pesan Zira.
Si tukang becak mengangguk tanda mengerti.
Zira memang seperti itu, cepat mempercayai orang. Bisa saja tukang becak tersebut tidak mengantar titipannya. Namun, Zira tidak berpikir demikian.
"Pak, masih lama berangkat, 'kan?" Ia menoleh ke arah supir.
"Iya, Mbak, sekitar tiga puluh menit lagi." Pria tambun, supir bus tersebut menjawab sambil menglap jendela.
"Kalo gitu, saya pamit bentar untuk shalat."
"Iya ya, silakan." Handuk kecil diletak atas bahu.
.
Ponsel milik Zira sudah mati sejak tadi sore. Mau menghubungi Fattah tidak bisa. Matanya memindai ke sekeliling, sambil berharap ada orang yang mau meminjamkan ponsel untuknya.
Udara malam sangat dingin, ia rekatkan tubuh dalam balutan sweater. Kaca jendela ditutup rapat-rapat. Lampu-lampu di tepi jalan bergerak semu. Ada laron-laron menari di cahaya remangnya. Tak lama kemudian, sepasang netra milik gadis anggun itu yang lelah memandang seharian pun terlelap.
Sesaat, rasa yang mendera terbang.
Tak ada kisah yang lurus, semua berliku-liku. Baik itu kisah cinta, rumah tangga, persahabatan, atau pun meraih mimpi.
Tuhan menciptakan lika-liku tersebut supaya kita tahu bagaimana cara berhati-hati. Jika hidup terlalu lurus, maka kita akan manja. Pun jika terlalu berliku-liku, hati akan keras, dengan lantang unggal-unggalan berdalih sudah biasa. Bina ia di antara lurus dan berliku.
Jangan terlalu bahagia ketika mencicipi yang manis saja, juga jangan terlalu bersedih ketika mencicipi yang pahit saja. Ada masanya Tuhan meraciknya dalam secangkir. Dan kita akan tersenyum menikmatinya.
Di perjalan bus mogok, semua penumpang dipaksakan turun. Sekelilingnya kebun sawit, mereka duduk di tepi jalan sambil menunggu jemputan dari bus lain.
__ADS_1
Di sana hanya ada sebuah rumah, tetapi agak masuk ke dalam. Di luar tergantung lampu petromax.
"Mbak!"
Zira terhenyak saat seseorang memegang pundaknya. Langsung bergeser. "Mau ke mana?" tanya ia lagi pada Zira.
"Mau ke Jubang." Zira merespon tanpa menoleh. Hatinya tidak tenang.
"Dari?"
"Keumala, Lingga Lama."
"Oh." Sesaat terdiam, hanya terdengar suara jangkrik malam dan dengkuran penumpang lain yang duduk bersebelahan dengan Zira. Mereka tidur dengan berpangku tangan di lutut.
"Saya Azis, tujuan kita sama."
Zira tidak menjawab, tangannya terus mengusir nyamuk yang berusaha hinggap di kulitnya. Walaupun memakai baju yang lumayan tebal, tetap saja nyamuk itu serasa punya jarum penusuk yang begitu kuat.
"Ada keperluan apa, Mbak, di kota?"
"Cari jodoh," sungutnya asal-asalan.
Lelaki di sampingnya tertawa kecil. "Cari jodoh kenapa mesti di kota, Mbak? Di desa juga banyak. Bahkan saya aja turun ke desa untuk cari bunga."
Kali ini Zira baru menoleh, "Mas, punya ponsel?" tanyanya, "boleh saya pinjam?"
Azis segera merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel lalu diserahkan pada Zira. Dengan cepat tangan lentik itu mengetik kontak Fattah. Namun, beberapa kali panggilan terabaikan. Pada akhirnya Zira memutuskan untuk mengirim pesan.
'Mas ....' Belum sempat Zira melengkapi kalimatnya, layar ponsel sudah lebih dulu gelap. Lowbet.
Huft, menjengkelkan. Andai saja yang tadi itu ponselku udah aku lempar, gadis itu membatin.
Bus yang menjemput mereka pun datang. Akibat kurang hati-hati saat naik bus, Zira hampir saja tersandung.
"Mbak, ngantuk, ya?" tanya Azis. Tangannya spontan memegang lengan Zira. Zira pun merasa malu, cepat-cepat ia melangkah pergi. Menuju kursi paling depan. Jika siang, maka sudah tampak wajahnya yang memerah karena malu.
Malam sudah sangat larut, benda bundar yang telilit di tangan Zira sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Dalam bus itu ternyata ada dua remaja baru menginjak dewasa, jika kuliah mungkin baru semester pertama. Ulah mereka, penumpang tidak bisa tidur dengan nyanyiannya yang sesekali diselip lelucon.
"Kak, boleh duduk di sini, gak?" Salah satu di antaranya mendekati Zira. pemuda tadi yang bernama Azis terus memperhatikan Zira.
"Boleh, silakan."
Senar gitar kembali dipetik kini menyanyikan lagu Afgan Untukmu Aku Bertahan. Benar-benar tidak tahu kondisi remaja itu. Hati Zira yang hancur semakin dibuatnya hancur.
Tenanglah kekasihku
Kutahu hatimu menangis
Beranilah dan percaya
Semua ini pasti berlalu
Meski takkan mudah
Namun kau takkan sendiri
Ku ada di sini
__ADS_1
....
Bersambung