Mememani Cinta Pertama Hingga Ke KUA

Mememani Cinta Pertama Hingga Ke KUA
Part 2


__ADS_3

Semilir angin dari sawah melipir masuk melalui celah jendela yang masih terbuka, menguar bau tanah halaman yang basah. Hujan baru saja reda sejak tadi siang mengguyur bumi. Kemudian segera aku menutup jendela. Mual dengan bau itu.


Melirik benda bundar yang tergantung di dinding, jarum pendek menunjukkan pukul enam sore kurang lima menit. Tak lama kemudian terdengar qira-ah dari masjid. Suaranya sangat jelas karena letak masjid dengan rumah Pakcik memang tidak jauh.


"Zira, Zira!" panggil Bunda.


"Iya, Bunda, masuk saja," ujar pelan. 


Tampak Bunda sudah memakai mukena. Ia mengajakku ke masjid.


Di masjid, Bunda memperkenalkanku pada teman-temannya. Para nyia desa, cocoknya begitu. Ibu-Ibu itu tersenyum ramah padaku.


"Nak Zira, ayo mampir ke rumah Ibu dulu," ujarnya.


"Iya, Bu, kapan-kapan Zira mampir."


Keluar dari masjid, aku berdiri di bawah pohon yang tumbuh dekat pintu keluar halaman masjid. Menunggu Mas Fattah.


Mas Fattah sedang berbicara dengan seseorang. Semakin dekat, semakin jelas wajah lelaki yang sedang bersama Mas Fattah. Dia pemuda ....


"Sudah dulu, ya, Bab, besok kita jumpa lagi, asssalamu'alaikum," ujar Mas Fattah.


Ia menjawab diiringi senyum. Sekilas ia melihat ke arahku. Tangan kanannya melepaskan peci yang bertengger di kepala. 


"Mas Khabab sudah berkeluarga, Mas?" Aku sengaja berjalan lambat di belakang bersama Mas Fattah, ingin menanyakan perihal pemuda tadi.


"Belum," sahutnya singkat, "dia itu idola para gadis desa ini, kalau dia mau, bisa saja. Karena tidak perlu melamar, keluarga gadis yang langsung ke rumahnya. Namun, begitulah. Belum berjodoh."


Keluarga gadis yang langsung ke rumahnya? Uwow ... warbiazah ....


"Mas iri, nggak?" sindirku.


Mas Fattah mendorongku karena bertanya demikian. 


***


Mas Fattah apa jarang ngomong pakai ponsel, ya? Serius jaringannya ajak gelut. 


Aku menyentuh layar ponsel dengan kasar. Duduk di atas dahan pokok jambu di depan rumah yang tumbuh rendah.


Pasti Mas Ajmul menelponku, ya ampun ... kenapa tersiksa banget sih? 


"Haha ...." Tawa mengejek terdengar. Senang banget liat orang tersiksa. Entah sudah sejak kapan ia sudah berdiri di jendela memperhatikanku.


"Ya Allah, Sayang, maafkan daku. Aku juga rindu padamu My Honey. Namun, apa boleh buat, aku sekarang jadi orang utan," ejek Mas Fattah.


"Mas Fattah ...!" Aku turun dan meraba sendal jepit, "pengen Zira lempar pake ini, gak?" Satu tangan berkacak pinggang.


"Hai, Khabab," ujar Mas Fattah tiba-tiba. 


Aku memutar kepala, sendal yang tadi sudah kuangkat tinggi-tinggi, jatuh dengan sendirinya dari tangan. 


Mas Khabab memberi salam.


Aku mendelik Mas Fattah dan menjawab salam Mas Khabab terbata-bata. 


Ya Tuhan, di mana letak marwahku seorang perempuan yang indentik dengan keanggunan? Di hadapan pria tampan sepertinya, setengah marwahku jatuh .... 


Tak tinggal diam, cepat-cepat aku melangkah dari hadapan Mas Khabab sebelum melihat kekonyolanku selanjutnya.


"Zira, mau ke mana?" tanya Mas Khabab. Dia sadar mungkin aku sedang malu.


Aku abaikan dirinya. Mas Fattah sudah dewasa, tapi terkadang masih bersikap anak-anak, suka usil. 


Di mana ada jaringan, ya? 


Aku mengarahkan ponsel ke sudut-sudut ruang, naik ke kursi di dapur. Ah, nihil hasilnya. Tempo hari pas Mas Ajmul telpon aku sedang duduk di teras, pengen coba cari lagi di sana, tapi ada mereka.


Aku merebah diri atas kasur, menatap langit-langit kamar. Sesaat kemudian ponsel pun berdering.


"Mas capek tau ngehubungin kamu, gak aktif terus."

__ADS_1


Tuh, kan apa juga!


"Maaf, Mas, nggak ada signal di sini," ujarku.


"Zira! Buatkan kopi, tolong. Dua cangkir, ya!" teriak Mas Fattah.


Huaaaaaaaaaaaaaaa .... Pengen kucabik-cabik benda di sekeliling.


"Gimana aktivitas Mas hari ini?" Tangan menuangkan gula ke cangkir.


"Alhamdulillah, lancar," sahutnya. "Cuma tadi, ada cewek kegenitan banget di perusahaan Papa, pengen bacok rasanya, ngaku-ngaku Mas itu pacarnya, kan ****** banget tuh anak," ketusnya lagi.


"Huahahaha," tawaku tersembur.


Namun, Mas Fattah berteriak lagi. 


"Iya, tunggu," responku.


Dua cangkir kopi sudah aku seduhkan. 


Ponsel aku letak sebentar di meja dan turun ke bawah mengantarkan kopi untuk mereka. Kuletakkan cangkir kopi di hadapan masing-masing. 


Tak ada yang menggubrisku, mereka asyik bercerita. Aku kembali ke dapur.


"Jadi gimana cewek yang ngaku Mas itu pacar dia?" tanyaku lebih lanjut soal topik pembicaraan tadi.


"Aku kacangin," sahutnya santai, "sebenarnya dia itu cuma mau cari perhatian," tambah Mas Ajmul lagi.


"Lagian kamu sih, kayak patung berjalan. Btw, berani juga yah itu cewek," ujarku, "coba Mas baperin, sekali."


"Dih."


Kami pun sama-sama tertawa. Andai posisi sekarang berhadapan. Tidak ada sekat. Pasti dapat kulihat tawanya yang memamerkan gingsul. 


***


Hari sudah sore, sinar matahari mulai meredup. Aku berjalan santai di jalan depan rumah. 


"Pulang, pulang! Sudah sore ini, Jangan sampai ketinggalan pengajian di surau," ujar Pakcik pada anak-anak yang sedang bermain bola kaki di tanah lapang, sepertinya sawah yang mereka sulap menjadi lapangan bola.


"Iya, Pakcik, bentar lagi," sahut mereka.


"Sudah, sudah! pulang!" perintah Pakcik.


Dengan wajah keputus asaan mereka menurut, meninggalkan permainan yang sedang mereka geluti.


Memeluk bola, berjalan pulang dengan langkah gontai. 


Dari sini aku melihat mereka, tanpa sadar aku tersenyum. Seru, ya.


Di belakang Pakcik ada Mas Khabab. Ia membawa dedaunan.


Kudengar basa-basi, Pakcik bertanya pada Mas Khabab. Ternyata yang dipegangnya itu ramuan untuk Bapaknya.


"Hai," sapanya ketika berpapasan denganku. Pakcik sudah lebih dulu masuk ke halaman rumah.


"Hai." 


"Fattah, mana?"


Aku menunjukkan ke arah kandang kambing samping rumah.


Di sana Mas Fattah melambaikan tangan, "Zira! Sudah sore nggak baik perempuan di luar rumah!" teriaknya.


Mas Khabab menyernyit dan sedikit memutar kepala menoleh ke arah Mas Fattah.


"Ke rumah, ya," ujarnya.


Mas Fattah mengangguk. Sesudah itu Mas Khabab melangkah pergi.


"Mas Khabab," pangilku. Ia mengurung langkah lagi. 

__ADS_1


"Apa?"


"Oh, nggak jadi." Sebenarnya Aku mau bilang, itu di rambutnya ada ulat bulu. Kasihan juga kalau nggak dibilang.


Khabab masih berdiri. Yasudah kubilang saja, " Mas, itu anu, a-anu." Kalau aku bilang ada ulat bulu, disapu pula pakai tangan.


Satu alis dinaikkan, "Kenapa?"


Aku memetik selembar daun waru yang tumbuh di dekat pintu pagar Pakcik. "Coba Mas bungkuk dikit," perintahku. Ia menurut. 


Aku singkirkan ulat gatal itu dari rambutnya. "Nah, itu." Aku menunjukkan ulat yang tak berdaya lagi tergeletak di tanah.


"Astaghfirullah, Mbak Zira, saya kira apa. Kenapa harus setegang itu?" Ada tawa yang ia tahan. "Sudah dulu ya. Assalamu'alaikum."


Mas Khabab masih memanggil aku dengan panggilan 'mbak' padahal dia sudah tau aku sepupunya Mas Fattah otomatis lebih muda darinya. Ah, mungkin sebagai rasa hormat atau memang raut wajahku terlihat sudah tua? Entahlah.


Suara burung pelatuk di pohon pinang mati samping kamarku terdengar mengerikan, sesekali burung hantu ikut menyela.


Mas Fattah sepertinya belum pulang dari rumah Mas Khabab.


Mas Ajmul tidak meneleponku malam ini. Aku bertengkurap di atas kasur sambil memandang layar ponsel yang menyala. Tidak ada panggilan darinya. 


Tak sadar hingga tertidur dan terbangun ketika lantunan Al-qur'an di masjid menjelang Shubuh.


.


Hari ini aku berencana ke sawah.


Burung bersiul di ranting-ranting pohon dekat kamarku. Kusibak tirai jendela, sinar mentari mengintip di balik bukit.


Rumah sudah tampak sepi. Sepertinya mereka sudah terlebih dahulu ke sawah dan tidak mengajakku. 


"Bunda!" Aku ke dapur, tapi tidak ada sahutan. "Mas Fakta!" panggilku selanjutnya.


Benar, penghuni rumah tidak ada. Tadi aku usai shalat Shubuh terlelap lagi. 


Aku kait kerudung biru yang sudah pudar di samping lemari. Lalu pergi. 


Berjumpa Mas Khabab di pertengahan jalan. Ia sedang menutup pintu pagar ladangnya. Aku menyapa terlebih dahulu. Ia menjawab dengan ramah.


"Mau ke mana pagi-pagi, Mbak Zira?"


"Arah sawah Mas Fattah iyakah ke sini?"


"Iya. Oh kebetulan, saya juga mau ke sana mau menggarap sawah pak Tamin," pungkasnya.


Mengayun langkah menyusuri jalan setapak seiring bertukar cerita, tentang kehidupanku di kota dan juga kehidupannya di desa ini. Embun di ilalang belum sepenuhnya dijemput mentari. Membuat lengan bajuku lembab. 


Pria wibawa itu, saat merespon bicara, tersenyum terlebih dahulu,  bicara dengan bahasa yang ringan. Mas Khabab berwibawa di mataku. 


"Jadi, Mas, kenapa nggak lanjutin kuliah kemarin itu?" 


"Tak sesuai saya di sana," paparnya.


Apanya yang tak sesuai? Ingin aku tanyakan lagi, tapi tak jadi.


Usai melewati ilalang. Tampak sawah membentang luas, bukit-bukit terbaris rapi. Sawah berada di kaki bukit, di atas sana masih ada lahan yang di tumbuhi pohon-pohon besar. Kemudian tak jauh dari sawah ada air yang jatuh dari bukit. Dibuat drainase di bawahnya agar air tersebut dapat mengalir ke sawah. Sekarang mereka sedang musim penanaman. Indahnya. 


Jika tempat ini disulap menjadi tempat pembangunan pabrik dan gedung-gedung tinggi atau sejenisnya, kasihan sekali. 


Seekor burung berbulu biru kepalanya merah terbang melintas di hadapanku.


"Mas Khabab ...!" Basah sudah sekarang, aku terkilir karena tidak membuka sendal. Byyrrrrrr .... 


"Jangan tidur sembarangan," tuturnya. Tanpa ekspresi. Kemudian berjalan lagi. 


Nggak bantu gimana gitu? Menyerahkan tangan sambil bilang, "bangun." 


"Kau bawa siapa, Bab?" Mas Fattah berteriak, ia berada sekitar sepuluh meter lagi dari kami, "Cinderella turun ke sawah, euy ...,"  ejeknya. 


Edan, Sinderbolong, ya! 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2