
Kubuka mata, tampak ruang berdinding putih. Ada cairan infus yang bergantung. Bau obat pun menguar. Aku tak suka suasana ini! Kenapa aku dibawa ke tempat ini?
Terakhir yang kudengar tadi suara dentuman. Kecelakaan, bus yang aku tumbangi menabrak tembok pembatas jalan karena menghindari pengendara roda dua yang tiba-tiba menyeberang.
Aku sendirian.
Ponselku? Aku angkat bantal terbalut kain putih. Mencari benda pipih tersebut.
Seorang dokter pun masuk. "Mbak, jangan gerak sembarangan," peringatnya.
".... Saya sudah menghubungi keluarga Mbak, mungkin sebentar lagi akan sampai." Diserahnya ponsel padaku, lalu dokter setengah umur itu melenggang pergi. Ia sempat menarik tirai jendela, hingga pemandangan senja tidak dapat kusaksikan lagi.
Sesaat kemudian, ada derap sepatu beradu dengan lantai.
Benar saja, yang datang Mas Fattah dan .... Apa Dokter juga menghubungi Mas Ajmul?
Kulihat raut wajah Mas Fattah yang sangat kusam, seperti pulang dari tempat kerja langsung ke sini.
"Mas, gak beritahu Pakcik sama Bunda, 'kan?"
Pria berambut klimis dengan kemeja biru menarik kursi untuk duduk lalu tangannya menopang dagu di ranjang tidurku.
"Untuk apa kamu ke sini, Ra?" Ia bertanya pelan, mata intens menatapku.
"Zira mau ...." Aku tak meneruskan.
Aku terdiam. Sekilas melihat ke arah Mas Ajmul yang berdiri di sisi kiri.
"Aku capek-capek dari lapangan, langsung ke mari. Gak sempat ganti baju. Sekarang lihat kamu terbaring seperti ini."
Aku benar-benar merasakan kasih sayang sosok saudaraku.
"Zira baik-baik aja kok, Mas." Aku meraih gelas berisi air putih, tenggorokan ini terasa kering.
Aku hanya luka mengalami ringan. Mungkin besok sudah bisa keluar.
Mas Fattah memperkenalkan yang datang bersamanya. Anak bosnya. Ajmul Daizy. Aku sempat bingung. Namum, Kusembunyikan.
__ADS_1
Anak bosnya? Selama ini Mas Fattah kerja di perusahaan papanya Mas Ajmul?
Mas Ajmul tidak bicara apa-apa, sekarang pun berlagak tidak kenal di hadapan Mas Fattah.
Tiba-tiba kepala terasa bagai naik komedi putar. Hanya sesaat, kemudian pulih kembali.
Mas Fattah keluar sesaat, tinggallah aku dan Mas Ajmul. Langsung kuluahkan rasa penasaranku. Kenapa bisa? Ia tak pernah bilang kalau Mas Fattah bekerja di perusaahan papanya.
Hmmm .... Berarti gampang dong nanti saat Mas Ajmul memintaku pada Pakcik karena satu sisi kawannya Mas Fattah.
.
Pagi.
Aku dan Mas Fattah berjalan memyusuri koridor rumah sakit. Mas Fattah mendorong koperku dan memakai tas selempang milikku.
"Mas."
"Iya?"
Ia memutar bola matanya, "Nanti aja di rumah, sekarang lagi buru-buru, Ra. Aku mau berangkat kerja."
Aku mulai memperlambat langkah.
"Tapi Zira mau makan di sana." Tunjukku ke arah sebuah rumah makan di seberang jalan.
Mas Fattah mengambil mobil di parkiran rumah sakit.
Aku mulai bertanya lagi, "Mobil siapa, Mas?"
"Mobil karyawan rumah sakit aku pinjem."
"Ohh."
"Banyak tanya, " ketusnya.
Setelah memasukkan koper ke mobil ia keluar lagi, "Jadi nggak makan?"
__ADS_1
"Jadi dong." Aku cengengesan. Kami melangkah menuju rumah makan yang kumaksud tadi. Langkah Mas Fattah sangat lebar khas orang buru-buru. Ia mengejar waktu agar tidak terlambat masuk kerja.
Dua puluh menit, sudah selesai. Tepat pukul sepuluh kembali melakukan perjalan menuju apartemennya.
.
"Tak lama lagi tempat ini akan menjadi milik kita seutuhnya."
"Milik kita? Berarti kapan-kapan bisa dong ngajak Pakcik sama Bunda Ke mari." Aku mengikutinya. Ah, saudaraku memang sudah memanenkan hasilnya sekarang. Tak sia-sia Pakcik menyekolahkan Mas Fattah.
"Hmm ... In Syaa Allah akan secepatnya." Mas Fattah menaruh koperku di pintu. "Aku mau berangkat lagi," ujarnya.
"Etapi, itu mobil karyawan rumah sakit mau dibawa ke mana?"
"Edeeeh, Zira ... ini mobil aku, kamu kira aku nggak sanggup beli, ya?"
"Bukan ...."
"Udah, aku mau berangkat kerja .... Jangan ke mana-mana!" peringatnya.
"Zira mau jumpa kawan bentar, boleh, ya."
"Pokoknya jangan ke mana-mana!" Teriaknya dari dalam mobil.
"Nggak," balasku.
Mobil silver itu bergerak meninggalkan gerbang tempat tinggal Mas Fattah. Aku berdiri menatap mobil tersebut hingga hilang berbelok tikungan.
Orang sekeliling akan senantiasa baik, asalkan kita sendiri tidak bersikap nyeleneh. Kadangkala kita menginginkan perlakuan baik, akan tetapi pribadi tak pernah berbuat baik. Bagaimana bisa lenting sempurna?
Huft, sampai juga akhirnya. Saat kaki melangkah masuk. Disambut dengan bau harum pewangi ruangan. Ciri khas bau ruangan Mas Fattah adalah keharuman bunga mawar. Tak hanya di sini, kamarnya yang di desa pun begitu.
Terpampang beberapa foto di dinding ruang tamu yang bercat putih itu. Fotonya memakai jas, foto Pakcik dan Bunda. Ada foto perempuan lain yang wajahnya sangat familiar, kumencoba memperhatikan lebih lama.
Aku? Atau hanya mirip? Iya, ini aku ketika SMA. Keluguan wajah di foto itu membuatku ingin tertawa.
Bersambung
__ADS_1