
Awan tampak abu-abu di pagi itu, Zira cepat-cepat berlari memasuki kafe D’Brown tempat ia bekerja.
Mungkin sekali sapuan angin, hujan akan turun menyapa bumi.
“Kalo perempuan kemarin datang lagi, katakan padaku, ya.” Seseorang sedang bicara dengan Khabab yaitu Ajmul memakai jas abu-abu dipadu celana jin hitam dan sepatu hitam mengkilat.
Zira tidak memperhatikan dan dengan santai berjalan di depan mereka.
“Yang itu, bukan?” tanya Khabab menunjukkan ke arah Zira. Ia memang tidak tahu apa-apa terkait hubungan Zira dan pemuda di hadapannya sekarang.
“Zira!” diikuti panggilan Ajmul. Kaki itu sangat cepat mengambil langkah mengikuti Zira.
Jantung Zira hampir jatuh saja saat melihat ada Ajmul di kafe itu. Namun, ia mengambil tindakan untuk biasa-biasa saja. “Maaf, saya sedang bekerja. Tidak punya waktu untuk berbicara.”
“Ra!”
“Ayuk, Mas! Kita kerja.” Disambar lengan Khabab dibawa ke dapur. Tidak menghiraukan Ajmul yang ingin berbicara dengannya.
“Dia menanyakan Zira dari tadi, mungkin ada yang perlu disampaikan.”
“Shut! Diam, Mas. Itu Ajmul, mantan Zira yang sudah menikah. Aku lagi menata hati, belum bisa bertemu dengannya,” jelas Zira dengan mata terasa memanas.
“Ra!” Ajmul tetap mengikutinya.
“Zira, berlagaklah dewasa,” bisik Khabab di telinga Zira. Ia pun melangkah pergi, namun tangan Zira menarik celemek yang dipakai menghentikan langkah lelaki itu.
“Tetaplah di sini, hingga dia pergi,” tukas Zira.
“Jangan menghindar, Ra!” Ajmul sudah berada di antara mereka.
“Memang ada apa, Mas?”
Ajmul malah diam, memandang lama gadis di hadapannya.
Dengan posisi seperti itu, semua kilas lalu kembali satu persatu tertata di benak Zira, ia berusaha menampiknya.
‘Sadar, Zira! Sadar! Dia sekarang sudah terikat dengan yang lain.’
“Apa kabar?” Itu pertanyaan dari Ajmul.
“Alhamdulillah sehat. Apa kabar dengan istrimu?”
“Sehat-sehat saja, dia sedang mengandung.”
“Oh, alhamdulillah. Sudah berapa lama?”
“Dua minggu,” ujar Ajmul, “aku kemari bertemu denganmu bukan untuk membahasnya,” lanjut Ajmul.
“Mas, tetaplah ingat dirimu sekarang sudah berumah tangga.” Zira beralih mengerjakan tugasnya. Menata gelas-gelas yang terletak di meja.
Di balik saku Ajmul terdengar dering ponsel. Berulang kali dering itu terdengar, tetapi Ajmul mengabaikannya.
__ADS_1
Khabab sudah beranjak dari sana, karena ada keperluan.
“Zira, aku harap kau menemukan yang terbaik melebihiku. Assalamu’alaikum,” tukasnya dan membalikkan badan. Sekarang mereka saling membelakangi.
Entah keberanian apa yang Zira miliki, ia melangkah berdiri di samping Ajmul. “Mas, doakan saja, semoga lelaki itu.” Ditunjuknya Khabab yang sedang berada di meja kasir.
Ajmul pun ikut memperhatikan Khabab. Namun, ponselnya berdering lagi, membuat pendengaran Zira terganggu.
“Pulanglah, mungkin istrimu menelepon,” tutur Zira.
Sebelum keluar Ajmul sempat menatap Zira sembari berbicara dengan orang seberang ponselnya.
“Iya, ke rumah sakit saja sendiri, aku lagi kerja.”
Pada akhirnya lelaki bertubuh tinggi itu berjalan keluar. Disambut rintik hujan. Zira memperhatikannya. Sebelum dinding kaca kafe terbias dan memburamkan pandangan.
Tidak berguna bila hanya membina sabar, tetapi lupa mengundang ikhlas. Sabar dan ikhlas adalah sejoli yang terus berjalan bersama.
**_**
Siluet pantai di rembang senja tampak indah. Zira, berdiri di bibir pantai menyaksikan ombak yang riuh berkejar-kejaran.
Mereka ke rumah Rania yang terletak di dekat laut.
Zira terdiam, memandang hamparan laut dihiasi langit yang tersepuh warna jingga. Masih ada beberapa perahu yang belum menepi dan burung-burung camar berebutan menuju sarangnya.
“Kakak! Sudah Maghrib, ayo masuk!” seru Rania berdiri di pintu dapurnya yang mengahadap laut.
Teman barunya Zira ternyata dari kalangan sederhana.
Terlebih dahulu Zira membersihkan tubuh lalu berwudu untuk salat Maghrib. Setelahnya orang tua Rania menghidangkan makan malam.
Di luar tampak riuh dengan anak-anak yang berlari-larian. Rumah yang bersisi-sisian membuat halaman tampak sempit. Anak-anak berlari di gang kecil dengan hanya diterangi lampu teras rumahnya.
“Di tempat ini Rania tinggal, Kak,” tutur Rania.
Rania ke sana untuk mencari uang membantu keluarga dalam membiayai sekolah adiknya.
Mereka berangkat pulang setelah Isya, memacu motor matic milik Rania. Membelah malam yang dingin.
Rania yang tomboy sangat lihai mengendarai motornya, bak pembalab motor gp. Zira dengan kuat memeluk pinggang Rania, berulang kali mengingatkan agar tidak ngebut.
*
“Ajmul datang ke mari,” tukas Fattah saat Zira masuk ke rumah. Fattah sedang duduk di ruang tamu menyesap kopi.
“Untuk apa?”
“Kontakmu kenapa gak bisa dihubungi lagi tanya dia.”
“Udah ah, aku capek.” Zira acuh meninggalkan Fattah. “Udah punya masa depan masih aja kejar masa lalu,” gumamnya.
__ADS_1
Zira sudah menggantikan kontaknya ketika awal-awal permasalahan dengan Ajmul.
Lagi pula, sudah lama kontak Zira diganti, tetapi kenapa baru sekarang ditanyakan?
Zira menghempas tubuhnya ke ranjang. Melepas penat seharian yang menderanya.
Bila pagi diawali oleh sesuatu yang tidak baik. Hingga hampir memejam mata terus diliputi tidak baik.
**_**
Bunyi dering panggilan dari ponsel mengusik tidur Zira. Melihat jam sudah pukul sebelas malam.
Dari kontak yang tidak tersimpan, tetapi perempuan itu dapat menghafal sederet nomor yang tertera di layar ponselnya.
Zira menekan senyapkan. Lalu mengirim pesan.
[Mas, sudahlah. Kita sekarang sama-sama mencari hidup baru.]
[Tapi aku tidak bisa, Ra. Sudah kucoba, tapi kamu yang terus-menerus kupikirkan.]
Zira tidak peduli lagi. “Buaya, buktinya istrimu sudah mengandung!” umpat Zira, lantas ia tersenyum sinis dan melanjutkan tidur.
Namun, bunyi ting di ponsel tidak berhenti. Akhirnya Zira membuka ponselnya lagi. Ada beberapa pesan yang masuk, ia hanya membaca tanpa ada niat membalas lagi.
[Hatiku separuh masih tertinggal padamu.]
[Masih kau ingat, lima tahun kita telah bersama. Apa yang paling berkesan, Ra?]
[Ra, tidak apa bukan? Jika rasa ini terus ada?]
[Apa aku lari saja, lalu kita menikah?]
[Aku menyesal, Ra, menyetujui rencana Papa.]
“Mana ada lelaki yang menyesal, hah? Hoak aja kau, Mas.”
[Aku terkurung pada posisi serba salah. Suami seperti apa aku, Ra? Raga memang dengannya, tapi hati milik wanita lain.]
“Astaghfirullah, Mas, lupakah kau bahwa Allah itu ada?”
[Mas, hati kita adalah milik-Nya. Yang setiap detak terus ada dalam pengawasan. Berserahlah pada Allah, terus panjatkan do’a agar engkau menjadi imam sebenar-benarnya imam, yang akan membimbing keluarga kecilmu menggapai ridha-Nya.
Kita hanyalah sebatas kisah lalu. Ditakdirkan Allah bertemu bukan untuk bersama, tapi hanya sebatas menghubungkan tali persaudaraan saja. Tidak ada yang buruk, jika itu memang datang dari Allah. Ia tau apa yang terbaik untuk kita.
Nama kita di lauh mahfudz telah lebih dulu bersanding dengan nama lain. Berbahagialah, karena engkau telah menemukan tulang rusukmu dan jodohmu tidak dirahasiakan lagi.
Sudahlah, Mas, kita saling melupakan tanpa harus membenci. Jangan menghubungi aku lagi, jika kamu menyangiku demi keluarga kecilmu. Lambat laun cinta itu akan datang, teruslah bersama. Tanpa harus berkeluh pada orang lain, cukup pada Allah saja tempat kau membagi segala kesah.]
Zira membalas pesan Ajmul sangat panjang, karena jika membalas dengan kalimat singkat, pasti Ajmul dengan cepat membalas lagi. Namun, Zira tidak ingin mendapat balasan ke selanjutnya.
Luruskan niat, maka lain akan mengikuti.
Secangkir kopi akan muncul kenikmatannya bila kita menyesap dengan santai tanpa ada unsur buru-buru. Bila terburu-buru, kita tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya meludahi sisa dan berkata pahit.
__ADS_1
Bersambung