Mememani Cinta Pertama Hingga Ke KUA

Mememani Cinta Pertama Hingga Ke KUA
Part 15


__ADS_3

Tengah malam Zira terbangun dan menuju ke dapur. Mendapati pintu kamar Fattah terbuka. Ia berniat menarik knolp pintu tersebut agar tertutup kembali. Pikirnya mungkin sepupunya itu tertidur dan lupa menutup pintu. 


"Mas," panggil Zira pelan saat melihat kamar Fattah kosong. Ia memberanikan masuk. Memang benar-benar tidak ada orang. 


Lalu Zira menuju ruang tamu. Juga tidak ada Fattah di sana. Menyibak tirai jendela depan, melongok ke luar. Mobil milik Fattah tidak terparkir lagi di depan teras. 


Pintu keluar juga tidak bisa dibuka. Terkunci lewat luar. 


"Mas ke mana?" menatap jauh ke luar lewat jendela. 


Tidak ada pesan apa-apa yang ditinggal Fattah. 


Zira akhirnya tidak tidur lagi. Ia memilih duduk di depan layar televisi di ruang tamu. Mengambil selimut dan berbaring di atas sofa. 


Malam sudah merangkak menuju pagi, pukul tiga kurang dua menit. Begitu dingin, direkatkan selimut ke tubuh. Saat mata hampir terpejam terdengar deru mobil memasuki halaman. 


Zira buru-buru bangun.


Tampak Fattah berjalan memapah seorang lelaki. Zira mengerjap untuk melihat jelas di bawah remang cahaya lampu teras, siapa yang bersama Fattah? 


Pintu dibuka Fattah dari luar. Zira mematung.


"Ambilkan alas tidur, selimut, bantal!" perintah Fattah. 


"Mas Khabab, kenapa?" Zira membulatkan mata menatap Fattah dan Khabab silih berganti. 


Mata Khabab terpejam, ada memar di keningnya. Lebam di bibir bawah sebelah kanan. Bajunya tampak berdebu. Pun celana kain hitamnya yang sudah lusuh. Tampilan Khabab sungguh acak-acakan. 


Zira menggelar kasur yang biasa Fattah gunakan saat duduk lesehan di lantai. 


"Maaf, Tah, merepotkan kamu dan Zira."


"Gapapa Mas Khabab," cengir Zira. Ia berlutut di depan Khabab sembari merapikan kasur dan bantal. "Ceritanya gimana? Kenapa bisa gini?" lanjut Zira. 


"Khabab kena keroyok sama anak-anak genk dekat kafe sana," sahut Fattah. Menatap lurus ke Zira yang hanya memakai piyama tanpa penutup kepala. 


Zira lupa pesan Fattah, kenakan penutup kepala setiap keluar dari kamar. 


Sekarang Zira paham apa maksud dari tatapan tajam dari sepupunya. Ia segera berlari ke kamar.


Rambut panjang yang lurus lagi hitam legam itu adalah mahkota terindah. Sesaat tadi digerai di depan yang bukan mahramnya. Langsung kena teguran. 


Manusia yang satu dengan lainnya saling terikat. Tidak ada yang dapat berdiri tunggal. Jika bukan saling membantu, maka saling mengingatkan. Intinya saling membutuhkan.


***


"Kenapa tidak ke rumah sakit aja?" Zira bertanya pada Fattah. Khabab masih terbaring lemah. 


"Dia sendiri nolak," balas Fattah. 


"Tidak terlalu parah, Zira," lirih Khabab. 


"Tapi wajahnya ini memar-memar. Kalo ada tulang wajah yang bergeser atau retak gimana?" Zira memperhatikan luka wajah Khabab sangat dekat. Refleks jari telunjuk itu menekan kening Khabab. 


"Ra!" tegah Fattah. 


"Iya loh Mas, ini harus di bawa ke rumah sakit!"

__ADS_1


Fattah membawa air hangat dalam baskom dengan sapu tangan. "Awas!" perintahnya agar  Zira sedikit bergeser. 


Melipat celana Khabab hingga lutut. "Bab, kita ke rumah sakit aja, ya," ujar Fattah. 


"Nggak usah, Tah." Berusaha untuk duduk. "Aku baik-baik aja, kok. Kasihan seharusnya biaya itu bisa kita pergunakan untuk lain."


Fattah bergeming. Mengingat lagi ia baru pindah tempat kerja, gajinya masih lama. Menghela napas panjang, saat memikirkan itu. 


Lalu Fattah menatap Zira, "Aku mau kerja, jagain Khabab,"  ujarnya. 


Zira mengangguk. 


"Ini obat meringankan nyeri. Minumkan untuk Khabab." Fattah menaruh obat di samping Zira.


Fattah sedikit ragu meninggalkan Zira dan Khabab di rumah. Namun, ia juga harus bekerja. Tidak bisa langsung libur karena tempat kerja baru. 


"Bab, nanti kalo kamu butuh apa-apa, suruh Zira yang ambilkan, ya," pesan Fattah, "dan kamu Zira, tolong jangan tutup pintu ini sampai aku pulang." 


"Iya, Mas."


Tepat pukul tujuh pagi Fattah berangkat kerja. 


Begitu Fattah pergi, Khabab pun beranjak bangun. Berjalan tertatih-tatih menuju teras. 


"Fitnah itu lebih kejam. Apalagi fitnah terkait perempuan," tutur Khabab. Zira mengekorinya di belakang. Kadang Zira hampir memegang lengan Khabab saat pemuda itu hilang keseimbangan. 


Tiga puluh menit sudah mereka duduk saling diam. 


Khabab memejamkan mata menyandarkan kepala ke tembok. Baru saja ia meminum obat pemberian Fattah tadi sebelum berangkat kerja. Napasnya keluar teratur.


"Zira," panggil Khabab. Ia tidak lagi memanggil dengan sebutan Mbak. 


Berniat membangunkannya dan menyuruh tidur ke kamar, tetapi Khabab tidak tega. Melihat perempuan itu terlalu lelap. 


Masih di teras. 


Khabab duduk menatap jauh ke jalan. Zira belum terjaga. Sebentar lagi azan Zuhur. 


Saat hendak masuk waktu salat ia teringat dengan masjid di desanya. Biasa ia mengaji sebelum azan berkumandang. Pelan, Khabab membaca surah alkahfi. 


Diam-diam Zira terbangun. Namun, ia berpura-pura masih tertidur. Meneduhkan mendengar suara Khabab. Bibirnya menyungging senyum. 


Batin yang tergores lambat laun menemukan penawar. 


***


"Zira yang baca dan Mas khabab nyimak. Gimana, setuju gak? Ini menceritakan tentang--"


"Lanjutkan," potong Khabab. Ia masih bersenderan di dinding, wajah sedikit mendongak dengan mata terpejam. Bibir tersenyum simpul mendengar celoteh Zira. 


"Gak jadi. Aku lapar." 


"Lah?" Mata Khabab paksa dibuka. Melihat seraut wajah perempuan di hadapannya. Lalu membuang pandang ke arah pintu halaman dan menyungging senyum. "Saya semakin merasa nyeri, Zira."


Zira membulatkan mata, dahinya berkerut. "Benarkah? Kita ke rumah sakit aja, ya. Zira hubungin Mas Fattah sekarang." Rasa khawatir memenuhi benak Zira. 


"Biarkan saya sendiri," pinta Khabab. 

__ADS_1


"Hmmm ...."


"Ini bukan nyeri biasa, cepetan Zira pindah."


Zira tampak bingung, ingin bertanya lebih lanjut. Nyeri di mana? Memang beda gimana, Mas Khabab? Rasa nyeri biasanya gimana? Kenapa ini beda?


Lagi-lagi Khabab tersenyum melihat Zira percaya atas ucapannya . 


"Benaran gak usah nelpon Mas fattah?" tuding Zira lagi. Ia ragu-ragu melangkah masuk. 


Ingin Khabab berkata ala-ala pria lain, menggombalkan Zira. Namun, Khabab bukan pria yang punya kosa kata tentang itu. Meskipun sebenarnya ingin sekali, penasaran dengan respon Zira. 


Sekarang bukan nyeri, tetapi desir yang beda. Oleh sebab itu lebih memilih menyuruh Zira beranjak menjauh darinya. 


"Astaghfirullah," batinnya. Menyesali pikirannya beranjak dari kebiasaan. 



Malam. 


"Kenapa tadi hingga Maghrib di luar?" tanya Fattah. 


Zira menghidangkan makanan pada Fattah dan Khabab yang duduk lesehan di lantai dekat sofa. Khabab selalu duduk sambil senderan. Karena pinggangnya masih terasa sakit.


"Anu--"


"Cari angin," sela Khabab. 


Fattah menatap Zira memastikan. Perempuan itu mengangguk. 


Di tengah-tengah makan, entah apa yang salah hingga membuat lampu mati. 


Ternyata Zira perempuan yang takut gelap. 


"Ponsel Mas mana?" seru Fattah.


Zira sudah meringkuk. "Nggak tau,"  gumamnya. Tangannya meraba sofa, tetapi malah menemukan lengan salah seorang jika bukan Fattah berarti Khabab yang juga sedang diletakkan atas sofa. 


Bau parfum Khabab. 


Bukan-bukan, tetapi Fattah.


Zira pun menjauh. "Diam di tempat," perintah seorang. Pergelangan tangan kiri Zira ditahannya.


"I-iya."


"Nah, udah terang, bukan?" seru Fattah sembari menyalakan lampu ponselnya. 


Pergelangan tangan Zira terasa ringan. 


Tampak Khabab dengan raut wajah datar. Lalu Zira dengan wajah memerah dan peluh membasahi kening. 


Gadis itu takut dalam gelap. 


"Ayo, lanjut makan!" Fattah kembali duduk di samping Khabab. 


Zira menunduk sangat dalam. Menahan malu. Pantas saja tadi bau parfum Fattah, ternyata Khabab memakai baju milik Fattah. 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2