
Mas Fattah sudah berangkat kerja, aku sendiri di apartemennya. Kugunakan saja kesempatan ini untuk berjumpa Mas Ajmul.
Badanku sudah fit. Toh, memang luka ringan di lutut dan siku, pakai obat ungu saja sudah sembuh. Selanjutnya mengatur jadwal pertemuan dengan Mas Ajmul. Usai dzuhur.
"Mas!" Aku melambaikan tangan. Kekasihku itu menyambutku dengan senyum ramah. Kakinya tersilang, ada terselip rokok di jari tangannya.
Bahagia itu sederhana, sesederhana desir tatkala bertemu orang yang dirindu.
Ia beranjak bangun menyambutku,
"Mas, mulai ngerokok?" Aku langsung bertanya.
Hanya gumaman yang kudengar.
"Kok bisa?"
"Jangan membahas yang tidak penting, Zira." Mas Ajmul menatapku sambil mengulum senyum.
.
"Mau makan apa?" tanya Mas Ajmul saat sudah duduk di kafe D'Brown. Tempat yang kerap kami kunjungi dulu.
Si pelayan sempat lama menatap kami berdua. Lama kemudian ia membuka suara, "Mas sama Mbak, kok lama nggak keliatan, ke mana aja?" Benar saja, tadi ia sedang berpikir sepertinya.
Perempuan berseragam hitam dengan celemek merah tersebut mencatat pesanan kami sambil basa basi masalah lain.
Hari hampir sore. Rintik-Rintik hujan membasahi dinding kaca kafe. Lalu lalang kendaraan menemani, ada juga yang sudah menepi di beranda-beranda toko. Aku menatap jauh, seorang wanita menyeberang jalan sambil berlari kecil, diikuti seorang pria tambun mencoba yang menarik lengannya. Aku rasa ia menyuruh wanita itu berhenti.
Aku mengalih pandang menatap Mas Ajmul. Sadar, ia juga menatapku.
"Zira," panggilnya dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Ada apa, Mas?"
"Ada yang beda."
"Iyakah?"
"Semakin cantik."
Walau di luar langit sedang menjatuhkan air, akan tetapi tetap tak mampu mendinginkan hawa panas dari sekitar dudukku. Bukan panas marah. Namun, rasa panas saking grogi berada di depan Mas Ajmul.
"Zira, andai ada dua pilihan, bagaimana pribadimu memilih? Apa merampas kedua-duanya?"
"Ah, salah itu Mas, masa kita isi soal choice memilih semua. Yang ada malahan salah. Apa pun yang terjadi, pilihan itu tetap harus satu, tidak boleh dua-duanya. Itu rakus ... atau kalau tidak, nggak usah pilih salah satu pun, sudah."
Pria yang jadi lawan bicaraku tertawa kecil.
"Sesulit itu menghadapi soal pilihan ganda, ya," pungkasnya, masih diiringi tawa kecil.
"Semudah itu?"
Aku tersenyum.
"Tapi kamu tetap di sampingku, bukan?"
"Ngomong apa, sih? Ohya, kerja, Mas, gimana?"
Kembali kuseruput cappucino hingga tandas.
Dua pasang kaki memijak bumi basah. berjalan beriringan. Sambil bersenandung kecil. Kita adalah kita, yang semoga bersama hingga menua.
Saat mata saling bertemu, tanpa sadar sama-sama tersenyum. Ah, bahagia sesederhana itu.
__ADS_1
Mobil Mas Ajmul berhenti di depan apartemen Mas Fattah, aku keluar. Melambaikan tangan di bawah rinai yang tak kunjung menepi, perlahan-lahan mobil bergerak pergi. Tinggal aku tersenyum-senyum sendiri sambil menatap jari manis.
"Siapa, Zira?" Selidik pria di balik pagar.
"Mas Ajmul," sahutku jujur.
"Apa nggak ada yang lain?"
"Mas! Apaan, sih? Mas, orang setia itu nggak akan cari yang lain. Dia sudah kukenal li-ma ta-hun." sungutku, aku melewatinya, tangan mengibas kerudung.
"Bukan itu, Zira!"
"Sudahlah! Zira udah kenal dirinya jauh sebelum pergi dengan Mas kemarin itu ke rumah sakit," ujarku sambil berlalu.
"Zira!"
Semua yang aku lakukan salah menurutmu, selalu saja ada kritikan.
Hati ini terus berbunga-bunga menatap cincin yang terpasang di jari manis.
Teringat ucapan Mas Ajmul tadi,
"Zira, ini adalah janji bahwa kamu tidak akan pergi. Jadilah engkau sebagai sebenar-benarnya bagian dari sebagian hidupku."
Ada hantaman yang melentingkan hati hingga terpantul menjadi lenting sempurna. Berwujud debar, saling menghantam. Ah, engkau, Mas.
Kutatap kotak-kotak plafon kamar, atma terus memupuk harsa, melagukan padika. Selaksa bait syair untuk dayitaku, Mas Ajmul.
Hati ini terus merawat cinta. Terus memupuk rasa. Tak pernah padam ditelan masa. Esok, di bawah Kehendak dan Izin-Nya kita mengikat diri dengan janji suci.
Bersambung
__ADS_1