Mememani Cinta Pertama Hingga Ke KUA

Mememani Cinta Pertama Hingga Ke KUA
Part 17


__ADS_3

#Zira17


Seiring berjalannya waktu, cita-cita pun berubah. Ingin menjadi seorang reporter, tetapi ternyata hanya sebatas ingin. Semua melarang mewujudkan. Lantas untuk apa bersekolah tinggi?


Hari ini adalah hari pertama Zira bekerja. 


“Memangnya Zira kerja untuk apa? Toh, kalo mau apa-apa tinggal bilang Fattah aja, bukan?”


“Ah, nggak enak, Mas. Mas Fattah tuh harus nabung buat nikah. Kasihan kalo Zira minta terus.” Zira mengumpulkan piring dan gelas kotor. Sedangkan Khabab membersihkan meja dengan kain lap. 


Khabab tersenyum simpul. “Zira terlalu banyak berpikir tidak enak.” 


“Ya, begitulah. Masa jadi parasit selalu, Mas, hehehe ....” Zira membawa beberapa piring dan gelas kotor ke belakang. 


Khabab mengedar pandangan, tampak ada pengunjung baru. Lelaki itu mendekat menyambut mereka dengan hangat dan bertanya menu yang akan dipesan. 


Di dapur Zira tampak akrab dengan karyawan lain. 


“Biasanya Kakak jadi pengunjung. Lah, sekarang jadi pelayan,” ledek gadis berambut dikucir. Memakai seragam yang sama dengan Zira yaitu warna hitam, namanya Rania. 


“Hidup itu ibarat roda,” sambung yang lainnya sembari menyenggol pinggal Rania. 


“Dan kita harus ikhlas ditempatkan di mana pun,” tukas Rania lagi. 


“Nah, itu tau. Tidak ada tempat yang baik dan tidak ada tempat yang buruk,” tutur Zira. Ia mencuci piring bersama Rania. 


“Hai, Dik, namaku Gia.” Mengulurkan tangan ke arah Zira mencoba bersalaman. 


Fatia, gadis di samping Rania sudah terlanjur tertawa melihat lelaki bernama Gia itu. Dengan gaya ala-ala perempuan ciri khasnya. 


“Eh! Jauh-jauh sana! Bagian elu tuh bersama Mas Khabab bukan di sini.”


“Masalah buat you apa? Gua mau kenalan sama dia. Eneg banget liat Si Nek Lampir ini,” ketus Gia menatap Rania sinis. 


“Udah-udah!” seru Zira meleraikan. 


“Cuma becanda, Kak,” ujar Fatia, “kami tuh udah sering begini, kadang berebut untuk menyambut pelanggan yang tampan.”


“Itu elu kali,” bantah Rania. 


Khabab tampak berjalan ke arah mereka. Sekejap dapur berubah hening. Fatia menyikut lengan Zira. “Si Mas itu tampangnya dingin beud.”


Khabab pun tersenyum ke arah mereka. 


“Es krim, Fat, es krim,” kode Rania. Maksudnya meleleh dengan senyum Khabab. 


“Zira,” panggil Khabab. Sekarang sudah berada di samping Zira. Mata gadis di samping Zira membulat. 


Khabab memperlihat jam tangannya.


‘Pamer jam?’ batin Zira. Ternyata dua gadis di sampingnya juga berpikir hal yang sama. 


“Salat dulu,” ujar Khabab.


“Oh iya, Mas.”


Zira merasa malu sendiri. Lupa sudah masuk waktu salat lantaran azan Zuhur tidak terdengar olehnya. 


Zira mengikuti ke mana Khabab pergi, tidak ada mushalla di sini. Khabab membawanya ke sebuah kamar yang terletak di lantai dua. “Kalo mau salat lain hari, di sini aja.” 


Kamar tersebut merupakan kamar untuk Khabab yang disediakan pihak kafe, karena sudah tahu Khabab seorang perantau.


Zira berwudu terlebih dahulu. Sementara Khabab sudah turun lagi ke bawah. Katanya ia mengambil wudu di kamar mandi bawah saja. 

__ADS_1


Zira membuka tasnya, ada mukena yang selalu disediakan di dalam sana. Ia tahu jika sehari penuh tidak pulang. Otomatis salat dilaksanan di tempat kerja. 


Mengedar pandangan memindai kamar kecil tersebut. Baju-baju Khabab tersusun rapi di atas ranjang dekat bantal. Pandangannya terkunci pada buku yang terselip di bawah bantal dan tampak lumayan tebal. Tanpa sadar, ia menggeserkan bantal untuk melihat buku tersebut. 


“Ekhem, sudah selesai?”


“Baru selesai wudu,” sahut Zira tampak kikuk. 


“Jangan lama-lama, ntar makan upah riba karena bekerja tidak sesuai waktu,” tukas Khabab. 


Saat orang lain menerobos saja tanpa peduli apa pun. Namun, dirinya detail sekali memperhatikan hidup. Hingga secuil waktu yang berubah jadi uang. Ia tidak mahu memakan yang bukan haknya. 


Khabab menggelar sajadah tepat di pintu bagian dalam. Sedangkan Zira di luar kamar. Khabab menjadi imam pada saat itu. 


Bahagia itu adalah ketika ada mengingatkan kewajiban yang hampir terlewatkan. 


Zira merasa memiliki saudara lagi setelah Fattah. 


Saat yang sedarah tidak ada lagi, maka sepandai-pandai diri mencari hati yang lain, yang kasihnya serupa dengan orang yang sedarah. 


***


Setelah salam, Khabab membaca sepatah dua patah do’a. 


Ada hati yang teriris perih bak ikan dibubuhi air limau. Saat diri memimpikan surga, tetapi separuh hati masih terikat dengan dunia. 


“Zira turun dulu, ya, Mas,” izin Zira sembari memasukkan kembali mukena dan sajadahnya ke dalam tas selempang.


Tanpa menunggu sahutan dari Khabab, Zira sudah berlari turun. Membawa detak jantung yang memburu. Ia merasa aneh sendiri. 


“Dari mana?” tanya kepala bagian pemantau kafe, bernama Rudi. Dialah teman dari Fattah.


 


“Shalat, Pak,” jawab Zira spontan. 


“Heh!”


“Iya, Pak!” Akhirnya Zira memberanikan diri untuk mendongak menatap pria bertubuh jauh lebih tinggi darinya. Membuat gadis itu sedikit gemetar.


“Assalamu’alaikum, Pak Rudi,” sapa Khabab tiba-tiba. Mencairkan suasana yang tegang. 


“Wa’alaikum salam.”


“Baru tampak saja, Pak.” Ia menyikut lengan Zira mengisyaratkan agar segera pergi dari hadapan pak Rudi. 


Zira pun mengerti dan langsung bergabung dengan Rania dan Fatia. 


“Hello, ladies. Sudah pada tau gak, atau pengen tau?” Gia datang sembari meletakkan baki di meja dekat Fatia. 


“Nanti Pak Mukhlas datang dengan istrinya,” sambung Rania acuh tak acuh sembari menaruh gula ke cangkir. 


“Etdah, Si Nek Lampir udah tau. Gak heboh lagi dong.” Gia tampak kesal. 


“Emang dia siapa?” tanya Zira menatap Gia dengan serius. 


“Oh My Darling, you belum tau siapa dia?” Gia mengernyit. “Jelaskan, Say,” suruhnya pada Fatia. 


Gepalan tinju Rania mendarat di punggung Gia. “Gua jijik tau gak, elu tuh lelaki tulen, ngomong biasa aja kalik, gak usah berlebihan!”


“Boda amat!” sahut Gia, “jadi Pak Mukhlas itu Bos kita.”


“Oh ....” Mulut Zira membulat sempurna. 

__ADS_1


“Sudah, bubar-bubar! Kembali ke tugas masing-masing!” seru Rania. 


“Kayak komandan aja elu,” cebik Gia. 


Mereka selalu saja mengadu mulut. 


Zira merasa bahagia, pada akhirnya memiliki teman yang humoris seperti teman barunya yang sekarang. Selaku wanita yang ekstrovert ia tidak bisa berdiam diri di rumah. Keramaian adalah kekuatan bagi gadis itu. 


Jadwal mereka berlima hingga sore saja. Sedangkan pak Mukhlas sang bos yang mereka bicarakan datang nanti malam. 


Ketika pulang, Fatia datang menghampiri Zira. “Kak, denger-denger Kakak tuh dekat ama Mas Khabab, ya?”


Zira mengangguk. “Sahabat dari sepupu Kakak.”


“Kira-kira, Mas Khabab punya kontak yang bisa dihubungi, gak?”


“Sejauh ini, belum pernah liat Mas Khabab megang ponsel,” jawab Zira jujur. 


“Oh, gitu ya. Makasih, Kak.” Fatia berjalan mendahului Zira. 


Benak Zira ingin bertanya lebih lanjut, tetapi Fatia terlihat buru-buru. 


“Nunggu dijemput Fattah, ya, Ra?” 


“I-iya.”


“Kalo saya antar aja, gimana?”


“Emang Mas mau ngantar pake apa?”


“Pake hati.”


‘Astaghfirullah, bucinmu garing dah. Gegara sering bergaul sama Gia nih kayaknya.’


Tidak lama kemudian suara klakson terdengar, Fattah sudah datang menjemput Zira. Ia menjemput sembari pulang dari kerja. 


“Tuh, Fattah.”


“Hmm, Zira pulang dulu. Assalamu’alaikum."


“Wa’alaikum salam.” 


Zira sudah mau membuka pintu, lantas Khabab berteriak lagi, “Ra, ada yang kelupaan nih!”


“Apa?”


“Sini!”


Zira balik lagi, mengira benar ada yang tertinggal. 


“Apa, Mas?”


“Salam,” sahutnya santai. Mengulur tangan ke Zira. 


“Astaghfirullah, udah ya, buru-buru.” Ada senyum yang tertahan dari bibir Zira. Ditampiknya uluran tangan Khabab. 


Khabab pun tersenyum dengan respon Zira yang acuh. 


Gadis tersebut kembali menuju mobil. Membawa wajah yang merah semu. Seperti baru jatuh cinta, bunga-bunga bermekaran di hatinya. Gombal receh Khabab ternyata bermakna baginya. 


Begitu mobil Fattah beranjak dari hadapan kafe, mobil lain pun datang memarkir di tempat yang sama. 


“Selamat datang, Pak di kafe kami yang akan melayani sepenuh hati.” 

__ADS_1


Lelaki itu tidak peduli dengan penyambutan Khabab, matanya masih memperhatikan mobil yang baru saja beranjak dari kafe itu. 


Bersambung


__ADS_2