Mememani Cinta Pertama Hingga Ke KUA

Mememani Cinta Pertama Hingga Ke KUA
Part 14


__ADS_3

Sudah dua hari Zira duduk saja di kursi teras menatap ke jalan. Kadangkala Fattah menasehatinya. Sesekali membuat lelucon, sekedar menarik senyum. 


Ia tidak bisa berkata lebih, karena setiap yang ia katakan belum tentu sesuai dengan apa yang sedang mendera Zira. Kata bijak tak selamanya berguna. Terkadang seseorang tak membutuhkan bijaknya kata-kata,  tetapi tindakan bijak. 


Fattah menumpuk makanan di depan Zira. Sekali mengunjungi market ia membawa pulang sekresek makanan ringan. Bila diajak keluar, gadis itu tidak pernah mau. 


“Kenapa kau seluka itu? Apakah sama patah hati dengan patah tulang?” Fattah bicara sendiri saat merebus mie di dapur.


Sedangkan Zira di teras.


“Assalamu’alaikum.” Seseorang berdiri di pintu pagar. Beberapa kali ia memberi salam,  tak kunjung didengar oleh Zira. 


“Mbak Zira!” panggilnya lagi. 


“Ra, itu Khabab bukan?” ujar Fattah berdiri di belakang Zira dengan dua mangkuk  mie di tangannya. 


Perempuan tersebut menoleh. “Mas buka aja lah,” pintanya.


Fattah meletakkan mangkuk mie di atas meja depan Zira lalu melangkah pergi membuka gerbang masuk. Ia menyambut Khabab dengan hangat. Bersalaman dan saling menepuk pundak. 


“Silakan masuk, Bab. Aku ke belakang dulu buatin kopi,” cengir Fattah. 


Fattah ke dapur dan Khabab menarik kursi samping Zira. “Assalamu’alaikum, Mbak Zira,” sapanya. 


Zira tersenyum simpul, membalas salam Khabab. Setelah itu jeda. Mereka mengikuti irama pikiran masing-masing, tidak tahu hendak membicarakan apa. 


“Mbak tampak kusut sekarang,” kata Khabab yang terlebih dahulu menemukan topik pembicaraan.


“Kurang sehat, Mas.” Zira menunduk sambil menatap kuku jarinya.


“Dah siap, masuk Tuan dan Nona! Jangan sampai kopi ini dingin. Sedingin hatinya wanitaku,” canda Fattah. 


“Nggak berencana pulang ke desa lagi?”


“In syaa Allah, masih,” sahutnya, “ayo masuk dulu, Mas!”


“Ada yang berbeda?” Sekilas Zira dapat mendengar Khabab bertanya pada Fattah. 


“Gak tau,” sahut sepupunya itu. 


Ternyata Zira tidak bisa melihat Khabab, karena ketika melihat pemuda itu  ingatannya kembali menuju Ajmul. 


Terkadang di tengah-tengah alur cerita yang indah kita dipaksakan untuk mengakhirinya. Akan tetapi perlu juga diingat bahwa cerita yang kita buat semua atas kehendak-Nya. Tidak ada cerita yang berakhir begitu saja,  jika Allah tidak menyimpan hikmah di dalamnya. 


Sudah saatnya berpaling, sesuatu yang telah menjadi milik orang lain tidak perlu dipikirkan lagi. Bukan berarti harus membenci. Jika pun teringat, ingatlah sebatas teringat saja. Karena ia pernah menebar kebahagiaan di hidup kita. 


Kita hanya butuh waktu. Suatu saat akan ada perahu bertepi di dermaga. Ia akan memperlakukan kita bak ratu. Karena Allah pasti akan mempertemukan kita dengan yang tepat. Bukan pula dia yang dulu itu tidak tepat. Akan tetapi, namanya telah terlebih dahulu bersanding dengan nama lain di lauh mahfud-Nya. 

__ADS_1


Hindari jangan sampai membenci, karena asal muasal sakit ada dari sana. Hati buruk, akan membuat tubuh terpuruk.


***


“Tinggal di sini aja, Bab, lagian lumayan uang sewa kost bisa kamu simpan,” saran Fattah saat Khabab hendak pulang. 


“Mas Khabab mau ke mana?” Zira bertanya dengan mata setengah merem baru bangun siang. 


“Alhamdulillah balik ke tempat kerja, Mbak Zira,” tutur Khabab. 


“Di mana?”


“Deket sini, kok.” Khabab tersenyum. 


Zira mengernyit menatap Fattah, mencari kejelasan dari Fattah. “Maksudnya di ... di ....”


“Ck, sudahlah, kamu ini kayak wartawan aja,” potong Fattah. 


“Oh ...  itu,  Mbak, di cafe sebagai pelayan.”


“Tampan-tampan di suruh jadi pelayan?” Zira berkata seperti di luar kesadaran. 


Fattah menahan tawa, “Lah,  emang menurut kamu khabab cocok jadi apa? Satpam?”


“Bukan sih.” Ia jengkel dengan pertanyaan Fattah. 


Di dalam mobil, Fattah tidak habisnya membuat lelucon. Saat pintu sedang terbuka, maka kesempatan untuk masuk menyepuh bahagia, hingga tercipta lengkungan tawa di bibir itu. Tidak apa walau hanya sesaat, daripada tidak sama sekali. 


“Fattah masih kerja di tempat yang sama?” Entah kenapa Khabab tiba-tiba bertanya tentang pekerjaan Fattah.


“Alhamdulillah gak lagi,” ujar Fattah. 


“Apa?” Intonasi suara Zira membuat Fattah menekan rem mendadak. 


“Biasa aja kali!” rutuk Fattah geram. 


“Maaf ... maaf, abis Zira syok. Serius, Mas,  gak kerja lagi?”


“Kalo mati tadi gimana? Tadi siang selesai bangun tidur ada shalat dzuhur?” 


Zira menggeleng. 


Ternyata Fattah mengalihkan topik,  agar tidak berlanjut membahas tempat kerjanya. Ia memang sudah mengundur diri dari perusahaan papanya Ajmul. Ia tidak ingin bersangkut paut dengan keluarga itu lagi. Setelah Ajmul berkata dirinya penjilat. 


Meskipun Fattah tidak bekerja lagi di situ, tetapi ia sudah bekerja di tempat lain. Perusahaan yang bergerak di bidang serupa, kontraktor. Ia memperoleh kedudukan di bagian mendesain bangunan, posisi yang sama juga. 


“Mas,” panggil Zira pelan. 

__ADS_1


“TENANG AJA, IN SYAA ALLAH KAMU GAK LAPAR,” potong Fattah.


Khabab yang duduk di sampingnya tersenyum. “Udah sampe, Tah,” peringatnya. 


Zira melongok ke luar, “Mas kerja di sini?” Nada pertanyaannya seakan-akan tidak percaya. 


“Kenapa?  Mau bilang gak cocok lagi?” Ketus Fattah. 


“Bukan, kalo tempat ini Zira sih tau,” jelas gadis itu, “kita mampir bisa kan, Mas?” tanyanya pada Fattah. 


“Gak bisa,” sungut Fattah, “belum sholat, ‘kan?” 


Zira tidak dapat berkilah lagi. 


Sering memperlambat kewajiban merupakan sumber segala masalah. Jangan salahkan hati terlalu sering bersedih, tetapi salahkan tubuh yang selalu memperlambat kewajiban menghadap Empunyanya.


“Assalamu’alaikum, Mas.” Zira tersenyum melambaikan tangan lewat jendela mobil. 


Jangan sampai mencari hati yang lain untuk menepi di saat sedang tersakiti. Biarkan ia memilih karena keinginannya sendiri.


***


Sekembali,  Zira segera melaksanakan sholat dzuhur tepat saat jam menunjukkan pukul dua tiga puluh. 


“Mie Mas Fattah rebus tadi mana?” tanya Zira, tangan mencari buku yang bagus di rak. 


“Oiya, astaghfirullah.” Fattah menepuk jidat. “Ya Allah, Ra! Kau liat ini udah mengembang!” teriaknya di teras. 


Zira ikut berlari ke luar. “Mas, jangan teriak! tuh,” tunjuk Zira ke lantai dua, tiga, dan empat. Di masing-masing balkon ada orang melongok ke bawah menatap mereka


“Maaf, maaf,” cengir Fattah. 


“Bukan sedang di hutan, oke!”


“Maaf, Bu Bos!” deliknya, menanggapi ucapan Zira. Lalu dua mangkuk mie tersebut dibawa masuk dan dituangkan ke tempat cuci piring. “cuci!” Ia menyuruh Zira untuk mencuci piring. 


“Zira mau baca buku dulu.”


“Bisa nanti,” ketus Fattah. 


“Heuuuuu.” Tidak ada pilihan lain, kecuali menurut apa yang diperintahkan Fattah. 


Fattah tidak menanggapi. Melihat sepupunya hanya diam saja. Zira mengembangkan pipinya hingga matanya yang sipit tidak tampak lagi. Menatap Fattah. Hening. Lalu sama-sama tertawa. 


Bila kita mengawali hari dengan bahagia, maka akan menutupnya dengan kebahagiaan pula. Sebagaimana Zira berjumpa Khabab tadi. Tanpa sadar hingga menjelang matahari terbenam ada saja senyum yang menghias bibirnya. Entah apa kelebihan pria itu, padahal Fattah senantiasa menghiburnya dengan lelucon, tapi tidak pernah membuat ia tertawa. Namun, setelah kedatangan Khabab membuat lelucon Fattah laris. 


Kharisma Khabab, membuat Fattah cemburu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2