Mememani Cinta Pertama Hingga Ke KUA

Mememani Cinta Pertama Hingga Ke KUA
Part 16


__ADS_3

Zira menelan ludah merasa gugup saat Khabab menatapnya. "Saya minta izin, Zira, mau kembali ke tempat kerja."


"Iya, tapi Mas Khabab yakin itu udah sembuh beneran?" Perempuan itu mencoba bersikap normal. Walau padahal matanya masih tidak berani membalas tatapan Khabab. Masih teringat tentang kejadian semalam. 


Namun, Khabab menyadari sikap Zira. Sehingga ia sengaja menjatuhkan pandangan ke dua bola mata Zira. 


Jika ada menyangka diri dapat mengalahkan nafsu, sungguh bualan. Nyatanya tidak ada. 


Khabab lelaki yang alim. Tetap ada godaan besar. Meskipun demikian, ia berusaha membatas diri. Maka oleh sebab itu tidak ingin berlama-lama di tempat Fattah. Walau nyatanya tubuh belum sembuh sepenuhnya.


***


"Ra! Ngelamun aja nih anak!" Fattah berjalan pelan di belakang Zira yang sedang merapikan bunga dekat jendela kamarnya. 


Zira mengerling Fattah dengan ekor mata. "Ntar malam Zira keluar, ya," ujar Zira. 


"Dalam rangka?"


"Memperingati hari kemerdekaan." Zira berkata diiringi gelak tawa. 


Fattah menarik ujung kerudung bagian belakang Zira yang terjuntai panjang. 


"Ih, Maas!" teriak gadis itu. 


"Makanya, jawab yang serius."


"Will meet some one," sahut berlagak sok inggris. 


"Ga boleh!" Fattah melangkah masuk. 


"Mas!"


"Boleh asalkan keluar dengan aku."


"Tapi aku pengen keluar sendiri." Zira masih bersikeras. 


"Yasudah, kalo gak boleh ya gak usah keluar." Fattah membuang tubuh ke sofa, melonggarkan dasinya. 


Zira mendelik. "Udahlah, gak jadi. Kalo Mas ngekor juga." Tampak kesal dari intonasi suara Zira yang meninggi. 


Fattah menyungging senyum. Lalu acuh. 


Zira berbalik lagi, menatap Fattah. Ia mengira Fattah akan berkata iya setelah berpura-pura merajuk. Ternyata malah tak peduli. 


Fattah memejam pelan matanya mengintip Zira yang masih berdiri di dekat sofa dengan tampang cemberut. 


"******," desisnya pelan. 


***

__ADS_1


Memasak sudah menjadi kewajiban Zira di tempat Fattah. 


Hari ini tidak seperti biasanya, Fattah baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di kepala. Mencium bau menyengat dari dapur. 


"Masya Allah!" Kuat tangannya menarik Zira menjauh dari dapur. Asap yang mengepul membuatnya batuk-batuk. 


"Kalo marah nggak dikasih keluar, ya jangan gini juga dong. Balasannya gak sesuai," sindir Fattah, "cuma gak dikasih keluar eh malah mau bakar rumah." 


Zira tidak berkutik. Detak jantungnya di luar normal. Telapak kaki dan tangan sudah menjadi dingin. 


Fattah mengambil kain lap basah lalu menutupi kompor. Ia biasa-biasa saja. Terlihat tidak linglung sama sekali. Malah tertawa meledek Zira yang sudah ketakutan bukan kepalang. 


Tubuh perempuan itu tiba-tiba merosot ke lantai, tergugu. Benar-benar takut. 


"Hei!" Fattah mendekat. "Tenang aja, gapapa, kok." Memegang pundak Zira, membantunya bangun. 


Sepersekian detik baru paham apa yang membuat Zira seperti itu, trauma masa lalu. 


Ragu-ragu, membenamkan kepala Zira ke dadanya. "Tidak apa-apa, semua baik-baik saja," bisiknya untuk menenangkan. 


Jari jemari tangan kiri menyeka air mata yang berinai di pipi Zira. "Sudah, ya. Maaf, Mas sempat bercanda tadi." Dituntun menuju ruang tamu. "Kita keluar malam ini, gimana kalo ke tempat Khabab?" bujuk Fattah. 


Fattah mengambil air hangat lalu diberikan pada Zira. 


Ada satu hal yang belum kita ketahui tentang Zira. Ayah Zira meninggal beberapa tahun silam dalam tragedi kebakaran karena menyelamatkan Zira. Hal itu lah yang membuat gadis itu takut hingga sekarang. 


"Sudah, ya." Lekat memandang wajah Zira diseka lagi tetesan hangat di kedua mata gadis itu. 


"Semua kejadian memang meninggalkan kesan, kita menerima. Mungkin itu memang jalan Allah mengambil orang tua kita. Dan sekarang semua baik-baik saja. Peristiwa tadi itu hanya peristiwa kecil, Mas sering mengalami itu. Kamu ingin mendengar kenanganku dengan Khabab?"


Zira menatap Fattah. 


"Dulu ketika kelas sebelas saat ikut PMR dengan Khabab. Kami hampir membakar dapur umum milik pembina. Alhasil Mas bisa memadamnya, seperti tadi itu. Mengambil kain basah dan diletakkan di atas kompor. Namun ternyata senior tau, aku dan Khabab di suruh berendam di kali," kekeh Fattah, "lalu saat diperintahkan berenang, Mas hampir tenggelam karena gak bisa berenang. Yang menjadi pahlawan di sini Khabab, bukan aku lagi. Dia menyelamatkanku."


Khabab mencoba menarik Zira dengan ceritanya. 


"Yang paling berkesan adalah saat aku bercerita tentang sepupuku hingga larut malam. Sampai senior menyuruh kami mengelilingi lapangan pukul dua dini hari. Dan Zira tahu? Mas selalu menceritakanmu pada Khabab. Kalau aku punya saudara yang cantik, pintar, baik, sholeha, anak kota, banyak sekali, sampai kulihat Khabab cemburu karena tidak punya saudara untuk diceritakan."


Tanpa sadar dua sudut bibir Zira membentuk senyum. 


"Yuk lah, keluar, jumpa Khabab, ingin juga liat keadaan dia." Fattah beranjak. Handuk kecil di kepala berpindah ke bahu.


"Usai Isya," ujar Zira. 


Fattah pun setuju. Ia tidak menggantikan baju lagi, cukup dengan training dan kaus putih yang melekat di tubuh yang dipakai tadi sore usai mandi. 


***


"Mas Khabab!" Semua orang yang sedang mengunjung kafe menatap Zira. 

__ADS_1


Tidak peduli, gadis itu berlari kecil ke arah Khabab yang sedang membawa minum ke pelanggan. "Sudah sehat? Seharusnya Mas masih perlu rehat." 


"Alhamdulillah, kita lelaki masa manja sama sakit," kekehnya pelan, "sendirian?" Sedikit mengernyit lalu melihat ke sekeliling mencari sosok Fattah. 


"Hm ..., bukan tapi dengan Mas Fattah," sahut Zira menunjukkan Fattah yang sedang duduk di kursi dekat pintu masuk. 


"Khabab, bawa ini ke meja dekat kasir! 


"Iya, Bang."


Khabab berjalan sedikit tertahan. Zira memperhatikannya. "Minta Zira yang bawa aja. Meja mana?" Ikhlas, ia menawar diri. 


Meskipun suasana tidak menjelaskan semua. Namun, sebagian sudah bisa dipahami. Fattah memperhatikan Zira dari jauh.


Kita hanya perlu menata waktu untuk melupakan yang pergi. Semua akan berjalan semestinya. Pun Tuhan tahu apa yang tidak kita ketahui. 


Buka lebar pintumu sambut kedatangan yang lain. Atas izin-Nya, yang menetap kemudian adalah sebuah ketenangan. 


***


Sebentar lagi sift Khabab berakhir, ia sudah bisa pulang setelahnya. Zira dan Fattah juga menunggunya hingga selesai. 


"Huft, seru juga, ya," ucap Zira. "Mas, kalo bisa usahain dong agar Zira juga kerja di sini." Disikut lengan fattah. 


Fattah dan Khabab saling berpandangan. Lalu menatap Zira. 


"Zira serius loh, Mas liat tadi, 'kan, gimana cekatan aku membantu Mas Khabab."


"Nggak perlu Zira, toh Fattah masih bisa membiayai keseharian kamu. Lagian di situ banyak lelaki," ujar Khabab. 


Zira beralih memandang Khabab yang berjalan sebelah kirinya dan Fattah sebelah kanan, mereka berjalan bersisian menuju parkiran mobil Fattah. 


Sebelum mengeluarkan mobil dari parkiran. Fattah bersandar di pintu mobil dan berkata, "Boleh, asalkan kamu menempatkan diri layaknya perempuan. Tau kodrat perempuan itu seperti apa."


Zira tidak menjawab, pandangannya terbuang ke segala penjuru, tidak ada titik fokus. Ujung penutup kepalanya dibelai angin malam. 


Khabab hanya diam sesekali mencuri pandang pada perempuan di sampingnya itu. 


Lalu Fattah menepuk pundak Khabab. "Aku percaya padamu." Lalu beralih ke Zira. "Malam ini akan kuusahakan dan besok kupastikan kamu bisa bekerja di situ dengan Khabab."


Khabab tidak percaya dan mengerutkan kening melihat Fattah. Senang memang bisa bersama dengan Zira, tetapi musibah bagi hatinya. 


Zira tersenyum sumringah, ia merasa bahagia karena pada akhirnya rasa bosan di rumah saja berujung pula. 


Saat kau kulepaskan untuk sering bersamanya, maka kemungkinan besar akan saling menaruh hati. Padahal yang telah lama menaruh hati adalah aku. Namun, sifat cinta adalah mengikhlaskan. 


Untuk apa memaksa dan mengatakan rasa, jika jawabannya sudah dapat ditebak 'kau hanya menganggapku sebatas saudara.' Dan pada endingnya malah menjauhkan diri. Itu lebih menyakitkan daripada menjadi pengagum rahasia. 


- Fattah

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2