
Pukul tiga dini hari baru sampai di terminal kota, Zira tidak tahu harus ke mana. Tidak ada yang menjemputnya. Akhirnya, Aziz menawarnya untuk ke kostannya saja.
Zira tidak mau, ia memilih ke masjid.
Bukan tidak menghargai saat ada yang membantu. Namun, ada yang lebih berharga. Menjaga diri. Bersu'uzdan tidak boleh, tetapi tetap harus berhati-hati dengan orang baru.
Dunia ini dipenuhi orang jahat, orang baik pun tidak sedikit. Seperti halnya Aziz, ia mengikuti Zira hingga ke masjid tanpa sepengetahuannya. Memastikan gadis yang baru saja dikenalnya baik-baik saja.
Setelah shalat Shubuh, Zira segera mencari telepon umum untuk menghubungi sepupunya.
Di dekat Wartel ada sebuah warung yang sudah di buka, pemiliknya sedang menyusun barang-barang dagangan. Ia melihat Zira yang sedang mengotak-atik telepon umum.
"Dik, teleponnya rusak." Ia memberitahu.
"Apa, Buk?" Pendengaran Zira sedikit terganggu.
"Teleponnya sudah rusak," katanya ulang.
"Kalo begitu, apa boleh saya pinjam ponsel milik Ibuk sebentar?" Ia melangkah mendekati warung si Ibu.
Wanita itu memberinya dengan senang hati.
Deru kendaraan di pagi itu sedikit mengusik dengan sesekali suara klakson terdengar di antara deru tersebut. Matahari sudah tampak di ufuk timur, menyapa para pekerja yang berlalu-lalang. Yang dominan mereka adalah pekerja kantor.
"Mas Fattah," panggil Zira ketika Fattah mengangkat telepon.
"Zira, ya?"
"Mas Fattah, jemput Zira, ya, gak jadi pulang ke Desa. Ini di terminal. Nggak punya uang."
"Astaghfirullah, Zira. Kamu itu ya .... Aku nggak tau gimana jalan pikiran kamu. Ayah sama Ibu di sana sudah khawatir banget, semalam mereka hubungi Mas berkali-kali nanyain kamu. Ponsel kamu pun nggak aktif."
Zira terdiam.
"Jangan ke mana-mana, sekarang Mas ke situ!"
"Iya, tolong kasih tau Pakcik sama Bunda, ya. Biar nggak khawatir lagi."
Tidak ada respon lagi. Panggilan putus.
Zira belum beranjak dari warung itu, "Makasih, Buk, ya."
"Iya, sama-sama, Dik."
Memalingkan wajah ke kiri. Tampak lelaki semalam sedang linglung. Saat melihat Zira, pemuda itu langsung tersenyum.
Ternyata ia ingin memberitahukan ada panggilan yang ia terima tadi ketika ponselnya dihidupkan. Tentu saja yang menghubunginya adalah Fattah. Karena hanya dirinya yang dihubungi Zira memakai ponsel pria itu.
Pagi, Zira belum makan apa-apa. Bahkan sepotong kue pun belum masuk ke mulutnya. Perutnya bernyanyi.
Lelaki di hadapannya seakan-akan tau, ia menyodorkan sepotong kue.
"Makasih." Zira tersenyum malu.
Tak lama kemudian mobil silver berhenti di depan warung tempat Zira duduk. Zira pun beranjak bangun.
__ADS_1
"Sudah dulu ya, Buk, Mas Aziz. Zira udah dijemput. Assalamu'alaikum," tutur Zira.
"Wa'alaikum salam."
Fattah tidak berkata apa-apa. Zira juga tidak ada inisiatif untuk membuka pembicaraan. Setelah menghabiskan kue pemberian pemuda tadi, ia pun tertidur.
Fattah sekilas menatap gadis di sampingnya. Setelah itu kembali fokus menyetir.
Ada kala hati sudah mengagumi yang lain. Namun, pemilik raga tak menyadari. Toh, dia bela-bela kembali ke tempat Fattah karena Khabab juga sudah ke kota.
Dulu di Desa pun sedikit betah karena dapat melihat senyum Khabab. Kini Khabab tidak ada lagi di sana, untuk apa kembali lagi ke sana? Pikir Zira saat di terminal Lingga Lama kemarin.
Memang berat saat di terminal Lingga Lama kemarin bergelut dengan pikirannya sendiri. Jika ia tidak kembali, berarti anak-anak yang belajar sore dengannya pun terputus begitu saja.
Namun, apa pun yang terjadi, walau dibilang tidak bertanggung jawab, ia tetap berkeputusan tidak kembali ke Desa.
"Sudah sampai," ujar Fattah. Ia membuka pintu mobil. Membuat Zira sedikit tersentak karena terlalu nyenyak tidur.
***
Fattah menemani Zira makan. Ia sudah tidak melihat lagi raut sedih di wajah Zira.
Perempuan, mudah terluka, mudah bahagia, mudah tersenyum, mudah menangis, dan pandai juga menyembunyikan luka. Semua bisa disulap menjadi datar. Walaupun nyatanya hati tidak sedang baik-baik saja.
Untuk apa dibuat sedih, jika di sekeliling ada manusia yang senantiasa setia menyemangati. Seperti Mas Fattah.
"Mas!"
"Iya?"
Fattah menuangkan minum ke gelas Zira, "Besok-besok kalo disuruh pulang. Jangan balik lagi."
"Hmm ...."
"Ngeyel."
"Mas!"
"Apa?"
"Mas Ajmul ada ke sini lagi, gak?"
"Oh, jadi kamu balik lagi ke sini karena masih ingin jumpa Ajmul?" tanya Fattah dingin.
"Bu-bukan, kok." Zira sedikit gelagapan.
"Jadi?"
Zira tidak dapat menjawab lagi.
"Kita cari Mas Khabab, dia kan baru datang ke sini, pasti nggak tau mau tinggal di mana."
"Bisa aku cari sendiri," ketus Fattah, "pokoknya kamu nggak boleh keluar!"
Sore, Fattah pun ke luar, sebentar saja ia sudah balik lagi. Membawa pulang bermacam makanan ringan untuk Zira. "Makan, nih! Jangan coba-coba keluar!" Fattah mengunci pintu dari luar.
__ADS_1
Begitu Fattah keluar, perempuan itu merebah diri di sofa lalu menyalakan televisi. Ketika mengangkat bantal sofa, ia mendapati kertas masih bersegel. Undangan untuk menghadiri pernikahan.
Ajmul dan Kinan
Cepat-cepat Zira membukanya. Di sana disebutkan bahwa acara akan di laksanakan pada tanggal 17 Desember di Jl. Murti no. 10. Lantai tiga Murti Place.
Mata Zira berkaca-kaca. Aksara-aksara di kertas itu membuat dadanya sesak. Sangat sesak.
Hati perih, merintih. Menjadi tamu undangan. Ah tidak, ia bahkan tidak diundang. Ini undangan untuk Fattah, sepupunya.
Jika Tuhan tak berkehendak, apa yang bisa dilakukan hamba? Kecuali mengiba, seraya berharap mendapatkan yang terbaik.
Hati tak perlu bersedih, setiap daun yang jatuh akan digantikan dengan daun yang lebih hijau lagi.
Semua yang datang menawarkan kebahagiaan dan kekecewaan. Semuanya tergantung bagaimana cara kita menanggapi.
Jangan serahkan semua hati, simpan sebagian. Sebagai jaga-jaga bila terluka. Pun jangan mudah terbang saat ditawarkan harapan, hingga lupa bumi tempat pijakan. Oleh sebab itu, perlu iman sebagai pengingatnya.
Kita bisa setia, kita bisa merancang, kita bisa menunggu, bisa pula bersabar. Namun, untuk menjamin diri berjodoh dengannya, tidak pernah bisa walaupun telah sekian lama bersama. Takdir atas jodoh, Allah yang lebih berkehendak. Siapa akan berjodoh dengan siapa.
Bukan dilarang membuat mimpi juga berimajinasi tinggi-tinggi saat bersama orang yang kita cintai. Namun, mencintai bisa berakhir kapan saja, maka dari itu kita buat janji dan kata sederhana saja. Nyatanya, janji sebelum ikatan suci hanya ilusi. Jika tetap bersikeras, maka tak bedanya kita seperti serdadu yang menyimpan senjatanya untuk membunuh dirinya sendiri.
Saat ada yang membasahi pipi, yang disalahkan adalah rasa. Bukan, ia tak salah. Yang salah kita karena terlalu berharap pada manusia.
Zira melipat kembali undangan di tangannya. Kemudian ada tatapan kosong di sana, air mata luruh menganak sungai di pipi lembutnya, tanpa diiringi suara tangis. Untuk saat ini air mata yang menerangkan bahwa di sebuah bilik hatinya ada luka yang amat dalam.
Hari sudah sore, gadis tersebut masih duduk di tempat yang sama. Hingga Fattah sudah pulang lagi.
"Zira?"
Zira membuang muka, berpura-pura sedang menonton. Namun, seorang Fattah tidak bisa dibohongi. "Kamu kenapa lagi?" tanya pria itu pelan. Melangkah mendekati Zira, duduk di sampingnya.
Undangan tak ada lagi, ternyata gerak tangan Zira sangat lincah. Ia sudah menutupinya dengan bantal sofa.
"Azzazira, kenapa?"
Zira mengusap air matanya, lantas menggeleng.
"Ini makanan yang Mas beli, napa nggak Zira makan?"
Tidak ada respon apa-apa. Fattah pun memilih tak bertanya lagi. Kemudian ia melangkah menuju kamar.
"Mas!"
"Iya?"
"Mas punya uang?"
Mendengar pertanyaan Zira, membuat Fattah tersenyum, "Punya," sahutnya.
"Bawa Zira beli baju, mau?"
Fattah mengernyit, "Iya, ntar malem."
Bersambung
__ADS_1