
Wiro segera menghubungi beberapa pengawas wilayah Praban, Blauran dan Genteng, wilayah operasi Siola dan sekitarnya masuk dalam kepemimpinan pak Brojo ada beberapa pengawas yang bertugas mengelola operasi di tiap tempat keramaian. Wiro dan Wito di wilayah Siola dan Gunung Agung, ada Parman dan Bejo di Pasar Blauran dan Pertokoan Wijaya, ada Bambang dan Joko di Pasar Genteng dan sekitarnya serta ada Surip dan Parto di Toko Nam dan sekitarnya.
Surip datang pertama kali bersama Parto, "ada apa wir?" tanyanya sambil duduk disebelah Wiro di warung mak Siti tempat biasa mereka berkumpul. "Anak buahku banyak tertangkap saat operasi di Siola.." jawabnya sambil mencoba menenangkan diri meminum kopi hitam yg disuguhkan. " Bisa bantu nerawang ta..Rip? tanya nya sambil memandang Surip yang diantara pengawas wilayah ini dikenal mempunyai ilmu terawangan dan rogoh sukmo. "Bayar lo ini ..hahahaha" jawab Surip sambil tertawa.
"Iyolah faham" Wiro timpali... dia sadar untuk gunakan ilmu terawangan dibutuhkan kumpulan energi yang susah payah dikumpulkan Surip. Ada efek badan lemas dan perlu istirahat hampir setengah hari bila wilayah tidak jauh, dan butuh satu hari penuh istirahat bila jarak jauh.
Surip mengambil nafas halus, memejamkan mata sambil merapal wirid perlahan....
__ADS_1
terlihat kepalanya bergetar ringan, bergoyang halus. " Ada seorang pak Tua dan tiga anak kecil.." ujar Surip sambil menghembus nafas sambil menghentakkannya dengan masih menutup mata. "Hemmmm ... sepertinya pak tua itu sedang memberi arahan kepada anak anak kecil itu.. hehehehe awakmu apes Wir, hehehehe". Surip membuka mata sambil terkekeh tertawa kecil. "Anak buahmu dijadikan bahan latihan kanoragan, hehehe.
"Jangkrik.... ! Wiro mengumpat sambil melemparkan pisang goreng ditangannya.
"Eh jangan gitu Wir... makanan itu.. ayo ambil!" mak Siti pemilik warung berteriak memarahi Wiro sambil berdiri berkacak pinggang.
"Iya mak maaf mak.. Wiro mengkerut meminta maaf sambil mengambil kembali pisang goreng yang dilemparkannya.
__ADS_1
Sementara itu didalam toko Wak Uke mengganggap cukup praktek yang dilakukan Dodi dan teman temannya, diajak keluar dan berjalan menuju tempat parkir mobil.
Wak Uke tersenyum ketika melihat ada beberapa orang berjalan menghampiri dari arah yang berlawanan dijalan yang agak sepi menuju tempat parkir mobil.... "benar dugaanku ada komplotan yang mengkordinasi anak anak tadi.." gumam Wak Uke dalam hati. " Siap siap tawuran ya.. kata Wak Uke perlahan kepada Dodi, Burhan dan Yudhistira. Tiga anak itu melihat ada tujuh orang menghampiri sambil mengambil posisi mengepung.
Wak Uke mengambil posisi kedepan.. menutupi para muridnya, "permisi pak kami mau lewat..." Wak Uke mencoba menyapa sambil tersenyum.
Brak... buk buk Wito langsung menyerang memukul dan menendang Wak Uke tanpa basa basi menjawab. Saling memukul, menangkis dan menendang..braaaak... Wito terjengkang kebelakang jatuh menabrak sepeda yang terparkir dibelakang nya. Terlihat meringis memegang tangan kanannya.. yang terasa patah sakit saat digerakkan, pucat hampir pingsan menahan sakit. Dari belakang Bejo mencoba menangkap anak yang berada dibelakang.. bersamaan mereka maju mengeroyok.. terjadi tawuran empat melawan enam.. Wak Uke dikeroyok dua orang, mereka mencoba menjauhkannya dari anak anak dibelakang nya, Burhan yang berbadan lebih besar dibanding dua temannya melompat langsung menendang dada lawan didepannya.. sejak diperingatkan tadi dia sudah bersiap tidak sabar ikut berkelahi. Lawan yang dipilih yang berbadan kecil yg terlihat belum siap.. merasa anak anak didepannya akan ketakutan, terjengkang jatuh dan pingsan. Tiga teman lainnya marah menyerang membabi buta.. merasa terhina.. satu lawan satu perkelahian berimbang meski Dodi dan Yudhistira belum pernah berkelahi diluar latihan, tapi mereka sering adakan sabung.. latih tanding diantara mereka.
__ADS_1
"Mundur lari..." tiba tiba Surip berteriak, berlari sambil menyeret Wito. Tak lama kemudian terlihat beberapa orang berlari mendekat .. ternyata polisi. "Ada apa pak...?" tanya pak Soni, terlihat namanya tertera di baju seragam polisinya. Wak Uke mendekat dan menjelaskan.. ketidak tahuannya kenapa mereka tiba tiba diserang.. meskipun sudah menduga penyebabnya dia tidak berani menceritakan dugaannya. Pak polisi mencoba bertanya kepada beberapa orang disekitar mereka juga tidak tahu alasan penyerangan.. karena tidak ada yang mendengar percakapan sebelum perkelahian.
Ternyata mereka adalah polisi yang sedang mengurus beberapa tangkapan di Siola, mereka datang karena ada laporan perkelahian. Wak Uke dan anak anak diminta ikut ke pos polisi untuk diminta keterangan.. tak lama kemudian mereka diperbolehkan keluar dan kembali pulang. Pak Soni meminta salah satu anak buahnya mengawal Wak Uke dan anak anak hingga sampai mobil mereka, menunggu mereka pergi baru kembali ke kantor.