
Tami Pradipta seorang gadis manis, ceria, lugu, dan masih cupu. Dengan postur tubuh mungil dan tinggi hanya 149. Tanggung sekali bukan. Dibalik banyak kekurangannya dia memiliki kelebihan pintar dan rajin dalam pelajaran.
Seragam putih abu lengan panjang rok kombor dengan kerudung besar berwarna putih, atribut seragam lengkap dan kaos kaki putih sepatu hitam yang hampir tak terlihat karena tertutup rok menambahkan kesan teladan bagi Tami. Menghentakan langkah yang santai namun penuh keceriaan. Berjalan sambil sesekali bersenandung.
Dia berjalan menuju kelas, sebelumnya dia melewati ruang guru dahulu untuk mampir dan menyapa guru yang telah datang di ruang kantor dan menyalimi satu persatu. Bukan hanya rajin berangkat pagi, tapi juga sopan. Kadang-kadang.
Braaakk
"astagfirullah!!" semua anak yang tak menyadari Tami datang mindik-mindik pun kompak istighfar dengan perilaku Tami.
Tami hanya cengengesan. "Hai, gaes.... Hehhe"
Perilaku Tami yang periang memang sudah biasa ia pancarkan setiap pagi hari, tapi kadang-kadang sikap periangnya itu di selipkan kejahilan.
"Kusut banget pagi-pagi Tia..tia!" ujar Tami dengan ceria yang telah menggebrak mejanya menganggetkan seluruh ruangan.
"bangkrut kepala sekolah punya siswi kayak kamu, hobi banget ngaggetin orang." ucap Tia kesal yang pasti benar-benar kaget karena Tami.
Tia yang mudah marah karena sikap temannya itu pun tak bisa mendiam kan Tami lama. Sudah jadi kebiasaan Tami bersikap bar bar, tapi hatinya sebenarnya baik. Tami selalu berusaha menghibur teman-temannya dengan sikapnya seperti itu.
"yee.. Gak lah. Yang ada kepala sekolah bersyukur punya Tami yang selalu membanggakan. Haha.." jawab Tami yang tak mau kalah.
Tia adalah teman sebangku Tami sekaligus sahabatnya dari mereka SMP. Seperti itu kebiasaan Tami yang selalu sengaja mengundang kekesalan teman akrabnya itu.
Setelah mengomel pada Tami, Tia merasakan getar pada mejanya, Tia kembali asyik memainkan ponselnya. Tia tiba-tiba cengar cengir kembali, sambil mengetik sesuatu pada ponselnya.
Tami yang penasaran, kemudian dia duduk dan mengintip layar ponsel Tia diam-diam. Kemudian Tami menganga melihat Tia yang sedang mengetik,
ABANGKU
...
~iya akak tersayang nanti kebelakang kantin sebentar. :)
__ADS_1
"gilaa kamu Tiaaa..!" teriak Tami yang begitu dekat dengan telinga Tia.
"apaan sih! berisik bangeeet!" teriak Tia yang memegang telinga kesal yang tak mau kalah dengan teriakan Tami.
"kamu kan gak punya abang? Abang sapa itu? Abang bakso???! Itu bukan kak Anton kan??" tanya Tami yang menyelidik dengan nada yang masih tinggi namun tidak teriak seperti tadi.
Sudah jadi kebiasaan Tami berlebihan dengan berbagai pertanyaannya itu membuat Tia sering ingin menyumpal telinganya setiap saat.
"ssstt! Diem kenapa sih!" kesal Tia yang sambil menaruh jari telunjuknya didepan mulutnya.
Pasalnya Tia tahu setelahnya pasti yang dilakukan Tami adalah ceramah.
"kebiasaan ya Tam bikin orang budek! Tami diem du-lu! Awas kamu berisik bikin malu!" cerocos Tia takut dia berteriak lagi yang bisa bikin satu kelas bukan hanya melirik tapi menghampiri mereka.
"Tia kamu gak boleh kayak gitu, kasian kak Anton cowok mana lagi itu. Setia kenapa sih gak bisa!" ucap Tami yang ikut nerocos tapi dengan suara yang telah pelan.
Tami tak habis pikir dengan temannya satu itu, sudah memiliki pacar dewasa dan perhatian, tapi masih saja sibuk cari perhatian ke yang lainnya.
"udah sih, Anton juga nanti siang berangkat study tour dan sekarang semua ruang kelas 11 kosong juga," jawab Tia enteng.
"emangnya kamu yang polos mau aja dibegokin si kucrut Doni? Ha?"
"kok jadi aku sih? Kan kamu yang mendua kenapa jadi kebawa Doni." ucap Tami yang agak jengkel kemudian memanyunkan bibirnya.
"gini ya, hubunganku sama kak Anton udah agak renggang. Dia udah jarang curhat ke aku chat juga jarang. Dari tadi pagi gak ada tuh dia balas chat aku." jelas Tia yang kembali memainkan ponsel.
"mungkin aja dia sibuk Tia." ucap Tami yang menghadap Tia kemudian menumpang dagunya dengan satu tangan.
"mau sibuk kek, mau senggang. Tetap aja aku udah curiga sama dia sebenarnya. Udah deh. Aku cuma mau di kasih coklat aja sama kakak kelas. Gak cari pacar lagi. Kamu diem ya Tam jangan bilang-bilang. Kan lumayan tau, entar kamu paling juga minta." cibir Tia yang greget temen satu bangkunya yang terlewat polos itu.
"yaudah deh terserah. Tapi ati-ati loh ya, aku mau coklatnya tapi gak sama masalahnya ntar ya. Hhehe" ucap Tami sambil cengengesan.
"yeee.. Kamu mah mau enaknya doang Tam." Cibir Tia yang masih tak melepas pandangannya ke smartphone merah mudanya itu.
__ADS_1
"oh ya, jangan bawa-bawa Doni kenapa sih! Dia itu gak gitu, udah jalan dua tahun. Jangan bikin aku deg-degan khawatir lah!" Imbuh Tami yang kemudian memasang wajah manyun.
"hahhaha" Tia yang melihatnya hanya tertawa dan mengangkat bahunya.
"sekarang Doni ngapain ya, udah berangkat belum ya.." ucap Tami sambil mencari kontak Doni dipanggilan terakhir.
Setelah menemukan nama pujaan hatinya, Tami menekan tombol telepon untuk segera mendengar suara kekasihnya itu.
*Telepon*
Tami: "Halo kasya?? Assalamualaikum? Udah di sekolah?? Kok tumben gak berisik bangunin tadi??"
Tia yang mendengar Tami bicara melihat dan mencebiknya dengan geli.
Doni: "waalaikumsalam. Ya halo desya? Iya ini baru sampe depan kelas. Iya maaf tadi pagi aku buru buru ngerapiin data-data buat daftar tanding beladiri besok lusa, kan harus dikumpulin hari ini juga."
Tami: "oh iya lusa ya, maaf aku lupa! Berarti nanti kamu latihan dong??
Doni: "iya desya kan besok lusanya udah tanding. Kita gak bisa main dulu ya, aku mau fokus latihan, jadi maaf kalo nanti aku bakal jarang atau lama hubungi kamu ya??"
Tami: "iya udah deh kasya, semangat ya kakak tersyayangkuu!! Yaudah ku tutup ya bye kasya. Assalamualaikum."
Doni: "Iya desya. Waalaikumsalam."
"diiihhh kasya.. Umur juga gak jauh beda. Sok imut!" cibir Tia.
Tia memutar bola mata malas lalu melanjutkan kesibukan dengan ponselnya.
"biarin wekkk..! Syuka.. Syuka!" ucap Tami sambil menjulurkan lidahnya sedikit.
Kasya dan desya adalah panggilan kesayangan Doni dan Tami. Artinya kakak syayang dan ade tersyayang. Panggilan tersebut muncul karena Tami juga tidak punya kakak laki-laki dan awalnya Doni dekat dengan Tami sudah bawel seperti seorang kakak yang terus memperhatikan, sampai akhirnya mereka jadian. Walau pun mereka lahir pada tahun sama yang berjarak 7 bulan namun lebih tua Doni dibandingkan Tami.
.
__ADS_1
*apakah yang terjadi selanjutnya? Yuk klik favorit biar tahu selalu kelanjutannya nanti*